After 5 Years Apart

After 5 Years Apart
A5YA 15. Bukan Perkara Cinta.


__ADS_3

Rexha langsung menoleh begitu mendengar suara Andra. Ia sedikit terkejut saat pria itu tiba-tiba saja datang. Dilihatnya Andra datang dengan membawa boneka besar dan juga mawar ditangannya.


"Om Andra?" Dara mengerutkan dahinya tidak mengerti.


Andra tersenyum manis, ia berjalan masuk mendekati dua wanita yang sangat disayanginya itu. Ia lalu mengulurkan boneka beruang besar yang sengaja ia bawa untuk putrinya.


"Selamat datang kembali Dara, ini Ayah kasih hadiah karena Dara udah jadi anak yang hebat," kata Andra menyerahkan kado pertama untuk putrinya setelah lima tahun berlalu.


Dara menerima boneka itu meski ia kebingungan, ia menatap Ibunya seolah bertanya apa maksudnya? Kenapa pria yang dikenalnya sebagai Om Andra itu menyebut dirinya Ayah?


"Ibu," ucap Dara.


"Ehm, Om ini memang Ayahnya Dara," kata Rexha tak lagi menutupi, toh Andra memang Ayah kandung putrinya.


"Ayahnya Dara? Benarkah?" Dara bertanya untuk memastikan lagi, ia memandang Andra dan Ibunya bergantian.


"Iya, Ayah memang Ayahnya Dara. Maafin Ayah ya, baru datang sekarang. Dara harus tahu, kalau Ayah sayang banget sama Dara," sahut Andra, ingin menjelaskan sendiri kepada putri kecilnya.


"Ayah, benar-benar Ayah aku? Ayah yang bisa aku ajak main, dan mau nganter aku sekolah?" Dara kembali bertanya dengan wajah polosnya, benar-benar ingin memastikan segalanya sebelum larut dalam euforia mempunyai Ayah yang sesungguhnya.


Andra tersenyum, tapi ingin menangis secara bersamaan. Ia menarik lembut tangan gadis kecil itu lalu memeluknya.


"Iya, ini memang Ayah. Maafin Ayah Dara, maafin Ayah," ucap Andra memeluk putrinya seraya menangis lirih, hatinya sakit sekali mendengar permintaan sederhana putrinya yang belum pernah ia kabulkan.


Dara mengangguk cepat-cepat, ia balas memeluk Andra dengan penuh suka cita. Dalam hatinya ia mengatakan syukur kepada Tuhan karena sudah mengabulkan doanya yang meminta Ayah tampan seperti Andra.


"Ternyata Ibu benar, jika aku berdoa, Tuhan akan mendengarkan aku. Terima kasih Tuhan, sudah membuat Ayahku kembali."


"Ayah jangan menangis, kata Ibu kita harus bahagia," kata Dara mengusap air mata Andra.


Bukannya berhenti menangis, air mata Andra justru semakin menetes, ia mengangguk pelan. "Kita memang harus bahagia, Dara anak pintar," ucap Andra mencoba tersenyum, ia begitu bangga dengan cara Rexha mendidik putrinya menjadi anak yang sangat sopan.


Rexha yang melihat hal itu tidak kuasa menahan tangisnya. Sejak dulu inilah keinginan putrinya, sekarang melihat putrinya bisa bertemu dengan Ayahnya membuat tangis Rexha pecah, tangis penuh kelegaan dan rasa syukur.

__ADS_1


Andra melirik Rexha yang menangis itu, ia tahu banyak sekali hal yang wanita itu lewati selama lima tahun tanpa dirinya.


'Kamu memang wanita hebat Xha, pasti banyak sekali hal yang sudah kamu lalui tanpa aku, maafkan aku Xha ... Maafkan aku karena hanya bisa memberikanmu luka. Aku janji Xha, ini terkahir kalinya aku mengecewakanmu. Aku berjanji ...'


"Ayah, ini sakit," kata Dara mengadu, menunjukkan dadanya yang kini dipasang alat pacemaker untuk membantu pemulihan jantung Dara.


Andra terdiam, wajahnya tampak berubah miris melihat hal itu. Putrinya yang masih kecil harus menderita karena sakit itu.


"Tidak apa-apa, ini artinya Dara itu anak yang istimewa. Anak kuat, seperti Captain Marvel," ucap Andra memberi penghiburan.


"Captain Marvel? Apa itu Ayah?" Dara bertanya karena tidak pernah mendengarnya.


"Dara belum tahu ya? Captain Marvel itu adalah superhero wanita yang sangat kuat. Bisa melawan orang-orang yang jahat," kata Andra menjelaskan.


"Wah keren, aku mau jadi Captain Marvel Ayah. Aku mau," ucap Dara mengangguk senang. "Ibu, aku Captain Marvel. Keren 'kan Ibu?" kata Dara menunjukan pada Ibunya julukan barunya.


"Iya keren, sekarang Dara istirahat ya. Biar cepet sembuh," ujar Rexha mengusap lembut pipi putrinya.


