Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
34. Amarah Yoga


__ADS_3

Happy Reading



Waktu terus berlalu dan petang pun mulai menyapa namun Liona masih belum kunjung menemukan Acha. Segala tempat sudah di hampirinya namun kakak iparnya itu tidak kunjung ketemu juga. Bahkan, di apartemennya sekalipun Liona tidak menemukan keberadaan Acha.



“Gimana, Non? Apa kita pulang sekarang?” tanya sang supir manatap Liona yang terlihat panik.



“Lanjut cari aja, pak,” pinta Liona yang dibalas anggukan oleh supir tersebut. Sepanjang perjalanan Liona masih terus menatap jalanan sampai akhirnya dering ponsel terdengar, Liona pun segera membuka ponselnya dan menerima panggilan dari mamanya.



“Hallo, Li, kamu dimana? Sekarang udah malam kenapa masih belum pulang juga?”



“Mama, maaf,” cicit Liona pelan.



“Ada apa?”



“Kak Acha hilang, Liona udah nyari kemana-mana tapi masih belum ketemu juga,” detik itu juga tangis Liona memecah. Rasa takut, khawatir nan juga bersalah beradu menjadi satu. Meksipun Liona selalu berperilaku dingin namun ia tetaplah seorang perempuan yang berhati lembut, siap menangis kapan saja.



“Kok bisa, sekarang kamu dimana?” suara Nadin terdengar panik di sebrang sana.



“Li masih di jalan.”



“Ya udah, sekarang kamu pulang biar mama telfon kakak kamu buat cari Acha.”



Liona mengangguk meskipun Nadin tidak melihatnya. Kala panggilan terputus Liona segera meminta supir untuk kembali pulang. Sementara di tempat lain, tepatnya di sebuah cafe dimana Yoga masih setia berbincang dengan teman-temannya seketika menghentikan ucapannya kala dering ponsel terdengar.



“Mama,” Yoga sedikit kecewa kalau membaca nama si penelpon namun ia tetap menerima panggilan tersebut.



“Hallo ma, kenapa?”



“Hallo Yoga, kamu dimana sih? Istri kamu ilang bisa-bisanya kamu masih santai-santai aja!” semprot Nadin di seberang sana.



Yoga menegang ditempatnya. “Maksud mana apa?”



“Acha tadi pergi ke toko buku sama Liona tapi sampai detik ini belum pulang juga. Mama khawatir, Yoga,” tangis Nadin mulai terdengar membuat hati Yoga semakin ketar-ketir dibuatnya.



“Mama tenang dulu okay, biar Yoga cari Acha sekarang.”



“Iya, kamu hati-hati di jalan ya, segera bawa Acha pulang.”



Yoga segera memutuskan sambungan telfonnya. Ia kemudian menyahut ponsel tas sekolah dan kunci mobilnya. Dean dan Gavin yang melihat kepanikan Yoga pun membuka suara.



“Ada apa?”


__ADS_1


“Acha hilang, gue harus cari dia sekarang,” seru Yoga kemudian berlari keluar meninggalkan kedua temannya.



“Lah, kok bisa ilang sih?” ujar Dean menatapnya Gavin penuh tanya.



“Ga tau lah gue, ayo kita bantu cari!”



Gavin segera beranjak berdiri diikuti dengan Dean. Keduanya terlebih dahulu membayar pesanan sebelum akhirnya berlalu keluar.



...\*\*\*...



Acha terus melangkah kakinya tanpa tujuan. Langkahnya begitu gontai dengan wajah yang terlihat sembab. Siapa saja yang melihat penampilan Acha sekarang pasti mengira kalau Acha adalah gelandangan.



Perkataan Reiki masih terus terngiang memenuhi kepala Acha membuat nyeri di dadanya tidak kunjung mereda. Acha bukan tidak ingin pulang, hanya saja ia belum siap untuk bertemu Yoga, kenyataan ini terlalu mendadak untuk ia terima.



Acha mengusap kasar air mata yang kembali membasahi pipinya, lagi-lagi hatinya berdenyut nyeri. Acha mendudukkan dirinya pada bangku besi yang tidak jauh darinya. Untuk sesaat biarlah ia seperti ini dulu hingga mendapatkan ketenangan lagi dalam hatinya.



Sebuah mobil tiba-tiba berhenti tepat di hadapan Acha namun Acha masih tidak menyadarinya hingga si pengemudi keluar dan menghampirinya.



“Acha, lo kenapa bisa ada disini?” itu suara Ken, laki-laki itu kebetulan melintas hendak pulang ke rumah utama namun malah tidak sengaja mendapati Acha.



Acha mengangkat wajahnya menatap Ken dengan tatapan sendunya. “Kak Ken,” cicitnya.




Tanpa aba-aba Acha langsung menghambur memeluk Ken membuat di empu terkesiap namun dengan cepat Ken membalas pelukan Acha, menyalurkan kehangatan pada gadis itu.



Acha kembali menangis sejadi-jadinya, ia butuh sandaran sekarang dan hanya Ken satu-satunya yang ada.



“Cha, cerita sama gue, lo kenapa? Apa Yoga memperlakukan lo dengan buruk?”



Mendengar nama Yoga disebutkan, Acha sontak mengurai pelukannya. Dengan sesegukan Acha menatap Ken yang menatap lembut dirinya. “Kan Ken tahu?”



Ken mengangguk lemah.“Maka dari itu Cha gue minta lo buat ketemu tapi lo nggak pernah mau.”



“Maaf, Kak,” cicit Acha. “Acha nggak bermaksud buat rebut Yoga dari Dinda.”



