
Rexha hanya bisa diam menunggu putrinya yang masih tidak sadarkan diri. Banyak sekali beban yang dipikul di pundak wanita itu. Kini bertambah Andra yang akan membantu biaya operasi Andara. Ia harus mencegahnya bagaimana lagi? Ia juga butuh agar putrinya bisa segera dioperasi.
"Dara ... cepat sembuh, Sayang. Ibu sayang banget," ucap Rexha mencium kedua tangan mungil Andara lalu meletakkan di pipinya.
Pintu ruangan terbuka, Andra terlihat baru saja kembali. Pria itu menenteng kantong plastik yang berisi makanan untuk Rexha dan juga paper bag yang berisi baju.
"Andra, bagaimana kata Dokter?" Rexha langsung bangkit dari duduknya, ia berjalan mendekati pria itu.
Andra tidak langsung menyahut, ia memandang lekat-lekat wajah wanita yang ditemuinya 5 tahun lalu itu. Terlihat pucat dan kuyu, mata lelah dan sedih itu juga tergambar jelas. Jika memang benar Andara merupakan putrinya, Andra tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan Rexha selama ini. Ia merasa sangat bersalah sekali karena tidak bisa menemani wanita itu.
"Andra!" seru Rexha mengejutkan Andra yang sedang melamun itu.
"Oh, besok operasinya akan dilakukan. Aku membawakanmu makanan, sebaiknya kamu membersihkan diri, setelah itu makan. Dara biar aku yang jaga," ucap Andra mengalihkan pandangannya kearah lain untuk menyembunyikan wajahnya yang sendu.
"Kamu nggak pulang?" Rexha jutsru bertanya hal lain.
"Aku akan menemanimu disini," sahut Andra seadanya.
"Tidak perlu, aku bisa menjaga Dara sendiri. Kamu pulang aja, kasihan ada yang menunggu dirumah," kata Rexha, teringat akan istri dan anak Andra.
"Kamu begitu memikirkan orang lain, tapi bagaimana denganmu? Jika memang membutuhkan bantuan, tidak perlu ragu untuk mengatakannya. Kita bukan orang asing, Rexha."
Rexha mengangkat pandangannya hingga bertatapan langsung dengan mata Andra, hanya sekejap tapi hatinya yang semula gusar mulai tenang. Memang dari dulu Andra yang paling bisa membuat dirinya tenang.
"Kamu yakin nggak ada yang marah kalau kamu disini?" Rexha bertanya ragu, ingin menolak tapi hatinya juga membutuhkan Andra disampingnya.
"Sejauh ini, aku tidak pernah berbohong padamu."
Rexha menghela napas lega, ia tidak bisa menipu hatinya jika merasa senang mendengar jawaban yang lugas dari Andra itu.
"Mandilah, aku juga membawakan baju untukmu," ucap Andra menyerahkan paper bag yang sejak tadi ia bawa.
Rexha menerima paper bag itu, dari dulu Andra memang selalu begini. Pria itu sudah memberikan apa yang dibutuhkan tanpa ia memberitahunya.
__ADS_1
"Terima kasih," lirih Rexha sembari menunduk. "Aku akan mandi dulu," lanjutnya lalu berjalan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Andra diam, ia meletakan makanan yang ia bawa dimeja lalu mendekati Dara yang masih terlelap dengan selang oksigen yang menutup mulutnya. Andra menatap lekat anak itu, benar-benar seperti melihat cerminan dirinya sendiri.
Andra lalu melirik kearah kamar mandi yang masih tertutup rapat, ia lalu mengambil sesuatu dari balik jas yang dikenakannya. Sebuah gunting kecil yang sengaja ia bawa untuk mengambil rambut Andara.
"Dara, maaf jika harus melakukan ini. Aku hanya ingin semuanya jelas," gumam Andra, dengan perlahan pria itu memotong rambut Andara untuk ia gunakan sebagai sempel tes DNA.
Andra bukannya tidak percaya dengan Rexha, tapi ia hanya ingin memastikan segalanya sebelum mengambil keputusan. Lagipula tidak ada yang perlu diragukan, waktu dulu ia dan Rexha melakukannya, ia adalah pria pertama yang menyentuh wanita itu.
'Semoga hasilnya sesuai harapan kita, Dara.'
Andra menggenggam rambut Andara lalu meletakkannya di plastik kecil yang sengaja ia bawa. Ia sudah tidak sabar ingin mengetahui kebenarannya dan dipanggil Ayah oleh putrinya sendiri.
