
Happy Reading semoga sukađź’‹
Yoga berjalan dengan langkah panjang tujuannya kali ini adalah kamar Reiki—kakaknya.
Keadaan rumah sudah begitu sepi dikarenakan sekarang sudah pukul 10 malam. Papa dan mamanya sudah Yoga pastikan sudah tidur.
Brakkkk
Yoga membuka pintu kamar Reiki dengan kasar hingga menimbulkan keributan.
“Lo apa-apaan sih anjir?!” seru Reiki kesal kala melihat adiknya memasuki kamarnya dan mengganggu waktu istirahatnya.
“Bangsat lo anjing!” pekik Yoga seraya menarik baju yang dikenakan kakaknya kemudian menjatuhkan bogem di wajah tampan Reiki.
“Maksud lo apaan sih?” Reiki yang tidak terima di pukul hendak membalas namun dengan cepat Yoga menahan tangan kakaknya.
“Lo itu laki apa banci? Lo sadar nggak lo itu brengsek sialan!” Yoga berbicara dengan penuh penegasan, nafasnya memburu karena emosi yang kini sedang di tahan.
Reiki tersulut emosi, ia tidak merasa melakukan kesalahan tapi adiknya dengan seenak jidatnya malah memukuli dirinya dan mengatainya. Reiki mendorong tubuh Yoga hingga bergeser ke belakang.
“Gue nggak ada salah ya sama lo, lo nggak usah cari gara-gara!”
Reiki dan Yoga salin melemparkan tatapan tajamnya seakan mereka berdua adalah singa yang sedang kelaparan dan berebut mangsa.
Melihat tampang kakaknya yang seperti tidak memiliki dosa membuat darah Yoga seakan mendidih. Tanpa aba-aba ia kembali melayangkan bogeman mentahnya dengan membabi buta tanpa bisa Reiki lawan karena adiknya itu menahan dirinya di atas tempat tidur.
“Lo emang nggak ada salah sama gue anjing! Tapi lo sadar nggak lo ada salah sama seorang perempuan yang sudah lo hancurkan masa depannya!”
Deg
Mata Reiki membola. Melihat kakaknya seperti sudah mengingat kesalahannya Yoga akhirnya menghentikan aksinya. Wajah tampan kakaknya kini sudah babak belur karena ulahnya. Darah segar mengalir di surut bibirnya.
“Ac-acha?” ucap Reiki terbata. “Lo kenal?” tambahnya dengan gugup. Jelas di mata Reiki sarat akan ketakutan.
“Ya, asal lo tahu Acha adalah wanita gue!”
Reiki terkejut bukan main, bagaimana bisa? Bagaimana bisa Acha adalah kekasih adiknya? Bukannya adiknya itu pacaran dengan Dinda? Pikir Reiki.
“Dia \*\*\*\*\*\*,” kata Reiki kemudian dengan tenang.
Mendengar itu Yoga semakin naik naik pitam. Rahangnya mengetat dengan tatapan dingin dan tajam bahkan lebih tajam daripada tadi.
“Lo emang anjing Reiki!” Yoga kembali menjatuhkan pukulan pada kakaknya dengan membabi buta. Tapi, kini Reiki mulai membalasnya sehingga kini terjadilah adegan saling membogem satu sama lain.
__ADS_1
“Lo nggak pantas buat hidup sialan!”
Prankkkkk
Suara gelas jatuh membentur lantai tidak membuat kakak beradik itu menghentikan aksinya.
Liona pun segera berlari guna melerai pertengkaran kedua kakaknya. “KALIAN BERDUA APA-APAAN SIH?” bentaknya membuat kedua kakak beradik lantas menghentikan aksinya.
“Kenapa bertengkar?” tanya Liona tapi kedua kakak beradik itu hanya terdiam.
Liona menatap wajah tampan kedua kakaknya yang dipenuhi dengan lebam bekas bogeman. Helaan nafas kemudian terdengar. “Childish tau nggak! Lagian kalian berdua ada masalah apa sampai berantem kaya gini?” nada bicara Liona sedikit menurun namun masih terdengar dingin.
“Lo ratapi kesalahan lo sekarang! Ini pelajaran buat lo!” ujar Yoga kemudian berlalu dari kamar kakak sulungnya. Liona yang melihat itu hanya menatap datar punggung Yoga kemudian beralih pada Reiki yang mengusap darah segar pada sudut bibirnya.
“Lo punya salah apa sama Bang Yo sampai dia semarah itu?” Liona mulai mengintrogasi. Ia tidak ingin ada permusuhan dalam persaudaraan maka dari itu dia wajib tahu masalah kedua kakaknya agar bisa mencari jalan perdamaian.
Meskipun Liona tampak seperti orang yang tidak perduli dengan orang lain tapi ia tidak akan bisa tinggal diam jika sudah menyangkut orang yang disayang.
