Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
11. Sebatas Kasian


__ADS_3

...Happy Reading!!!...


...•...


...•...


...•...


Yoga membuka pintu apartemannya saat dengan tidak sabar tamunya terus memecet bel pintunya. Wajah Yoga yang selalu terlihat datar semakin datar kala melihat kedua temannya memasang wajah tanpa dosa bahkan menyengir kuda memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Napa?" tanpa mempersilahkan temannya untuk masuk, Yoga malah memilih untuk melemparkan pertanyaan yang pastinya membuat siapa saja yang mendengarnya akan merasa sebal. Dan ya jangan lupakan wajah datar tak berakhlaqnya.


"Ada tamu bukannya dipersilahkan untuk masuk malah ditanya kenapa," gerutu Dean merasa sebal dengan respon Yoga. Muka-mukanya itu tampak seperti orang yang tidak bahagia seakan dia baru saja kedatangan seorang pengganggu.


Yoga terlalu malas untuk mengangkat bibirnya sekedar mengucapkan kalimat mempersilahkan masuk. Ia hanya membuka lebar pintu apartemannya pertanda ia mengijinkan kedua tamunya memasuki apartemannya. Beruntungnya Dean dan Gavin itu peka dengan kode-kodeannya Yoga jadi persahabatan mereka damai sentosa.


Yoga menutup pintu apartemannya lantas mengikuti kedua temannya yang kini berjalan menuju ruang tamu dimana terdapat Acha disana.


"Gue kira lo semalam pulang ke rumah soalnya abis kencan sama Dinda, eh taunya malah ngumpet disini pantesan tadi tante Nadin keluarin sempotannya," Gavin terkekeh mengingat betapa kesalnya mamanya Yoga tadi saat mereka mengunjungi Yoga ke rumahnya tapi si empu tidak ada.


Acha yang kebetulan sedang duduk di sofa mendengar suara orang berbincang pun memutar lehernya kebelang. Dan saat itu pula, netra Acha bertemu dengan netra Dean dan juga Gavin membuat tawa keduanya sontak mereda.


"Eh, ada Acha ternyata," tutur Gavin dengan kikuk. Ia tadi tidak menyadari keberadaan Acha sehingga menyebutkan nama Dinda dengan santainya. Sekarang ia merasa bersalah, pasti tadi Acha mendengarnya.


Acha beranjak dari duduknya menatap kedua teman Yoga secara bergantian tidak lupa senyuman manis pun ia berikan.


"Kalian berdua kenal sama aku?" seperti itulah pertanyaan yang Acha lontarkan kepada kedua teman Yoga yang memang tidak ia ketahui namanya.


"Iya dong, siapa sih yang nggak kenal sama lo. Satu sekolah juga tahu kali siapa Aracha," ujar Dean dengan antusiasnya yang tanpa sengaja malah membuat senyum Acha memudar seketika. Dean salah bicara.


"Ekhem," Yoga berdehem lantas berjalan mendekati Acha.


"Lo sih!" Gavin memukul pelan kepala Dean agar begonya bisa lebih dikondisikan.


"Em kalau begitu kalian duduk aja dulu, biar aku buatin minum," Acha segera berlalu dari hadapan Dean dan Gavin membuat Dean semakin merasa bersalah.


"Cowok kok mulutnya kek cewek," sindir Yoga lantas menyusul Acha yang kini sedang membuatkan minuman untuk kedua temannya.


"Sumpah nggak bermkasud gue anjir," seru Dean.


"Dahlah, ayo duduk!" ajak Gavin kemudian mendudukkan dirinya terlebih dahulu. Dean yang melihat itupun mau tidak mau hanya bisa mengikuti Gavin untuk duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Ntar mulut lo difilter jangan sampai buka topic sensitive lagi!" peringat Gavin.


"Iya-iya, sendirinya juga tadi sebut-sebut nama Dinda!" seru Dean tidak terima jika dirinya disalahkan sendiri.


Sementara di dapur telihat Acha yang sedang menuangkan jus kedalam gelas yang baru saja diambilnya. Yoga yang baru saja tiba di dapur segera mendekati Acha untuk memastikan bahwa perempuan itu baik-baik saja.


