
Happy Reading!!!!
Sebuah mobil berhenti tepat di halaman rumah Nadin. Pemilik mobil yang adalah Aska segera keluar dari dalam mobilnya diikuti dengan Arka dan ketiga perempuan yang duduk di bangku belakang.
“Gugup anjir mau ketemu calon mertua,” seru Kanaya seraya menyengir kuda.
“Ekhem,” Arka berdehem pelan sebelum akhirnya mengajak teman-temannya berjalan mendekati pintu.
Setibanya di depan pintu, tangan Arka terulur untuk menekan bel dan tak berselang lama pintu pun terbuka.
“Mas Arka sama Mas Aska nyari Mas Reiki ya?” seorang maid itu bertanya dengan sopan.
“Iya, Bi. Dia di rumah kan?”
“Iya, Mas Reiki di kamarnya mukanya babak belur abis jatuh dari motor katanya.”
Anggie yang mendengar itu terkejut. “Dia sakit lagi, Bik?”
Bi Isna menatap Anggie yang masih asing baginya. “Hanya babak belur saja, Non. Non, pacarnya Mas Reiki ya?”
Anggie bungkam, ia bingung harus menjawab apa. Bisa dikatakan mereka cukup dekat tapi sampai detik ini kedekatan mereka tidak ada kepastian. “Doain aja, Bik,” Anggie mengulung senyumnya membuat Bi Isna tersenyum dan mengangguk.
“Ya sudah, silahkan masuk, langsung ke kamarnya Mas Reiki aja. Tadi sih ada Nyonya Nadin disana.”
Aska dan Arka mengangguk. Keduanya memimpin jalan diikuti Anggie dkk di belakangnya.
“Kita langsung ke kamar Kak Reiki nih?” tanya Valerie yang dibalas anggukan oleh Arka sementara Kananya sibuk mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Yoga.
Tidak butuh waktu sampai sepuluh menit kelima remaja itu sudah tiba di depan pintu kamar Reiki yang pintunya sedikit terbuka. Perlahan, Aska mendorong pintu tersebut hingga akhirnya pintu kayu tersebut terbuka dengan sempurna dan menampilkan Reiki yang sedang bertelanjang dada bersama Nadin disebelahnya.
“Permisi, Tante,” ujar Arka membuat atensi Nadin tersita. Wanita setengah baya itu menoleh menatap Reiki dan Arka juga tiga perempuan di belakangnya.
“Ada Anggie juga,” ujar Nadin ramah. Anggie yang mendengar itu tersenyum ramah pada Nadin sementara kedua temannya sudah menyenggol Anggie berniat menggoda.
Nadin bangkit dari duduknya, ia berjalan menghampiri teman-teman Reiki hingga kini pandangan matanya tidak sengaja tertuju pada Valerie yang tadi tidak nampak matanya.
“Kamu yang waktu itu kan?” Nadin menunjuk Valerie serta melemparkan tatapan tidak suka. Valerie pun terkejut, rahangnya hampir saja jatuh.
“Tan-tante,” ujarnya terbata. Sial! Umpat Valerie dalam hati. Ia merutuki dirinya yang bodoh.
Semua yang melihatnya itu menatap Valerie dan Nadin penuh tanya kecuali Aska. Reiki pun ikut menyimak apa yang sedang terjadi sekarang ini.
“Ngapain kamu ke rumah saya?” suara Nadin terdengar dingin. Tatapan matanya jelas meleparkan tatapan tidak bersahabat. Kedua tangannya ia lipat di depan dada dengan sangat angkuhnya.
“Val mau jenguk Kak Reiki, tante,” balasnya lirih. Ia benar-benar tidak memiliki keberanian sekarang bahkan sekedar untuk menata mata Nadin saja ia tidak berani.
__ADS_1
Nadin berdecih pelan.
“Maafin Val ya, tante. Val udah nggak sopan waktu itu. Maaf, karena Val nggak tahu kalau dia menantu tante,” ujarnya penuh sesal namun dalam hati ia menyumpah serapahi Acha.
“Terus, kalau dia bukan menantu saya, kamu akan berlaku tidak sopan sama dia?”
Valerie bungkam, ia merutuki dirinya dalam hati. Sampai sini Reiki sudah paham siapa yang dimaksudkan oleh Nadin.
“Ma, sudahlah,” lerai Reiki pada akhirnya.
Nadin mengalihkan atensinya menatap putra sulungnya. “Kamu itu gimana sih Rei? Temenan kok sama cewek yang mulutnya nggak di sekolahin,” serunya kesal kemudian berlalu keluar dari kamar putranya.
“Lo nggak apa-apa kan?” Reiki menatap Valerie yang masih menunduk.
“Nggak apa-apa,” Valeri kemudian menatap Aska. Ia kesal kepada laki-laki itu karena tidak membelanya sedikitpun.
“Lo ada masalah apa sama tante Nadin, Val?” tanya Anggie.
“Hanya masalah kecil kok,” Valerie kemudian berjalan mendekati tempat tidur Reiki diikuti dengan yang lainnya.
“Nggak mungkin, kalau iya cuma masalah kecil nggak mungkin Tante Nadin semarah itu,” bantah Anggie karena yang ia ketahui Nadin adalah orang yang sangat baik.
