Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
45. Kebenaran


__ADS_3

Happy Reading!!!



"Eh kalian perhatiin nggak sih akhir-akhir ini keknya Kak Yoga deket lagi sama Kak Dinda."



"Iya, gue liat juga berangkat bareng tuh."



"Hahaha, kasian nasib Acha. Bentar lagi dicampakkan tuh."



Valerie, Anggie dan Kanannya tertawa tanpa peduli pelanggan lain meleparkan tatapan kearahnya. Sepulang sekolah, mereka bertiga memang tidak langsung pulang melainkan memutuskan untuk nongkrong terlebih dahulu di salah satu cafe yang tidak jauh dari sekolahnya.



Hanya butuh waktu lima belas menit jika dari sekolah ke tempat cafe yang mereka tempati sekarang. Kala Kananya melemparkan tatapannya ke arah jendela, ia tidak sengaja mendapati Nadin yang nampak sedang bercanda ria bersama dengan para wanita sebayanya. Senyum licik Kananya terbit seketika, ia akan membuat nasib Acha semakin tidak tertolong kali ini.



Kalau gue nggak bisa dapat Yoga, maka lo juga nggak, Cha. Sorry, lo emang nggak ada salah sama gue tapi gue nggak suka lo lebih bahagia dari gue. Batin Kanaya.



Ia kemudian bangkit dari tempat duduknya membuat Anggie dan Valerie bertanya-tanya.



"Mau kemana lo?"



"Tunggu bentar, gue mau buat drama," ujarnya kemudian melenggang menuju meja yang di tempati Nadin dan teman-temannya.



"Eh ada Tante Nadin, kebetulan banget ya kita bertemu disini," Kananya tersenyum lembut menatap Nadin yang nampak tertawa. Namun, tawa itu segera lenyap kala melihat Kanaya berdiri di depannya.



"Siapa jeng? Kamu kenal?" salah satu temen Nadin bertanya.



"Hallo ibu-ibu, kenalin saya Kanaya calon menantunya Tante Nadin," ujarnya memperkenalkan diri.



"Oala, calon menantu kamu jeng? Cantik ya," salah satu teman Nadin kembali menanggapi sementara Kananya tersenyum anggun membalasnya.



"Percaya aja jeng sama omongan dia," Nadin membuka suara membuat teman-temannya terbengong seketika.



"Jadi bukan calon menantu kamu, Jeng?"



"Seorang pelajar tidak beratitude gini mana bisa jadi bagian dari keluarga Argantara," Nadin melipat kedua tangannya di depan dada, kakinya terlipat, dengan angkuh ia menatap Kananya dengan tatapan penuh hinaan.



"Setidaknya saya nggak sok polos seperti menantu tante."



"Maksud kamu apa?" Nadin mulai tersulit emosi hingga berbicara dengan nada tinggi membuat atensi semua orang tersita untuk menatapnya.



...\*\*\*...



"Yoga, thanks ya udah anterin gue," ujar Dinda. Ia tersenyum manis menatap Yoga kemudian berlalu turun dari mobil mantan pacarnya itu.



"Gue langsung pulang," seru Yoga kemudian melajukan mobilnya meninggalkan Dinda yang masih bergeming di tempatnya.

__ADS_1



"Sebentar lagi, lo pasti bakal balik lagi sama gue, Yog," gumam Dinda menatap mobil Yoga yang kian menjauh dari pandangan matanya.



Dengan langkah seribu, Dinda melangkah memasuki rumahnya dengan sebuah paper bag di tangannya. Senyumnya sejak tadi terus mengembang. Kaki jenjangnya yang terbalut sneakers berwarna putih itu melangkah masuk ke dalam rumahnya dan hal itu sukses membuat langkahnya tersita, senyum yang tadi menghiasi wajahnya kini memudar tanpa bekas.



"Kamu sudah pulang sayang? Sini, kita makan bersama," seorang wanita paruh baya menatap Dinda dengan senyum manisnya.



Namun, bukannya menurut balasan Dinda justru menghapuskan kehangatan dua manusia paruh baya di depannya.



"Papa kenapa bawa \*\*\*\*\*\* ini kesini?"



Emosi papa Dinda tersulut seketika. "DINDA, JAGA MULUT KAMU!" bentaknya.



Jujur, Dinda selalu takut kala sang papa mulai membentaknya. Namun, hal itu seakan sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Dinda.



"PAPA SEHARUSNYA YANG JAGA SIKAP PAPA. PAPA NGGAK MIKIRIN GIMANA PERASAAN MAMA?!"



Satu tamparan sukses mendarat di pipi mulus Dinda. Hati Dinda tercubit sakit, lagi dan lagi untuk kesekian kalinya papanya menpar dirinya.



"MAMA KAMU ITU UDAH MATI, HARUSNYA KAMU TAHU ITU!"