"Cha, lo nggak apa-apa?" katanya bertanya.


Acha mengulas senyumnya lantas menggelengkan kepalanya. Senyum yang dapat menyanyat hati Yoga ketika melihatnya. Senyum yang Acha gunakan sebagai topeng untuk menutupi lukanya.


"Aku nggak apa-apa kok, Yog. Kamu nggak usah khawatir, lagian juga berita itu memang fakta," ujarnya begitu lembut. Dalam hati sekuat tenaga Acha mencoba untuk menegarkan dirinya sendiri.


Yoga terdiam tidak menanggapi. Ia lebih memilih untuk menatap Acha yang kini bergerak untuk menyimpan kotak jus yang tadi dituangnya ke dalam kulkas. Setelahnya Acha membuka rak gantung guna mengambil camilan disana namun karena camilannya terletak di bagian yang cukup dalam Acha mengalami kesusahan. Yoga yang melihat itupun mendekati Acha dan mengambil beberapa camilan lantas diletakkannya di atas nampan.


"Biar gue aja yang bawa," Yoga mengambil nampan tersebut lantas membawanya ke depan untuk disuguhkan kepada kedua temannya.


Sementara Acha masih bergeming di tempatnya, kedua matanya menatap punggung tegap Yoga yang berjalan menjuhi dirinya. Kedua tangannya yang tergantung meremas kuat gaun yang dikenakannya. "Aku kenapa-napa, Yoga. Meskipun aku tahu orang-orang akan mengecap diriku buruk namun ternyata kesiapan mentalku tidak terlalau cukup. Namun, aku lebih kenapa-napa saat mendengar temanmu menyebutkan kata Dinda, kamu berkencan dengan Dinda. Sebenarnya siapa Dinda? Dan apa kita sebenarnya?" lirih Acha dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Yoga menyimpan nampan di atas meja setelah meletakkan gelas yang berisikan jus jeruk tepat di hadapan kedua temannya. Dean yang melihat itupun tidak menyia-nyiakan, tangannya tergerak untuk meneguk minuman berwarna kuning yang nampak begitu segar.


"Enak ya brother kalau ada yang layanin," katanya kemudian seraya meletakkan kembali gelas yang digenggamnya di atas meja.


"Napa? Lo cemburu?" sewot Yoga.


"Btw si Acha cantik juga, ya. Pantes aja sih kalau lo ngeyel mau nikah sama dia."


"Jangan bilang lo mau nikung, Vin?" tuduh Dean.


"Kalau diijinin sama Yoga," balas Gavin seraya tertawa dan menaik turunkan alisnya.


Mendengar itu Yoga lagi-lagi mendengus. Temannya hanya bercanda tapi kenapa ia tidak suka dengan candaanya. "Jangan ngarep!" tegasnya.


"Iye-iye orang cuma bercanda kok aelah nggak asik bat lo sekarang!" seloroh Gavin.


"Oh iya Yog, kalau lo udah nikah nih sama Acha, gue nikung Dinda boleh nggak? Cantik, sayang kalau dianggurin," celetuk Dean yang seketika membuat Yoga terdiam.


Gavin yang melihat itu segera menyenggol lengan Dean. Dean yang peka sontak berdehem pelan. "Astagfirullah akhie Yoga kita cuma bercanda," serunya cepat-cepat.


"Tapi kalau emang lo udah nikah sama Acha lo harus rela lepasin Dinda. Jangan jadi laki-laki pengecut yang mempermainkan perasaan perempuan," imbuh Dean yang mulai mengeluarkan kata-kata bijaknya.


Dibalik sifat gesrek Dean dan Gavin, seujurnya dua orang itu adalah orang yang sangat bijak dalam bertutur kata memberikan nasehat disaat seperti sekarang ini.

__ADS_1


"Iya, meskipun lo mencintai dua-dua tapi lo nggak bisa memiliki dua-duanya," tambah Gavin.


Yoga yang mendapatkan nasehat mengehmbuskan nafasnya. "Gue lagi mikir. Kenapa, gue nggak suka pas lo berdua nyangkut pautin Acha tapi biasa aja saat nyenggol Dinda. Apa perasaan gue yang selama tiga tahun ini sudah hilang begitu saja digantikan oleh Acha?" katanya bertanya seraya menatap kedua sahabatnya.


