Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
30. Sikap Manja Yoga


__ADS_3

Happy Reading!!!



Seminggu sejak kejadian itu dan Acha tetap menjalani kesehariannya seperti biasa. Setiap harinya ia lalui dengan bahagia seperti sekarang ini, Acha dan Yoga sekarang sedang berada di sofa depan televisi yang sedang menyala. Yoga nampak berbaring dengan nyaman dengan paha Acha sebagai bantalan sementara tangan Acha terus mengusap lembut kepala Yoga. Nyaman, itulah satu kata yang Yoga rasakan saat ini.



“Cha,” panggil Yoga dengan suara lembutnya. Sejak menikah Acha sangat jarang menemui Yoga dengan wajah dingin nan juga suara datarnya. Yang selalu Acha temuin adalah Yoga dengan tatapan teduhnya dan segala kelembutannya.



“Hm, kenapa?” Acha menunduk menatap Yoga membuat netra keduanya saling beradu dalam satu garis lurus.



“Besok lo ada jadwal check-up yaa kan?” katanya bertanya yang kemudian dibalas anggukan oleh Acha.



Yoga bergumam kemudian menggerakkan kepalanya menatap perut rata Acha membuat si empu tertawa karena merasakan geli di pahanya. “Yoga diem, geli ih,” serunya namun Yoga malah semakin gencar mendusel-uselkan wajahnya pada perut Acha.



“Yoga ishhh,” seru Acha kesal karena merasakan geli akibat pergerakan kepala Yoga.



Setelah puas, Yoga menghentikan aktivitasnya dan, mengusap lembut perut Acha dan menciumnya sekilas.



“Assalamualaikum, anak papa,” ucapnya lembut penuh cinta dan kasih sayang.



Hati Acha terenyuh mendengarnya, matanya sampai berkaca-kaca saking terharu dan senangnya.



“Cha, adek bayinya belum gerak-gerak yaa?” katanya bertanya seraya menatap wajah cantik istrinya.



Acha terkekeh dan menangis secara bersamaan. Merasakan bahagia sekaligus haru secara bersama. “Belum, kan masih kecil,” balas Acha dengan suara yang tercekat.



Yoga tersenyum dan mengangguk, ia kemudian kembali mencium perut Acha sekilas lantas merubah posisinya menjadi duduk disebelah Acha. Direngkuhnya tubuh rapuh milik istrinya. “Lo ini nangis apa ketawa sih?” ujarnya seraya menatap wajah Acha dan mengusap air mata yang mengalir di pipi Acha.



“Nangis,” balas Acha kemudian menyembunyikan wajahnya dibalik dada bidang Yoga.



“Nangis tapi ketawa,” ledek Yoga. Tangan besarnya tergerak untuk mengusap lembut surai hitam Acha yang tergerai indah.



“Yogaaa....” rengkek Acha seraya mendaratkan pukul kecil di dada Yoga yang menjadi tempat bersandar ternyamannya. Yoga yang mendengar rengekankan Acha terkekeh pelan, istirnya ini bisa begitu manja kepadanya.



Hati Acha berbunga-bunga, sungguh ini adalah kebahagiaan yang selalu ia harapkan. Mempunyai seseorang yang berperilaku hangat kepadanya adalah kebahagiaan yang tiada tara. Acha berharap ini semua tidak cepat berkahir. Semoga Tuhan selalu mendengarkan semua permintaan Acha, Acha ingin bersama dengan Yoga selamanya dan bersama keluarga Argantara lebih lama.



Acha melepaskan pelukannya pada Yoga, ia beingsut sedikit menjauh dari Yoga namun tatapan matanya tidak lepas dari wajah tampan suaminya. Melihat anak rambut Acha menutupi wajah cantik sang istri, tangan Yoga pun tergerak untuk merapikannya.



“Yoga, kita ke rumah mama yuk, kangen,” ajaknya.



Yoga sejenak terdiam, ia nampak menimang-nimang ajakan Acha, berfikir apakah Reiki di rumah atau tidak. “Mama aja yang kesini gimana?” tanyanya kemudian.



Acha menggeleng pelan. “Maunya kita yang ke rumah mama, pengen liat tanamannya mama.”

__ADS_1



“Ya udah sebentar, aku telfon mama dulu ya apakah di rumah atau tidak.”



Acha mengangguk antusias, matanya berbinar dan senyumnya mengembang. Yoga kemudian beranjak dari duduknya, beringsut sedikit menjauh dari Acha untuk menghubungi Liona. Menelfon mama untuk menanyakan apakah sedang di rumah atau tidak itu hanyalah alibi semata. Pasalnya, Ia akan menghubungi adiknya untuk menanyakan apakah kakaknya berada di rumah atau tidak. Ia masih belum siap untuk mempertemukan Acha dengan Reiki sebagai status kakak dan adik.



Acha melirik Yoga yang nampak berbicang di telfon dengan seirus. Tak berselang lama, Yoga mengakhiri telfonnya dan berjalan menghampirinya. “Ayo!” ajaknya.



