Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
05. Harapan Yoga


__ADS_3

... Happy Reading ❤️...


...•...


...•...


...•...


Usai dengan makan malamnya Acha kini sedang berdiri dihadapan rak yang terdapat buku novel berjajar rapi. Sejak lima menit yang lalu Acha terus melihat tanpa tahu novel seperti apa yang ingin dibelinya.


"Lo mau beli yang mana?" suara berat Yoga terdengar membuat atensi Acha beralih untuk menatap Yoga yang berdiri disebelahnya.


"Em aku akan melihat-lihat terlebih dahulu," balasnya seraya kembali mengalihkan atensinya pada novel yang berjajar rapi di depannya.


"Semuanya bagus aku jadi bingung mau beli yang mana," gumamnya.


"Ya udah beli aja semuanya," Yoga menanggapi perkataan Acha dengan wajah kelewat santainya membuat rahang Acha jatuh seketika dengan mata yang sedikit membola.


"Jangan bercanda!"


Yoga mengangkat sebelah alisnya. "Siapa yang bercanda?"


"Hmm," Acha hanya bergumam sebagai tanggapan. Gadis itu kemudian kembali memilah-milah novel yang ingin dirinya baca sampai akhirnya matanya tertarik pada salah satu novel dengan sampul remaja SMA. Tangan Acha terulur untuk mengambil novel tersebut dan membaca blurb yang tertulis di bagian belakang.


Sementara menunggu Acha memilih novel yang ingin dibelinya, Yoga memutuskan untuk memainkan ponselnya. Sebuah notifikasih telfon tiba-tiba terdengar membuat Acha lagi-lagi menatap Yoga yang nampak mendekatkan gawainya pada daun telinganya.


"Kenapa, Din?" ujar Yoga dengan suara yang begitu lembut sarat akan perasaan yang penuh dengan kasih sayang.


Melihat itu Acha sontak mengigit bibir bawahnya. Otaknya tiba-tiba berkelana memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa menyakiti hatinya. Kenapa aku harus tidak suka jika Yoga berbicara begitu lembut kepada orang lain namun tidak dengan diriku? Memang siapa aku? Batin Acha.


"Oke. Besok gue jemput," setelah mengatakan itu Yoga segera memutus sambungan telfonnya kemudian menatap Acha yang juga menatapnya.


"Kenapa?" tanya Yoga dengan sebelah alis yang terangkat.


"Tidak apa-apa," balas Acha dengan cempat kemudian kembali menyibukkan dirinya dengan novel-novel yang ingin dibelinya.


Setelah hampir satu jam lamanya, Acha akhirnya mendapatkan enam novel yang ingin ia baca. Setelah membayar novel tersebut, Yoga mengajak Acha menuju hypermart teman dimana segala macam kebutuhan perut disediakan dari mulai makanan ringan, buah-buahan hingga sayur-sayuran.

__ADS_1


Yoga mendrong troli yang berisikan perlengkapan dapur sedangkan Acha sibuk memilah-milah camilan yang ia inginkan. Cukup lama Acha dan Yoga akhirnya selesai dengan belanjaanya dan segera memutuskan untuk membayarnya. Suasana hypermart yang cukup rami terpaksa membuat Acha dan Yoga mengantre menunggu gilirannya tiba.


"Yoga," panggil Acha tiba-tiba membuat Yoga yang sibuk dengan ponselnya itu kemudian mengangkat dagunya menatap Acha.


"Kenapa?" tanya Yoga saat gadis yang ditatapnya tidak kunjung membuka suara.


"Aku mau ice cream boleh?" Acha memasang wajah yang begitu polos seperti anak kecil yang sedang memohon untuk dibelikan ice cream kepada ibunya membuat siapa saja yang melihatnya pasti gemas seketika.


Tanpa aba-aba Yoga mencubir gemas pipi Acha membuat si empu terjengkit kaget kemudian mengerjabkan matanya beberapa kali membuat Yoga mengulum senyumnya. Gemes banget sih. Batin Yoga.


"Mau rasa apa?"


"Rasa mangga."


Setelah Acha mengatakan itu, Yoga kemudian berlalu dari tempatnya tidak lupa meninggalkan keranjang belanjaanya. Yoga berjalan menuju lemari pendingin yang menyimpan berbagai macam ice cream dengan macam-macam varian rasa. Saat mata Yoga menemukan ice cream yang diminta oleh Acha, Yoga segera mengambilnya dan membawanya menuju kasir bertepataan saat gilirannya tiba.


"Makasih, Yoga," tutur Acha ketika mendapati Yoga kembali dengan ice cream yang diinginkannya.


Usai membayar barang belanjaanya, Yoga dan Acha sama-sama berjalan keluar dan segera memasuki mobil. Setelah memastikan Acha memasang sabuk pengamannya, Yoga segera melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang nampak ramai kendaraan berlalu lalang. Sepanjang perjalanan hanya dihiasi dengan keheningan, baik Acha ataupun Yoga sama-sama tidak ada yang ingin membuka suara hingga dua puluh menit kemudian mobil yang dikendarai Yoga tiba di basement aparteman yang ditinggalinya.


"Biar aku beresin belanjaanya, kamu duduk aja di depan atau mau aku buatin sesuatu?" tawar Acha seraya menatap Yoga yang berdiri tidak jauh dari dirinya.


"Tidak," Yoga menggelengkan kepalanya kemudian menarik kursi yang berada di pantry tersebut lantas segera mendudukkan dirinya.