Ken mengela nafas berat. Lagi-lagi ia terlambat untuk menolong Acha dari kehancuran. “Lo nggak salah, Cha. Mungkin ini semua memang sudah takdir, Dinda sama Yoga nggak berjodoh.”



“Tapi gara-gara Acha Dinda sama Yoga putus. Gara-gara Acha juga Yoga sama kakaknya jadi renggang. Dan ya, gara-gara Acha kak Ken sama dia pertemanannya jadi retak,” Acha kembali menangis. Entah kenapa ia merasa menjadi penyebab semua masalah yang ada. Ken yang tidak tega kembali menarik Acha untuk direngkuhnya.



“Shtt... Lo jangan nangis, Cha, hati gue sakit liat lo begini. Lo nggak salah, lo jangan nyalahin diri lo sendiri, kalaupun ada orang yang bisa di salahkan, maka Reikilah orang itu. Dia yang menjadi penyebab hancurnya ini semua.”



...\*\*\*...

__ADS_1



Yoga mencengkram kuat kemudi mobilnya. Pemandangan di depan matanya begitu menyanyat hatinya. Membuat matanya memanas dan menciptakan gemuruh di dadanya. Marah, kesal dan cemburu beradu menjadi satu.



Kenapa semenyekitkan ini? Batin Yoga seraya memejamkan matanya.



Dengan segera, Yoga kembali menancap gas mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan malam yang lumayan lenggang.



Yoga marah dengan Acha, ia berfikir istirnya itu menghianti dirinya. Gue kurang apa? Rahang Yoga mengetat. Ia semakin menambah kecepatan mobilnya hingga sepuluh menit kemudian ia sudah tiba di apartemennya. Dengan amarah yang masih memburu Yoga masuk ke dalam gendung yang menjadi rumah untuknya dan Acha.



Setibanya di apartemennya, Yoga langsung meleparkan tubuhnya di atas tempat tidur mencoba untuk meredam amarahnya namun kenyataannya tidak bisa. Nafasnya masih memburu dan tatapannya begitu tajam. Memori tentang Acha yang menangis dan memeluk Ken terus berputar di otakknya membuat Yoga menggerang kesal. Ia menjambak rambutnya frustasi lantaran bangkit dari tempat tidurnya dan menuju balkon kamarnya.



Tepat saat Yoga berada di balkon, ia melihat Acha yang keluar dari mobil Ken. Sejenak keduanya tampak berbincang, Acha terlihat tersenyum dan melambaikan tangannya kala Ken kembali masuk ke dalam mobilnya. Melihat Acha yang mulai memasuki apartemen, Yoga segera melangkah keluar untuk menyambut kepulangan istrinya.



“Darimana saja?” suara dingin Yoga menggintrupsi kedatangan Acha.



“Maaf, aku pulang telat,” cicit Acha. Melihat Yoga dengan aura dinginnya menimbulkan perasaan takut dalam diri Acha.



“Lo nggak tahu diri banget ya, Cha. Lo kira lo siapa?” bentak Yoga.



Acha terkesiap, ia tidak paham dengan perkataan Yoga yang jelas perkataan Yoga barusan telah melukai hatinya. Ibarat ucapan Yoga adalah garam yang ditaburkan di atas luka yang Reiki berikan.



“Maksud Yoga apa?” cicit Acha.



“Lo nggak usah munafik deh, Cha! Lo udah lupa bagaimana lo bisa sampai kayak gini? Asal lo tahu gue nolong Lo karena gue kasian sama lo, gue bilang gue mau lo dan anak lo karena refleks. Dan gue nikah sama lo karena gue tahu anak yang lo kandung adalah darah daging kakak gue.”



Lepas sudah Aramah yang sejak tadi di tahannya. Segala uneg-uneg akhirnya keluar begitu saja berubah kata-kata yang ternyata lebih meyakinkan dari ucapan Reiki barusan.



Air mata Acha lirih detik itu juga, bibirnya terlalu kelu untuk mengeluarkan kata-kata. Ini lebih menyakitkan daripada tadi.



“Air mata buaya lo itu nggak berlaku buat gue asal lo tahu. Gue nggak sudi sama perempuan yang mau sama cowok sana sini!”



Dada Acha seperti ditikam bertubi-tubi. Apa salahnya sampai Yoga tega mengatakan itu kepadanya? Kenapa semua orang selalu berlomba-lomba untuk menyakiti hatinya? Apa di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar peduli dengannya. Ingin sekali Acha mengutarakan semua yang ingin ia utarakan namun suaranya seakan tercekat di tenggorokan. Ingin Acha berteriak di depan Yoga ia tidak ingin di tolongnya kala itu namun lidahnya terasa kelu.



“Gue kurang apa, Cha sampai lo selingkuh?” Yoga kembali membentak membuat tubuh Acha sedikit berjengkit kaget.



Ingin Acha menjelaskan namun ia kenapa bibirnya sangat susah untuk digerakkan.



“ANJING!” umpat Yoga kemudian berlalu pergi meninggalkan Acha yang masih bergeming di tempatnya. Tubuh gadis itu sekarang bahkan sudah luruh menyapu dinginnya lantai. Acha menangis tersedu-sedu hingga tidak mampu mengeluarkan suara.



Sakit namun tidak berdarah, perih namun tidak tergores. Aku terluka hingga dalam, Tuhan. Semuanya terlalu menyakitkan.



Feel-nya dapat nggak sih? Komen-komen aku pusing ini

__ADS_1


__ADS_2