"Bisa jadi seperti ini."


"Tapi kenapa bisa secepat ini?" Yoga mengusap wajahnya kasar. Ia pusing memikirkan ini semua. Jika dilihat ia masih begitu peduli dengan Dinda seperti kejadian malam itu saat Yoga hendak memutuskan Dinda namun urung. Tapi, perasaan yang dimiliknya sepertinya sudah berbeda tidak seperti dulu.


"Bukan prosesnya yang cepat tapi, lonya yang baru menyadari. Sebenarnya lo udah mulai nggak ada rasa sama Dinda mungkin karena lo muak sama sifatnya Dinda yang bisa dikategorikan keras kepala, childish dan egois. Tapi, karena lo selama ini menjadi satu-satunya orang yang disandarinya lo jadi merasa tidak tega untuk melepaskannya. Bisa dikatakan perasaan lo hanya sebatas rasa kasian dibalik tembok persahabatan," ujar Gavin panjang lebar.


"Brother kok bijak sih, jadi makin sayang," seru Dean seraya mencolek dagu Gavin.


"Astagfirullah geli gue anjing," pekik Gavin seraya menepis tangan Dean. Sementara Yoga memilih bungkan mencoba meresapi perlahan kalimat panjang lebar yang Gavin katakan.


Dean yang kala itu tidak sengaja melihat Acha melintas hendak menaiki anak tangga pun segera memanggilnya membuat atensi Yoga tersita menatap Acha yang kini berjalan kearahnya.


"Acha woylah ngapain sih buru-buru ngamar, ntar dulu kali kita ngobrol dulu. Lagian Yoga masih diluar dan kalian belum halal jadi sabar."


"Apaan sih nggak jelas!" seru Yoga menatap Dean kesal yang suka ngomong sembarangan.


"Acha ngapain sih berdiri aja? Sini duduk sebelah Gavin tampan," dengan pedenya Gavin berujar seraya menepuk sofa kosong disebelahnya.


"Wuekkk, pengen muntah gue dengernya," ledek Dean.


"Sini duduk!" Yoga menepuk sebelahnya yang kosong dan Acha pun dengan segera menuruti perintah Yoga untuk duduk disebelahnya.


"Iya-iya, Cha, lo cuma milik Yoga. Kita mah apa atuh cuma remahan berlian," ucap Dean mendramatisir yang bukannya membuat Acha geli saat mendengarnya justru tertawa karena merasa terhibur. Ternyata teman Yoga tidak seperti yang ia kira, asik dan menyenangkan.


"Oh iya Cha btw gue Dean," Dean mengulurkan tangannya ingin mengajak Acha berkenalan. Acha yang hendak menerima uluran tangan Dean mengurungkan niatnya kala tangan besar Yoga terlebih dahulu menrimanya.


"Udah kenal nggak usah kenalan," kata Yoga santai yang malah membuat tawa Gavin memecah.


"Nggak usah ganjen makannya sama milik orang," tegurnya.


Dean yang merasa sebal pun segera menarik tangannya. "Abis ini gue wajib mandi pakai kembang tujuh rupa biar nggak dikata kaum pelangi karena pegangan tangan sama yang sesame jenis," Dean mengusapu-usap tangannya tangannya seakan telapak tangannya itu terkena kuman.


Yoga yang melihat itu hanya memasang wajah datarnya sedangkan Acha sudah tidak kuasa untuk menahan tawa. Yoga yang duduk disebelahnya lantas menoleh menatap Acha yang sedang tertawa, tidak menegurnya hanya menikmati wajah bahagia Acha. Merasa di amati, Acha kemudian memutar lehernya menatap Yoga dan seketika itu pula Acha menghentikan tawanya. Di tatap oleh Yoga dengan tatapan yang begitu tanpa ekspresi membuat hati Acha ketar-ketir sendiri.


"Maaf," cicit Acha yang hanya dibalas dengan sebelah alis yang terangkat oleh Yoga.


...•...

__ADS_1


...•...


...•...


__ADS_2