Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
18. Menggoda Acha


__ADS_3

Happy Reading!!!



Acha mengerjabkan matanya kala sang surya mulai menampakkan dirinya. Sinarnya yang menyilaukan menembus tirai di kamar Acha yang sedikit terbuka. Mata Acha perlahan terbuka, dapat ia rasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Acha yang masih belum mendapatkan kesadaran sepenuhnya meraba perut ratanya dan kini dapat ia rasakan sebuah tangan besar memeluk erat dirinya.



“Yoga,” gumamnya dengan suara serak khas orang bangun tidur. Pandang mata Acha masih mengabur membuatnya harus menyipitkan mata untuk melihat jelas sosok yang kini masih tertidur pulas di sebelahnya.



“Yoga astaga,” pekik Acha panik melihat wajah tampan Yoga yang di penuhi dengan luka lebam.



Yoga yang merasakan tidurnya terusik oleh suara Acha seketika membuka mata. “Lo udah bangun?” katanya bertanya dengan suara serak yang terdengar sangat menggoda namun itu tidak menghilangkan kepanikan yang kini sedang mendera Acha.



“Ini kenapa?” Acha menyentuh lembut wajah Yoga. Matanya berkaca-kaca, pasti sakit, pikirnya.



Melihat raut khawatir Acha yang begitu kentara, Yoga mengulum senyumnya. “Jatuh,” alibinya.



“Kok bisa, bukannya kamu bawa mobil?”



Acha ternyata tidak langsung percaya dengan Yoga membuka si empu menyengir kuda. “Ini sakit, Acha, obatin,” pintanya dengan manja.



Acha pun tidak menolak, ia segera bangkit dari duduknya namun tangan besar Yoga terlebih dahulu menahan pergerakannya. “Mau kemana?” katanya bertanya.



“Mau ambil air hangat buatin bersihin wajah kamu sekalian ambil obat merah,” terang Acha.



“Emang sekarang kamu udah sembuh?”



Acha menyentuh dahinya menggunakan punggung tangannya, sudah tidak panas, pikirnya. “Sudah, demamnya sudah turun dan aku sudah tidak pusing lagi.”



Yoga berdecak gemas melihat kelakuan Acha. “Ya udah sekarang bantu gue obatin lukanya.”



“Sebentar ya,” Acha beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil air hangat dan juga kotak p3k. Sementara Yoga memilih untuk merubah posisinya menjadi duduk. Bekas tonjokan Yoga ternyata lumayan nyeri juga apalagi setelah semalam dibiarkan tanpa di obati.



Tak berselang lama, Acha kembali dengan sebuah baskom di tangannya serta handuk bersih untuk membersihkan wajah Yoga. Setelah menyimpan baskom yang dibawanya di atas nakas, Acha kemudian mengambil kotak p3k dari dalam laci lantaran mendudukkan dirinya di sebelah Yoga. Acha terlebih dahulu membersihkan wajah dengan sangat telaten.



“Ini kapan kejadiannya?” Acha bertanya dengan manta yang masih sibuk mengelap wajah Yoga dengan perlahan.



“Semalam.”



“Kenapa tidak bangunin aku? Kan biar bisa langsung obatin jadi nggak sampai seperti ini,” tuturnya. Dapat Yoga lihat manik mata Acha menyiratkan kekhawatiran yang begitu besar.



“Lo lagi tidur, Cha, mana mungkin gue tega ganggu waktu istirahat lo.”

__ADS_1



Pergerakan tangan Acha terhenti seketika. Netra cerahnya bertemu dengan netra kelam milik Yoga membuat jantungnya berdetak kencang. Hanya mendengar kalimat seperti itu saja Acha sudah baper, lemah memang perasaan Acha.



“Ekhem,” Yoga berdehem membuat Acha sedikit tersentak dan tanpa sengaja menekan luka yang berada di sudut matanya.



“Aww, sakit, Cha,” peliknya pelan saat lukanya itu di tekan dengan lumayan kencang membuat rasa ngilu kemudian menjalar.



“Astaga maaf,” panik Acha lantas mengusap lembut luka Yoga.



“Nggak apa-apa,” Yoga menahan tangan Acha untuk tetap berada di wajah tampannya membuat jantungnya kembali berdetak tidak beraturan.



Tidak ingin berlama-lama pada posisi yang tidak baik untuk kesehatan jantungnya, Acha memilih untuk mengakhiri kegiatannya membersihkan wajah Yoga.



“Yoga, aku pakain obat merah dulu, ya. Setelah ini kamu bisa langsung mandi,” Acha menarik tangannya dari genggaman Yoga dengan begitu gugup. Degup jantungnya masih berirama, dengan gerakan yang tergesa-gesa Acha mengambil sebuah kapas dan menuangkan obat merah disana lantas memulai mengobati luka Yoga dengan perasaan gugup yang masih mendera.



Tidak sampai lima menit, Acha usai dengan kegiatannya. “Mau di pakaikan plester nggak?” katanya bertanya.



