After 5 Years Apart

After 5 Years Apart
A5YA 39. Keegoisan.


__ADS_3

"Ibu, ayah mana? Kenapa ibu pulang sendiri lagi? Ibu tidak jadi menjemput ayah?"


Dara langsung bertanya begitu melihat Rexha masuk ke dalam rumah. Gadis kecil itu rupanya sudah sangat merindukan ayahnya yang hampir dua minggu tidak pulang. Dara sudah membayangkan akan tidur bersama kedua orang tuanya, tapi sampai sekarang keinginan itu belum terwujud juga.


Rexha menjatuhkan dirinya ke lantai, rasa lelah dan sakit diseluruh tubuhnya sudah tidak sanggup lagi ia tahan. Untuk pertama kalinya, Rexha menangis di depan putrinya sendiri karena benar-benar tidak sanggup lagi menahan rasa rindu yang menyisip halus dalam raga.


"Ibu, kenapa ibu menangis? Ibu jangan menangis, huwaaaaaaaa ...." Dara ikut menangis karena melihat ibunya menangis, gadis kecil itu memeluk ibunya dan keduanya menangis bersama.


"Jika ayah tidak kembali ...." Rexha tidak sanggup untuk mengatakannya, tapi ia harus mengatakan ini. "Jika ayahmu tidak kembali, jangan sedih, jangan menangisinya. Do'akan yang terbaik untuk ayah ... Biar ayah tenang," ucap Rexha menahan sakit dengan memeluk putrinya sangat erat.


Rexha baru saja kembali dari tempat dimana jatuhnya mobil Andra, tapi polisi sudah angkat tangan dan mengatakan tidak bisa menemukan jasad Andra. Polisi justru mengatakan hal-hal yang membuat hati Rexha begitu sakit.


Rasa sakit itu berkali-kali lebih sakit dari pada saat Andra meninggalkannya ke luar negeri. Kali ini Andra benar-benar pergi dan tidak akan kembali lagi. Bahkan untuk terakhir kalinya, Rexha tidak punya kesempatan untuk memeluknya. Andra-nya benar-benar sudah pergi untuk selamanya.


"Huwaaaaaaaaa ... Ayah kenapa pergi? Ayah udah janji mau tidur peluk aku, ayah ke mana?" Dara mengencangkan tangisnya begitu mendengar Ayahnya tidak akan kembali lagi.


Rexha semakin memeluk Dara sangat erat, ia tidak ingin membagi kesedihannya dengan putrinya. Tapi saat ini yang ia punya hanyalah Dara dan hanya Dara-lah yang menjadi semangat hidupnya selama ini.


"Rexha! Dimana kamu, perempuan pembawa sial!"


Terdengar suara teriakan yang membuat kedua ibu dan anak yang sedang bersedih itu terkejut. Mereka menoleh untuk melihat siapa yang datang, terlihat Elmira disana sedang menatap mereka penuh amarah.


"Nenek!" seru Dara.


"Mami ..." Rexha bangkit dari duduknya, ia mengusap air matanya pelan, ingin bertanya ada apa Elmira datang.


Namun, ia justru mendapatkan hadiah tamparan yang sangat kuat dari Elmira.


"Ibu!" Dara menjerit kaget, ia langsung berlari memeluk kaki ibunya dan menangis keras.

__ADS_1


"Jangan mendekati perempuan ini, Dara! Dia hanya perempuan pembawa sial! Kembalikan putraku sekarang juga!" Elmira begitu murka setelah mendapatkan kabar jika anaknya tidak ditemukan. Dan Elmira menganggap semua itu adalah salah Rexha.


"Nenek jahat! Nenek kenapa memukul ibuku? Nenek jahat!" Dara semakin menjerit, ia memandang Elmira dengan tatapan penuh kebencian.


Rexha menahan tangan putrinya, ia mengabaikan rasa pedas di pipinya dan menenangkan putrinya.


"Dara tidak boleh seperti itu, Dara masuk kamar dulu ya, ibu akan berbicara pada nenek," tutur Rexha mencoba membuat putrinya ini mengerti.


"Tidak! Nenek pasti akan memukul ibu lagi, nenek jahat, aku akan bilang sama ayah!" Dara bersikeras marah dan mengabaikan perkataan ibunya.


