Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
54. Papa Kandung Acha


__ADS_3

Happy Reading!!!




Yoga menatap Acha yang sudah tertidur pulas dalam dekapannya. Perlahan, ia menggeser tubuhnya agar tidak sampai mengusik tidur Acha. Ia berjalan menuju balkon kamarnya lantas melakukan panggilan dengan seseorang.



Yoga memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana, tatapan matanya menatap lurus ke depan. Tak berselang lama, panggilan pun tersambung.



"Cari informasi tentang mama Mira dan Om Alex!" titah Yoga. Suaranya terdengar sangat dingin dan menusuk setelahnya ia memutuskan sambungan telfonnya.



Ia kembali menghampiri Acha yang masih terlelap dalam damai, ikut merebahkan diri disana. Ia menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik Acha kemudian mendaratkan ciuman singkat di pelipis Acha.



\*\*\*



Kicauan burung menyambut pagi bersamaan dengan mentari yang sudah menampakkan diri. Di dalam sebuah kamar yang berdominasi dengan cat berwarna putih, sepasang pasutri tampak masih sibuk bergelut dengan mimpinya hingga suara lenguhan terdengar mengusik tidur Yoga. Kedua pasutri itu sama-sama membuka matanya. "Pagi," sapa Yoga dengan suara serak khas orang bangun tidur.



"Pagi," balas Acha. Keduanya masih setia dengan posisi berpelukan tanpa berniat untuk beranjak.



"Morning kiss," Yoga mengecup singkat bibir Acha membuat si empunya merona. Perempuan itu mengelum senyum malu kemudian membalas mengecup singkat bibir Yoga membuat senyum Yoga terukir lebar.



"Yang lama dong, Cha!" pinta Yoga.



"Mau mandi, asem banget," ujar Acha. Peremp itu hendak menarik diri dari pelukan Yoga tapi Yoga malah semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Acha membuat si empunya terkunci dan tidak bisa bergerak dengan leluasa.



"Cha, liburan yok!" ajak Yoga.



"Mau liburan kemana?" kata Acha bertanya. Tangannya bergerak menulis sesuatu yang absurd di dada Yoga.



"Tempat impian kamu kemana?" kata Yoga bertanya.



Acha terdiam sejenak sebelum akhirnya menggeleng. "Nggak pernah bermimpi buat pergi jauh karena itu mustahil buat bisa aku gapai."



"Tapi sekarang kamu bisa, sebutin kemanapun kamu mau aku bakal bawa kamu kesana," ujar Yoga. Tatapannya kini berubah menjadi serius membuat Acha terkekeh gemas.



"Nggak usah lah, yang dekat-dekat aja jangan buang-buang uang."



"Oke, kita ke Swiss aja gimana?"



Mata Acha membola, ia hanya meminta liburan ke tempat yang dekat saja seperti ke luar kota tidak sampai ke luar negeri tapi Yoga malah memilih yang ke luar benua.

__ADS_1



Acha menggeleng cepat membuat Yoga kembali membuka suara. "Kenapa? Di sana bagus bisa main salju. Swiss terkenal dengan keju dan coklatnya, kamu pasti suka."



"Mahal!"



"Ya udah, besok aku urus visa sama paspor kamu aja yaa," ujar Yoga tanpa persetujuan Acha. Ia hendak beranjak turun dari tempat duduknya namun Acha dengan cepat menahannya.



"Jangan ih, nggak enak sama papa. Masa mau minta uang banyak banget cuma buat liburan," Acha akhirnya mengutarakan kegusaran dalam hatinya. Ia merasa sungkan jika nanti Yoga meminta banyak yang kepada Raka hanya untuk menyengkan dirinya.



"Siapa bilang minta uang sama papa!" sergah Yoga cepat membuat mata Acha mengerjab.



"Kita liburan pakai uang aku sendiri. Cuma buat pergi ke Swiss doang uang ku masih banyak!"



Pasrah, Acha akhirnya hanya menurut saja. Ia hampir saja melupakan satu hal kalau Yoga adalah satu-satunya pewaris dari perusahaan yang papa kandungnya tinggalkan. Karena ia masih mendudukkan diri di bangku SMA maka untuk sementara perusahaan itu di handle oleh orang kepercayaan.



\*\*\*



"Tuan muda, ini informasi yang ada minta," seorang laki-laki dengan setelah formalnya meletakkan sebuah berkas tepat di hadapan Yoga.



Dengan cepat, tangan Yoga tergerak untuk menyambar berkas tersebut dan membacanya.




"Terima kasih, kamu boleh kembali sekarang!" ujar Yoga. Orang itu segera berdiri dari duduknya, sedikit membungkuk guna memberikan hormat lantas berlalu meninggalkan ruang pribadi Yoga.



Yoga menghela nafas panjang, ia melemaskan tubuhnya pada sandaran kursi kebesarannya. Ternyata kisah kelam Acha tidak jauh berbeda dari kisah kelam mamanya. Hanya saja, disini Acha adalah korban karena di jebak temannya sementara Mira lebih ke keinginannya sendiri.



