
Malam harinya, Rexha dibuat heran dengan sikap putrinya yang tiba-tiba saja jadi sering tersenyum. Bukannya tidak senang, tapi aneh saja karena beberapa hari ini Dara dalam keadaan mood buruk, apa yang dilakukannya seolah tidak membuat gadis kecil itu senang. Tapi malam itu, Dara menjadi sangat ceria dan sering berceloteh membicarakan kegiatannya di sekolah.
"Dara habis ini mau naik kelas satu ya, Xha?" tanya Fika yang memang setiap malam selalu di rumah, tapi terkadang juga lembur.
"Iya, Bibi. Sebentar lagi aku kelas satu, aku udah semakin besar dan kata ayah aku anak pintar," sahut Dara langsung saja, gadis kecil itu memang sangat senang karena baru bertemu dengan ayahnya.
Rexha menahan napasnya, sudah terbiasa jika Dara membicarakan tentang ayahnya itu.
"Acara pentas seninya lusa 'kan, Sayang? Nanti ibu datang sama Bibi Fika ya?" tutur Rexha.
Dara menggeleng cepat-cepat. "Bibi pasti sibuk, nanti Ibu datang sendiri saja. Aku udah senang kalau ibu datang," sahut Dara tanpa beban sama sekali.
Rexha mengernyit, bingung akan perubahan sikap putrinya itu. Padahal baru kemarin Dara sibuk marah-marah padanya karena ia tidak bisa membawa ayahnya datang. Tapi kenapa sekarang semudah itu Dara berubah?
"Ya, lagian Bibi kayaknya nggak bisa, Sayang. 2 Minggu terakhir ini, di pabrik lagi kejar setoran. Jadi Bibi harus lembur dan menginap di mes biar lebih efisien," ujar Fika.
"Nggak apa-apa, aku juga nggak ada shift malam. Kamu santai aja," sahut Rexha tidak keberatan sama sekali.
Mereka lalu melanjutkan makan malam dengan tenang. Tapi tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu yang membuat mereka menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Siapa yang datang malam-malam begini?" gumam Fika dengan dahi mengernyit. "Aku lihat dulu," ucapnya lagi lalu bangkit dari duduknya.
Rexha awalnya tidak betutu peduli, tapi ia kemudian ingat sesuatu.
"Biar aku aja, Fik, yang buka. Kamu lanjut makan," kata Rexha langsung saja menyerobot sebelum Fika sempat beranjak.
Rexha hanya takut jika itu adalah Andra yang nekat datang ke rumahnya. Pria itu kadang begitu nekat dan tidak bisa ditebak apa yang sedang dipikirkannya.
Namun, ternyata saat Rexha membuka pintu terlihat sosok Tom berdiri disana dengan seulas senyum manisnya.
"Tom?"
"Selamat malam, Nona. Maaf menganggu waktunya, saya membawakan makan malam. Dimana Dara?" kata Tom menunjukkan kantong plastik yang dibawanya.
"Ehm ... Dara ada didalam," sahut Rexha sedikit tak nyaman melihat Tom datang.
Rexha ingat kata-kata Andra yang menyuruh ia menjauhi pria ini. Meskipun Rexha sedikit kesal, tapi entah kenapa hatinya percaya dengan Andra. Pria itu terdengar sangat serius saat mengatakannya.
"Baiklah, saya boleh masuk 'kan, Nona?" ucap Tom dengan penuh kesopanan.
__ADS_1
Rexha hanya mengangguk tanpa jawaban, wanita itu bingung dan tidak enak tentunya jika menolak Tom agar tidak boleh masuk. Apalagi selama ini Tom yang sudah membantunya dan juga Dara.
Tanpa Rexha ketahui, Andra melihat itu semua dari balik kemudi mobilnya. Tangannya mengepal erat begitu tahu ada pria lain yang mendatangi Rexha dan memberikan perhatian lebih.
Andra tentu bukan orang bodoh yang tidak tahu gestur dari Tom yang jelas menyukai Rexha. Hal itu membuat ia tidak suka karena sekarang Andra yakin kalau Rexha memang wanita masa lalunya yang telah ia lupakan.
Karena tidak ingin semakin terbakar cemburu, Andra segera mengambil ponselnya dan memencet nomor Rexha yang baru saja didapatkannya dari restoran.
"Cepat keluar rumah sekarang, aku membutuhkanmu."
