
Happy Reading!!!
Ken membisu ditempatnya sejak setengah jam yang lalu, tatapan matanya tampak kosong. Netra yang biasanya menatap kelam siapa saja kini hanya menatap ruangan hampa dengan sayu, wajah tampannya penuh dengan hiasan memar. Kenyataan yang baru saja di ketahuinya itu terlalu pahit.
Prank
Dalam sekejap mata, semua yang tersimpan rapi di atas nakas kamarnya itu berserakan mengotori lantai, Ken meremas rambutnya frustasi.
"Mama Mira?" itulah kalimat yang terlontar dari bibir Yoga kala melihat sosok Mira a.k.a selingkuhan papanya yang di masa lalu yang membuat ibunya merenggang nyawa.
"Mama?" beo Ken dan Dinda bersama. Ia menatap Yoga bingung kenapa laki-laki itu memanggil Mira dengan sebutan mama karena setahu mereka mama Yoga hanya satu yaitu, Nadin.
"Kamu? Ngapain disini?" suara Mira terdengar ketus. Netranya menatap sinis ke arah Yoga.
"Harusnya saya yang nanya, ada hubungan apa anda dengan Om Alex?"
"Bukan urusan kamu. Kamu sendiri ngapain disini? Apa kamu udah bosen sama Acha?"
"Acha?" lagi-lagi Ken dan Dinda di buat bingung dengan dua orang di depannya.
"Iya, Acha. Kalian tidak tahu kalau Yoga sudah menikah sama Acha? Married by accident sih lebih tepatnya."
Hal itu jelas membuat Dinda dan Ken terkejut luar biasa. Bagaimana bisa kebetulan ini begitu tidak menguntungkan keluarga Dinda.
"Kakak, ada apa?" seru Dinda sedikit berteriak kala memasuki kamar Ken. Lagi-lagi perempuan itu mendapat keadaan kamar kakaknya yang berantakan.
Dinda berjalan menghampiri Ken yang sama sekali tidak menghiraukan kedatangannya, ia mendaratkan bokongnya tepat di sebelah Ken lalu mengusap lembut lengan kakaknya. "Kakak mau sampai kapan kayak gini?" ujar Dinda. Ia sedih melihat keadaan kakaknya yang sudah seperti orang depresi.
"Dinda tahu kakak merasa terpukul. Selama ini kakak melindungi Acha tapi ternyata dia adalah anak dari pembunuhan ibu kita," hati Dinda berdenyut nyeri kala mengingat hal itu.
__ADS_1
Nyeri beradu benci seakan menguasai diri Dinda. Apalagi jika mengingat Acha sudah merebut Yoga darinya. Tangan Dinda tiba-tiba terkepal. "Kakak mau bantu Dinda?"
Pertanyaan itu sukses membuat Ken menoleh ke arahnya. "Apa?"
...\*\*\*...
"Cha, gue sekolah dulu ya," pamit Yoga yang kemudian dibalas senyuman serta anggukan oleh Acha. Perempuan itu segera mengambil tangan besar Yoga untuk di ciumannya.
"Hati-hati."
Yoga mengangguk, ia kemudian membalikkan tubuhnya dan berlalu meninggalkan Acha. Sepeninggalan Yoga, Acha hendak kembali masuk ke dalam rumahnya, ia menarik pintunya untuk ditutup kembali namun, kegiatan itu terhenti kala seseorang menahan pintu tersebut untuk tetap terbuka.
"Cha, gue mau ngomong sama lo!"
"Gue nggak mau ngomong sama lo!" Acha hendak kembali menutup pintunya namun dengan sigap sosok itu kembali menahannya.
"Oke tiga menit dari sekarang!" Acha melipat kedua tangannya di depan dada menunggu sosok di depannya yang adalah Reiki untuk segera membuka suara.
"Cha, gue minta maaf."
"Udah gue maafin, sekarang lo boleh pergi!" Acha mengurai lipatan tangannya, ia hendak kembali masuk ke dalam rumahnya dan menutupnya tapi lagi-lagi Reiki menahannya.
"Gue seirus, Cha. Gue tulus minta maaf sama lo, gue tahu gue salah, gue tahu gue brengsek dan gue tahu kesalahan gue nggak mungkin bisa di maafin begitu saja. Gue bajingan, gue pengecut bukannya sadar malah semakin menjadi-jadi," nada bicara Reiki terendah tulus dan juga penuh sesal. Sorot matanya pun menampakkan keseriusan dan rasa bersalah yang mendalam.
