
Happy Reading
“Cha, coba deh sini kamu liat gaunnya, bagus nggak?” Nadin memperlihatkan sebuah gaun yang baru saja diambilnya kepada Acha yang masih disibukkan melihat-lihat pakaian yang lain. Mendengar Nadin yang memanggilnya sontak Acha menoleh kearahnya dan menatap gaun yang digenggam sang mama mertua.
“Iya bagus, Ma. Mau buat Li ya?” katanya bertanya.
“Bukan, Li mana suka pakai gaun seperti ini,” serunya seraya memperhatikan gaun tanpa lengan yang masih digenggamnya.
Mendengar itu sebelah alis Acha terangkat. “Terus buat siapa? Buat mama?” tanyanya polos.
Nadin tertawa mendengar ucapan menantunya. “Ada-ada aja kamu Cha, yakali mama pakai gaun anak muda. Meskipun mama masih muda karena menolak tua tapi gaun ini udah nggak cocok di tubuh mama yang sudah berekor tiga.”
Acha meringis mendengar penuturan Nadin. “Mama cantik kok,” pujinya kemudian.
“Kamu emang pintar memuji, Cha.”
Acha terkekeh. Tapi ia tidak bohong sekedar untuk menyengkan hati Nadin. Mama mertunya itu meksipun berumur namun masih terlihat sangat cantik nan juga anggun.
“Kamu suka kan, Cha?” sekali lagi Nadin bertanya memastikan kalau menantunya itu memang menyukai gaun pilihannya.
“Iya, Ma,”Acha mengangguk singkat mengiringi jawabannya.
“Ya udah ini buat kamu, Cha,” Nadin mengulurkan gaun itu kepada Acha. Acha sedikit terkejut namun tetap menerimanya. Acha meneliti gaun pilihan Nadin hingga kini tatapan matanya tertuju pada price tag yang tergantung di kerahnya, mata Acha seketika membola dan ia mengulurkan kembali gaun itu kepada Nadin.
“Acha nggak mau, Ma, ini terlalu mahal kita cari yang lain aja,” serunya dengan cepat.
Nadin yang mendengar itu kembali tertawa, menantunya ini memang bukan tipe perempuan yang suka belanja barang-barang mahal dan mewah.
“Udah kamu ambil aja, kalau uang bulanan dari Yoga kurang biar mama yang bayar.”
Acha menggeleng, bukan seperti itu maksudnya. Uang bulanan dari Yoga tidak kurang kalau hanya sekedar untuk membeli pakaian. Uangnya cukup dan sangat cukup malah tapi, hanya saja Acha tidak ingin menghambur-hamburkan uang hanya untuk sesuatu yang tidak terlalu penting. “Bukan begitu, Ma. Hanya saja ini terlalu mahal.”
“Satu baju doang nggak bakalan bikin keluarga kita miskin kok, Cha. Kalau kamu mau sama gedungnya sekalian bisa mama beliin buat kamu,” kata Nadin bercanda namun kalau emang dia mau candaannya bisa saja menjadi nyata. Nadin memang memiliki jiwa yang terkesan angkuh jadi tidak heran jika ia berbicara seperti itu.
Acha melongo mendengar penuturan Nadin dan lagi-lagi Nadin hanya tertawa dengan respon Acha. “Sudahlah, ayo kita ke kasir atau kamu mau cari beberapa baju lagi?”
Acha segera menggeleng, satu baju saja sudah cukup menurutnya. Lagian ia tidak terlalu suka berbelanja dan ia masih memiliki baju yang layak pakai di lemarinya. Belum lagi waktu itu Yoga juga membelikan beberapa pakaian untuknya.
“Sudah, ini saja, Ma.”
Nadin mengangguk, ia kemudian berlalu menuju kasir bersama dengan Acha.
“Selesai ini kita ke cari makan ya, Cha,” ujar Nadin usai membayar barang belanjaannya yang di balas anggukan oleh Acha.
