Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
48. Mengejutkan


__ADS_3

Happy Reading!!!



Plakkk



Plakkk



Plakkk



Plakkk



Tamparan keras itu kembali mendarat di pipi Kananya yang sudah memerah. Yoga, tanpa ampun dan tanpa berperikemanusiaan menampar pipi Kananya bergantian, kiri dan kanan.



“Kak, Naya minta maaf,” cicitnya. Sungguh perih dan panas rasanya, rahangnya seakan hancur setiap kali Yoga mendaratkan tamparan di pipinya.



“Udah gue peringatin supaya lo nggak ikut campur dalam urusan rumah tangga gue tapi kenapa lo malah bilang yang sebenarnya sama mama gue?” Mata Yoga mendelik tajam membuat nyali Kananya semakin menciut. Aura Yoga kali ini lebih seram dari pada saat hanya memberikan sebuah peringatan.



“Kananya tau Kananya salah tapi Kananya lakuin itu karena Kananya suka sama kak Yoga.”



“Tapi gue nggak suka sama lo \*\*\*\*\*\*! Apalagi setelah ini, gue makin benci sama lo!”



Kanaya menangis dengan perasaan yang hancur. Yoga menjenggut kuat rambut Kanannya membuat si empunya semakin menangis merasakan sakit serta perih pada kulit kepalanya. “Nggak peduli lo perempuan, kalau lo berani ngusik keluarga gue, siap-siap lo angkat kaki dari negara ini!”



Yoga melepaskan jenggutan pada rambut Kananya dengan kasar. Ia melenggang keluar dari ruangan pengap yang ia gunakan untuk memberikan pelajaran untuk adik kelasnya yang dengan berani mengusik hidupnya dan keluarganya. Kanaya telah membangunkan singa maka sekarang ia harus tahu konsekuensinya.



Usai memakai helmnya, Yoga menghidupkan mesin motornya hendak melajukan motornya kembali ke apartemen karena tadi ia berpamitan kepada Acha untuk pergi sebentar.



Sebuah notifikasi chat masuk ke dalam ponsel Yoga membuatnya terpaksa mengurungkan niatnya untuk pergi. Di ambilnya benda pipih tersebut dari saku celananya, sebuah pesan dari Dinda terlihat mengisi layar ponselnya yang menyala.



Dinda :


Yog, bisa temuin gue di cafe biasa kita nongkrong? Ada sesuatu yang pengen gue omongin, penting.



Yoga :


Otw



Yoga kembali menyimpan ponselnya usai mengirimkan balasan kepada Dinda. Dengan segera, ia melakukan motonya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan yang cukup ramai kendaraan berlalu lalang.


__ADS_1


Tidak peduli itu kendaraan roda dua, roda empat bahkan delapan pun Yoga tetap menyalipnya hingga sepuluh menit berselang Yoga akhirnya tiba di cafe yang Dinda janjikan. Segera ia buka helmnya hingga menimbulkan kesan tampan lantas ia beranjak turun dari motor sportnya. Kakinya yang terbalut sneakers melangkah memasuki cafe yang tidak begitu ramai.



“Yoga, disini,” Dinda yang duduk di sudut ruangan itu melambaikan tangan membuat Yoga lantas menghampirinya.



“Mau ngomong apa?” kata Yoga bertanya to the point dengan nada dinginnya seperti biasa.



“Duduk dulu!” pinta Dinda yang kemudian langsung di turuti oleh Yoga.



“Cepat, gue harus balik sekarang!” desak Yoga tidak sabaran.



“Buru-buru banget, kenapa sih?”



“Kalau nggak ngomong sekarang gue pulang!” ancaman Yoga tentu tidak main-main. Laki-laki itu kini sudah beranjak berdiri.



“Eh, iya-iya jangan!” Dengan segera, Dinda menahan pergelangan tangan Yoga membuat si empunya kembali mendudukan dirinya.



Dinda menghela nafas, ditatapnya lekat netra kelam Yoga yang tidak seteduh dulu. Wajahnya yang semula ceria mendadak menjadi sendu.



“Lo udah beneran move on dari gue?”




“Lo nggak bilang iya berarti lo masih ada rasa sama gue,” seru Dinda cepat. Ia lantas menggenggam kedua tangan Yoga. “Yog, lo jujur sama gue, jujur sama diri lo sendiri kalau lo masih sayang sama gue. Gue mau kita kayak dulu lagi, gue mau kita balikan seperti dulu lagi. Jujur, gue belum bisa relain lo sama cewek lain,” pinta Dinda.



Yoga menjauhkan tangan Dinda dari tangannya. “Sorry, Din. Gue nggak bisa, gue udah cinta sama Acha,” kali ini Yoga berujar dengan lembut.



