Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
13. Acha Pergi


__ADS_3

Happy Reading!!!





Disinilah Yoga sekarang, di pinggir jalan dengan tangan yang mencengkram erat setir mobilnya. Raut cemas terukir sangat jelas. Lo dimana sih, Cha? Batin Yoga gusar. Yoga merutuki dirinya sendiri yang memiliki tingkat kepekaan yang bisa dikatakan dibawa rata-rata untuk urusan wanita. Otak cerdasnya tidak pintar untuk memahami sebuah kalimat yang mengandung makna tersirat. Sebuah kalimat tidak apa-apa yang selalu di ucapan oleh kaum hawa padahal sedang ada apa-apa.


"Bodoh lo, Yog!" kesal Yoga seraya memukul keras setir mobilnya. Perasaan khawatir dan juga takut beradu menjadi satu. Kemungkinan-kemungkinan buruk mulai memenuhi otaknya. Yoga marah sekarang, ia sangat marah dengan dirinya sendiri. Ia sudah menyadari ada yang berbeda dari Acha namun ia tidak ingin mencari tahu dan memilih untuk pulang begitu saja. Namun, perasaan tidak enak menghampiri dirinya saat mobil yang dikendarainya sudah berhenti tepat di pelataran rumahnya alhasil Yoga memilih untuk kembali ke apartemennya namun bertapa terkejutnya dia saat tidak mendapati Acha disana.


Panik seketika menyerangnya, berkali-kali dirinya mencoba untuk menghubungi Acha namun perempuan itu tidak mau menerima telfonnya. Di tambah hujan yang tiba-tiba turun membuat Yoga semakin kalang kabut.


Ya Tuhan, lindungilah dia dimanapun keberadaannya, batin Yoga berdoa. Ia kemudian kembali menancap gas mobilnya, melajukan mobil BMW-nya membelah jalanan malam yang diguyur air hujan.


Yoga terus melajukan mobilnya. Matanya tidak sekalipun lepas dari jalanan berharap saat itu ia melihat Acha. Bayangan Acha menangis seraya meringkuk di tengah lebatnya hujan membuat hati Yoga berdenyut nyeri. Tangis pilu Acha begitu menyanyat hatinya.


Jalanan yang Yoga lalui tidak terlalu ramai. Hanya satu dua kendaraan yang berlalu lalang. Dari kejauhan, samar-samar Yoga melihat seorang gadis yang sedang berjalan menjauh dari posisinya. Derasnya hujan dan minimnya pencahayaan membuat Yoga kesusahan untuk memastikan siapa gadis itu. Yoga mengacu mobilnya sedikit lebih cepat untuk lebih mendekatkan dan betapa terkejutnya Yoga saat melihat itu Acha. Mata Yoga yang sedikit terbuka kini terbuka semakin lebar kala sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi, menghampiri Acha yang dengan bodohnya, bukannya menghindar Acha malah terdiam. Bahkan, suara klakson mobil yang menamakan telinga tidak membuat Acha menghindar dari mara bahaya hingga tinggal sedikit lagi mobil itu akan menabrak tubuh lebah Acha. Namun, Tuhan sepertinya masih ingin memberikannya kesempatan untuk menebus dosa-dosanya.


...***...


Acha POV


Aku beringsut dari tempat tidurku, mengambil ponselku yang tersimpan di atas nakas kemudian mengenakan sendalku yang tersimpan di lantai.

__ADS_1


Aku sudah memantapkan hatiku untuk pergi dari tempat yang sekarang aku singgahi. Selain dari sebuah rumah tapi juga sebuah hati, ya aku harus pergi. Dengan aku Bertahan disini, maka aku hanya akan menjadi benalu diantara Yoga dan Dinda, aku akan merusak kebahagiaan pasangan yang terlihat sangat mesra itu. Dan parahnya lagi aku akan merusak masa depan Yoga. Alu tidak boleh egois hanya untuk kepentinganku sendiri.


Aku berlalu meninggalkan apartemen yang selama beberapa hari ini menjadi tempat berpulang ku. Dalam hati aku berterima kasih kepada Yoga karena sudah mau menerima ku. Perasaan tidak rela menyergap hatiku tapi sekali lagi aku tegasnya untuk tidak menjadi benalu, tidak merusak kebahagiaan orang lain terlebih merusak masa depan Yoga.


Kakiku yang terbalut sandal rumah terus melangkah menjauh dari gedung pencakar langit yang selama beberapa hari ini aku tinggali. Beberapa memori indah bersama dengan Yoga tiba-tiba seperti sebuah kaset rusak yang terus berputar di otakku. Aku tersenyum kecut seraya berkata, "Yoga bukan milikku. Aku hanya orang asing yang tidak sengaja masuk ke dalam hidupnya."


Aku terus berjalan menyusuri trotoar. Hujan tiba-tiba turun mengguyur tubuhku yang hanya berbalut kaos rumahan. Aku tidak mempedulikan itu, aku tidak peduli akan dinginnya air hujan yang terasa seperti menusuk hingga ke tulang-tulang. Berkali-kali ponselku berdering, bisa ku tebak siapa sipenelvon tapi aku sengaja tidak mengangkatnya. Dia adakah sosok yang sangat aku hindari kali ini.