__ADS_1
Keduanya kini berjalan beringin menuju resto yang berada di lantai lima. Sesampainya di tempat tujuan, Nadin dan Acha segera mencari tempat duduk yang berada di dekat jendela. “Ma, Acha ke toilet dulu yaa,” ijinya kepada Nadin.
“Iya, hati-hati ya,” ujar Nadin yang kemudian dibalas anggukan oleh Acha. Perempuan itu segera berlalu meninggalkan Nadin yang sedang membaca buku menu yang baru saja diberikan oleh pelayan yang dipanggilnya.
...\*\*\*...
Acha POV
Usai membuat hajatku, aku mencuci tanganku di wastell serta memperhatikan pantulan wajahku di depan cermin. Dapat ku lihat wajahku yang nampak mencarikan binar kebahagiaan. Hari ini, aku merasa bahagia karena akhirnya bisa menghabiskan waktu bersama dengan mama mertua ku yang sudah ku anggap seperti ibu kandungku sendiri. Sekarang sudah waktunya makan siang, akupun sudah merasa lapar. Tiba-tiba, aku teringat dengan Yoga, kira-kira sekarang dia sedang apa? Apakah ia sudah makan? Seperti itulah pertanyaan-pertanyan yang memenuhi otakku. Senyumku semakin merekah lebar mengungat hal gila pagi tadi, bisa-bisanya aku melakukan itu, untung Yoga tidak marah kepadaku.
Merasa sudah terlalu lama di dalam kamar mandi, akupun seger memutuskan untuk bergegas keluar setelah sebelumnya mengeringkan tanganku menggunakan tisu.
Restoran sekarang nampak lebih ramai, padahal aku hanya beberapa menit saja di dalam toilet tapi sekarang tempat ini sudah lebih penuh daripada tadi.
“Sayang, makasih ya udah nepatin janji,” samar-samar aku mendengar suara perempuan yang sedang berbincang, seketika itu pula senyumku mengembang, pasti hubungan mereka sangat harmonis, pikirku.
Karena tidak fokus dengan jalanan yang aku lewati, akhirnya aku tidak sengaja menabrak seseorang dan aku pastikan sosok itu adalah laki-laki. Dugaanku benar kala laki-laki itu mengeluarkan suara ketusnya.
“Kalau jalan pakai mata, orang segede ini lo nggak lihat?” serunya.
Aku yang mendengar itu mengangkat wajahku hendak meminta maaf. Namun, saat melihat siapa sosok yang ku tabrak kata maaf yang hendak terlontar dari mulutku kembali tertelan begitu saja. “Kalian,” cicit ku pelan.
“Acha,” cicit mereka berdua.
“Lama nggak ketemu, lo ternyata masih hidup, Cha?” kata Valerie bertanya dengan nada meremehkan.
“Iya, lama nggak ketemu dan ternyata lo berdua masih bersama. Langgeng ya,” balasku diiringi dengan senyuman. Jelas itu bukanlah senyum bahagia melainkan senyum meledek yang aku lemparkan kepadanya.
Mata Valerie membola mendengar penuturan ku baru saja. “Maksud lo apa?”, serunya dengan nada membentak membuat atensi semua orang beralih untuk menatap kita tidak terkecuali mama Nadin yang tidak jauh dari tempatku berpijak.
Mama Nadin yang melihat ku sedang berbincang seketika beranjak dari duduknya. Hendak menghampiriku yang masih berhadapan dengan Aska dan Valerie.
“Bukan apa-apa, gue hanya mau ingetin lebih berhati-hati saja karena nasib orang kedepannya tidak ada yang tahu seperti apa.”
Emosi Valerie meledak mendengar ucapanku. Dapat ku lihat kilatan-kilatan amarah di matanya. Namun, anehnya Aska hanya diam saja tidak membela kekasihnya.