____****____
Rexha mandi hanya sebentar, mungkin sekitar 15 menit ia sudah keluar dengan menggunakan dress yang dibelikan Andra. Sebenarnya ia tidak nyaman dengan pakaian seperti itu, tapi sejak dulu Andra memang suka melihatnya memakai dress.
Rexha mengangkat pandangannya saat mendengar suara Andra, ia lalu mengangguk pelan. "Sudah, kamu udah bisa pulang sekarang," kata Rexha kembali mengusir Andra.
"Pulang? Siapa yang ingin pulang?" Andra mengerutkan bibirnya tidak mengerti.
"Ya kamu, ini sudah malam. Dara juga sudah baik-baik saja dan besok akan dioperasi. Aku rasa, aku bisa menjaga putriku sendiri," kata Rexha masih dengan sikapnya yang dingin.
Andra tersenyum sinis. "Aku tidak akan pulang sebelum tugasku disini selesai. Mau ribuan kali kamu mengusirku, aku tidak akan pergi." Bukannya menuruti perkataan Rexha, pria itu justru meluruskan kakinya diatas sofa tunggu lalu melipat tangannya diatas perut.
"Andra, aku nggak mau orang lain salah paham kalau lihat kita kayak gini. Aku beneran nggak apa-apa." Rexha juga kekeh, ia tidak mau Andra mengabaikan keluarganya hanya karena dirinya dan Dara.
"Orang siapa? Suamimu?" Andra mengangkat alisnya, ingin tahu jawaban apa yang dikatakan Rexha nanti.
"Ehm, ya orang-orang yang mungkin mengenal kita," jawab Rexha mendadak gugup saat Andra menanyakan tentang suaminya.
"Hem, kalau begitu, kenapa suamimu tidak datang kesini?" Andra kembali bertanya, kali ini ia menatap lekat-lekat wajah Rexha, ia bisa tahu apakah wanita itu berbohong atau tidak hanya dari ekspresinya.
__ADS_1
"Ha?" Rexha terkejut. "Dia, dia sedang tidak ada dirumah, dia tidak bisa kesini," jawab Rexha semakin gelagapan, tidak menyangka jika Andra akan menyuruhnya melakukan hal itu.
Andra tersenyum tipis. 'Kamu sedang berbohong, Rexha.'
"Tidak dirumah? Memangnya dia kemana? Apa dia tidak tahu kalau putrinya sedang sakit?" Andra kembali bertanya.
"Tentu saja dia tahu. Dia memang sibuk dan tidak bisa pulang," kata Rexha memejamkan matanya singkat, jantungnya mendadak berdetak kencang hanya karena berbohong pada Andra.
"Oh sibuk, apa sampai tidak punya waktu untuk anak dan istrinya? Lelaki macam apa itu," cemooh Andra.
"Lalu, apa masalahnya denganmu? Ini hidupku, tidak perlu ikut campur," ketus Rexha.
"Aku tidak ikut campur, aku hanya sedang bertanya," sahut Andra.
"Bertanyalah sesuai porsimu, Andra. Kamu bahkan bukan siapa-siapaku yang harus tahu semua urusanku," tukas Rexha.
"Tentu aku harus tahu, karena semua hal yang kamu lakukan itu menyangkut hidup putriku!" Andra terpancing setelah Rexha mengatakan dirinya bukan siapa-siapa. Sudah cukup sejak tadi ia menahan dirinya.
"A-apa maksudmu?" Rexha begitu kaget mendengar perkataan Andra.
"Kamu ingin mengatakannya sendiri atau aku yang akan mencaritahunya?" kata Andra bangkit dari duduknya, merasa pembicaraan mereka semakin serius.
Rexha begitu gugup ditatap serius seperti itu. Ia harus mengkondisikan dirinya sebaik mungkin agar Andra tidak curiga.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan, jika tidak ingin pergi, terserah. Aku akan menemani Dara," kata Rexha memilih menghindar.
"Tidak ada gunanya kamu menghindariku, Rexha. Aku sudah tahu kalau Andara itu adalah putriku!" Andra tidak bisa menahan dirinya lagi langsung berteriak keras.
"Ya! Dara memang putrimu, Andra! Apa kamu puas? Puas sekarang? Dia anak yang aku lahirkan lima tahun lalu karena sikap pengecutmu waktu itu!"
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1