________
Rexha gelagapan begitu mendengar perintah dari suara berat yang sangat ia kenali itu. Ia langsung membawa ponsel masuk agar orang lain tidak mendengarkan pembicaraannya dengan Andra.
"Halo, Andra?" ucap Rexha sedikit berbisik.
"Waktumu hanya lima menit, aku menunggumu di depan rumah. Mobil hitam," kata Andra dengan suara yang begitu dingin.
"Kita mau kemana? Aku tidak bisa pergi sekarang," kata Rexha menahan hatinya yang begitu kesal.
"Mau datang sendiri atau aku yang datang ke situ?"
"Waktumu habis, aku akan datang kesitu," kata Andra lagi.
"Jangan, jangan, aku yang akan datang kesana. Kamu tunggu, jangan masuk!" pekik Rexha dengan wajah paniknya, ia buru-buru mengambil tas miliknya dan juga jaket lalu keluar kamarnya.
Saat Rexha keluar kamar, ia terkejut saat melihat wajah Tom tepat didepannya, ia sampai mundur ke belakang.
"Tom, kenapa mengagetkanku?" tukas Rexha.
"Maaf, Anda akan pergi kemana?" tanya Tom menatap Rexha dari atas sampai bawah.
"Aku ... ada pekerjaan dadakan. Temanku ada yang tidak masuk, jadi dia minta aku menggantikannya," sahut Rexha dengan cepat, berusaha agar terlihat tidak berbohong.
"Anda akan pergi sendiri? Saya akan mengantar, Anda," ujar Tom.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Aku pergi dulu ya, aku sudah terlambat. Dara sama Tante Fika ya di rumah," ucap Rexha seraya bergegas pergi meninggalkan rumahnya.
Sejak tadi Rexha merasakan ponselnya sudah bergetar berkali-kali, menandakan jika ada telepon masuk.
__ADS_1
Begitu keluar rumah, Rexha melihat mobil hitam yang dimaksud oleh Andra, ia melihat tak jauh dari rumahnya dan ia pun buru-buru kesana.
Dilihatnya Andra sedang menunggunya dengan menikmati rokok. Sejak kapan Andra menjadi perokok?
"Aku sudah datang," kata Rexha langsung saja begitu sampai didepan Andra.
"Masuk."
Hanya kata itu yang meluncur dari bibir Andra membuat Rexha tidak banyak bicara. Ia sesekali melirik Andra yang wajahnya sangat dingin. Selama Rexha mengenal Andra, tidak pernah Andra memasang wajah dingin seperti itu.
Mobil mereka lalu dilajukan perlahan, menerobos malam yang terasa sangat dingin itu. Andra sedikit mengulas senyum sinis saat melirik spion, dimana Tom segera mengejarnya. Akhirnya umpannya dimakan juga.
"Aku tidak apa-apa," ucap Andra tiba-tiba, pria itu juga tersenyum tipis.
"Lalu, kenapa mengajakku bertemu?" kata Rexha begitu bingung.
"Hanya ... Sedikit merindukanmu," sahut Andra, kali ini ia melirik Rexha dengan mata hitamnya yang indah.
Rexha menahan napasnya, terkejut dengan jawaban Andra yang sangat diluar dugaannya itu. Ia sampai bingung harus mengatakan apa.
"Aku belum mengingat semuanya," ucap Andra lagi. "Tapi ... Aku sedang berusaha mengingatnya," lanjutnya lagi.
"Tidak usah diingat-ingat," sahut Rexha singkat.
"Mungkin kamu tidak akan percaya, tapi aku merasa, aku sudah mulai menyukaimu," kata Andra langsung to the point.
"Kamu apa?" Rexha sampai menggenggam tangannya sendiri begitu mendengar ucapan Andra.
Andra tidak langsung menjawab, ia menghentikan mobilnya ditepi pantai yang sepi. Ia lalu melepaskan sabuk pengamannya dan meraih tangan Rexha lalu meletakkannya di dadanya.
"Apa dulu kita memang sedekat ini?" ucap Andra dengan mata terpejam.
"Andra ...." Rexha bergeming, ia bisa merasakan detak jantung Andra yang berdegup sangat kencang.
"Rexha, maaf jika kamu tidak menyukainya. Tapi ini caraku," kata Andra tiba-tiba saja langsung meraih tengkuk Rexha dan mencium bibirnya dengan lembut.
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1