Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
52. Keguguran


__ADS_3

Happy Reading!!!




Yoga melangkahkan perlahan menghampiri brankar Acha. Disana, Acha terlihat masih memejamkan matanya dengan wajah pucatnya. Air mata Yoga menitih detik itu juga. "Maafin gue, Cha," lirihnya. Ia menggenggam tangan Acha yang tidak terinfus.



"Gue udah gagal jagain lo dan anak kita, gue gagal jadi papa yang baik buat calon anak kita," Yoga terus menyalahkan dirinya. Pernyataan dokter benar-benar menampar dirinya, membuatnya merasa menjadi orang terbodoh di dunia.



Yoga tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati istirnya itu jika mengetahui anak yang dikandungnya sudah tiada. Yoga tidak tahu bagaimana nanti ia menghadapi Acha.



Suara dari elektrokardiogram itu memenuhi keheningan di dalam ruangan dingin tersebut. Yoga masih setia menangis di tempatnya, merutuki dirinya sendiri.



Sebuah gerakan tangan dapat Yoga rasakan membuatnya mengalihkan atensinya untuk menatap wajah pucat istrinya. Terlihat, Acha mulai menggerak-gerakkan kelopak matanya mencoba untuk membukanya.



"Cha," lirih Yoga menatap manik mata Acha yang perlahan terbuka.



"Y-yoga," lirih Acha dengan suara terbata.



"Sayang, akhirnya kamu sadar juga," Yoga segera memuluk Acha dan menghujani ciuman di wajah cantik istirnya.



Tiba-tiba Acha teringat dengan kejadian kemarin, kejadian saat dirinya sempat sadar sebelum akhirnya matanya itu kembali terpejam. Air mata Acha luruh seketika.



"Cha gue minta maaf," cicit Yoga. Melihat Acha menangis membuat hatinya tercubit sakit.



Acha hanya diam, ia masih menangis meraptapi nasib anaknya yang tidak bisa terselamatkan. "Cha, gue bener-bener minta maaf, harusnya waktu itu gue nggak pergi gitu aja, harusnya waktu itu gue dengerin penjelasan lo terlebih dahulu. Gue bener-bener minta maaf, gue udah gagal jaga lo dan anak kita."

__ADS_1



Acha masih saja diam, ia hanya menangis sesegukan. Buah hatinya yang sudah di kandung selama empat bulan telah pergi, meninggalkannya untuk selama-lamanya. Acha memejamkan matanya. Maafin mama sayang, mama sudah gagal menjaga kamu, batin Acha. Ia semakin terisak-isak, rasanya sakit sekali.



"Yoga, kenapa dia ninggalin gue," setelah beberapa menit Acha akhirnya membuka suara namun masih dengan tangisnya.



"Tuhan lebih sayang sama dia, Cha," balas Yoga. Ia mencoba untuk menguatkan istrinya meskipun ia sendiri merasakan kehancuran. Meskipun bayi itu bukan anak kandungnya, tapi Yoga selalu menganggap bayi itu adalah anaknya sendiri, ia menyangai anak itu sama seperti papa Raka menyayanginya, tanpa membeda-bedakan antara dirinya, Reiki dan Liona.



"Tapi aku juga sayang sama dia, kenapa Tuhan mengambilnya?"



Yoga memeluk erat tubuh ringkih Acha. Ditinggalkan oleh seseorang yang belum sempat dilihatnya memang sangat menyakitkan dan Yoga tahu seperti apa rasanya.



"Kamu harus ikhlas, aku tahu kok kamu kuat. Semua ini sudah takdir dan kita tidak bisa melawannya."




Di luar ternyata sudah ada Nadin, Raka, Liona, Reiki, Dean serta Gavin. Semuanya begitu mencemaskan keadaan Acha.



"Yoga, gimana keadaan Acha?" kata Nadin bertanya. Nada bicaranya sarat akan kekhawatiran.



"Acha sudah sadar, Ma. Sekarang dia ingin sendiri," jelas Yoga.



Nadin menghela nafas sedikit lega, setidaknya menantunya itu telah membuka mata. Mereka semua memaklumi keadaan Acha, perempuan itu pasti sangat terpukul karena kehilangan janinnya.



