
Rexha akhirnya bisa bernapas lega karena Andra sudah siuman. Tapi kelegaan itu tidak berlangsung lama, karena setelah Andra bangun, pria itu justru langsung meminta Rexha dan Dara pergi bersama orang yang tidak mereka kenal. Tapi Andra memberikan syarat kalau Fika dan Tom tidak boleh tahu masalah itu.
Mengenai keadaan Andra sendiri, pria itu juga tidak jujur sama sekali. Rexha hanya sempat melihat Andra berbicara serius dengan dokter dan mengatakan kalau belum bisa mengingat semuanya. Jika dipaksakan, kepala Andra akan kembali sakit. Jadi harus dicoba pelan-pelan saja agar keadaan Andra baik-baik saja.
Rexha sudah berulang kali bertanya, kenapa mereka harus pergi? Sebenarnya apa yang ingin Andra lakukan? Tapi Andra hanya mengatakan ingin segera menyelesaikan tugas yang sama sekali Rexha tidak ketahui.
"Kamu cukup percaya sama aku. Disana kamu dan Dara aman, tidak ada orang yang berani mengusik kalian lagi," tutur Andra terus saja meyakinkan Rexha agar wanita itu tidak terlalu khawatir.
"Lalu, bagaimana denganmu? Kenapa kamu tidak ikut bersama kami?" tanya Rexha memegang tangan Andra dengan cukup kuat, ia benar-benar merasa takut saat ini.
"Aku pasti baik-baik saja. Ayo kita jemput Dara, waktu kita tidak lama," ujar Andra dengan wajah seriusnya.
Rexha mengigit bibirnya, sungguh dilema dengan keputusan Andra ini. Tapi ia mencoba menuruti permintaan pria itu sembari berdoa jika apa yang dilakukan suaminya akan berhasil dan tidak membuat mereka berpisah lagi.
Mereka berdua lalu pulang ke rumah, menjemput Dara dan mengambil barang-barang yang akan dibawa.
"Ayah!" Dara berteriak kesenangan melihat Ayahnya datang, ia langsung berlari-lari kecil ke arah ayahnya.
"Ayah, tangkap aku, tangkap aku!"
Andra tersenyum manis, ia kemudian berjongkok menunggu putrinya datang lalu memeluknya.
"Ayah menangkapmu," ucap Andra mencium pipi Dara.
Rexha melihatnya, melihat kebahagiaan dari sorot mata putrinya yang telah lama tak pernah ia lihat. Ternyata kerinduan itu sangat mendalam, hingga Dara begitu bahagia.
"Ayah, Dara senang ayah pulang. Ayo kita bermain," kata Dara seraya memegangi pipi Ayahnya.
Andra tersenyum, ia mengambil tangan Dara lalu menciumnya. "Nanti ya kita bermainnya, sekarang Dara mau diajak ibu pergi ke suatu tempat. Nanti kita bermain disana," ujar Andra, tidak tega sebenarnya, tapi ia benar-benar harus menuntaskan masalahnya malam ini juga.
"Pergi kemana? Ayah akan bersama kita?" tanya Dara memandang wajah kedua orang tuannya bergantian.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu ajak dia main dulu, aku akan menyiapkan semua keperluanku. Sepertinya Dara sangat merindukanmu," ujar Rexha sama tak teganya, takut jika nantinya Dara akan kecewa jika tahu kalau Andra tidak ikut bersama mereka malam ini.
"Baiklah, kita masih punya waktu 30 menit," kata Andra mengangguk menyetujui.
Rexha balas mengangguk, ia lalu masuk ke dalam kamarnya dan Andra mengajak Dara bermain. Menggantikan waktu yang selama 4 bulan ini hanya diisi dengan kesedihan. Meskipun hanya sebentar, Dara sudah langsung nyaman dengan Ayahnya, ia menceritakan semua hal dengan bersemangat.
Andra pun senantiasa mendengarkannya, ia juga sangat bahagia melihat senyuman ceria dari putrinya itu. Tidak ada hal yang membuatnya ragu lagi, ia bisa merasakan kenyamanan saat bersama Rexha dan juga Dara.
