
Yoga POV
Aku melangkah perlahan memasuki kamar yang kini sedang dihuni oleh seorang perempuan yang sudah menginap selama empat malam tiga hari. Dapat kulihat Acha sudah terlelap dengan sebuah buku yang tersimpan di atas dadanya. Perlahan aku melangkahkan kakiku menghampirinya yang tertidur pada sofa yang terletak tidak jauh dari tempat tidur. Ku tatap wajahnya lamat-lamat, sangat manis dan juga sangat polos. Melihatnya tidur dengan sangat damai, hatiku yang semula gundah memikirkan kejadian tadi saat bersama dengan Dinda seketika menghangat. Entah perasaan apa ini yang jelas aku tidak pernah merasakan sebelumnya saat bersama dengan Dinda.
Pelahan aku mengambil alih buku dalam genggaman Acha. Ku lihat Acha sama sekali tidak terusik dan masih begitu tenang dalam tidurnya. Aku menyimpan novel yang sempat Acha baca pada sebuah meja yang terletak tidak jauh dari sofa yang ditempati Acha berada. Setelahnya, aku beralih pada tubuh mungil Acha, menggendongnya ala bridal style guna memindahkannya ketempat tidur yang lebih nyaman. Bukannya terusik, Acha malah mencari posisi nyaman, menyembunyikan wajahnya di balik dada bidangku membuat senyum ku semakin terkulum dengan lebar.
Dengan perlahan aku memindahkan Acha di atas tempat tidur agar Acha tidak terbangun. Setelah memastikan Acha nyaman dengan posisinya, aku hendak menjauh guna memasangkan selimut pada dirinya namun siapa yang menyangka kalau Acha malah menahan tanganku membuatku sontak menoleh ke arahnya.
“Jangan pergi,” gumamnya pelan yang masih mampu aku dengar dengan jelas. Aku tahu Acha pasti hanya sedang mengigau maka dari itu aku mencoba untuk melepaskan genggaman tangannya pada lenganku. Namun, Acha semakin mengeratkannya seakan tidak ingin melepaskan tanganku dari genggannya.
“Aku mohon jangan pergi,” Acha kembali bersuara namun aku lihat matanya masih sama, terpejam dengan sangat tenang.
Merasa tidak tega untuk meninggalkan, Aku akhirnya memilih untuk merebahkan tubuhku di sebelah Acha yang masih luas. Aku menarik selimut sebatas perut hingga kini kain berbulu itu menutup setengah tubuhku dan Acha.
Hal tak terduga kembali Acha lakukan. Acha memeluk tubuhku membuat diriku seketika menegang dengan perlakuan tidak terduga Acha. Namun, itu tidak bertahan lama karena sepersikian detik kemudian aku membalas memeluknya. Biarlah malam ini kita seperti ini.
“Have a nice ******, Acha,” gumamku mencium sekilas puncak kepala Acha sebelum akhirnya aku memilih untuk ikut memejamkan mata dan menyusul Acha yang sudah menyelami alam mimpinya.
...***...
Author POV
Pagi telah tiba, matahari sudah menampakkan sinarnya. Sekarang adalah hari minggu jadi Acha sengaja tidak membangunkan Yoga yang masih terlelap di sebelahnya. Tadinya ia merasa terkejut namun setelah melihat Yoga yang begitu damai dalam tidurnya malah membuatnya tidak rela meninggalkan tempat tidurnya. Rasanya Acha ingin terus mempertahankan posisinya seperti ini, ingin berlama-lama memandang wajah tampan Yoga.
Tangan Acha tergerak untuk membelai ciptaan Tuhan yang begitu sempurna di hadapannya. “Wajah yang sangat tampan,” gumamnya pelan agar tidak mengusik tidur Yoga.
Acha mengamati setiap inchi dari wajah Yoga. jari lentiknya bergerak menyentuh kedua alis Yoga secara bergantian kemudian turun pada hidung. Disana, tangan Acha terhenti dengan netra yang terus menatap bibir Yoga yang berwarna merah muda. Tuhan, bolehkan aku egois dengan terus menahannya untuk berada di sisiku? batin Acha. Acha sendiri tidak tahu ada apa dengan dirinya. Ia merasa selalu ingin berdekatan dengan Yoga tidak ingin berjauhan barang sedikitpun dari laki-laki yang sudah menolongnya. Apakah sekarang Acha sedang jatuh cinta? Tapi kalau iya apakah secepat ini perasaan itu ada? Acha sendiri bingung dengan perasaannya. Ingin menyangkal kalau ini cinta tapi perlakuannya malah semakin membuktikan kalau Acha sudah menyimpan rasa pada manusia dingin yang menjadi penolongnya. Jujur saja selama Acha tinggal bersama Yoga, Acha selalu di merasa baper dengan perlakuan manis Yoga. Namun, ia terlalu takut untuk mengakuinya.
