Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
56. Pergi


__ADS_3

Happy Reading !!!




Acha perlahan membuka matanya, ia merasakan tubuhnya sangat lemas serta kepalanya pusing. Ia mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi tapi nihil, kepala Acha malah semakin terasa berdenyut nyeri. Acha menundukkan pandangan, melihat kaki dan tangannya yang terikat serta mulutnya yang di sumpal menggunakan kain, ia mencoba untuk meronta tapi tidak bisa. Pada akhirnya, Acha memilih untuk mengedarkan pandangannya dan detik itu pula Acha menemukan Dinda dan juga seseorang yang tampak asing di penglihatan matanya.



"Sudah bangun?" Dinda terseny menatap Acha yang terlihat menyedihkan dan tidak berdaya.



Acha mencoba untuk mengekuark suara namun tidak bisa. Perempuan itu hanya melemparkan tatapan tajamnya kepada Dinda.



"Ngapain lihatin gue kayak gitu? Mau marah? Emang bisa apa?" seru Dinda. Gadis itu kemudian tertawa.



"Lo tahu Acha, kenapa lo bisa berada disini dengan keadaan yang teramat menyedihkan seperti ini?" Dinda melipat tangannya di depan dada, berjalan perlahan mengitari Acha kemudian menjenggut kuat rambut Acha sampai membuat si empunya itu mendongak.



"Sekarang gue baru tahu darimana bakat lo buat rebut cowok orang. Ibu lo aja \*\*\*\*\*\*, tentu saja nurun ke anaknya."



Acha marah, ia sangat marah mendengar penuturan Dinda namun ia sama sekali tidak mampu mengeluarkan suara kecuali gumam tidak jelas.



Kini, gantian gadis asing yang adalah Kananya mendekati Acha. Kananya menampar keras pipi Acha membuat tubuh lemasnya terhuyung. "Ini buat sakit yang gue rasakan kala Yoga nampar gue!" ujarnya.



"Lo mau hidup tenang kan?" Dinda kembali membuka suara. Gadis itu kemudian tersenyum. "Hari ini, gue bakal kasih ketenangan buat lo!"



Dinda melepaskan jenggutannya pada rambut Acha. Gadis itu kemudian menyerukan kata masuk yang artinya memberikan titah kepada seseorang yang berjaga di luar sana.



"Ini yang ada minta, Nona," sosok bertubuh tegap itu masing-masing memberikan sebuah pistol kepada Dinda.



Dinda menatap pistol yang berada di genggamanya itu dengan sebuah seringaian. Ia kemudian beralih menatap Acha. "Kalian berdua pegang dia! Bawa dia berdiri di tengah-tengah!" titah Dinda.



Kedua orang itu menurut. Ia segera memaka Acha untuk berdiri dan menyeretnya menuju tengah-tengah antara Dinda dan Kanannya. Dinda berada di depan Acha dan Kananya berada di depan Dinda.



Acha menggelengkan kepalanya tapi Dinda sama sekali tidak menggubrisnya. "Aku tidak mau berlama-lama bermain dengan lo, Acha! Aku hanya ingin lo cepat-cepat merasakan yang namanya kematian. Nyawa harus dibayar dengan nyawa!" Dinda mengarahkan pistol yang digenggamnya tepat pada jantung Acha, pun dengan Kananya, perempuan itu mengarahkan pistol tepat pada punggung kiri Acha.



Acha memejamkan matanya kala Dinda sudah mulai menarik pelatuk pistolnya. Air matanya tiba-tiba luruh kala ia teringat dengan Yoga. Yoga, maaf karena sepertinya aku akan menjadi bagian orang yang menorehkan luka di hatimu dengan kepergianku. Batin Acha, pikiran dan hatinya kini benar-benar dipenuhi dengan Yoga.



"KANAYA TEMBAK!" instruksi Dinda dan detik itu pula suara tembakan pun terdengar nyari di sana.



Dorrrrr



\*\*\*


__ADS_1


Usai bertukar suara dengan sosok yang menemukan hp Acha, Reiki segera menghubungi Yoga. Mereka memutuskan untuk mencari Acha di sekitar Garden Cafe.



