
Happy Reading!!!
“Lo lagi mikirin apaan dah?” Dean yang sedang menyantap mienya itu menegur Yoga yang sejak tadi hanya diam tak bersuara. Laki-laki itu juga tidak memesan makanan seperti biasa.
Yoga mengusap kasar wajahnya. “Mikirin Acha.”
“Emang kenapa sama Acha? Lagi marahan kalian?” kini Gavin yang bersuara.
Yoga menggeleng. “Lebih tepatnya gue yang di diemin.”
Dean menggeser mangkuknya yang sudah kosong. Ia meneguk minumannya yang tersisa setengah kemudian mengelap bibirnya menggunakan punggung tangannya.
“Jorok, ini kan ada tisu!” Gavin menggeser kotak tisu kepada Dean membuat si empunya terkekeh. Ia kemudian kembali memfokuskan atensinya pada Yoga yang hanya menatap datar dirinya.
“Serius lo di diemin sama Acha? Kenapa?”
“Kalau gue tahu gue nggak akan mikir bego!” seru Yoga kesal yang lagi-lagi membuat Dean terkekeh.
“Iya juga sih.”
Yoga dan Gavin memutar bola matanya malas.
“Bukan di diemin sih lebih tepatnya dia kek beda dari yang hari-hari sebelumnya. Irit banget bicaranya.”
“Mungkin virus lo pelit ngomong udah nular sama Acha,” celetuk Gavin yang kemudian mendapatkan hadiah jitakan dari Dean.
“Mana ada kayak gitu anjir!” serunya. “Lo pasti ada ngelakuin salah, yakin deh,” sambung Dean.
Yoga terdiam, ia mencoba untuk mengingat-ingat kesalahan yang sudah ia perbuat tapi ia lupakan.
“Kanaya kenapa ya nggak berangkat sekolah hari ini?” suara seorang perempuan yang adalah Valerie membuat atensi Yoga, Dean dan Gavin tersita.
Anggie menggidikkan bahunya. “Gue juga nggak tahu, hpnya nggak aktif.”
Dean dan Gavin kembali menatap Yoga. “Jalang kecil lo apain?”
Yoga memutar lehernya menatap Gavin yang meleparkan pertanyaan ke arahnya. “Cuma gue kasih pelajaran kecil.”
“O,” Gavin mengangguk-anggukkan kepalanya sembari ber oh ria. Dean dan Gavin memang sudah mengetahui semua tentang masalah keluarga Yoga yang baru-baru ini terjadi.
“Gue kemarin ke rumah Dinda, ninggalin Acha pas makan malam,” seloroh Yoga tiba-tiba.
“Berarti itu kesalahan lo. Acha tahu lo ke rumah Dinda?”
Yoga mengangg sebagai jawaban.
“Acha cemburu,” seru Dean kemudian membuat Yoga bungkam.
“Kalau saran gue, mending sekarang lo jaga jarak sama Dinda. Akhir-akhir ini keknya gosip anak-anak yang bilang lo deket lagi saka Dinda bener adanya.”
“Gue cuma kasian sama dia, kalian tahu sendiri lah gimana keadaan keluarganya.”
“Kasian boleh tapi ko juga harus jaga perasaan Acha.”
\*\*\*
__ADS_1
Acha sedikit berjingkat kala sebuah lengan kekar memeluk tubuhnya dari belakang, tanpa ia membalikkan badannya Acha sudah tahu siapa pelakunya—Prayoga Argantara. Yoga menyimpan kepalanya di ceruk leher Acha, menghirup dalam-dalam wangi menenangkan dari tubuh istrinya.
“Kenapa?” tanya Acha, tangannya terangkat untuk mengusap lembut lengan Yoga.
“Capek,” adunya.
“Mau aku buatin minum?”
Yoga menggeleng, ia kemudian beralih merebahkan dirinya dengan paha Acha sebagai bantalan kepalanya. “Cha, lo marah?” kata Yoga bertanya.
Acha mengangkat sebelah alisnya. “Marah kenapa?”
“Karena gue ke rumah Dinda kemarin malam.”
Acha terdiam, mendadak keheningan menyelimuti keduanya. Ingin Acha mengatakan iya tapi takut kalau Yoga malah membencinya karena merasa terlalu mengurusi kehidupan pribadinya.
Acha menggeleng pelan. “Nggak kok, mungkin Dinda emang lebih butuh kamu,” Acha tersenyum paksa guna menutupi perasaannya terbakar di dadanya.
“Gue sama Dinda nggak ada hubungan apa-apa. Kita berdua sudah selesai sejak gue memutuskan untuk menikahi lo.”
“Iya aku percaya kamu udah putus sama Dinda. Tapi, aku ragu tentang perasaan kamu ke Dinda.”
“Kemarin Dinda ngajakin gue buat ketemu, dia sempat ngajakin balikan tapi gue tolak. Maaf gue perginya lama karena Dinda nggak bawa mobil jadinya gue anterin dia pulang sekalian. Kebetulan banget waktu itu papanya sedang berantem sama kakaknya jadinya gue masuk sebentar.”
“Kak Ken?”
Yoga mengangguk. Setalah itu tidak ada lagi percakapan di antara Yoga dan Acha. Keduanya tampak sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Selang beberapa menit kemudian, Yoga kembali membuka suara. “Cha, ntar malam jalan yuk!”
