
Rasa syukur tak henti terucap dari bibir Andra dan Rexha setelah Dokter mengatakan jika kondisi putrinya sudah baik-baik saja. Kini pacemaker yang sebelumnya terpasang di dada Dara sudah bisa dilepas, menandakan jika Dara sudah benar-benar sembuh total dari penyakit itu meski setiap bulan harus selalu kontrol.
Keluarga kecil itu benar-benar sangat lega sekali saat meninggalkan rumah sakit. Seulas senyum manis bahkan tak henti tersemat dibibir mereka.
"Karena Dara sudah sembuh, hari ini kita harus jalan-jalan," kata Andra yang sejak tadi masih menggendong Dara.
"Jalan-jalan kemana, Ayah? Aku mau jalan-jalan, sama Ibu juga," ucap Dara setuju saja, ia malah kesenangan.
"Tentu sama Ibu dong. Hari ini kita kemana Ibu?" Andra berseloroh seraya mengerlingkan matanya pada Rexha.
"Mau kemana? Bukannya kamu mau kerja?" Rexha menyahut dengan senyum tipis dibibirnya.
"Aku bilang apa tadi? Yang terpenting Itu kalian dulu. Tuan putri kecil ngajak jalan-jalan nih, kamu ada ide nggak?" ujar Andra meminta pertimbangan.
Mereka berdua sudah seperti seorang orang tua yang saling memberi masukan dan mendengarkan apa keinginan mereka. Bukan main memutuskan begitu saja.
"Kemana ya? Dara nggak pernah kemana-mana sih. Kamu tahu sendiri dia gimana," ucap Rexha seadanya, dari dulu Dara memang jarang jalan-jalan karena kondisinya yang gampang capek dan Rexha juga sibuk.
Andra mengangguk mengerti, setiap mendengar kisah putrinya yang dulu, membuat rasa bersalah itu selalu muncul dan membuat Andra ingin sekali mengulangi waktu, tapi semua itu tidak bisa bukan?
"Tapi dulu dia seneng banget kalau ke pantai, main pasir," ujar Rexha.
"Pantai? Boleh, gimana Dara? Mau ke pantai?" tanya Andra pada putrinya.
"Mau Yah, aku mau ke pantai." Dara mengangguk dengan bersemangat.
"Oke, ayo kita kemon. Hari ini semua untuk Tuan putri kecil, ayo terbang ...." Andra menggendong putrinya dibahu lalu mengajaknya berlari, membuat Dara tertawa kesenangan.
"Hahaha, ibu ayo kejar aku Ibu!" teriak Dara.
Rexha tertawa kecil, tertular akan senyuman manis yang diberikan Dara. Ia kemudian mengikuti dibelakang Andra dan sesekali menggoda putrinya. Benar-benar pemandangan keluarga yang bahagia.
________
Rexha tidak pernah berpikir jika Andra akan menyiapkan segalanya saat mereka pergi ke pantai. Ia hanya berpikir akan bermain pasir disana, tapi ternyata Andra menyuruh asistennya untuk membawakan mainan untuk Dara dan juga tenda yang diluarnya ada meja serta kursi lipat.
"Andra? Kamu pikir kita akan piknik?" tanya Rexha kaget.
"Bisa jadi kayak gitu, sekarang Ibunya Dara duduk aja. Biar Dara main sama Ayahnya," ucap Andra menuntun Rexha untuk duduk di kursi depan tenda.
__ADS_1
"Aku nyiapin Dara dulu, dia nggak mungkin pakai baju itu kalau main," kata Rexha menolak.
"Udah, hari ini pokoknya Ibunya Dara istirahat aja. Dara Ayahnya yang jaga, oke?" Andra menahan tangan Rexha saat wanita itu akan bangkit.
"Nggak apa-apa, nanti kamu aja temenin main. Aku siapin Dara dulu." Rexha tetap kekeh, ia tidak mungkin langsung lepas tanggung jawab meski sudah ada Andra.
"Memang keras kepala ya, udah dibilangin nggak usah. Udah kamu diem aja," cetus Andra kembali memaksa Rexha untuk duduk.
Kali ini Rexha yang belum siap malah terjengkang kebelakang karena Andra mendorongnya terlalu kuat.
"Andra!" Rexha berteriak kaget, ia langsung menarik kemeja Andra sebagai pegangan.
Namun, posisi Andra juga tidak menguntungkan, tubuhnya akhirnya ikut ketarik kedepan hingga ia keduanya jatuh bersamaan dengan bibir Andra yang tidak sengaja mencium kening Rexha.
"Hahaha, Ayah, Ibu, lihat sini!" Dara bersorak senang melihat Ayah dan Ibunya terjatuh seperti itu.