Aku memeluk tubuhnya sendiri, langkahnya kian menjauh dari apartemen yang ditinggalinya dan mungkin sudah hampir setengah jam lamanya. Aku mataku kembali mengalir dengan deras, betapa menyedihkannya aku sekarang sekarang. Tidak diinginkan oleh keluarga sendiri, tidak ada yang peduli, tidak tahu pula harus pergi kemana. Pikiranku begitu kalut hingga tanpa sadar aku terus berjalan ketengah-tengah. Dapat ku lihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi namun aku rasanya enggan untuk minggir. Aku terus berjalan ke kedepan mengikis jarak antara diriku dan mobil yang kini sedang melaju. Keberadaan ku tidak pernah diharapakan. Jadi, untuk apa aku masih hidup sampai sekarang? Sepertinya ini memang yang terbaik untuk semuanya, batin Acha.


Lampu mobil semakin menyilaukan mataku, sebentar lagi, ya sebentar saja tidak sampai bermenit-menit hanya dalam hitungan detik pasti aku akan pergi untuk selamanya. Namun, dapat kurasakan sebuah tangan mencekal lenganku dan menarik tubuhku hingga kini aku dan dia-orang yang menolongku terjatuh bersama di atas aspal yang basah. Beruntungnya sekarang sedang sepi.


"Yoga," ujar ku lirih namun sarat akan kekhawatiran. Yoga terjatuh di atas aspal dengan aku yang berada di atasnya. Aku segera beranjak berdiri lantas membantu Yoga untuk bangkit dari posisinya.


"Lo udah gila?" bentaknya membuat aku sedikit terkesiap namun tidak menjawab.


"Lo kenapa sih? Lo sebelumnya mikir nggak kalau sampai mobil itu beneran nabrak lo!" Yoga masih di kuasai amarahnya. Ia benar-benar marah, bisa-bisanya aku melakukan hal gila itu.


"Lo mau ninggalin gue?" Yoga mengguncang tubuhku namun aku masih tidak berani untuk menatapnya. Tanpa aku ketahui, air mata Yoga luruh begitu saja, beruntungnya hujan masih turun begitu derasnya hingga menyamarkan buliran bening itu.


Yoga kemudian menarik tubuhku untuk di peluknya dengan erat, sangat erat dan pelukan Yoga sangat hangat. "Maaf," cicit ku namun tidak dihiraukan olehnya.


"Lo tahu nggak sih Cha kalau gue khawatir sama lo. Gue takut lo kenapa-napa, gue takut kehilangan lo," ucapnya frustasi.


Aku tercengang mendengar itu, tubuhku menegang. Aku mengurai pelukanku dengan Yoga, ku tatap dalam netra kelamnya yang sarat akan kekhawatiran dan juga-ketakutan. Segitu khawatir dan takutnya kah Yoga jika aku benar-benar pergi?.

__ADS_1


"Kamu nggak seharunya seperti ini, Yoga," lirihku. "Lo nggak seharunya ngorbanin perasaan lo, kebahagiaan lo apalagi masa depan lo." aku menjeda kalimatku, ingin kembali berkata-kata namun suaraku seakan tercekat. "Gue nggak layak buat lo. Tolong, biarin gue pergi," finalku.


Dapat aku lihat Yoga menegang di tepatnya, mungkinkah ia syok dengan perkataan ku barusan? Aku tidak peduli, lebih tepatnya pura-pura tidak peduli. Aku membalikkan badanku hendak meninggalkan Yoga namun dengan cepat Yoga menarik tanganku dan kembali memeluk erat tubuhku.


"Gue nggak akan biarin lo pergi, Cha!" ujarnya lembut namun penuh penekanan.


Aku meronta, berusaha melepaskan diri dari pelukan Yoga. Jika terus seperti ini hatiku akan melemah nantinya. Itu tidak boleh sampai terjadi.


"Yoga, kamu berhak dapat yang lebih baik daripada gue. Dinda, dia sangat mencintai kamu."


Yoga terkesiap, ia kemudian melepaskan pelukannya padaku dan menatap diriku penuh tanya. Apakah aku sudah mengetahui semuanya? Mungkin itu yang ada di dalam pikirannya.


“Lo udah tahu?” kataknya bertanya yang kemudian aku balas dengan anggukan.


“Aku tahu kalian pacaran dan aku tidak ingin menjadi orang ketiga di antara kalian.”


Yoga menggeleng pelan. “Lo bukan orang ketiga. Jauh, jauh sebelum ada lo hubungan kita sudah tidak lagi sama,” alibinya. Entah kenapa Yoga yang biasanya tidak pernah berbohong kini mendadak menjadi seorang pembohong hanya demi diriku. Faktanya Yoga berubah semenjenjak adanya aku di dalam kehidupannya namun bodohnya aku percaya begitu saja.


Aku ingin egois, kali ini saja tolong biarkan aku menjadi egois. Maaf, Dinda. Tapi, sekali ini saja aku ingin menjadi egois. Semoga, kelak kamu tidak akan membenciku, batinku.


Yoga mengenggam lembut tanganku seraya berkata, “Jangan berfikir yang aneh-aneh. Lebih baik kita pulang sekarang. Lama-lama terkena air hujan tidak baik untuk calon anak kita.”


Hatiku berdesir mendengar ucapan Yoga. apa katanya tadi? calon anak kita? Yoga sudah dua kali mengatakannya dan itu membuatku sangat bahagia. Laki-laki tampan di depannya ini menerima anaknya. Rasa sesal tiba-tiba menyelimuti hatiku mengingat diriku tadi hampir saja membunuh anak dalam kandunganku bahkan sebelum bayi tidak bersalah itu melihat dunia. Maafkan mama, sayang. Batinku seraya mengusap lembut perutku.


...•...

__ADS_1


...•...


__ADS_2