Disatu sisi, Reiki mencoba untuk mengingat-ingat tempat mana saja yang biasa ia jadikan markas rahasia dengan Ken dkk. Dan di satu sisi Yoga terus mengingat-ingat dimana tempat di sekitar Garden Cafe yang menurutnya sepi.



Keduanya terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, berharap lekas menemukan Acha dalam keadaan baik-baik saja.



"Cha, lo dimana sih?" gumam Yoga. Sorot matanya jelas memancarkan kekhawatiran yang mendalam.



Pun dengan Reiki, ia tak kalah khawatir dengan Yoga. "Gue pasti bisa nemuin lo, Cha. Hari itu gue nggak bisa lindungin lo dan calon anak kita. Maka hari ini gue harus bisa lindungin lo."



Ditengah-tengah kepanikan yang melanda, sebuah dering tiba-tiba terdengar, Reiki pun segera menerimanya setelah melihat siapa nama penelfonnya.



"Lantai 10 bangunan kosong belakang Garden Cafe."



Hanya itu yang Ken katakan setelah itu panggilan pun terputus. Reiki tidak ambil pusing, laki-laki itu kemudian memacu mobilnya menuju tempat yang diberitahukan oleh Ken. Sebelumnya, Reiki juga memberitahu Yoga dimana posisi Acha dan Yoga pun segera mengerahkan anak buahnya menuju bangunan kosong tempat Dinda menyekap Acha.



Sepuluh menit berselang, Reiki terlebih dahulu sampai dan bersamaan itu pula mobil Ken pun tiba.



"Ayo kita ke atas sekarang, nyawa Acha dalam bahaya!" titah Reiki. Keduanya kemudian berlari memasuki bangunan kosong itu, langit sudah mulai gelap membuat sehingga memaksa Reiki dan Ken menghidupkan senter hpnya sebagai pencahayaan. Keduanya terus berlari menaiki anak tangga yang tidaklah sedikit jumlahnya. Tidak peduli seberapa banyak peluh yang membasahi wajah mereka-Ken dan Reiki terus berlari menuju lantai 10.



"ACHA!" Reiki dan Ken berteriak kencang setibanya di lantai 10. Keduanya mencari dimana keberadaannya Acha.




"Shitt! Dimana adik lo bawa Acha?" geram Reiki frustasi.



"Ruangan paling sudut," ujar Ken kemudian. Laki-laki itu lantas berlari menuju tempat yang tadi ia sebutkan diikuti Reiki dan benar saja, Acha berada disana bersama Dinda dan juga Kananya.



Pelatuk sudah ditarik oleh Kananya dan Dinda sampai sebuah instruksi terdengar Reiki dan Ken pun berlari sekuat tenaga mereka berdua berlari kala Dinda dan Kanaya sudah melepaskan pelatuknya dan tepat, tepat saat peluru itu sudah berada di tengah-tengah melesat dengan kencang menembus dada Acha, Ken dan Reiki menghadangnya sehingga pelatuk itu justru mengenai dada Ken dan Reiki tepat di jantung.



Mata Dinda dan Kanaya membola, rahangnya jatuh. Senyum yang tadi terukir memudar seketika. Pistol yang ada di ganggamannya jatuh membentur lantai.



Acha yang tidak merasakan apa-apa segera membuka matanya dan betapa terkejutnya ia kala melihat Ken di depannya. Acha menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya, ia memutar tubuhnya dan mendapat Reiki yang bernasib sama dengan Ken.



"K-ka-kakak," cicit Dinda terganggu. Ia syok dengan keadaan yang sedang terjadi pun dengan Kananya, ia mencicitkan nama Reiki dengan terbata semata Acha membeku di tempatnya, lidahnya terasa kelu untuk mengeluarkan suara.



"KAK KEN," pekik Dinda. Air matanya kini mengalir dengan bebasnya, ia berlari menghampiri Ken yang perlahan tumbang.



Tubuh Acha luruh menjuntai lantai. Acha menatap Ken dan Reiki bergantian dengan air mata yang berderai. Perempuan itu kemudian menarik Reiki yang sudah tejatuh, membiarkan kepala Reiki di atas pahanya. Acha menangis menatap Reiki yang mencoba tersenyum ke arahnya, tangannya terus memegang dadanya yang tak henti-hentinya mengeluarkan darah.