"Tapi ... Aku masih mau main sama, Ayah." Dara memandang tidak rela pada Ayahnya, rasanya baru sebentar ia merasakan punya Ayah.


"Ehm, baiklah. Tapi Ayah janji nggak pergi lagi 'kan?" tanya Dara, takut jika ia tidur Ayahnya tidak kembali lagi.


"Ayah janji." Andra mengangguk mengiyakan, ia mengusap-usap lembut rambut Dara dengan penuh cinta. Hanya dalam waktu sehari saja dunianya seolah berganti setelah menemukan putrinya. Anak yang sangat manis dan menggemaskan.


Dara tersenyum senang, ia memeluk boneka yang diberikan Andra dengan perasaan senang yang membuncah. Ia berjanji dalam hatinya akan menjaga boneka itu sebaik mungkin karena itu adalah kado pertama dari Ayahnya.


'Aku harus memberitahu teman-temanku. Sekarang aku punya Ayah.'


_______


"Ini untukmu." Andra mengangsurkan buket mawar yang tadi dibawanya untuk Rexha. Setelah putrinya tidur, mereka berdua jadi lebih leluasa untuk berbicara.


"Eh? Buat apa?" Rexha terkejut, memandang bunga itu dengan tatapan aneh.

__ADS_1


"Ibunya Dara 'kan juga hebat banget, jadi aku juga kasih hadiah. Terimakasih ya," kata Andra tersenyum sangat manis.


Rexha tersenyum, tapi senyuman itu seperti tidak bisa, ia menggelengkan kepalanya. "Nggak usah buang-buang uang, aku dari dulu nggak suka bunga. Buat apa? Nebus kesalahan?" celetuk Rexha.


Senyuman di wajah Andra langsung lenyap begitu mendengar ucapan Rexha. Tapi ia mencoba itu tidak terpancing, ia tahu Rexha marah karena ia tidak datang tadi.


"Kamu marah karena aku nggak dateng? Aku minta maaf, hari ini aku sibuk banget. Tapi mulai besok aku janji-"


"Aku nggak butuh janji Ndra, dan berhenti ngasih aku harapan lagi. Aku udah capek," sergah Rexha menatap Andra dengan tatapan tajamnya. "Cukup semuanya, aku nggak ngelarang kalau kamu emang mau ketemu sama Dara. Tapi sampai dibatas itu, kamu paham maksud aku 'kan?" lanjutnya lagi.


"Kamu nggak pengen kita kumpul lagi sebagai keluarga yang utuh?" Andra balik bertanya.


Rexha tidak langsung menjawab, pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Tentu saja ia sangat ingin punya keluarga yang sempurna bahagia bersama Andra dan putri mereka. Tapi sepertinya itu hanya angan saja.


"Bagaimana caranya? Kamu bakalan ada diposisi yang sama seperti lima tahun lalu. Memilih aku atau orang tuamu. Pasti aku lagi 'kan yang akan kalah? Aku udah capek Ndra, aku pengen hidup tenang sama anak aku," kata Rexha.


"Aku bukan Andra yang dulu Xha. Aku udah berhak nentuin keputusan aku sendiri. Kalau kamu nggak percaya, sekarang aku bakalan nikahin kamu," ujar Andra sangat-sangat serius.


"Terus? Aku akan dianggap sebagai wanita penggoda lagi? Gitu 'kan maksud kamu?" sergah Rexha.


"Nggak akan ada yang berani ngomong gitu lagi. Jika aku mendengarnya, aku sendiri yang akan mengatakan pada mereka kalau aku yang memilihmu. Kamu wanita yang inginkan Xha," kata Andra dengan suara yang sangat tegas.


"Udahlah, aku nggak mau baha hal basic kayak gini," ucap Rexha, memilih menghindar, tidak mau terlalu berharap lebih.


Lagipula Rexha merasa heran, kenapa Andra begitu ingin mereka menikah? Bukankah Andra tahu kalau anak mereka masih sakit?


"Xha, aku benar-benar serius. Ayo menikah sekarang, aku tidak peduli jika harus melawan satu dunia. Aku pengen hubungan kita jelas, kamu masih mencintaiku 'kan?" Andra segera menahan Rexha sebelum wanita itu pergi. Saat ini ia harus segera memberikan status yang jelas kepada Rexha, agar tidak ada lagi yang bisa memisahkan mereka.


Rexha berdecak pelan, ia melepaskan tangannya dari Andra. "Ini bukan perkara mencintai atau tidak, Ndra. Tapi karena harga diri, kalau kamu memang serius sama aku, aku mau kamu datang sama orang tua kamu buat ngelamar aku," kata Rexha sebelum wanita itu pergi.


Rexha tidak mau lagi dianggap wanita yang selalu menggoda Andra. Ia tahu ia memang mencintai Andra, tapi ia tidak mau melakukan kebodohan dengan percaya lagi dengan kata cinta yang membuat ia buta. Sudah cukup kesalahan yang ia buat waktu muda dulu, sekarang ia harus belajar dari sebuah kesalahan.


Happy Reading.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2