\*\*\*
Kilasan bayangan pertengkarannya dengan Nadin membuat Reiki merasa frustrasi. Ia benar-benar merasa sendiri kali ini. Kedua adiknya marah kepadanya, orang tuanya mendiamkannya, sahabat-sahabatnya pun menjauhinya, ia benar-benar merasa tidak punya siapa-siapa.
Reiki mengangkat gelas tersebut lantas meneguk cocktail yang sisa setengah itu hingga tandas, ia kemudian mengambil dompetnya, meninggalkan beberapa lembar uang ratusan ribu lantas bergegas keluar dari bar tersebut.
Kakinya yang terbalut sneakers berwarna putih itu berjalan menyusuri trotoar, tatapan begitu kosong dan pikirannya terus merenungi kesalahannya.
Sementara di tempat lain, di tempat yang di penuhi dengan para penjual street food Acha dan Yoga tampak sedang berjalan beriringan dengan tangan yang saling bertautan.
Angin malam berhembus pelan menerpa wajah Acha dan Yoga. “Mau beli apa?” tanya Yoga kala Acha hanya melihat-lihat makanan yang berada di stan kanan kirinya tanpa berniat untuk membeli.
Acha menggelengkan kepalanya. “Bingung,” ujarnya.
Yoga terkekeh, ia gemas dengan Acha, ia kemudian menarik tangan Acha menuju stan yang menjual Tteokkebi hot dog
“Corn dog?” kata Acha bertanya seraya memiringkan kepalanya menatap Yoga.
“Hampir mirip, ini namanya tteokkebi hot dog biasanya cewek-cewek suka makanan kek gini karena terinspirasi dari drama korea,” jelas Yoga.
“Yoga nonton drakor juga?” kata Acha bertanya dengan polosnya.
Yoga menggelengkan kepalanya. “Nggak suka,” ujarnya.
“Terus tahu dari mana kalau Yoga cewek-cewek suka makanan kaya gini karena terinspirasi dari Drakor?”
__ADS_1
“Liona.”
Acha mengangguk paham, ia kira Yoga tahu hal itu dari Dinda.
“Cobain,” Yoga mengulurkan tteokkebi hot dog itu ke dekat mulu Acha yang langsung di sambut gadis itu.
“Enak nggak?”
Acha mengangguk. “Hampir sama kek corn dog.”
Yoga terkekeh, gemas melihat Acha. Ia kemudian membayar makanan yang sudah ia ambil itu dan kembali melanjutkan langkahnya untuk menjelajahi makanan yang belum di cobanya.
Acha menarik tangan Yoga menuju stan yang menjual gurita dan cumi-cumi kering.
“Mau beli minum nggak?”
“Boleh,” Acha mengangguk.
“Tunggu disini bentar ya, gue beliin,” pinta Yoga.
“Mau thai tea rasa hazelnut yaa,” pinta Acha sebelum Yoga meninggalkannya.
“Siap Tuan Putri,” ujar Yoga sambil memberikan hormat membuat Acha terkekeh. Yoga kemudian berlalu meninggalkan Acha menuju stand yang menjual thai tea sementara Acha memilih untuk memesan gurita dan cumi bakar.
“Pacarnya ya neng?” kata penjual itu mengajak Acha berbincang yang kemudian dibalas gelengan serta senyuman oleh Acha. “Suami saya, bu.”
Wanita setengah baya itu sedikit tercengang, dipikirannya perempuan di depannya ini masih terlalu muda untuk membina rumah tangga. “Semogga langgeng ya neng,” ujarnya kemudian.
“Iya, aamiin. Makasih doanya.”
Ibu itu mengangguk dan tersenyum. Selang dua menit, pesanan Acha sudah siap, ia juga melihat Yoga sedang berjalan ke arahnya dengan dua gelas Thai tea di tangannya.
“Ayo!” ajak Yoga setelah membayar pesanan Acha. Keduanya kembali berjalan dengan makanan penuh di tangannya.
“Lo pegel nggak, Cha?”
“Sedikit.”
Yoga mengendarkan pandangannya hingga matanya tidak sengaja mendapati sebuah bangku yang tersimpan tidak jauh dari tempatnya. “Kita makan sambil duduk ya,” ujar Yoga yang kemudian dibalas anggukan oleh Acha. Keduanya lantaran berjalan menghampiri bangku besi tersebut dan mendudukkan dirinya.
“Yoga cobain deh!” Acha menyodorkan gurita goreng ke dekat mulut Yoga yang langsung di terima oleh laki-laki itu membuat senyum Acha mengembang.
Acha bergantian menyiapkan makanan yang dibawanya itu ke mulut Yoga dan mulutnya sendiri. Terkadang gadis itu tertawa kala mempermainkan Yoga pun sebaliknya saat Yoga membantu Acha untuk minum.
“Yogaaa....” seru Acha dengan nada mendayu karena kesal, bibirnya ia poutkan karena Yoga terus menjauhkan minuman yang hendak diserupurnya.
“Gemes banget sih istriku,” seru Yoga sembari mengacak rambut Acha gemas kala perempuan itu sudah berhasil menyeruput minumannya.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi seseorang memperhatikan keduanya dari posisi yang tidak begitu begitu jauh.
“Cha,” panggil Yoga saat Acha sibuk dengan camilannya tanpa menyuapinya.
“Hm?” Acha hanya bergumam kecil sebagai jawaban.
“Lo pengen tahu nggak siapa papa lo sebenarnya?”
__ADS_1
Like komen donggg!!!