"Baiklah, kalau begitu aku beresin belanjaannya terlebih dahulu," final Acha namun tidak mendapatkan tanggapan dari Yoga. Laki-laki itu hanya diam seraya terus memperhatikan Acha yang mulai menyimpan barang belanjaanya di dalam kulkas maupun di dalam rak gantung hingga kurang lebih sepuluh menit lamanya Acha akhirnya selesai dengan pekerjaanya. Nampaknya dalam urusan dapur gadis itu sangat cekatan, pikir Yoga.


"Yoga," panggilan Acha menyadarkan Yoga dari lamunannya.


"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Yoga. Yoga tiba-tiba beranjak dari duduknya dan bergegas menuju ruang tamu membuat Acha begitu bertanya-tanya ada apa dengan Yoga?.


Tidak ingin terlalu memikirkan sifatnya Yoga yang memang dingin menurut Acha, gadis itu lebih memilih membawa ice creamnya menuju ruang tamu kemudian menikmatinya setelah mendaratkan bokongnya pada sofa yang masih sama dengan yang diduduki Yoga.


"Mau?" Acha menawarkan ice cream yang dimakannya pada Yoga namun laki-laki itu lagi-lagi menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Yoga, kamu menginap disini?" tanya Acha tanpa mengalihkan atensinya dari TV 40 inchi yang kini sedang menyala menampilkan drama dari luar.


"Tidak, aku harus pulang."

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Yoga, Acha sontak menghela nafas kecewa membuat Yoga segera mematikan ponselnya dan menatap gadis disebelahnya. "Kenapa?"


"Tidak," Acha menggelengkan kepalanya. Sebenarnya ia ingin tidur dengan ditemani Yoga namun ia terlalu takut untuk mengatakannya. Alhasil ia lebih memilih untuk menggelengkan kepalanya dan menelan kecewa.


"Cepat habiskan ice creamnya setelah ini tidurlah. Tidak baik tidur terlalu malam, gue akan temanin lo sampai tertidur."


Perkataan Yoga berhasil menghapus kekecewaan dalam benak Acha. Dengan segera gadis itu menghabiskan ice creame yang kini sedang di makannya hingga tanpa sadar meninggalkan noda di sudut bibirnya.


Yoga yang melihat itu mengulurkan tangannya kemudian mengusap lembut sudut bibir Acha membuat si empu sontak membeku ditempatnya dengan mata yang terpaku pada wajah tampan Yoga. lagi-lagi jantungnya memberikan respon yang luar biasa alay. Rasanya, Acha sampai lupa bagaimana caranya bernafas dengan benar.


"Nafas!" suara Yoga menyadarkan Acha membuat Acha yang semula mematung dengan menahan nafas kini menghembuskannya. Ternyata efek dari Yoga yang mengusap sudut bibirnya luar biasa alay bagi jantungnya.


"Belepotan seperti anak kecil," seru Yoga kemudian kembali mengeakkan tubuhnya menatap televisi yang berada di depannya berbeda dengan Acha yang masih setia menatapnya.


Aku baper lama-lama. Batin Acha yang masih berusaha menetralkan degub jantungnya.


Usai menghabiskan ice creamnya, Acha dan Yoga sama-sama menuju kamar yang ditempati oleh Acha. Gadis itu kini sudah membaringkan tubuhnya dengan selimut yang sudah menutup sebagian tubuhnya. Yoga terlihat duduk disebelahnya dengan tubuh yang menyandar pada kepala ranjang serta tatapan mata yang terus difokuskan pada ponsel yang berada dalam genggamannya yang pastinya Acha tidak tahu apa yang sedang Yoga lakukan dengan ponselnya. Apa mungkin dengan sedang chating bersama gadis yang namanya disapa dengan begitu lembut? Entahlah Acha tidak tahu dan dia tidak sedang ingin memikirkan itu.


Melihat Acha yang tidak kunjung memejamkan matanya membuat Yoga membuka suata. "Kenapa masih belum tidur?"


"Aku tidak bisa tidur. Tiba-tiba aku terigat dengan kejadian dimana laki-laki itu merenggut dengan paksa kehormatanku sampai akhirnya aku menjadi seperti ini," Acha menjeda kalimatnya kemudian mengalihkan pandangannya dari yang semula menatap langit-langit kamar yang ditempatinya kini beralih pada Yoga yang juga menatapnya.


"Maaf ya, Yoga," imbuhnya begitu sendu. Bisa Yoga lihat dari mata Acha. Tatapan mata gadis itu sarat akan kesedihan yang mendalam.


"Maaf untuk apa?" dalam nada bicara Yoga sama sekali tidak terdengar kehangatan membuat rasa bersalah menyeruak kedalam hati Lea.


"Maaf karena aku sudah menyusahkan mu," lirihnya.


"Sudahlah, lo nggak perlu mikirin itu. Sekarang lo tidur!" titah Yoga membuat Acha mau tidak mau menurutinya. Gadis itu memejamkan matanya dan sepersekian detik kemudian dapat Acha rasakan tangan Yoga dengan lembut membelai wajahnya kemudian merapikan anak rambutnya.


Gue emang nggak bisa ngejamin buat lo nggak bakal sedih lagi, Cha. Tapi, gue berharap lo nggak akan sedih lagi setelah hari ini. batin Yoga seraya menatap lamat-lamat wajah polos Acha yang kini memejamkan matanya.


...•...


...•...


...•...

__ADS_1


__ADS_2