
Happy Reading!!!
Pagi ini tidak seperti pagi-pagi yang sudah berlalu. Ada yang berbeda dari pagi ini yaitu tatapan orang-orang kepada Yoga. Jika biasanya mereka menatap Yoga dengan tatapan penuh kekaguman serta mata yang berbinar pagi kali ini mereka menatap Yoga penuh dengan ketidaksukaan serta mengejek. Meskipun tidak semua, namun hampir semua warga Angkasa 12 menatap Yoga benci.
“Tampan doang buntungin anak orang.”
“Yaelah, pantes aja putus sama Dinda ternyata yang baru udah ngisi.”
“Nggak nyangka banget sih ternyata Yoga bisa kaya gitu.”
“Covernya nggak sesuai sama dalamnya.”
“Kenapa baru go publik sekarang? Kemarin-kemarin kemana aja tuh waktu ada drama Aracha di DO? Nggak jadi pahlawan kesiangan?”
“Kalian jangan gitu, Yoga tuh gentel banget tau masih mau bertanggung jawab.”
“Meskipun hamilin anak orang, pesona Yoga tetap nggak luntur dari hatiku kok.”
“Pantes yaa muka ceweknya nggak asing, ternyata adek kelas yang waktu itu.”
“Udah-udah, kalian jangan nyalahin Yoga doang dong. Kan dia nggak ngelakuin itu sendiri. Ceweknya juga mau, murahan banget.”
Seperti itulah cibiran-cibiran yang Yoga dengar selama perjalanan menuju ke kelasnya. Jujur saja, ia sama sekali tidak terganggu ataupun panas dengan itu semua. Mereka berhenti mengangguminya maka itu suatu anugrah yang harus Yoga syukuri karena pada akhirnya ia bisa merasakan ketenangan. Tapi, rahang Yoga mengetat seketika, kedua tangannya terkepal kala nama Acha dibawa-bawa. Sekuat tenaga, Yoga menahan cibiran-cibiran itu hingga kini langkahnya tiba di kelasnya. Tidak jauh berbeda keadaannya, para siswi di kelasnya sibuk membicarakannya namun Yoga tidak ambil pusing, ia memilih untuk mendudukkan dirinya di bangkunya.
Suasana yang semula ramai mendadak berubah menjadi hening, semua mata tertuju pada Yoga yang terlihat sibuk dengan ponselnya, mungkin ia sedang bertukar pesan dengan Acha.
Dari arah pintu, Gavin dan Dean tampak ngos-ngosan, mereka telah berlari dari parkiran hingga tiba di kelas yang terletak di lantai 3.
“Kalian berdua kenapa?” Yoga mengangkat sebelah alisnya menatap Dean dan Gavin yang kini sudah duduk di bangkunya masing-masing.
“Gila, lo jadi trending topik anying,” kata Dean menggebu-gebu.
“Terus?” Yoga menanggapi dengan wajah kelewat santai seakan hal itu tidak berpengaruh apa-apa kepada hidupnya.
“Lo kok santai-santai aja sih. Lo udah kehilangan banyak fans, semua jadi haters.”
“Nggak peduli gue mereka mau jadi apa saja bukan urusan gue. Emang mereka penting buat hidup gue?”
“Iya juga sih, mereka emang nggak penting.” Gavin menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal.
“Eh btw, Acha tahu nggak?”
Yoga menggeleng. “Awas aja sampai lo bilang sama Acha, gue nggak mau dia sampai sedih gara-gara gosip unfaedah ini.”
“Padahal lo yang jadi korban.”
Yoga melemparkan tatapan tajam pada Dean membuat si empu meringis. “Hehe, ampun dah. Iya-iya gue nggak akan bilang sama Acha, santai aja napa.”
“Hm,” Yoga hanya bergumam kecil.
Dari arah pintu, terlihat Dinda yang sedang berjalan menuju meja Yoga dkk. Banyak pasang mata yang mulai berbisik-bisik namun Dinda tidak menghiraukan. Gadis itu tetap melangkah dengan mantap dan berhenti tepat di sebelah Yoga.
“Yog,” panggilannya membuat atensi Yoga dan kedua temannya beralih menatapnya.
__ADS_1
“Kenapa?”
“Lo nggak apa-apa kan?”
“Gue nggak apa-apa.”
“Dinda, duduk sini!” Dean beranjak dari tempat duduknya memberikan kursinya kepada Dinda namun gadis itu malah menggelengkan kepalanya.
“Gue cuma mau lihat kondisi Yoga aja, gue khawatir. Karena Yoga baik-baik saja, gue mau balik ke kelas,” Dinda melenggang pergi dari hadapan Yoga dkk. Dan itu masih tidak lepas dari tatapan Yoga dan teman-temannya sekelasnya.
“Anjir kasian,” seru Gavin.
“Belum bisa move on dia.”
“Yog, baikan gih! Mantan kan gak harus musuhan.”
“Emang siapa yang musuhan?”
“Lah?” Dean dan Gavin speechless mendengar jawaban Yoga. “Emang kalian masih akur?”
Yoga menggidikkan bahunya acuh. Ia tidak menganggap Dinda sebagai musuhnya bagaimanpun Dinda pernah menempati ruangan di hatinya. Ia tidak bisa membenci orang yang tidak bersalah kepadanya.