Andra dan Rexha reflek langsung menoleh mendengar suara Dara, tapi sesaat kemudian mereka justru semakin kaget karena Dara mengambil foto mereka dengan ponsel Andra.
"Dara!" Rexha membesarkan matanya kaget, ia langsung mendorong tubuh Andra agar menjauh tapi pinggangnya tiba-tiba sangat sakit.
"Aduh ...." ringis Rexha.
"Pinggang aku sakit, kamu minggir ah," gerutu Rexha memegangi pinggangnya yang nyeri, sepertinya posisi jatuhnya tadi tidak menguntungkan.
"Apa kita perlu ke Dokter?" tanya Andra lagi, benar-benar panik sekali.
"Nggak usah, ini juga gara-gara kamu, kenapa pakai kursi kayak gini," gerutu Rexha main menyalahkan saja.
"Ayah, Ibu kenapa?" tanya Dara yang baru saja mendekati kedua orangtuanya.
"Nggak apa-apa kok sayang, Dara main sama Ayah ya, Ibu tunggu disini," ucap Rexha mengusap lembut pipi putrinya.
"Yakin nggak apa-apa? Kamu istirahat aja kalau emang sakit, apa kita pulang?" ujar Andra lagi, masih begitu cemas.
"Iya aku nggak apa-apa. Udah kamu temenin aja Dara main," kata Rexha cuek seperti biasa.
Bukannya apa, saat ini perutnya sudah dihinggapi ribuan kupu-kupu yang membuat ia ingin terbang, jika Andra terus memberikan perhatian serta menatapnya penuh kekhawatiran itu, Rexha benar-benar akan terbang.
"Baiklah, aku main dulu. Kamu bilang aja kalau sakit, sekarang udah ada aku," kata Andra mengusap rambut Rexha sebelum pria itu pergi mengajak putrinya bermain pasir.
__ADS_1
Rexha memegangi pipinya yang mendadak panas, wajahnya pasti kini sudah berseru merah karena salah tingkah.
'Dasar Andra, kenapa sih dia manis banget?'
_______
Sejak hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan untuk Andra dan Rexha. Kedua remaja yang baru beranjak dewasa itu menikmati momen merawat putri mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang. Andra benar-benar menggantikan seluruh momen yang telah ia lewatkan selama lima tahun berlalu.
Meski belum sepenuhnya, tapi kini baik Andra dan Rexha seperti sudah saling ketergantungan satu sama lain.
"Andra, kamu hari ini masak apa? Kayaknya aku nggak bisa nganter Dara ke sekolah, bengkel lagi rame. Kamu antar nggak apa-apa?"
Pagi hari Rexha terburu-buru memakai sepatunya karena tadi bosnya sudah menelepon. Sementara Andra sedang tapi dan sedang menyuapi Dara makan.
Sebenarnya untuk yang satu ini terbalik, peran Rexha yang harusnya memasak, tapi karena Andra selalu melarang, ya Rexha jadi ketergantungan. Apalagi sekarang Rexha juga tidak pernah bersih-bersih rumah dan mencuci baju, semua dikerjakan oleh Andra.
"Iya nanti aku antar, kamu nggak usah khawatir. Sarapan dulu aja," kata Andra dengan tenang.
"Nggak sempet, aku buru-buru." Rexha menyahut sambil lalu, ia kemudian bangkit untuk mencium putrinya.
"Ibu berangkat dulu, Dara sama Ayah jangan nakal," kata Rexha.
"Mana mungkin dia nakal, dia anak manis gini," ucap Andra tersenyum manis pada putrinya.
"Kamu jangan terlalu memanjakannya, dan nanti jangan membelikannya mainan lagi. Lama-lama rumah aku penuh dengan mainan," omel Rexha kesal jika mengingat setiap hari Andra selalu membelikan mainan untuk putri mereka.
"Xha, nikah yuk."
Bukannya menjawab kekesalan Rexha, Andra justru berkata hal lain. Terdengar sangat ringan, tapi tatapan matanya sangat serius.
"Apaan sih Ndra, aku buru-buru." Rexha kembali menghindar, padahal sudah sering kali Andra mengajaknya menikah.
"Masih belum bisa nerima ya? Nggak apa-apa, kamu hati-hati ya kerjanya. Aku sayang kamu," ucap Andra mencium kening Rexha, sebuah rutinitas yang setiap hari ia lakukan sebelum mereka berpisah untuk berangkat bekerja.
"Ya, ya, aku berangkat sekarang. Dara, bye bye ...." Rexha segera berlalu, ia memegangi dadanya yang berdegup sangat keras setelah ajakan menikah Andra yang entah ke berapa kalinya setelah mereka tinggal bersama.
'Apa aku terlalu egois?'
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.