Yoga beranjak dari tempat duduknya, ia membawa berkas itu dalam genggamannya hendak kembali menuju ke kamarnya. Ia akan memberitahukan kepada Acha sepahit apapun kenyataannya karena istrinya itu berhak tahu seperti apa masalalunya dan siapa papa kandungnya.



"Yoga," panggil Nadin yang kala itu tidak sengaja berpapasan dengan putranya.



"Iya, ma?" Yoga mengentikan langkahnya, menatap sang mama yang juga menatapnya.



"Ada apa? Kenapa tadi Albern kesini? Ada masalah sama perusahaan kamu?"



Yoga menggeleng pelan. "Tidak ada kok, ma. Yoga hanya minta tolong sama Albern buat selidiki masalalu Mama Mira. Acha berhak tau semuanya."



Nadin mengusap lembut lengan Yoga. "Pasti pahit ya?"


__ADS_1


Yoga mengangguk.



"Kamu kuatkan Acha, ya!" tutur Nadin. Ia sejujurnya juga merasa sangat kasihan dengan menantunya itu, memiliki ibu tapi sepertinya tidak punya.



"Yoga ke atas dulu, Ma," pamit Yoga. Pemuda itu lantas berlalu meninggalkan sang mama, memijaki satu persatu anak tangga menuju lantai dua dimana kamarnya berada.



Setibanya di dalam kamar, Yoga mendapati Acha yang sedang merapikan tempat tidurnya. "Sayang," panggilnya pada Acha membuat atensi wanita itu tersita.



"Kenap?" Acha menghentikan aktivitasnya, ia kemudian berjalan menghampiri Yoga. Dengan segera, Yoga menggenggam tangan istrinya itu dan membawanya duduk di sofa.



"Aku sudah menemukan informasi tentang papa kandung kamu," Yoga menjeda kalimatnya, ia ingin melihat seperti apa reaksi istrinya.



"Secepat ini?" seru Acha.



Yoga kemudian menyerah berkas yang dibawanya kepada Acha yang langsung diterima hanya wanita itu. Dengan tidak sabar, Acha membuka berkas yang berisikan informasi papa dan mama kandungnya.



"Alexander Arvano?" cicit Acha menyebutkan nama papa kandungnya.



"Ken Radiaz Arvano dan-" Acha menggantungkan kalimatnya, ia tiba-tiba teringat dengan kejadian usai mandi tadi Dinda tiba-tiba mengikuti akun instagramnya dan mengirimkan dia DM yang isinya membuat benak Acha bertanya tapi hal ini akhirnya terjadi hari ini juga.



Tubuh Acha melemas seketika, Yoga pun segera merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya.



"Kenapa bisa seperti ini?" lirih Acha. Hatinya kembali hancur mengetahui kebenaran tentangnya, tentang mamanya dan tentang papanya.



Acha dapat merasakan seperti apa penderita mamanya kala mengandungnya. Tapi, Acha juga bisa merasakan bagaimana hancurnya menjadi ibu Dinda dan sekarang Acha justru merebut Yoga dari Dinda. Apakah dia dan ibunya di takdirnya untuk menjadi perebut milik orang? Air mata Acha luruh seketika.



"Kenapa kebetulan sangat tidak adil. Ini terlalu tidak adil untuk mereka, aku tahu bagaimana penderitaan mama tapi aku juga tahu bagaimana hancurnya ibu Dinda kala mengetahui suaminya masih berhubungan dengan mantan kekasihnya sampai hamil. Tapi, aku sendiri tidak menyangka akan merebut kamu dari Dinda, apa aku dan mama di takdirkan untuk merebut milik orang lain?" ujar Acha bertubi-tubi.



"Semua ini sudah takdir, Cha. Kamu tidak pernah merebut apapun dari Dinda, qku dan Dinda hanya tidak berjodoh maka dari itu kita tidak bersama," terang Yoga mencoba untuk memenangkan istirnya.



Acha hanya diam, ia masih menangis dalam dekapan Dinda. Intinya hari ini cukup membuat perasaannya campur aduk. Acha merasa takdir terlalu kejam dalam memberikan ujian.



"Maaf, Cha. Sebenarnya aku sudah tahu masalah ini sejak satu bulan yang lalu. Saat aku pulang terlambat untuk mengantarkan Dinda, aku tidak sengaja bertemu mama Mira disana," imbuh Yoga membuat tangis Acha sedikit mereda. Ia menatap Yoga yang juga menatapnya.



"Kenapa kamu nggak cerita sejak awal?" tanya Acha.



"Karena saat itu kamu sedang terpuruk karena kehilangan calon anak kita. Aku tidak mau kamu semakin merasa sedih dengan ini semua."


__ADS_1


Tubuh Acha kembali melemas. Ia menyandarkan kepalanya pada dada Yoga dan kembali menangis sejadi-jadinya di sana.


__ADS_2