"L-lo kenapa?" cicit Acha kala melihat Reiki malah menitihkan air mata seakan laki-laki itu memiliki beban berat yang sedang dipikulnya.
Reiki menggeleng, ia menghapus kasar lelehan kristal yang menebus pelupuk matanya. "Gue nggak apa-apa. Gue udah rela lo sama Yoga. Gue hanya butuh maaf lo yang setulus-tulusnya."
__ADS_1
Hati Acha terenyuh, entah kenapa melihat Reiki yang sekarang ia merasa kasihan. "Gue udah maafin lo kok Rei jauh sebelum lo minta maaf," Acha menarik kedua sudut bibirnya membrnu seulas senyuman.
"Makasih, Cha," cicit Reiki seraya memeluk Acha dengan tiba-tiba membuat tubuh Acha menegang seketika. Acha mencoba untuk melepaskan pelukan Reiki namun laki-laki itu malah semakin mengeratkan pelukannya. "Sebentar, Cha. Sebentar saja tolong biarin gue meluk lo dan anak kita," ujarnya dengan setitik air mata yang lagi-lagi menerobos pelupuk matanya.
"ACHA!!"
Deg
...\*\*\*...
Yoga POV
Setelah berpamitan kepada Acha, aku segera berlalu menuju parkiran untuk mengambil mobilku. Namun, saat aku tiba di lantai dasar aku merasa ada yang kurang dan ternyata ponselku tertinggal. Aku pun kembali memutar langkah ku menuju lift untuk kembali ke apartemenku. Namun, setibanya disana, betapa terkejutnya aku melihat istriku yang sedang berpelukan dengan kakakku. Detik itu juga, nafasku memburu, amarahku pun meledak. Kecewa, kesal, marah dan cemburu beradu menjadi satu.
"ACHA!!!" bentakku. Netra kelamku menghunuskan tajam dua manusia yang masih setia dengan posisinya. Dapat ku lihat, mata Acha membola dengan mata yang tercekat.
"Y-yoga," cicitnya namun tidak ku hiraukan. Aku memilih untuk pergi untuk menenangkan diri. Kejadian kala itu membuatku lebih memilih menghindar daripada harus berdebat dan berkahir mengeluarkan kata-kata kasar.
Acha terus meneriaki namaku sembari mengejarku namun aku masih tidak mempedulikan itu. Dadaku bergemuruh dan panas karena terbakar amarah serta api cemburu. Segera aku masuk ke dalam lift lantas menutup lift tersebut sebelum Acha berhasil menyusulku. Tidak ingin hanya diam menunggu, Acha pun memilih mengejarku lewat tangga. Bodoh memang dia.
Tidak peduli seberapa banyak anak tangga yang harus ia lewati, Acha terus berlari demi bisa mengejarku. Saat pintu lift terbuka di lantai dasar, aku belum mendapati keberadaan Acha namun, saat langkahku mencapai pintu aku kembali mendengar suaranya.
"YOGA!"
Aku memutar tubuhku, menatap dirinya yang tampak terengah-engah diatas sana. Ia kembali melangkahkan kakinya hendak menuruni anak tangga namun betapa naasnya kala Acha hendak melangkah kakinya justru terpleset membuat tubuhnya terjatuh dan menggelinding turun.
"ACHA!" pekikku bersamaan dengan itu kulihat Reiki yang baru saja keluar dari lift. Aku segera berlari menghampiri Acha yang sudah tidak sadarkan diri. Semua orang menyaksikan itu.
Mataku membola dengan sempurna kala melihat darah segar mengalir dari \*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\* Acha yang memang kebetulan menggunakan gaun. "Acha, sayang bangun," ujarnya penuh dengan kekhawatiran. Dengan segera aku mengangkat tubuh Acha dan membawanya berlari menuju rumah sakit.
__ADS_1
"Biar gue yang setir mobilnya," seru Reiki. Kali ini aku menurut, ku lemparkan kunci mobilku padanya lantas ku bawa Acha masuk di kursi belakang bersamaku. Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi menuju salah satu rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari posisiku.