
...Happy Reading ❤️💋...
...•...
...•...
...•...
Acha menatap layar ponselnya yang kini sedang menampilkan chat dari nomor yang sangat-sangat dikenalnya. Acha menghembuskan nafasnya sebelum akhirnya jari jemari lentiknya mulai mengetikkan balasan untuk pesan yang baru saja dibacanya.
Acha :
Baiklah. Lo tidak perlu jemput gue, gue otw sekarang.
Acha segera keluar dari room chat tersebut. Hendak meminta ijin kepada Yoga namun ia baru teringat kalau dirinya tidak mempunyai nomor laki-laki itu. Helaan nafas lagi-lagi terdengar dari hidung runcing Acha sebelum akhirnya ia memilih untuk beranjak dari duduknya berlalu menuju kamar untuk mengganti pakaiannya.
Sepuluh menit kemudian Acha telah siap dengan overall yang melekat di tubuh mungilnya. Sejenak Acha menatap penampilannya dibalik kaca yang berada di dalam kamarnya. Pandangan mata Acha jatuh pada perut ratanya membuat tangan Acha tiba-tiba tergerak untuk megusap lembut perutnya yang masih rata.
Acha tiba-tiba teringat dengan perkataan Yoga yang menagatakan kalau laki-laki itu menginginkan dia dan anaknya. “Bagaimana bisa laki-laki yang sama sekali tidak bersalah malah harus menanggung ini semua?” gumam Acha. Wajahnya seketika berubah menjadi sendu. Tidak ingin larut dalam pikirannya yang malah akan menjadikan tamabahan beban untuk dirinya sendiri, Acha memilih untuk mengenakan slingbagnya dan segera berlalu keluar dari dalam kamarnya. Tujuan Acha kali ini adalah café tempat dimana ia membuat janji dengan seseorang yang tadi mengirimkan pesan kepadanya.
...***...
Di tempat lain, tepatnya di salah satu universitas yang ada di Indonesia segerombol lelaki nampak sedang asik berbincang dan sesekali tertawa dengan begitu renyahnya.
“Asli receh banget lo jadi cowok, masa iya mau buat baper anak orang kayak gitu sih,” seorang laki-laki dengan kemeja putih itu membuka suara. Sebut saja dia Arka.
“Iya, yang ada malah ilfeel lah. Lo perlu berguru sama Reiki kayaknya, Len,” imbuh laki-laki yang duduk disebelahnya, sebut saja Aska.
“Yoi, gue kan akhlinya menaklukan wanita,” sambung Reiki dengan begitu angkuhnya.
“Gak gak gak! Lo sesat Rei, mantan lo bejibun kerjaan lo buat baper anak orang tapi nggak bertanggung jawab,” ujar laki-laki yang di tertawakan itu. Alen namanya.
“Yaelah, gue kan cuma bercanda anjir. Salah ceweknya bukannya ketawa malah baper,” seru Reiki tidak terima untuk disalahkan.
__ADS_1
“Kalau kata anak toktok gini ya, ‘Dia bercanda, seharusnya lo tertawa bukan malah jatuh cinta,” ujar Arka menirukan gaya-gaya fyp tiktok yang lewat diberandanya.
Semua yang mendengar perkataan Arka sontak menyemburkan tawanya tak terkecuali Alen yang sedang menjadi objek bully teman-temannya. Namun, tidak dengan laki-laki yang sejak tadi menyibukkan dengan ponsel digenggamnya.
“Gak keren banget lo mainnya toktok,” seru Aska seraya meredakan tawanya.
“Lo ga tau aja gimana serunya lihat ciwi-ciwi berjoget ria pamer aurat,” balas Arka.
“Yaelah, cuma bisa dilihat nggak bisa dimiliki apa kerennya anjir.”
“Itu lebih baik daripada merusak anak orang tanpa mau bertanggung jawab,” seru seseorang dengan nada dinginnya. Ken—laki-laki itu sejak tadi hanya diam menyimak perbincangan teman-temannya. Ekspresi dingin dan datar selalu menghiasi wajah tampannya. Bisa dikatakan, keempat laki-laki yang sedang berkerumun itu adalah the most wanted di universitas tempat mereka menimbun ilmu sekarang.
“Ekhem,” Aska berdehem memecahkan keheningan yang tiba-tiba menyerang.
“Eh eh eh, kok tiba-tiba jadi diem sih,” Alen menimpali namun masih tidak ada yang merespon. Atmosfer yang tadinya dipenuhi dengan candaan dan tawa kini tiba-tiba berubah menjadi dingin dan mencengkam.
Ken—yang tadi membuka suara tiba-tiba beranjak dari duduknya. Tangannya tergerak untuk menyimpan gawai yang sejak tadi digenggamnya. “Gue duluan, ada urusan,” tuturnya kemudian berlalu meninggalkan teman-temannya yang hanya menatap dirinya.