Yoga terdiam tidak langsung memberikan tanggapan. Ia menatap pantulan wajahnya di depan cermin yang tidak jauh dari posisinya. “Cha, keknya luka gue parah banget ya. Kalau bekasnya nggak ilang gue nggak tampan lagi dong,” ujarnya.



“Tampan kok,” balas Acha spontan.




“Apa?”



“Cium.”



“Ha?” Acha mengerjabkan matanya lucu. Otaknya mendadak loading dengan jawaban yang Yoga berikan. Yoga yang melihat itu gemas seketika.



Sumpah ya gemesin banget, batin Yoga. Ia dalam hati tertawa namun tidak memudarkan wajah seriusanya.



“Ayo, Cha, cium gue biar bekasnya ilang!” ujarnya dengan sedikit memaksa.



Acha yang polos pun mengiyakan saja. “Iya-iya,” Acha lantas mendaratkan beberapa ciuman pada luka Yoga membuat si empu bersorak penuh kemenangan dalam hatinya.



Ciuman terkahir Acha jatuh pada sudut bibir Yoga yang juga terdapat lebam. Namun, saat Acha hendak menarik wajahnya Yoga justru menahan tengkuknya dan mencium bibir Acha serta memberikan sedikit \*\*\*\*\*\*\* disana.



Acha yang terkejut kini matanya membola, ia tidak menolak ciuman Yoga namun tidak membalasnya. Ciuman Yoga begitu lembut membuat Acha sejenak terbuai namun itu tidak lama. Yoga melepaskan ciumannya seraya menatap Acha yang masih dalam mode keterkejutannya.



“Ish, Yoga kan suka ambil kesempatan dalam kesempitan,” seru Acha kemudian seraya mendarat pukulan ringan di dada Yoga. Rona merah kini menjalar di pipi hingga telinga Acha. Rasanya malu beradu bahagia.

__ADS_1



Yoga terkekeh. “Manis,” ujarnya.



Acha menatap Yoga datar. “Kesel ah sama Yoga. Mandi sana!” usirnya kemudian beranjak berdiri dari tempat duduknya. Merapikan kotak p3k dan menyimpannya ke tempat semula.



Yoga yang melihat Acha sedang dalam mode salting pun berniat untuk menggodanya. “Acha, muka lo kok merah.”



Acha yang kepalang malu pun memekik kesal menyebut nama Yoga membuat si empunya semakin merasa bahagia.



“Mandi sana!” titahnya.



“Ya udah iya, ini mau mandi,” Yoga beranjak dari tempat tidurnya dan berlalu menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar Acha.



“Lukanya jangan di kenakan air. Udan dibersihkan tadi jadi mandi cukup badannya aja!” peringat Acha saat kaki jenjang Yoga hendak melangkah masuk ke dalam kamar mandi.



“Iya calon istri,” balas Yoga masih dengan menggoda Acha membuat wajah Acha makin memerah. Dengan wajah yang cemberut karena kesal Acha mengulum senyumnya. Rasanya Acha sangat bahagia, seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Jantungnya berdetak sangat kencang seperti siap meledak kapan saja, ditambah seperti ada perasaan meletup-letup dalam dadanya. Rasanya Acha benar-benar di terbangkan sekarang.



Selesai dengan acara mandinya, Yoga segera mendudukan dirinya di meja makan yang sudah tersedia sarapan.



Acha yang melihat kedatangan Yoga pun segera mengambil piring milik Yoga, mengisinya dengan nasi serta lauk pauk.



“Harus dihabiskan!” seru Acha meletakkan piring yang sudah penuh di hadapan Yoga.



“Iya, Acha sayang!” balas Yoga gemas. Ia lantas mengambil sendok miliknya dengan netra yang tidak lepas memandang Acha. Yoga menarik salah satu sudut bibirnya kala melihat Acha tampak salting sampai *blushing*.



Acha yang dipanggil sayang kembali merasakan ribuan kupu-kupu menggelitiki perutnya. Jantungnya berdebar hebat. Acha lantas mengulum bibirnya ke dalam membentuk seulas senyum yang mencoba untuk disembunyikan. Dasar Yoga! kenapa sih suka sekali menggoda Acha? Bikin anak orang jadi baper tau nggak?!



“Reseh aku ambil lagi nih makanannya!” ancam Acha dengan tangan yang sudah siap untuk menarik piring Yoga.



“Iya-iya, nggak,” Yoga terkekeh senang melihat Acha yang semakin salah tingkah.



“Ya udah gih lo juga makan,” Yoga menjada ucapannya, lelaki itu menatap Acha dengan seringaian di kedua sudut bibirnya. “Atau... mau gue suapin?” sambungnya.



“Gak!” tolak Acha cepat lantas bergerak mengisi piringnya lantaran mulai menyantap sarapannya. Sementara Yoga yang melihatnya tersenyum bahagia, merasa menang karena berhasil membuat Acha kesal sekaligus salah tingkah.



“Cewek kayak lo nggak pantas buat tersakiti, Cha,” batin Yoga sebelum mulai menyantap sarapannya.



Yoga dan Acha


__ADS_1


__ADS_2