Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
26. Menginginkan Ketenangan


__ADS_3

Happy Reading



Acha menatap ragu bangunan mewah di depannya. Namun, tentu saja masih lebih mewah rumah keluarga Argantara yang bahkan berkali-kali lipat dari rumah mamanya. Kedua tangannya mencengkram erat sabuk pengaman yang masih menahan tubuhnya.



“Ayo turun!” Acha sedikit tersentak mendengar ajakan Yoga. Ia kemudian menoleh menatap Yoga dengan tatapan ragunya.



“Kenapa?”



“Takut,” cicit Acha.



Yoga menghela nafasnya. Kebanyakan perempuan yang sudah menikah akan merasa senang kala diajak berkunjung ke rumah orang tua kandungnya dan takut kala diajak berkunjung ke rumah mertua. Tapi, Acha justru sebaliknya.



“Nggak apa-apa, ada gue,” Yoga menggenggam tangan Acha agar istirnya itu lebih tenang dan menepis ketakutannya.



Acha menarik dalam-dalam nafasnya kemudian mengembuskan perlahan. “Ya udah ayo!” ajak Acha.



Yoga segera membuka pintu mobilnya diikuti dengan Acha. Keduanya turun bersama, dengan tangan yang bertautan Acha dan Yoga melangkahkan kakinya menuju pintu yang kini tertutup dengan sempurna.



Tangan Acha menekan bel yang tersedia. Tiga kali menekan masih belum ada tanda-tanda pintu terbuka. Acha hendak kembali menekan bel tersebut namun urung kala pintu bercat hitam tersebut tiba-tiba terbuka dan menampakkan seorang gadis cantik dengan rambut yang di kucir kuda.



“Kak Acha,” sapanya kemudian menghambur memeluk Acha. “Kak Acha kemana aja? Lisa kangen,” cicitnya.



Acha tersenyum membalas pelukan adiknya, lebih tepatnya adik satu ibu beda ayah. “Kakak juga kangen,” balas Acha.



Lisa mengurai pelukannya, ditatapnya sang kakak bergantian dengan Yoga yang masih setia memasang muka datarnya.



“Kakak pacarnya kak Acha ya?” ujarnya bertanya.



“Bukan!” Acha membalas dengan cepat membuat gadis itu sontak mengangkat sebelah alisnya.

__ADS_1



“Dia Kak Yoga, suami kakak,” terang Acha yang kemudian di balas anggukkan oleh Lisa.



“Lisa, siapa yang datang?” suara Mira terdengar membuat tubuh Acha seketika menegang. Dengan segera Yoga menganggam tangan Acha mengisyaratkan kalau semua akan baik-baik saja.



Derap langkah terdengar sampai akhirnya seorang wanita paruh baya kini berdiri tepat di hadapan Acha dan Yoga.



“Kamu ternyata,” Mira melipat kedua tangannya di depan dada, menata sinis Acha dan Yoga secara bergantian.



“Mama,” sapa Acha namun tidak dihiraukan oleh Mira.



“Mau apa kamu kesini?” katanya bertanya dengan nada ketus seperti biasa. Pandangannya kini tertuju pada Yoga. “Jadi ini laki-laki yang sudah menghamili kamu?” Mira tersenyum mengejek. “Percuma tampan kalau seleranya wanita murahan kayak kamu.”



Hati Acha sakit mendengarnya. Tega sekali namanya berucap seperti itu kepadanya. Segitu bencinya kah Mira kepadanya? Tapi apa salah Acha? Acha tidak meminta ia melahirkannya tapi kenapa Acha harus di benci?.



“Tolong lebih dijaga ucapannya. Yang anda bilang murahan adalah istri saya!” seru Yoga. Suaranya terdengar dingin dan juga tatapan matanya tajam.




Dada Yoga panas mendengarnya, tangannya terkepal dan dapat Acha rasakan genggaman tangan Yoga semakin mengeratkan dan kencang. Acha yakini sekarang Yoga sedang marah. Acha mengelus lembut lengan Yoga seakan mengatakan sabar menggunakan bahasa isyaratnya.



“Acha kesini karena Acha rindu sama mama. Tapi, sepertinya kehadiran Acha masih tidak bisa di terima di rumah mama. Selama ini Acha selalu diam setiap mama memperlakukan Acha dengan buruk dan selama ini Acha juga selalu diam saat mama meleparkan kata-kata yang menyakitkan. Tapi, Acha nggak bisa diam mama menilai Yoga seperti itu, Yoga adalah suami Acha, satu-satunya orang baik yang bisa menarima Acha dengan segala kekurang Acha. Menemani Acha disaat semua orang menjauhi Acha. Maaf kalau kehadiran Acha sudah mengusik mama, maaf kalau Acha lancang,” ujarnya panjang lebar. Entah mendapatkan keberanian darimana Acha tiba-tiba mengeluarkan kata-kata yang sejak tadi sudah di tahannya. Yoga yang mendengar itu sontak menatap istrinya, ia tidak menyangka kalau istrinya punya sisi lain jika sedang marah. Tatapan matanya dingin pun dengan intonasi yang dikeluarkannya.