Reiki yang mendudukan dirinya pada bangku yang tersedia tak kalah hancurnya dengan Acha. Ia pun merasa bersalah dalam benaknya. Kalau saja ia tidak menemui Acha, kalau saja ia tidak meminta maaf kepada Acha dan memeluk gadis itu hingga membuat Yoga salah paham, hal ini pasti tidak akan terjadi. Acha dan calon anaknya pasti akan baik-baik saja. Hati Reiki perih setiap kali mengingatnya, lagi-lagi ia di ditinggalkan oleh orang yang sangat di sayanginya-ibunya dan anaknya, semua telah kembali ke pangkuan Tuhan.


__ADS_1


\*\*\*



Seminggu berselang sejak insiden tragis itu kini, Acha sudah di pulangkan sejak dua hari yang lalu. Pasca kejadian yang merenggut nyawa calon bayinya, Acha menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya, perempuan itu menjadi lebih pendiam dan suka menyendiri. Sekarang, ia sudah kembali tinggal bersama dengan mertuanya agar Nadin bisa lebih mudah mengawasi menantunya kala Yoga sekolah.



Suara pintu terbuka sama sekali tidak membuat atensi Acha tersita, perempuan itu masih setia dengan posisinya, tatapan matanya begitu kosong menatap kesembarang arah.



"Sayang," Yoga mendudukkan dirinya tepat di sebelah Acha. Laki-laki itu mencium sekilas pipi Acha namun tidak mendapati respon dari si empunya. Hati Yoga perih melihat Acha yang seperti ini, istrinya itu sudah seperti mayat hidup dengan kulit pucat dan tubuh kurusnya. Tampaknya, kepergian calon bayinya itu memberikan pukulan yang besar bagi Acha.



Yoga menyelipkan rambut Acha kebelakang telinga. "Belum makan siang?" tanya Yoga kala melihat nampan yang tersimpan di atas nakas itu masih penuh dengan makanan yang tak tersentuh.



Yoga menghela nafasnya. "Aku lapar, kamu temenin aku makan, ya," pinta Yoga. Ia menggenggam tangan Acha dan mengajak istrinya itu menuju dapur. Saat kaki Yoga mulai melangkah, ia merasa tubuh Acha sama sekali tidak tergerak hal itu membuat Yoga kembali menatap Acha.



Istrinya itu kembali menangis membuat Yoga hati Yoga semakin teriris. Ia kemudian memeluk Acha dengan erat. "Aku mohon Cha, kamu jangan terus seperti ini," pintanya dengan lirih. Ingin sekali ia ikut menangis namun kali ini ia ingin terlihat tegar di hadapan istrinya itu. Ia tidak mau ikut terlihat lemah dan hancur.



"Gue tahu perasaan lo, Cha. Ditinggal sama seseorang yang bahkan belum sempat kita lihat itu sakitnya luar biasa," suara Yoga mulai terdengar parau, meskipun laki-laki itu sudah mencoba untuk tetap biasa saja namun rasanya begitu sulit.



Acha mengurai pelukannya. "Kamu nggak akan ngerti, Yog. Gimana sakitnya ditinggal oleh orang yang sangat kita sayang, yang bahkan sehidup semati bersama," ujar Acha akhirnya.



"Anak lo juga anak gue, Cha. Jadi, gue tahu seberapa hancurnya perasaan lo sekarang. Lo tahu, hati gue sakit liat lo kayak gini." Yoga menjeda kalimatnya. Suaranya seakan tercekat dan sangat sulit untuk di keluarkan. "Dua kali, Cha. Dua kali gue ditinggal pergi selamanya oleh orang yang sangat gue sayang, oleh orang yang sangat ingin gue lihat rupanya tapi Tuhan tidak mengijinkannya. Papa gue dan calon anak kita."



Hati Acha tersenyum, hari ini ia benar-benar tatapan mata Yoga yang menyiratkan kesedihan yang mendalam. Acha merasa bersalah sekarang karena mengacuhkan Yoga tanpa tahu kalau laki-laki itu juga sama hancurnya dengan dirinya.



"Maafin aku, Yog. Aku nggak tahu kalau kamu juga sakit sama seperti aku," Acha menghambur memeluk Yoga, keduanya saling memeluk erat dan menguatkan satu sama lain.


__ADS_1


Nadin yang melihat itu menitihkan air matanya. Ia tidak menyangka kalau putranya itu masih mengenang jelas papanya yang belum pernah dilihatnya sebelumnya.


__ADS_2