"Ayah siapa? Ayahmu sudah mati gara-gara perempuan yang kamu sebut ibu itu. Sebaiknya kamu ikut dengan nenek, jangan berdekatan dengan perempuan ini agar tidak terkena sial," sergah Elmira menarik tangan Dara dengan kasar, ia sudah gelap mata dan tidak ingin cucunya ikut sial jika berdekatan dengan Rexha.


"Tidak mau!" Dara berteriak dan meronta tidak ingin ikut dengan Elmira.


"Apa yang mami lakukan? Lepaskan putriku, mi." Rexha segera menahan tangan Dara, ia terkejut karena Elmira akan membawanya pergi.


"Melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Memang tidak semestinya aku merestui putraku menikah denganmu, dia jadi sial karena perempuan sepertimu, Rexha! Sekarang Dara harus ikut denganku."


"Ibu, aku tidak mau pergi ibu!" Dara terus meronta tidak mau diajak Elmira.


"Lepaskan putriku, mi. Jangan membawanya pergi!" Rexha berusaha meraih putrinya, ia tidak akan melepaskan putrinya apapun yang terjadi.


"Yang memanggilku dengan mulut kotormu perempuan hina! Menyingkirlah!" hardik Elmira mendorong tubuh Rexha sampai wanita itu terjatuh ke belakang dan ia segera membawa Dara pergi.


"Dara!" Rexha menjerit seraya berusaha bangun, ia segera menyusul Dara yang sudah dibawa Elmira keluar rumah.


"Ibu!" Dara pun menjerit tidak mau dibawa pergi, ia memukul-mukul wajah Elmira, berusaha agar terlepas dari gendongan neneknya yang jahat itu.


"Diamlah Dara! Nenek akan membawamu ke tempat yang seharusnya!" bentak Elmira mulai kehilangan kesabarannya. Ia segera membawa Dara masuk kedalam mobil dan menyuruh supir untuk membawa mobilnya pergi.

__ADS_1


"Dara!" Rexha berteriak keras, ia segera berlari menyusul putrinya yang sudah dibawa mobil itu.


"Ibu! Lepaskan aku nenek!" Dara menangis memandang ibunya yang berlarian mengejarnya.


"Kita akan pulang, kamu akan tinggal sama nenek," kata Elmira.


"Tidak! Nenek jahat, aku mau ikut ibu!" Dara terus memberontak, ia akhirnya menggunakan cara mengigit telinga Elmira agar wanita itu melepaskannya.


"Arghhhhhhhh!" Elmira langsung melepaskan gendongannya, ia meringis kesakitan karena telinganya digigit sangat keras oleh Dara.


Dara segera menggunakan kesempatan itu untuk kabur, ia membuka pintu mobil tanpa peduli mobil itu sedang berjalan atau tidak. Dara yang sudah nekat langsung melompat turun dari mobil itu.


Namun naas, Dara yang melompat tanpa melihat kondisi langsung dihantam oleh sebuah motor yang melaju kencang dari arah belakang. Tubuh kecil Dara langsung terlempar beberapa meter dengan darah yang langsung menggenang dibawahnya.


"DARA!"


Semua kejadian itu bergerak cepat tanpa bisa dicegah oleh Rexha, ia melihat tubuh putrinya dan langsung segera meraihnya kedalam pelukan. Ia tidak peduli darah itu mengotori bajunya.


"Dara, bangun sayang ..." lirih Rexha menangis tangis terisak-isak.


"Langsung bawa ke rumah sakit."


Beberapa orang yang ada disana segera membantu Rexha, mereka meraih tubuh kecil Dara lalu segera menaikan anak itu ke mobil yang kebetulan lewat. Sekilas Rexha sempat melihat Elmira yang begitu syok, ia menatap wanita itu dengan penuh kebencian.


Rexha bersumpah jika sampai terjadi apa-apa dengan putrinya, ia tidak akan memaafkan Elmira sampai kapanpun.


Elmira mengigit bibirnya, merasa sangat bersalah akan kondisi cucunya saat ini. Tapi itu bukanlah salahnya, Rexha yang seharusnya disalahkan karena perempuan itu yang menyebabkan kesialan dalam hidup semua orang.


'Ya, dia yang paling bersalah dalam hal ini. Kalau saja Andra tidak bertemu dengan perempuan itu, saat ini Andra pasti masih hidup.'

__ADS_1


Happy Reading.


TBC.


__ADS_2