Kini, ingatan Acha kembali terlempar pada kejadian kemarin. Lebih tepatnya kejadian usai makan, Yoga tiba-tiba mendapatkan sebuah telfon dari seseorang yang Acha yakini itu adalah perempuan karena Yoga berbicara penuh dengan kelembutan.
__ADS_1
Bahkan, percakapan Yoga sore itu masih terekam jelas di ingatan Acha.
“Iya Dinda, gue nggak lupa kok ntar malam gue jemput,” seperti itulah kalimat yang Yoga katakan. Yoga berbicara dengan pelan dan penuh kelembutan seakan ia merasa takut jika ia berbicara tanpa nada seseorang di sebrang telfon yang menjadi lawan bicaranya akan merajuk kepadanya.
“Ya udah gue matiin dulu ya, gue pasti datang tepat waktu kok,” setelah mengatakan itu Yoga memutuskan sambungan telfonnya lantas menyimpan benda pipih itu di atas meja.
Acha yang kepergok menatap Yoga segera berdehem kemudian beranjak berdiri. “Biar aku cuci piringnya,” tuturnya seraya mengambil piring kotor bekas makannya dan juga Yoga, membawanya menuju sink kitchen lantas segera mencucinya.
Yoga masih bergeming ditempatnya seraya terus memperhatikan Acha yang mulai membilas piring dalam genggamannya. Tidak butuh waktu lama aktivitas yang dilakukan Acha pun usai, Acha segera menyimpan piring tersebut pada tempat yang semestinya.
“Acha,” suara Yoga terdengar mengintrupsi membuat Acha yang kini sedang dalam posisi membelakangi Yoga lantaran membalikkan badannya.
“Kenapa?” tuturnya bertanya namun tidak sedikitpun Acha berpinda dari posisinya.
“Gue mau pulang, nanti malam gue nggak bisa kesini soalnya gue udah ada janji.”
“Lo nggak apa-apa?” katanya bertanya. Entah kenapa rasanya Yoga begitu berharap Acha akan melarang dirinya untuk pergi dan lebih memilih untuk menemani dirinya menghabiskan malam minggu berdua. Namun harapannya itu pupus seketika saat Acha menggelengkan kepalanya seraya melebarkan senyumnya dan berkata, “Aku tidak apa-apa.”
Yoga menghela nafasnya. Tangannya terulur untuk menraih ponselnya kemudian beranjak untuk mendekati Acha dan menyerahkan benda pipih itu di hadapan si empu.
“Aku punya hp kok, kamu nggak perlu kasih pinjem hp kamu ke aku,” ujar Acha yang mengira kalau Yoga akan meminjamkan ponselnya itu untuknya.
“Bukan,” balas Yoga kemudian. “Lo tulis nomor hp lo biar gue bisa hubungin lo sewaktu-waktu,” imbuhnya.
“O,” Acha ber-oh ria namun tetap menerima hp Yoga kemudian menegtikkan dua belas digit nomor ponselnya. Pemikiran jahil tiba-tiba melintas di otak Acha membuatnya mengulum senyum tipis seraya menyimpan kontaknya di ponsel Yoga dengan nama, “Acha imut.”
“Ini sudah. Ya udah sekarang kamu pulang sana gih,” Acha segera menyerahkan benda pipih berwarna hitam itu ke hadapan Yoga. san setelah di terima oleh Yoga Acha segera berlalu dari hadapannya dengan wajah yang sudah memanas dan mungkin sudah merah merona.
Yoga yang melihat gelagat aneh Acha segera mengecek ponselnya dan detik itu pula seulas senyum terbit di wajah tampannya kala membaca nama yang Acha tuliskan di kontaknya. Tidak merasa keberatan, Yoga kembali menimpan ponselnya kedalam saku celana dan memilih untuk berlalu meninggalkan apartemannya.