Acha pun segera bangkit dari duduknya. Ia tidak mengganti pakaiannya karena menurutnya udah sopan dengan balutan gaun yang biasa ia kenakan. Acha dan Yoga berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir di basemment apartemen dengan tangan yang terus bertautan.



\*\*\*



Setelah memakan waktu dua puluh menit lamanya, Acha dan Yoga akhirnya tiba di rumah utama. Keduanya turun bersama dan bergegas masuk ke dalam rumah, terlihat Nadin sedang mendudukan dirinya di sofa dengan ponsel dalam gengamannya.



“Assalamualaikum, Ma,” seru Yoga dan Acha bersama membuat atensi Nadin tersita ke arahnya.



“Kalian udah datang,” Nadin mengulas senyumnya. Wanita cantik paruh baya itu beranjak dari duduknya, memeluk singkat tubuh Acha dan mengajak menantunya itu untuk duduk di sebelahnya.



“Acha kangen banget sama mama,” ujar Acha.



“Mama juga, kamu sih nggak setiap hari main ke rumah mama.”



Acha tersenyum simpul. Ia kemudian melirik Yoga yang hanya memasang wajah datarnya.




“Bener-bener kelewat nggak ada akhlaq kamu,” seru Nadin namun Yoga hanya mengacuhkannya. Atensinya kembali tertuju pada Acha yang hanya tersenyum memperhatikan interaksi suaminya dan mertunya.



“Cha, kamu sabar aja ya Cha ngadepin  suami model Yoga. Mama juga heran kenapa bisa punya anak jelmaan balok es, pelit banget ngomongnya.”



Acha mengangkat sebelah alisnya. “Masa Yoga begitu sih, Ma?”



“Iya, apa jangan-jangan dia berlaku beda sama kamu?”



Acha nampak memasang tampang berfikir membuat Nadin penasaran bagaimana kelakuan anaknya di hadapan istrinya. “Lumayan, Ma,” balas Acha.



“Lumayan apanya?” kesal Nadin karena digantungin sama menantunya.



“Lumayan cerewet dan manjanya.”



Rahang Nadin jatuh mendengar ucapan Acha. “Kamu serius, Cha?” tanyanya tidak percaya yang dibalas anggukan oleh Acha.



“Coba certain, mama penasaran gimana gaya bucinnya Yoga!”

__ADS_1



“Ekhem,” Yoga berdehem serta melemparkan tatapan datar kepada mama dan istrinya secara bergantian.



“Ngomongin orang di depannya langsung,” cibir Yoga kemudian membuat tawa Nadin dan Acha memecah seketika.



“Ya nggak apa-apa dong, Yoga. Kita kan tampil beda,” balas Nadin angkuh.



“Cha cepet cerita, nanti kita tukeran informasi!” desak Nadin.



“Yoga ke kamar dulu,” pamitnya dan segera beranjak menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Meninggalkan Acha berdua bersama mamanya.



“Iya sana!” seru Nadin.



“Nih, Cha, mama kasih bocoran dulu yaaa. Yoga itu orangnya aslinya manja  tapi mama belum pernah sih lihat manja sama bucinnya dia ke kamu jadi mama kepo. Tapi Yoga tuh paling suka kalau telinganya digigit kecil sama dadanya di dusel-dusel gitu,” terang Nadin memulai sesi ceritanya.



“Kok aneh, ma?” beo Acha.



“Iya katanya biar tampil beda,” Nadin terkekeh membayangkan sifat manja Yoga yang hanya diperlihatkan kepada keluarganya.



“Kalau lagi sakit dia manjanya dua kali lipat, sukanya ndusel-dusel di perut katanya nyaman aja gitu.”



Acha mengangguk-anggukkan kepalanya. Pantes aja Yoga sering melakukan itu kepada setiap pulang sekolah dengan alibi lelah. “Pantes,” ujar Acha.



“Pantes kenapa?”



Acha terkekeh pelan. “Ya gitu, ma.”



\*\*\*



Kini, Acha sedang berada di dapur membantu Nadin untuk menyiapkan makan malam bersama Liona juga tentunya. Sementara Yoga nampak sedang menonton siaran televisi bersama dengan sang papa. Tanpa Reiki tentunya karena laki-laki itu belum pulang, katanya malam mingguan bareng pacar dan nantinya nginep di apartemen.



“Kamu udah persiapin ujian kamu?” Raka bersuara membuat atensi Yoga tersita ke arahnya.



“Sudah, Pa,” balasnya singkat.



“Bagaimana dengan universitas yang akan kamu pilih?”



Yoga sejenak terdiam. Sebenarnya sejak dulu ia sangat menginginkan untuk kuliah di universitas Harvard bahkan tanpa paksaan dari kedua orangtuanya Yoga sudah menentukan pilihannya. Namun, sepertinya ia harus menelan mentah-mentah keinginannya untuk itu karena ia memiliki Acha yang harus di jaga.



“Lanjut di Indonesia saja.”


__ADS_1


Like dan komennya teman-teman 💋


__ADS_2