Dinda tersenyum kecut. “Gue tahu kok lo bakal nolak. Gue cuma kangen sama Yoga gue yang dulu,” setitik air mata menembus pelupuk indah milik Dinda.



“Yog, gue boleh peluk lo nggak? Untuk terakhir kalinya dan setelah ini gue bakal bener-bener belajar buat relain lo sama Acha.”



Ingin Yoga menolak namun ia tidak tega melihat tatapan mata Dinda yang menyimpan banyak harapan dan kesedihan. Dengan terpaksa akhirnya Yoga mengangguk membuat Dinda tersenyum senang. Ia segera bangkit dari kursi yang didudukinya lantas menghambur memeluk Yoga.



Dinda memejamkan matanya, menikmati pelukan Yoga yang sudah lama tidak ia rasakan. Hanya satu menit, Dinda melepaskan pelukannya, gadis itu menatap Yoga yang masih menatapnya. “Thaks, Yog, gue balik dulu,” Dinda mengambil slingbagnya yang tersimpan di atas meja lantas berlalu meninggalkan Yoga.



“Tunggu!” Dinda menghentikan langkahnya, sontak Yoga pun menghampirinya.



“Lo nggak bawa mobil kan?” Dinda menggeleng sebagai jawaban pertanyaan Yoga.

__ADS_1



“Gue anterin!” setelah itu Yoga terlebih dahulu berjalan mendahului Dinda menuju parkiran dimana mobilnya tersimpan. Senyum Dinda mengambang di balik punggung Yoga.



“Gue tahu lo masih peduli sama gue, Yog,” gumam Dinda lantas mengikuti Yoga menuju motornya.



\*\*\*



“Gue langsung balik,” ujar Yoga sesampainya motornya berhenti tepat di depan rumah gadis itu.



“Makasih ya, hati-hati di jalan,” Dinda hendak turun dari motor Yoga. Namun, saat ia hendak menurunkan kakinya suara riuh terdengar begitu nyaring di telinga Dinda dan Yoga. Seperti ada suara orang bertengkar.



Dinda pun segera berlari memasuki rumahnya sementara Yoga yang kala itu hendak melajukan motornya pun mengurungkan niatnya ia ikut berlari menyusul Dinda.



“PAPA STOP!” teriak Dinda kala laki-laki setengah baya itu hendak melepaek sebuah guci yang berukuran cukup besar kepada Ken yang sudah tergeletak dengan wajah lebam di lantai.



Dinda sudah menangis sembari memeluk Ken. “Kakak nggak apa-apa?” kata Dinda bertanya di sela-sela isak tangisnya.



Ken menggeleng lemah. “Kamu ke kamar aja ya, kakak nggak apa-apa,” ujarnya.



Dinda menggeleng, ia kemudian berdiri menatap sang papa. “Papa apa-apa sih? Kenapa papa lakuin ini sama Kak Ken? Emang dia salah apa sama Papa?” teriak Dinda tepat di depan wajah papanya.



“Karena dia berani membantah papa dan membuat tante Mira menangis!” suara Papa Dinda tidak kalah tajam hingga menusuk indera pendengaran Dinda.



“Hanya karena wanita \*\*\*\*\*\* itu papa sampai main kasar?” Dinda merasa papanya sudah benar-benar keterlaluan kali ini.



“JAGA BICARA KAMU DINDA!” laki-laki setengah baya itu hendak mendarat sebuah tamparan di wajah Dinda namun dengan gerakan cepat Yoga menahannya.



“Om, jangan main tangan!” peringat Yoga. Suaranya terdengar begitu dingin serta sorot matanya begitu tajam namun itu tidak membuat papa Dinda merasakan takut. Sampai sebuah suara yang akhirnya berhasil menyita atensi semua orang yang ada disana tidak terkecuali Yoga yang masih menahan tangan papa Dinda.



“Mama—”



Ada yang kasih komentar di part julid katanya aku nggak bisa berhitung gara-gara aku menulis di sana kandungan Acha sudah memuski trisemester ke-2 dan chek up lagi pas Minggu ke 30.


Kalau seandainya aku salah menghitung mohon maaf bunda-bunda. Maklumin aja aku masih kecambah yang belum menikah mwehehehe. Jadi, aku cuma menulis berdasarkan riset di Google.



Nah, minggu ke-30 adalah trisemester ke-3 di mana pertama kali melakukan check up setelah memasuki trimester tersebut. Begitu yaww ^^


Jadi, sekali lagi mohon maaf apabila ada kesalahan atau plot hole 🙏🙏🙏

__ADS_1


Pembaca lama pasti taulah aku masih sekolah wkwkwk. 😂


__ADS_2