__ADS_1
Tangan Acha perlahan mulai turun hendak mengusap lembut bibir merah muda Yoga yang sejak tadi ditatapnya. Namun, kegiatannya itu terhenti tiba-tiba kala sebuah tangan besar mencekal tangannya. Tatapan mata Acha beralih menatap kedua mata Yoga yang masih terpejam kemudian perlahan terbuka.
Netra kelam Yoga bertemu dengan netra sebening embun milik Acha. Jantung Acha tiba-tiba berpacu dengan sangat cepat, rasa gugup bercampur malu karena ke-gep saat diam-diam memperhatikan wajah Yoga kini memenuhi perasaan Acha. Dengan susah payah Acha menelan salivanya apalagi saat suara serak khas orang bangun tidur bercampur berat khas Yoga menyapu indera pendengarannya.
“Sudah puas merhatiin muka gue?”
Demi apapun yang ada Acha ingin menghilang detik ini juga. Ia benar-benar malu luar biasa. Dengan cepat Acha menarik tangannya lantas merubah posisinya menjadi telentang guna memutus kontak mata dengan Yoga. Kedua tangannya sibuk memegangi dadanya tepat di bagian jantungnya yang seperti sedang melakukan marathon.
“Ekhem,” Acha berdehem guna menetralisir rasa gugupnya. “Kamu kok bisa tidur disini?” katanya bertanya namun masih dengan mata yang menatap langut-langit kamarnya tidak berani menatap Yoga yang masih setia dengan posisinya.
Yoga mengangkat alisnya. “Bukannya lo semalam yang minta gue buat jangan pergi?”
Mata Acha membola seketika mendengar ucapan Yoga. sejak kapan dirinya menagatakan kalimat itu? Acha tidak merasa mengatakannya.
“Aku tidak—”
Belum selesai Acha mengucapkan kalimatnya Yoga sudah terlebih dahulu menukasnya. “Jadi lo lupa? Mau gue ingetin?” katanya bertanya namun Acha hanya terdiam di tempatnya.
“Oke,” Yoga kemudian mendekatkan dirinya pada Acha sementara Acha menegang di tempatnya menunggu Yoga akan melakkukan apa. Jantung Acha yang memang sudah bedetak dengan kencang kini rasanya semakin kencang. Kini, dapat Acha rasakan hembuskan nafas Yoga menerpa pipinya membuat bulu kuduknya seketika meremang. Apa yang Yoga lakukan sekarang benar-benar memicu adrenaline.
Hanya dalam waktu yang singkat, bahkan sangat singkat dapat Acha rasakan sebuah benda kenyal mendarat di bibirnya. Acha yang terkejut membelalakkan matanya dengan sempurna. Barusan tadi Yoga menciumnya, astaga Acha rasanya masih tidak bisa percaya dengan apa yang laki-laki itu lakukan kepadanya hanya dalam waktu singkat.
Satu detik, hanya satu detik bukankah itu sangat singkat? Yoga menciumnya hanya satu detik kemudian segera menjauh dari Acha kembali pada posisi semula. Adegan satu detik itu ternya berpengeruh hingga berpuluh-puluh detik bagi Acha. Memicu kinerja jantungnya yang sudah alay luar biasa dan menggelitiki perutnya. Acha baper tingkat dewa.
“Morning kiss,” seru Yoga kemudian beranjak dari posisinya dan memilih untuk menuju kamar mandi untuk mencuci wajah dan menggosok giginya.
Selepas kepergian Yoga, tangan Acha yang semula tersimpan di depan dada kini menyentuh bibirnya. Ah Tuhan, Acha sekarang benar-benar tidak bisa menyembunyikan letupan-letupan kebahagian pada dirinya. Rasanya jantungnya ingin meledak seketika. Baper aku asataga, pekik Acha dalam hatinya. Acha kemudian menarik selimut yang masih menutup sebagian tubuhnya kemudian mengigitnya agar ia tidak sampai mengeluarkan pekikkannya yang nantinya malah akan membuat malu dirinya.
“Tiba-tiba aku butuh pasokan oksigen,” gumam Acha setelah menjauhkan selimut yang tadi digigitnya. Katakan saja Acha alay tapi memang kenyataanya ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya. Ciuman satu detik itu seakan membuat perasaan bahagia membuncah seketika. Benar-benar memacu adrenaline, Batin Acha.
__ADS_1