"Ayah, aku mengantuk sekali. Ayo temani aku tidur," ucap Dara seraya menguap.
"Baiklah, ayah akan menemanimu." Andra mengangguk, mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh putrinya itu.
"Kalau aku tidur, ayah jangan pergi lagi ya. Ayah 'kan sudah janji," kata Dara tak lepas memandang mata ayahnya.
"Tidak, ayah tidak akan meninggalkanmu. Tidurlah, ayah akan menemanimu," ucap Andra mencium kening Dara seraya mengusap-usap rambutnya.
Dara sendiri langsung nyaman diperlukan ayahnya, gadis kecil itu memeluk ayahnya sangat erat karena takut ayahnya akan pergi lagi. Karena rasa senang yang memuncak dan begitu nyaman membuat darah cepat tertidur.
Tak lama kemudian Rexha datang ke kamar putrinya, ia sedikit terkejut melihat Andra sedang tertidur bersama putrinya. Perlahan ia mendekati mereka, memandang keduanya bergantian dengan perasaan tidak menentu.
"Andra!" seru Rexha berontak.
"Sssttt, Dara sudah tidur," bisik Andra.
"Lalu kamu mau apa? Kamu bilang waktu kita tidak lama?" kata Rexha berhenti berontak, ia memandang wajah Andra yang sangat dekat dengannya itu.
"Aku merindukanmu," kata Andra.
"Aku juga," balas Rexha.
"Jika tidak keberatan, bolehkah aku meminta?"
__ADS_1
Rexha terdiam, ia bukannya wanita bodoh yang tidak tahu apa yang dikatakan oleh Andra ini. Tapi ia bingung harus menanggapinya bagaimana.
"Waktu kita tidak banyak, disini juga ada Dara," ujar Rexha mencari-cari alasan.
"Mereka akan datang jam 8 malam," kata Andra menatap Rexha dengan sorot mata mendamba.
"Tapi ... "
"Tidak ada kata tapi, ayo."
Andra tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rexha. Pria itu hanya ingin menyakinkan dirinya sendiri tentang perasaan yang ia rasakan. Selama 4 bulan bersama Denada, tidak pernah sedikitpun Andra menyentuhnya. Jangankan menyentuh, Andra saja sama sekali tidak bergairah saat melihatnya. Berulang kali ia tahu jika Denada ingin menjebaknya, tapi ia sudah cukup pintar membaca situasi yang terjadi.
Namun, saat bersama Rexha, entah kenapa Andra begitu bergairah. Bukan hanya gairah tentang hal seperti itu, tapi gairah hidup dan semangat yang menggelora. Ia bahkan tak segan langsung membungkam mulut Rexha dengan ciumannya yang panas lalu mengajaknya berpindah ke kamar lain.
Rexha pasrah saja, statusnya saat ini juga masih istri sah Andra, jadi hal itu hal yang sangat wajar mereka lakukan. Hanya saja kali ini Rexha sedikit takut jika akan pergi lagi.
"Andra ... Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi. Aku sangat mencintaimu." Untuk pertama kalinya, Rexha mengatakan rasa cintanya dengan sangat gamblang. Rasa takut yang menuntunnya melakukan hal itu.
"Cukup sekali aku melupakanmu, kali ini aku pasti akan selalu mengingatnya," kata Andra dengan suara yang begitu meyakinkan.
Rexha langsung melepaskan tangannya yang tadi menahan dada Andra, ia akhirnya kembali luluh dan kembali mengulangi kegiatan itu dengan pria yang sama.
Entah efek karena lama tidak menyentuh wanita, atau memang Andra yang begitu bergairah, membuat pria itu sedikit liar. Bantal dan selimut yang terpasang di ranjang yang tak terlalu lebar itu entah terlempar entah kemana karena kebar-baran Andra.
Setelah puas, mereka lalu berciuman dan saling berpelukan. Tapi Rexha merasakan anyir saat berciuman itu. Dan ketika ia membuka matanya, ia terkejut saat melihat darah yang keluar dari hidung Andra.
"Andra, kamu berdarah!" pekik Rexha.
"Oh shittttt!"
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.