Reiki yang semula hanya terdiam ikut bangkit dari posisinya. “Kuy ke kelas!” ajaknya pada teman-temannya.
...***...
Acha yang baru saja tiba disebuah cafe yang tidak terlalu jauh dari aparteman yang ditinggalinya segera mendaratkan tubuhnya pada kursi kosong yang berada di pinggir jendela. Gadis itu tidak menyukai keramaian jadi lebih memilih tempat yang jauh dari pelanggan yang lain.
Seorang pelayan menghampiri Acha membuat atensinya tersita. “Red velvet satu.”
Setelah mengatakan itu, pelayan pun berlalu meninggalkan meja Acha untuk membuatkan pesanan pelanggannya. Sedangkan Acha memilih membuang pandangannya menatap jendela.
“Sorry lama,” ujar seseorang dengan suara beratnya membuat Acha memutar lehernya guna menatap sosok yang kini sudah mendudukkan dirinya tepat didepannya.
“Lo mau ngomong apa?” tanya Acha to the point. Ia tidak ingin mengulur waktu berlama-lama bersama laki-laki didepannya ini.
“Udah pesen?” tanya laki-laki itu tidak bernada. Namun bisa Acha rasakan terdapat kehangatan dalam tatapan matanya.
__ADS_1
“Sudah.”
Laki-laki itu mengangguk kemudian memanggil pelayan untuk memesan. Setelahnya ia kembali menatap Acha yang memilih untuk menatap meja di depannya dengan jari telunjuk yang terus mengetuk-ngetuknya.
“Gimana kabar lo?” tanyanya berbosa-basi membuat Acha mengangkat dagunya untuk menatap lawan bicaranya.
“Gue tahu lo nggak suka bosa-basi,” balas Acha yang malah tidak sesuai dengan pertanyaan yang laki-laki itu lemparkan.
“Gue tahu ibu lo pasti nggak tinggal diam. Gue juga dengar lo dikeluarkan dari sekolah.”
“Seperti yang lo tahu. Hidup gue udah hancur sekarang,” suara Acha seakan tercekat dalam kerongkongan mengingat insiden menyakitkan itu.
Seorang pelayan tiba membawakan pesana Acha dan laki-laki di depannya membuat laki-laki itu urung mengeluarkan suara.
“Terima kasih,” ujar laki-laki itu yang kemudian dibalas anggukan dan seulas senyuman ramah sebelum akhirnya memilih untuk berlalu pergi.
“Aracha,” panggilnya dengan suara yang lebih lembut membuat Acha yang tadinya berpaling muka kini menatap kearahnya. Lebih tepatnya netra kelam laki-laki di depannya.
“Gue tahu ini semua berat. Sorry gue nggak bisa berbuat apa-apa kala itu. Tapi, gue bisa membantu lo untuk sedikit meringankan beban lo, gue siap nikahin lo dan jadi ayah dari anak yang lo kandung sekarang. Setidaknya itu tidak akan membuat orang-orang mencibir lo kelak saat perut lo udah membesar.”
Acha menatap lamat-lamat netra kelam lawan bicaranya. Mencoba mencari kebohongan disana namun nihil, tatapan matanya sarat akan ketulusan dan nada bicaranya pun penuh dengan kelembutan.
Acha membisu, batinnya berkecamuk perasaanya sangat susah dideskripsikan. Ia benar-benar tidak merasakan kebahagiaan yang ada dirinya merasa semakin kasian. Bagaimana bisa dua orang laki-laki yang tidak bersalah malah berniat untuk bertanggung jawab sedangkan laki-laki yang sudah menghancurkan masa depannya malah hidup dengan santai-santai saja di luar sana. Apa ia tidak memikirkan bagaimana nasibnya setelah kesuciannya direnggut paksa hingga meninggalkan buah hati yang sekarang dikandungnya?
“Aracha,” suara berat itu kembali terdengar membuat Acha sedikit tersentak. Tanpa sadar air matanya meleleh begitu saja menganak sungai di pipi mulusnya. Dengan cepat Acha mengusapnya lantaran kembali menatap lawan bicaranya.
“Gue nggak bisa ngebiarin lo nanggung kesalahan yang diperbuat oleh orang lain, Kak Ken,” setelah mengatakan itu Acha segera beranjak dari kursi yang didudukinya. Acha melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan Ken yang masih terduduk di kursinya seraya menatap sendu kepergian Acha.
“Lo seharusnya tahu, Cha, gue tulus sama lo,” gumam Ken begitu lirih seraya terus menatap punggung Acha yang mulai menghilang dari penglihatannya.
...•...
...•...
__ADS_1
...•...