“Bentar-bentar, menantu, menantu maksudnya apaan sih?”
Suara kendaraan bersahutan menyapu indera pendengaran Yoga dan Acha. Pasutri itu terlihat sedang berjalan beriringan di sebuah taman bermain yang nampak ramai orang berlalu lalang. Selain banyaknya permainan, juga terdapat banyak penjual makanan di pinggir jalan.
“Mau beli apa?” Yoga sekilas menatap Acha.
“Entahlah, kita keliling aja dulu setelah puas baru cari makan aja, gimana?”
“Yoga mengangguk singkat, iya terserah kamu aja.”
Acha tersenyum, ia semakin mengeratkan tautan tangannya dengan Yoga. Mereka terus berjalan beringin, sesekali Yoga memium puncak kepala Acha dengan penuh cinta.
Langkah Acha dan Yoga berjalan mendekati bianglala yang dihiasi dengan lampu warna-warni. Mata Acha berbinar kala melihatnya, ada keinginan untuk naik wahana permainan itu tapi terlalu membosankan jika naik sendirian.
“Yoga,” panggil Acha pelan membuat si empu menatap ke arahnya.
“Kenapa?”
“Mau temani Acha naik bianglala?”
Yoga sejenak terdiam, ia sejujurnya enggan namun melihat wajah memelas Acha membuatnya tidak tega untuk menolaknya. Setelah berfikir sejenak, Yoga akhirnya mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Senyum Acha mengambang, ia kemudian menarik tangan Yoga untuk mendekati loket tiket. Setelah mendapatkan tiketnya, Acha pun menarik Yoga untuk menaiki bianglala.
“Yoga,” Acha menoleh sekilas kearah Yoga sembari menunggu bianglala yang masih berputar itu berhenti.
“Hm,” Yoga menoleh kearahnya Acha dengan tatapan bertanya.
“Kamu nggak takut ketinggian, kan?”
Yoga sejenak terdiam, ia menatap Acha dalam kemudian menggeleng pelan.
“Bagus deh, ayo masuk!” Acha terlebih dahulu masuk saat bianglala itu berhenti dan penjaga membukakan pintu untuknya. Yoga mengikuti Acha dan mendudukkan dirinya dihadapan istirnya.
Saat bianglala mulai kembali berputar, Yoga sedikit berjengkit kaget. Yoga tidak memiliki phobia dengan ketinggian hanya saja saat bianglala mulai memutar ia sedikit terkejut.
“Kenapa?” tanya Acha menatap Yoga yang hanya memasang wajah flatnya.
Sekali lagi Yoga hanya membalas dengan gelengan kepala. Seakan peka, Acha menggengam tangan Yoga dan mengusapnya lembut. “Takut ya?”, tanyanya.
“Kaget doang pas mau jalan.”
Acha tidak menanggapi ucapan Yoga. Ia hanya tersenyum simpul kemudian melepaskan genggamannya pada tangan besar Yoga.
Acha memilih untuk menikmati pemandangan yang bisa di lihat matanya. Sementara Yoga memilih untuk memperhatikannya wajah Acha yang terpancar binar bahagia. Suasana begitu hening, tidak ada yang berbicara baik Acha maupun Yoga.
Acha mengeluarkan ponselnya dari sling bang yang bertengger di pundaknya. Ia mulai memotret bahkan berselfi ria. Yoga yang melihat itu mengangkat sudut bibirnya ke atas membentuk senyum tipis. Tanpa aba-aba, Yoga merampas ponsel Acha dan berpindah posisi duduk di sebelahnya istirnya dan mengharapakan kamera ke arahnya dan Acha. Acha yang terkejut pun membulatkan matanya dan Yoga memanfaatkan momen itu untuk mengambil foto Acha.
“Yoga kok jail sih,” seru Acha mengerucutkan bibirnya. Pasalnya Yoga mengambil gambarnya kala ekspresinya sedang jelek.
“Jelek tau,” imbuhnya.
“Cantik kok,” balas Yoga sontak membuat pipi Acha merona. Ia tersipu malu dengan ucapan pujian Yoga.
“Ya udah iya ulang, ekspresi yang bagus,” titah Yoga. Acha mengangguk, ia kembali menatap kamera pun Yoga. Kala Yoga hendak mengambil gambarnya, tangan Acha tiba-tiba terangkat untuk memegang dagu Yoga sementara Acha memanyunkan bibirnya seraya menahan tawa.
Melihat hasil fotonya, Acha terkekeh pelan. “Udah sana pindah takutnya nggak seimbang!” Acha segera merebut ponselnya dan mengusir Yoga untuk kembali pada posisinya.
Yoga hanya menurut saja. “Fotonya kirim, Cha!”
Acha mengangguk, ia kemudian mengirimkan fotonya bersama dengan Yoga.
“Sudah.”
Yoga tersenyum senang, ia segera mengecek ponselnya dan mendowload foto Acha. Senyumnya seketika mengembang dan tanpa sepengatahuan Acha, Yoga menjadikan fotonya dengan Acha sebagai wallpaper hpnya.
Like komennya man-teman!!!
__ADS_1