After 5 Years Apart

After 5 Years Apart
A5YA 16. Tinggal Bersama.


__ADS_3

Banyak hal yang sudah Rexha lalui selama ia lahir ke dunia ini. Dari kecil jalan hidupnya tidak selalu mudah. Selalu ada sandungan serta air mata disetiap lembar ceritanya.


Dulu, sewaktu bertemu dengan Andra, ia pikir ia sudah menjadi wanita yang paling bahagia didunia ini. Tapi nyatanya kebahagiaan itu juga sekejap saja dan hilang tanpa sisa. Ia kembali menjadi Rexha yang selalu dipandang rendah oleh orang lain.


Selama beberapa hari Dara dirawat, kedekatan emosional antara Andra dan Dara dirawat sudah mulai terbangun. Rexha pun turut senang karena Dara bisa berkumpul lagi dengan Ayahnya. Bohong kalau ia mengatakan tidak menginginkan keluarga mereka utuh seperti itu. Tapi kembali lagi, Rexha harus belajar menghargai dirinya sendiri.


"Wah, siapa nih yang mau pulang hari ini? Anak Ayah udah sehat, keren." Andra berseloroh seraya mengacungkan kedua jempolnya pada Dara, memberikan apresiasi akan kehebatan Dara yang melawan rasa sakit itu dengan senyuman.


"Hihihi, aku cepet sembuh karena Ayah selalu nungguin aku. Aku sayang Ayah," celetuk Dara dengan polosnya, masih terlalu larut dalam euforia memiliki Ayah baru.


"Sama Ibu nggak sayang?" tanya Rexha memasang wajah cemberutnya.


Baru juga beberapa hari Andra datang di hidup mereka, tapi semua dunia Dara seolah hanya ada Andra. Padahal ia yang Ibunya dan merawat anak itu dari kecil.


"Sayang dong Ibu, aku sayang Ayah sama Ibu banyak-banyak," sahut Dara tersenyum kepada Ibunya, ia juga menarik tangan Rexha lalu mencium pipinya dengan penuh cinta.


Rexha tertawa kecil, ia mencubit gemas pipi putrinya. "Dasar pinter ngerayu kamu," bibir Rexha.


Andra tertawa melihat hal itu, ia lalu mendekati Rexha lalu memeluk wanita itu dari belakang.


"Andra!" Rexha berseru kaget.


"Aku juga sayang Ibunya Dara," kata Andra ikut-ikutan tingkah Dara yang mencium pipi Rexha.


Rexha membesarkan matanya kaget, ia ingin sekali mengumpat tapi ingat kalau ada putri mereka. Dilihatnya Dara hanya tersenyum-senyum geli, anak itu sepertinya sangat suka melihat Ayah dan Ibunya bermesraan.


"Lepasin Ndra, ayo kita pulang sekarang. Dara pasti udah capek duduk daritadi," kata Rexha.


"Iya, kita akan pulang sekarang. Dara sama Ayah sini." Andra mengangguk mengerti, ia lalu mengangkat tubuh kecil Dara lalu menggendongnya.


"Yeee, kita pulang, aku seneng pulang sama, Ayah. Nanti aku pengen tidur sama Ayah," kata Dara menyadarkan kepalanya dengan manja dibahu Ayahnya.


"Boleh banget dong, Ayah juga pengen tidur sama Dara, tos dulu kita." Andra mengiyakan apa saja yang putrinya inginkan, ia mencoba mengganti seluruh waktu yang selama ia telah ia lewatkan.


Rexha tersenyum dalam hatinya, melihat putrinya tertawa lepas seperti itu, membuat hatinya begitu lega. Akhirnya Dara bisa merasakan kasih sayang Ayahnya setelah sekian lama.


______


Begitu sampai di Apartemen miliknya, Rexha dibuat kaget melihat beberapa koper yang berjejer didepan pintu. Ia mengernyitkan dahinya dengan bingung, siapa gerangan yang menaruh koper disana?


"Mulai hari ini, aku akan tinggal disini," kata Andra memahami kebingungan Dara.


"Apa?"


"Ayah mau tinggal disini? Yeee, Ayah mau tinggal sama kita Ibu."


Jika Rexha begitu terkejut, berbeda dengan Dara yang sangat senang sekali. Ia sudah tidak sabar menantikan momen bahagia bersama Ayahnya nanti.

__ADS_1


"Dara senang?" tanya Andra.


"Senang dong Ayah, aku nanti bakalan nunjukin Ayah komputer aku," kata Dara semakin bersemangat.


"Wah, Dara punya komputer juga? Udah bisa makainya?" Andra benar-benar terkejut mendengar kalau Dara mempunyai komputer.


Andra tidak tahu saja jika adalah orang yang telah mencoba membobol kode rahasia perusahaannya karena otaknya yang sangat genius.


"Bisa dong, Ayah mau tahu?"


"Boleh, ayo tunjukkan sama Ayah," kata Andra mengangguk setuju.


"Andra, kita perlu bicara."


Namun, sebelum Andra sempat melangkahkan kakinya, Rexha sudah lebih dulu berbicara. Wanita itu tengah menatap Andra sangat tajam.


Andra mengangkat alisnya, ia sepetinya sudah tahu apa yang akan Rexha bicarakan. Ia lalu menurunkan Dara terlebih dulu.


"Dara masuk dulu, Ayah akan berbicara sama Ibu," tutur Andra.


Dara menatap Ayah dan Ibunya bergantian, ia kemudian mengangguk, menurut saja saat Ayahnya menyuruhnya masuk terlebih dulu. Tapi diam-diam ia bersembunyi untuk mendengarkan apa yang orang tuanya itu akan bicarakan.


