
Happy Reading!!!
Pagi ini, Acha dan Yoga menyambut pagi yang ke-empat selama di Swiss. Yoga yang sudah membuka matanya terlebih dahulu memainkan wajah Acha membuat si empunya menjadi terusik dalam tidurnya.
"Morning my wife," sapa Yoga kala kelopak mata Acha perlahan terbuka memperlihatkan manik coklatnya.
"Morning my hubby," senyum Acha mengembang kala memberikan balasan. Tanpa aba-aba Yoga mendaratkan ciuman singkat di bibir Acha lantas menggendong Acha ala bridal style memasuki kamar mandi.
"Mandi bareng ya, Cha!" ajak Yoga membuat mata Acha membola dengan wajah yang merona.
"Kenapa? Malu? Semalam aja kamu nggak tahu malu!" ledek Yoga diakhiri dengan kekehannya yang malah membuat pipi Acha semakin merah merona. Tangan kecil Acha terkepal untuk memukul dada Yoga yang tidak terbungkus sehelai benang pun.
\*\*\*
Usai menikmati sarapannya kini, Acha dan Yoga berkahir di dalam chocolate train mereka akan memuji tempat pembuatan keju La Maison de Gruyeres. Setibanya disana, Acha dan Yoga yang juga merupakan pecinta keju memutuskan untuk mengunjungi tempat pembuatan keju La Maison de Gruyeres disana mereka dapat melihat susu yang diproses menjadi keju. Setelah merasa cukup puas, Acha dan Yoga memutuskan untuk berjalan-jalan ke Chateau De Gruyeres. Di desa Gruyeres Acha dan Yoga di sambutan toko, resto, cafe serta penginapan. Dengan bergandengan tangan dan saling bercanda ria hingga memecah tawa, Acha menyusuri bangunan-bangunan dikanan kirinya menuju kastil disana, Acha dan Yoga mengambil beberapa pose foto sendiri dan foto berdua. Setelah kurang lebih satu jam lamanya Acha dan Yoga menghabiskan waktu untuk mengelilingi kastil tersebut, dan menikmati indahnya pemandangan hamparan disana dengan pondok-pondok kecil yang terbuat dari kayu, Acha dan Yoga kembali menaiki chocolate train menuju Maison Cailler. Disana, Acha dan Yoga disambut dengan semebrak wangi coklat yang sangat pekat.
"Seribuan tahun yang lalu cokelat dipuja oleh Suku Maya sebagai makanan para dewa."
Acha menoleh menatap Yoga yang tiba-tiba bersuara. Bukankah laki-laki itu tidak menyukai makanan berjenis coklat? Kenapa dirinya bisa tahu.
"Tau darimana?"
"Tuh," Yoga menunjuk sebuah tulisan yang tertempel disebuah dinding dengan tatapan matanya. Acha pun mengikuti kemana arah mata Yoga memandang detik itu juga, bola matanya merotasi malas.
"Kirain tahu sendiri, taunya malah baca!" seru Acha. Jelas nada bicaranya sorot akan ejekan. Perempuan itu kemudian memilih untuk berkeliling dan mencoba berbagai macam coklat yang ada disana.
"Yoga, cobain deh," Acha menyodorkan sepotong coklat ke dekat mulu Yoga namun seperti biasa laki-laki itu menggelengkan kepalanya.
"Coklat itu makanan paling enak nomor satu, mood banget buat cewek," terang Acha alay sembari masukkan potongan coklat tersebut kedalam mulutnya.
"Pait," balas Yoga dengan santainya.
"Kata siapa? Manis! Makannya coba!" seru Acha.
__ADS_1
"Manisan juga gue," ujar Yoga dengan wajah kelwatan santai.
Acha mendelik seketika. "Pede banget lo."
Rahang Yoga hampir jatuh mendengar Acha memanggilnya dengan kata lo. "Dih, sejak kapan Aracha ganti panggilan jadi lo?"
Acha terkekeh pelan mendengar pertanyaan Yoga. "Perpaduan antara pahit dan manis yang menyatu menjadi satu hingga menghadirkan rasa yang nikmat-"
"Seperti kehidupan," tukas Yoga cepat.
Acha tersenyum dengan penuturan Yoga. "Iya. Seperti itulah kehidupan, rasanya seperti menikmati sepotong coklat. Perlahan pahit dan manis itu akan terkikis habis."
\*\*\*
S
enyum Acha mengembang sempurna kala melihat pemandangan salju di depannya. Ini, adalah kali pertama dirinya melihat serta menikmati dinginnya salju secara langsung.
"This is very fun," gumam Acha.
Yoga memutar kepalanya menatap Acha. "It's more fun because it's passed with you," balas Yoga.