"Iya mamaku sudah meninggal dan kalian lah pembunuhnya!" Dinda melenggang pergi meninggalkan papanya yang masih tersulut amarah. Air matanya sudah mengalir sejak tamparan keras itu mendarat di pipinya.




...\*\*\*...



Yoga mengurungkan niatnya memasuki rumahnya kala melihat mobil mamanya mulai memasuki pekarangan rumahnya. Tak berselang lama, mobil itupun berhenti dan Nadin segera berlalu keluar.



"Mama," sapa Yoga namun Nadin tidak menghiraukannya. Dengan amarah yang mmasimenggebu-gebu Nadin melengkah memasuki rumahnya diikuti dengan Yoga di belakangnya.



“Acha dimana?” kata Nadin bertanya seraya menatap Yoga.



“Di kamarnya mungkin, ada apa sih?” tentu saja Yoga merasa penasaran karena tidak biasanya mamanya seperti ini. Saat Nadin akan menaikkan tangga, terlihat Acha sudah menuruni anak tangga dengan senyum manisnya, menyambut kepulangan suami dan mertuanya.



“Yoga, Mama, kalian udah pulang,” kata Acha. Ia hendak mengalami kedua orang itu tapi Nadin malah menatap datar dirinya, tidak menerima uluran tangan Acha membuat si empunya kebingungan.



“Acha, kamu jawab jujur pertanyaan mama. Siapa ayah dari anak yang kamu kandung itu?”



Acha tersentak, kenapa Nadin bertanya seperti itu? Apakah wanita itu sudah mengetahui yang sebenarnya?



Sebelum Acha menjawab, Yoga terlebih dahulu membuka suara. “Mama apa-apaan sih, jelas Yoga lah ayahnya emang siapa lagi?”



“DIAM KAMU YOGA!” kali ini kesabaran Nadin telah lenyap melihat putranya begitu membela Acha.

__ADS_1



Detik itu juga, air mata Acha luruh seketika. “Maafin Acha, Cha. Acha nggak bermaksud buat bohong,” rasa takut dan rasa bersalah meliputi perasaan Acha.



“Jadi bener itu bukan anak Yoga?”



Acha mengangguk, melihat itu Yoga segera mendekati Acha dan mendekapnya.



“KENAPA KALIAN BERBOHONG?” kali ini Nadin turut menangis, hatinya hancur berkeping-keping.



“Yoga yang minta Acha buat tutupin yang sebenarnya, Ma.”



“Kenapa Yoga? Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan ini udah merusak masa depan kamu?”



“Ma, masa depan Yoga belum rusak!” desis Yoga. Ia tidak mau Acha semakin merasa bersalah karena hal ini.



“Yoga, mama nggak mau tau kamu pokonya harus tinggalin Acha. Selama ini, mama selalu merasa bersalah karena mama fikir Acha mengandung anak kamu. Mama selalu merasa sedih setiap kali melihat Acha yang harus terkurung dalam rumah dengan beban sebesar ini. Hati mama sakit setiap kali mengingat kamu merusak anak gadis orang dan membuatnya kehilangan masa remajanya. Tapi ini apa?”



Tangis Nadin semakin kuat pun dengan Acha, tubuh perempuan itu bahkan sudah gemetar hebat.



Tuhan, apakah ini akhir ku bersama dengan mereka? Batin Acha. Perasaannya benar-benar kalut.



“Yoga tahu perasaan mama. Tapi, maaf Yoga nggak bisa nurutin permintaan mama buat tinggalin Acha.”



“YOGA!”



“Ma... Acha itu istri Yoga,” desis Yoga melemah.



“TAPI DIA \*\*\*\*\*\*!” teriak Nadin yang semakin kesal.



“PERUSAK MASA DEPAN ANAK SAYA KAMU!” Nadin menjenggut rambut Acha sangat kuat membuat si empunya meringis sakit.



Sakit hati, sakit fisik, inilah yang Acha rasakan sekarang. Kalimat yang terlontar dari mulut Nadin seperti belati putih yang menusuk dadanya membuatnya seakan kekurangan pasokan udara.



“Ma, lepasin!” seru Yoga, ia mencoba untuk menjauhkan tangan Nadin dari rambut Acha.



“Kenapa? Kenapa harus kamu, Yoga?” tubuh Nadin luruh pada sofa besar yang memang tidak jauh dari tempatnya. “Mama nggak bisa terima ini semua,” Nadin menggelengkan kepalanya seakan itu adalah bentuk protesnya kepada Tuhan. Ia tidak rela jika anaknya harus menanggung kesalahan yang bukan kesalahannya apalagi sampai melibatkan masa depannya.



“Karena ayah dari laki-laki itu adalah orang brengsek!” suara Yoga kali ini terdengar dingin dengan sorot mata yang tajam.



“Iya, gue brengsek tapi sekarang gue siap buat tanggung jawab!”



Like komennya!!!


Feel-nya dapet nggak nih?

__ADS_1


__ADS_2