“Dasae \*\*\*\*\*!” Valerie hendak melayangkan tamparan di pipi mulusku namun sebuah tangan tiba-tiba menahannya, itu adalah tangan mama Nadin. Mama Nadin nampak melemparkan tatapan tajamnya pada Valerie.
“Berani sekali kamu mau menampar menantu saya,” mama Nadin berujar dengan nada dinginnya. Aku sempat terkejut melihat Mama Nadin yang sangat berbeda, sorot matanya tajam dan wajahnya dingin nan datar persis seperti Yoga kala sedang marah. Sedangkan Aska terkejut melihat kedatangan mama Nadin yang tiba-tiba.
“Me-me-menantu?”
“Tan-tante Nadin?”
__ADS_1
Aska dan Valerie sama-sama mengeluarkan kata-kata dengan terbata. Keduanya terkejut sekaligus takut.
“Ternyata Aska,” Nadin menjeda kalimatnya, menatap sekilas Aska kemudian kembali menatap Valerie. “Dia pacar kamu, Ka?” imbuh mama Nadin bertanya.
“Iy-iya, tante,” balasnya tergagap. Entah kenapa ia begitu takut kepada mama dari sahabatnya yang terkenal hangat.
“Dapat dari mana, Ka? Kok mulutnya kayak nggak berpendidikan padahal kalau dilihat masih seumuran dengan Acha.”
Sial! umpat Valerie dalam hatinya. Dalam hati ia menyumpah serapahi Nadin yang belum ia ketahui identitasnya.
“Maafin Val ya, Tante. Lain kali Aska akan lebih perhatiin ucapannya.”
Nadin mengangguk kemudian melepaskan tangan Valerie. “Ya udah sekarang kalian berdua pergi dari sini!” usirnya.
“Kok tante ngusir kita?” seru Valerie dengan nada nyolotnya.
“Diam!” bentak Aska membuat Valerie bungkam. Ia merasa malu sekarang.
“Tante kita permisi dulu,” seru Aska kemudian menarik tangan Valerie untuk segera berlalu.
Perhatian mama Nadin kemudian beralih padaku yang masih setia menatapnya. “Kamu nggak apa-apa kan, sayang?” katanya bertanya. Tatapan matanya sudah kembali teduh dan nada bicaranya terdengar lembut.
“Ac-acha nggak apa-apa, Ma,” balasku dengan gugup dan takut. Aku tidak menyangka kalau mama Nadin yang selalu lemah lembut dan suka bercanda bisa menjadi dingin dan cukup seram juga. Aku jadi membayangkan gimana nanti nasibku kalau ketahuan berbohong.
“Ya sudah ayo kita kembali, makanannya sudah datang,” ajaknya padaku. Aku mengangguk kaku dan mengikuti mama Nadin kembali ke meja kita berdua.
Kini, kita sudah kembali duduk berhadapan dengan aneka macam makanan yang terhidang. “Kamu kenal mereka, Cha?” kata mama Nadin bertanya.
Aku yang hendak memasukkan makanan ke dalam mulutku mengurungkan niatku dan menatap sang mama. “Nggak, ma,” balasku pelan.
“Cowok tadi itu temennya Rei, kakak Yoga,” terang mama Nadin yang kemudian ku balas dengan anggukan tanda paham.
Oh, jadi kakaknya Yoga namanya Rei. Kenapa bisa kebetulan yaa. Batinku yang lagi-lagi disibukkan dengan pemikiran kacau ku sendiri
“Kenapa, Cha?” tegur mama Nadin kala melihat ku melamun.
“Nggak apa-apan kok, Ma.” aku menggelengkan kepalaku kemudian melanjutkan memakan makananku.
“Ya sudah, makan yang banyak dan jangan banyak pikiran,” final Nadin akhirnya.
“Iya, Ma. Mama juga makan yang banyak.”
Nadin tersenyum hangat lalu mulai menatap makanannya.
__ADS_1