Acha menatap Yoga, dengan keadaan yang telentang dan saling berhadapan, keduanya sama-sama mendaratkan kecupan di bibir yang berakhir dengan \*\*\*\*\*\*\* kecil. Keduanya sama-sama menyalurkan kehangatan dan cinta melewati ciuman singkat itu.
Selang beberapa menit setelah adegan ciuman itu kini, Acha kembali dibuat tertawa lepas kala sebuah anjing husky menarik seluncuran yang dikendarainya dengan Yoga yang memegang di belakangnya.
"Aaaaa," pekik Acha kala seluncuran itu melaju dengan kencang.
"Yoga, habis ini gantian kamu!" teriak Acha seraya mendongak menatap Yoga.
"Oke," balas Yoga.
Tak berselang lama, mereka berdua pun bergantian. Disini, ditempat yang dipenuhi salju Acha dan Yoga benar-benar menghabiskan waktu berdua. Tidak jarang juga mereka mengabadikan momen mereka dengan foto atau video. Yoga juga mengajak Acha untuk mencoba menaiki alpine coaster yang memiliki 10 belokan tajam dan 6 lintasan berkelok yang dapat dinikmati dengan kecepatan 40km/jam. Benar-benar menguji adrenalin. Bahkan, pekikan Acha seperti tiada habisnya terdengar dengan diiringi tawa yang menggelegar. Bukan hanya itu, Acha dan Yoga juga tidak lupa menikmati pemandangan dari sebuah jembatan gantung yang memiliki panjang 107 meter.
__ADS_1
"Yoga potoin!" pinta Acha. Dengan sigap, Yoga pun mengambil ponselnya dan mengambil beberapa foto Acha dan juga dirinya.
Setelah mengabadikan momen, Acha dan Yoga menuju Glacier Walk, menaiki kursi gantung ice express yang akan membawa mereka menuju restaurant Refuge I'Escape.
Acha menatap buku menu yang baru saja di serahkan oleh seorang pelayan. Lama melihat menu tersebut, Acha masih belum menemukan pilihan. Ia kemudian melirik kearah Yoga yang sedang menatapnya.
"Kenapa?" tanya Yoga.
"Nggal bisa bacanya," ujar Acha membuat tawa Yoga pecah seketika. Dengan gemas Acha mendaratkan cubitan kecil di lengan Yoga.
"Oke-oke ampun," ujar Yoga seraya meredakan tawanya. Ia kemudian mengambil alih buku menu yang berada dihadapan Acha.
"Bitte bringen sie hier die beste Speisekarte heraus!" ujar Yoga dengan sopan. Laki-laki itu terlihat berbicara menggunakan bahasa Jerman dengan sangat lancar. (Tolong keluarkan semua menu terbaik disini!"
"Alles klar, bitte warten sie einen moment," balas pelayan perempuan dengan rambut blonde itu. Ia kemudian melenggang pergi meninggalkan meja yang di tempati Yoga dan Acha. (Baiklah, mohon tunggu sebentar)
Lepas kepergian pelayanan itu, Acha menatap kagum kearah Yoga, ia bertepuk tangan kecil. "Keren banget. Tadi Yoga ngomong apa sama bule itu?"
"Minta semua menu andalan dikeluarkan," balas Yoga santai.
"Heh, kok banyak banget? Mana bisa kita berdua habisin!"
"Gapapa, nggak usah dihabisin. Cicipin aja dikit-dikit."
\*\*\*
Acha terlihat sedang mengeringkan rambutnya menggunakan sebuah handuk kecil yang digenggamnya. Masih dengan balutan bathrope, Acha menghampiri Yoga yang terlihat sedang melakukan panggilan video di balkon kamarnya. Acha memeluk pinggang Yoga dari belakang tanpa peduli kalau Yoga merasa terganggu nantinya, toh tubuh kecilnya itu tertutup punggung Yoga.
"Gue tutup dulu, bye," ujar Yoga pada kedua temannya yang mengisi penuh layar ponselnya. Ia mematikan panggilan video itu kemudian membalikkan tubuhnya memeluk erat Acha.
"Last night in Swiss, Cha," bisik Yoga namun Acha tidak menghiraukan. Ia masih tetap mengeratkan pelukannya pada tubuh jangkung Yoga yang terasa hangat.
Tanpa aba-aba, Yoga langsung mengangkat tubuh Acha, membawa istrinya itu ke atas tempat tidurnya dan membaringkan disana. Yoga menarik handuk yang masih digenggam Acha, melemparnya kesembarang arah. Secepat kilat, Yoga membenamkan ciuman di bibir Acha yang kemudian dibalas oleh Acha. Malam ini, malam yang dingin dan berhiaskan buliran salju yang tiba-tiba turun sepertinya akan menjadi malam yang panjang untuk Acha dan Yoga.
**Selesai**
__ADS_1