“Lo nggak kasian apa dek sama muka ganteng gue babak belur gini? Setidaknya obatin dulu kek,” keluh Reiki.
Liona merotasikan bola matanya malah. “Duduk!” titahnya kenapa sang kakak yang langsung di laksanakan. Liona kemudian mengambil kotak p3k yang tersimpan di dalam laci dan mulai membantu Reiki untuk mengobati luka di wajahnya.
...\*\*\*...
Yoga ingin menemui Acha tapi sebelumnya ia ingin menemui teman-temannya. Lima menit kemudian, motor yang di kendarai Yoga sudah berhenti dengan mulus di depan rumah Dean. Dengan segera Yoga melepaskan helm yang dikenakannya dan belalu menuju pintu yang tertutup dengan sempurna.
Yoga mengambil ponselnya guna menelfon temannya itu untuk memberitahukan keberadaannya sekarang. Tidak butuh waktu lama, pintu bercat putih itupun terbuka menampilkan sosok Dean dengan muka bantalnya.
“Ngapain sih lo anjing bertamu ke rumah orang malam-malam?” Dean menguap tanpa menutup mulutnya. Namun Yoga hanya menatap datar temannya dan melenggang masuk begitu saja.
Dean menutup pintunya, mengikuti Yoga yang sekarang berjalan menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua. Disana ada Gavin yang masih terlepas dalam tidurnya.
“Bangun woylah!” Dean mengguncang tubuh Gavin membuat laki-laki itu menggerang.
“Anjir kebo,” seru Dean namun tak lama kemudian mata Gavin terbuka.
“Kenapa sih anjir malam-malam ganggu orang tidur aja,” gumamnya seraya bangkit dari posisinya.
“Tuh liat temen lo datang-datang mukanya bonyok,” Dean menunjuk Yoga yang kini terduduk di tepi ranjangnya seraya memasang wajah dinginnya.
“Lah iya, abis ngapa lo Yog?”
__ADS_1
“Berantem.”
“Berantem sama siapa lo anjir? Tumben-tumbenan,” Dean sedikit terkejut pasalnya temannya yang satu ini sangat anti dengan yang namanya perkelahian kecuali jika ada yang mengusik dirinya atau orang yang disayanginya. Maka, Yoga mode singa on.
“Reiki,” Yoga masih malas untuk banyak bicara. Ia masih mencoba untuk meredam amarahnya. Dean dan Gavin tidak mempermasalahkan Yoga yang sedang mode irit bicara.
“Lah, kakak lo sendiri. Napa juga kalian berantem anying? Jan bilang si Dinda ngadu ke kakak lo,” tuduh Gavin.
“Gue cuma kasih pelajaran sama laki-laki brengsek yang sudah merusak masa depan orang tanpa tanggung jawab.”
“Maksud lo apa sih? Gue nggak paham anjir,” Dean menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.
“Maksud lo abang lo Reiki yang hamilin Acha?”
“Hm.”
“Lah bego! Kok bisa kakak lo sendiri sih anjir?” jujur saja Dean dan Gavin sedikit terkejut dengan pernyataan ini. Seorang Reiki dari keluarga Argantara. Laki-laki yang tidak pernah menampakkan muka brengseknya ternyata pelaku di balik hamilnya Acha—perempuan yang sudah berhasil merebut hati Yoga dari Dinda.
Yoga kemudian mulai menceritakan semuanya yang sudah Acha ceritakan kepadanya. Dan hal itu membuat Dean dan Gavin semakin di buat tak percaya.
“Wah gila bener itu sahabatnya si Acha, kok tega ngehianatin temen sendiri faedahnya apa?”
“Gue juga nggak tahu. Detail alasannya Acha tidak tahu kenapa temannya itu tega lakuin itu.”
“Luka mau diobatin nggak?” tawar Gavin.
“Gak!”
“Ya lah yang mau diobatin sama Acha,” ledek Dean kemudian namun Yoga hanya memasang wajar datar.
...\*\*\*...
Yoga membuka pintu kamar Acha perlahan agar tidak menimbulkan suara berisik. Yoga berjalan menghampiri Acha, menyimpan tas sekolahnya di sembarang tempat kemudian menanggalkan sepatunya.
Tanpa membersihkan dirinya terlebih dahulu, Yoga merebahkan tubuhnya disebelah Acha yang kini terlelap dengan posisi miring menghadapnya.
“Gue udah kasih dia pelajaran buat lo, Cha,” gumam Yoga seraya merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik Acha.
“Gue nggak akan biarin siapapun nyakitin lo sekalipun itu kakak gue sendiri,” imbuhnya.
Setelah mengatakan itu, Yoga memilih untuk memejamkan matanya. Tubuh lelahnya menuntut untuk diistirahatkan. Tidak butuh waktu lama, Yoga pun mulai menyusul Acha ke alam mimpinya.
__ADS_1
Tekan 👍 oke sayangggg