“Kamu?!” Mira menegaskan jari telunjuknya tepat dihadapan Acha. Rahangnya mengetat dan giginya bergemelatuk mendadakan ia sangat marah sekarang.



“Saya mengandung kamu menahan banyak gunjingan dari orang-orang. Melahirkan kamu mempertaruhkan nyawa dan membesarkan mu tapi setelah besar kamu malah menjadi aib keluarga! Itu balasan kamu?” bentak Mira.



Acha yang mendengar itu memejamkan matanya, cukup menyakitkan juga perkataan sang mama. Ia menarik dalam nafasnya kemudian membuka mata. “Acha sangat berterima kasih sama mama yang udah mau mempertahankan Acha dan membersarkan Acha. Maaf karena Acha hanya menjadi aib buat Mama. Tapi, Acha tidak pernah meminta mama untuk melahirkan Acha ke dunia,” air mata Acha sudah luruh membanjiri pipi mulusnya. Mira yang mendengar itu bungkam, ia tidak bisa berkata-kata sementara Yoga semakin mengeratkan genggamannya. Sebenarnya ia bisa saja membungkam mulut mertuanya tapi ia ingin membiarkan Acha mengeluarkan segala uneg-uneg di dalam hatinya.



Acha mengusap kasar air matanya yang masih setia luruh menganak sungai di pipinya. Ia kemudian mantap Yoga. “Yoga, ayo kita pulang kerinduan Acha sudah terobati,” ajaknya. Yoga mengangguk, ia kemudian menuntun Acha masuk kembali ke dalam mobilnya sementara Mira masih membeku di tempatnya.

__ADS_1



“KAK ACHA!” pekik Lisa dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya. Ia masih belum puas untuk bermain dengan dengan Acha tapi kenapa secepat itu kakaknya pulang setelah berhari-hari tidak bertemu.



Acha memutar lehernya menatap Lisa, ia mengulas senyumnya seraya melambaikan tangannya sebelum akhirnya Yoga membukakan pintu mobil untuknya, Acha pun masuk ke dalamnya. Yoga mengitari mobilnya dan bergegas masuk. Sebelum melajukan mobilnya, ia menatap Acha yang hanya termenung menatap jendela.



“Cha,” panggil Yoga lembut. Acha menoleh menatap Yoga, ia mengulum senyumnya seakan mengatakan kalau ia baik-baik saja padahal Yoga tahu senyum Acha teramat pedih.



“Kalau mau nangis, nangis aja.”



Acha menggeleng, ia kemudian berkata, “Aku nggak apa-apa, ayo kita pulang sekarang!”



Yoga menghela nafasnya, bukan ini yang ia harapkan dari pertemuan mertua dan istrinya. Ia pikir setelah ia menikahi Acha, Mira tidak akan lagi membencinya namun ternyata masih sama. Yoga menghidupkan mesin mobilnya dan segera melakukannya meninggalkan pekarangan rumah Mira.



Selama perjalanan pulang, keheningan menyergap keduanya, baik Yoga maupun Acha tidak ada yang berkeinginan untuk membuka suara. Acha lebih memilih untuk menatap jendela sementara Yoga memfokuskan diri dengan kemudinya.



Dering ponsel tiba-tiba terdengar membuat Acha segera mengalihkan atensinya dan menatap benda pipih yang berada dalam genggaman di atas pengakuannya. Nama Ken tertera di layar ponselnya namun Acha segera menolaknya. Tidak berselang lama, Ken kembali menghubungi Acha namun perempuan itu lagi-lagi memilih untuk menolaknya.



“Kenapa nggak di angkat?” Yoga yang memang merasa penasaran akhirnya membuka suara, matanya menatap sekilas ke arah Acha.



“Nggak penting, kok,” balasnya. Sebuah notifikasi pesan kemudian terdengar dan Acha pun segera membukanya.



Kak Ken :


Cha, lo kenapa nggak angkat telfon gue?



Kak Ken :


Cha, please angkat!



Seperti biasa Acha hanya membacanya tanpa berniat untuk membalasnya. Dalam hati ia berkata, maaf, Kak Ken bukan Acha nggak mau lagi komunikasi sama Kak Ken. Tapi, hati Acha sudah ada yang mengisi. Acha tidak mau masalalu malah menjadi benalu di kehidupan pernikahan Acha. Acha ingin bahagia, Acha ingin merasakan kehidupan yang damai.


__ADS_1


Feel-nya dapet nggak sih? Suka ragu aku sama feel-nya 😭


__ADS_2