__ADS_1


"K-ke-kenapa kamu lakukan ini?" kata Acha bertanya, bibirnya bergetar hebat.



"D-osa g-ue ter-lalu b-nyak sam-a loh, Cha. Han-nyah in-ni ya-ng bi-bisa g-ue la-ku-kan b-buat nebus se-semua pen-deritaan ya-ng se-sudah g-gue to-rehkan ke loh," Reiki berucap dengan terbata, dadanya terasa sesak dan ia seperti kehabisan pasokan udara. Acha menggelengkan kepalanya.



Ia kemudian memutar lehernya menatap Ken sama parahnya dengan Reiki. "Ka-k Ken," lirih Acha.



Ken tersenyum. "Ka-kamu jan-gan se-dih, Cha. Ka-kalian ber-dua adik kakak," ujarnya terbata.



Tangis Acha dan Dinda memecahkan kencang sementara Kananya sudah gemetar di tempatnya. Perempuan itu ingin kabur tapi naas karena Yoga dan beberapa anak buahnya tiba menahannya.



Yoga berlari menghampiri Acha dan Reiki yang terbaring di pangkuan Acha, tubuhnya lemas seketika. Ia terlambat, ia terlambat menyelamatkan saudaranya.



"Bang," lirih Yoga. Ia terduduk di depan kakaknya, menarik tubuh kakaknya untuk di peluk erat, tangisnya ikut pecah disana.



"Dek, kamu jaga A-cha b-baik-b-baik ya, ja-ga ma-ma d-an juga j-aga Liona. T-tugas ab-ang u-untuk j-aga me-re-ka sudah se-lesai."



Yoga menggeleng. "Yoga, Yoga bawa abang ke kerumah sakit sekarang!"



Reiki menggeleng. "Ng-nggak us-sah. Ab-bang ud-dah capek. A-bang mau ket-temu ma-ma sa-ja."



Malam ini, dalam ruangan yang sepi nan sunyi kini dipenuhi dengan tangis yang memilukan. Hati mereka seperti hancur lebur bak daun keringat yang sudah usang dan melebur.



Sebelum benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya, Ken meminta kepada Dinda untuk melupakan semua dendamnya, merelakan Yoga bersama Acha dan meminta mereka menjadi saudara yang rukun.



Kini, Reiki dan Ken sama-sama berbaring dengan alaskan paha Acha, tatapan keduanya semakin sayu dan itu membuat hati Acha nyeri luar biasa. Begitu besar pengorbanan mereka untuk dirinya bahkan sampai bertaruh nyawa.



"Ac-cha, ka-kak sen-nang k-karena ka-li ini t-tidak terlambat menyelamatkan k-kamu."



"Se-sekarang ka-kamu ban-tu k-kita talqin ya."



Acha menggeleng, ia tidak ingin, ia tidak ingin membantu kakaknya dan juga kakak iparnya untuk melakukan itu. Tapi, itu adalah permintaannya maka dari itu dengan sekuat tenaga Acha mengeluarkan kalimat talqin dari dari tenggorokannya.



"Laa Ilaaha Illalaah," dengan susah payah, Acha mengucapakan kalimat itu yang langsung diikuti oleh Reiki dan Ken.



"Laa ilaaha illalaah," ucap mereka bersama dan detik itu juga mata mereka terpejam untuk selama-lamanya, jantungnya berhenti berdetak dan nafasnya berhenti berhembus.



Tangis Acha dan Dinda memecah kuat, Acha memeluk kedua orang yang berkorban nyawa untuknya pun dengan Dinda. Hatinya menyimpan sebuah perasaan tidak rela ditinggalkan.



"Kakak, bangun!" Dinda mengguncang kuat tubuh Reiki berharap kakaknya itu akan kembali membuka mata. Hatinya hancur berkeping-keping karena kakaknya meninggal di tangannya.

__ADS_1



Yoga memeluk erat tubuh Acha, malam ini benar-benar menjadi malam yang memilukan untuk mereka semua.


__ADS_2