Rexha lalu mengajak Andra berbicara didalam, tidak enak nanti jika ada yang melihat mereka seperti itu.


"Mau membicarakan apa?" tanya Andra berbasa-basi.


"Aku 'kan Ayahnya Dara, jadi wajarlah aku tinggal disini. Lagian kamu yang nggak mau aku ikat," sahut Andra begitu santai.


"Kamu memang Ayahnya Dara, tapi bukan berarti kamu bisa bebas melakukan apa saja di rumahku. Lebih baik kamu pulang, aku akan memberikan waktu untuk kamu bertemu Dara," omel Rexha ingin sekali meremas batang leher Andra karena berbicara seenaknya.


"Enggak, aku udah ngelewatin lima tahun dengan kebodohan. Sekarang aku mau membangun hubungan Ayah dan anak sama Dara. Kamu sebagai ibu harusnya dukung aku," tolak Andra langsung, ia sudah merencanakan semuanya, dan ia tidak mau lagi pulang ke rumah sebelum ia bisa mendapatkan Rexha kembali.


"Kalian tetap bisa membangun hubungan Ayah dan anak tanpa harus tinggal bersama. Aku akan memberi waktu seminggu dua kali bertemu," ujar Rexha memberi penawaran.


"Enggak, itu terlalu sedikit," tolak Andra dengan wajahnya yang tidak berminat.


"Seminggu 3 kali?" Lagi, Rexha kembali memberi penawaran, yang jelas yang sampai Andra tinggal disana. Rexha takut akan kembali terbuai dan kembali jatuh kedalam pesona Andra.


Andra mendengus kecil. "Kalau aku bilang enggak ya enggak. Kalau kamu memang nggak nyaman karena kita nggak punya ikatan, makanya ayo menikah, biar hubungan kita jelas," ucap Andra semakin keras kepala.


"Kamu pikir menikah itu gampang apa?" sergah Rexha semakin kesal saja.


"Gampang, kita tinggal datang ke pengadilan agama. Apa susahnya?" sahut Andra dengan entengnya.


"Ck, susah ya ngomong sama kamu. Kalau emang kamu nggak mau pergi, aku bakalan nyuruh petugas buat ngusir kamu, mau?" ancam Rexha mulai kehilangan kesabaran.


"Dara, cepat masuk kamar. Jangan menguping pembicaraan orang tua!" teriak Rexha tahu jika putrinya sedang bersembunyi disana.

__ADS_1


Andra terkejut, ia melihat Dara yang berdiri disamping tembok yang menghubungkan dengan dapur. Melihat hal itu, ia mendadak punya ide cemerlang.


"Dara kemari, lebih baik kamu tanyakan saja pada anak kita. Dia juga berhak menentukan disini," kata Andra mengulurkan tangannya kepada Dara.


"Enggak, keputusan ada ditangan aku ya, karena ini rumah aku." Sangking emosinya, Rexha sampai bangkit dari duduknya.


"Nggak bisa seenaknya begitu dong. Kita sebagai orang tua harus mendengarkan keinginan anak. Kamu mau jadi orang tua yang egois?" Andra ikut berdiri meski nada bicaranya tidak setinggi Rexha.


"Aku egois? Lalu kamu apa?" bentak Rexha.


"Ayah, Ibu, kenapa kalian harus bertengkar. Kepala aku pusing," keluh Dara memegangi kepalanya yang kecil.


"Dara!"


Kedua orang tua yang baru saja berdebat itu langsung mendatangi putri mereka. melihatnya dengan raut wajah khawatir.


"Mana yang sakit? Suara itu terlalu keras? Maaf ya," ucap Rexha benar-benar khawatir.


"Dara nggak apa-apa 'kan? Mau ke dokter sekarang?" Andra tak kalah paniknya, ia takut jantung Dara kembali sakit atau bagaimana.


"Aku tidak mau apapun." Dara menggelengkan kepalanya pelan. "Aku cuma mau Ayah sama Ibu tinggal sama aku, biar aku punya keluarga kayak temen-temen aku," lanjut Dara memandang penuh harap kepada kedua orang tuanya.


"Dara, Ayah dan Ibu-"


"Pasti dong, Ayah dan Ibu bakalan tinggal bareng kok. Kita bertiga tinggal sama-sama." Andra langsung menyela sebelum Rexha mengatakan apapun.


"Ayah, Ibu, ayo berjanji padaku. Kalau kita akan sama-sama terus." Dara lalu mengambil tangan Ayah dan Ibunya, menyatukan tangan mereka dengan tangan mungilnya.


Mendengar permintaan sederhana dari anak yang imut seperti Dara, siapa yang akan menolaknya? Bahkan Rexha yang bisa diam saja, ia malah sedih jika melihat Dara memandangnya penuh harap seperti itu.


"Ayah, Ibu, ayo janji," kata Dara menggoyangkan tangan keduanya.


"Ayah janji." Andra mengangguk pelan, ia mengusap pipi Dara.


"Ibu?" Dara menunggu jawaban Ibunya.


Rexha menghela napas panjang, ia kemudian mengangguk pelan. "Ibu janji," ucapnya meski dengan sangat terpaksa.


"Yee, aku sayang Ibu." Dara langsung bersorak senang lalu memeluk perut Ibunya. Tapi diam-diam ia melirik Andra.


Andra tersenyum lebar sembari mengacungkan kedua jempol serta mengerlingkan sebelah matanya. Ternyata putrinya sangat enak diajak kerjasama.


Happy Reading.


TBC.


Andara_

__ADS_1



__ADS_2