...\*\*\*...
Senyum Kanaya mengembang kala mendapati pesan dari sebuah nomor yang tidak ia kenal.
081xxx :
Yoga.
Dengan segera, Kanaya menyimpan menyimpan kontak Yoga, setelahnya baru ia mengetikkan balasan pesan.
Kanaya :
Oke kak
Anggie dan Valerie yang sedang menikmati makanannya menatap Kananya penuh tanya. Keduanya saling menyenggol kemudian menggidikkan bahunya.
“Lo kenapa sih? Senyum-senyum nggak jelas?”
“Tau tuh, kek abis menang lotre aja.”
“Gue dichat sama Kak Yoga anjir,” seru Kananya kegirangan.
“Apa katanya?”
“Pulang sekolah ntar gue diminta buat ketemu sama dia di taman.”
“Lo nggak curiga?”
“Curiga kenapa?”
“Yah, lo kan abis buat masalah anjir komen kek gitu di postingannya.”
__ADS_1
“Ya terus?” Kananya mengangkat sebelah aslinya.
“Gue saranin lo jangan temuin dia, bisa abis lo kena amuk.”
“Yaelah nggak mungkin. Mana tega sih dia gitu sama cewek. Lagian nih yaa itu anak bukan anaknya Kak Yoga napa juga dia harus semarah itu.”
“Awas lo nyesel,” peringatan Anggie.
“Nggak akan, lo berdua tenang aja ini kesempatan buat gue bisa deketin dia.”
...\*\*\*...
Waktu pulang sekolah pun tiba, semua siswa-siswi angkasa 12 mulai berhamburan keluar kelas untuk pulang.
“Lo berdua pulang aja duluan, gue mau temuin kak Yoga dulu,” ujar Kananya seraya memasang tali tasnya pada kedua bahunya.
“Lo yakin mau ketemu dia?” tanya Anggie. Tatapan matanya terlihat cemas karena ia tahu seberapa besar kesalahan yang sudah temannya itu lakukan. Yoga pasti tidak akan tinggal diam.
Kanaya mengangguk mantap. “Gue duluan, takutnya doi nunggu lama,” Kanaya terkekeh kemudian berlalu meninggalkan Anggie dan Valerie yang menatap cemas ke arahnya.
“Feeling gue nggak baik,” ujar Valerie yang kemudian di balas anggukkan oleh Anggie.
“Ikutin nggak?” kata Valerie lagi.
“Nggak ah, akhir-akhir ini kan Yoga natap kita tajam mulu anjir. Ga usah cari masalah, pulang aja ayo!” seru Anggie kemudian menarik tangan Valerie untuk keluar dari kelasnya.
Anggie dan Valerie berlalu pergi sementara Kananya sudah tiba di taman tempat ia janjian bersama Yoga. Keadaan taman masih terlihat sepi, Yoga belum tiba tampaknya kelas mereka belum berkahir. Sembarang menunggu, Kananya memilih untuk mendudukkan dirinya seraya memainkan ponselnya.
Lima belas menit berlalu, sebuah dehem menyapu pendengaran Kananya membuatnya mendongak menatap pemilik kaki jenjang yang berdiri di depannya.
“Kak Yoga,” senyum Kananya mengembang. Ia bangkit dari duduknya untuk mensejajarkan tingginya dengan Yoga meksipun masih kalah jauh.
“Maksud lo apa komentar kaya gitu?” suara dingin Yoga menusuk gendang telinga Kanannya membuat si empu kesusahan menelan salivanya.
“Naya nggak bermaksud apa-apa kok, Kak. Naya hanya berkata yang sebenarnya,” jelas guratan wajah Kanaya menampakkan ketakutan namun sebisa mungkin ia tetap terlihat tenang.
“Lo nggak berhak ikut campur dalam urusan rumah tangga gue!” suara Yoga terdengar seperti peringatan membuat Kananya semakin ketakutan.
“Kenapa sih kak Yoga mau nikah sama dia? Anak yang di kandungnya kan bukan anak kak Yoga melainkan anak Kak Reiki!”
“Bukan urusan lo!”
“Tapi kak—”
Tangan Yoga terangkat dan mendarat di bahu kanan Kananya membuat Kananya sedikit terkesiap hingga tidak berani melanjutkan kata-katanya. Yoga mencengkram kuat membuat Kananya meringis menahan sakit.
“Berani lo ikut campur dalam urusan rumah tangga gue lagi, gue pastikan yang lo dapatkan lebih dari ini,” Yoga menghunus tajam manik mata Kananya. Mata itu kini sudah mulai berkaca-kaca. “Sakit kak,” lirihnya.
Yoga menurunkan tangannya. “Lo camkan itu!” finalnya kemudian melenggang pergi meninggalkan Kananya. Air mata gadis itu menitih tanpa di minta, tangannya memegang bahunya yang terasa sakit. Tatapan matanya terus tertuju pada bahu tegap Yoga yang melangkah kian jauh darinya. Tanpa keduanya sadari, seseorang mendengarkan ucapan Yoga. Sosok itu mengepalkan kedua tangannya, matanya memanas dan nafasnya memburu.
Gue bakal rebut Yoga dari lo, Cha. Dia milik gue dan siapapun tidak bisa memilikinya kecuali gue. Batinnya.
__ADS_1
Like komennya man-teman!!!