
Andra terdiam seperti orang bodoh, ia mengedipkan matanya berkali-kali, memandang Rexha yang tersenyum manis padanya.
"Rexha, apa kamu serius?" Andra sama sekali tidak percaya, baru kemarin Rexha menolak permintaannya, tapi sekarang?
"Iya, kamu mau nggak? Kalau nggak ya udah, nggak jadi, aku berubah pikiran nih," kata Rexha memasang wajahnya yang cemberut.
Andra menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia tanpa mengatakan apapun langsung meraih tubuh Rexha dan memeluknya sangat erat.
"Terima kasih, terima kasih, Xha. Terima kasih udah ngasih aku kesempatan lagi. Aku mencintaimu," ucap Andra tak henti menciumi rambut Rexha penuh kasih, matanya bahkan sudah berkaca-kaca karena Rexha mau menerimanya lagi.
Rexha mengeratkan pelukannya. "Aku minta maaf, seharusnya aku tidak membuat jalanmu sangat rumit. Aku sadar aku terlalu egois karena tidak memikirkan Dara," kata Rexha yang mulai menangis dipelukan Andra.
"Kamu tidak salah, aku ngerti kamu pasti butuh waktu karena masa lalu kita. Sekarang ... apa kamu sudah benar-benar yakin untuk melangkah bersamaku? Kita bangun keluarga kecil kita bersama," tutur Andra memegang tangan Rexha dengan lembut.
Rexha terdiam sesaat, melihat wajah Andra yang begitu sendu dan tulus. Ia tersenyum seraya mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Andra.
"Tidak ada lagi yang membuat aku ragu. Bukankah kamu bilang kegagalan yang membuat kita belajar? Kita harus sama-sama belajar biar nggak gagal lagi, terutama gagal sebagai orang tua, Ndra. Aku tidak mau itu terjadi," balas Rexha.
Andra tersenyum, tanpa terasa air matanya mengalir, ia kemudian mengangguk pelan.
"Tunggu sebentar," ucap Andra melepaskan tangan Rexha sejenak lalu membuka koper yang berada di samping sofa.
Rexha mengerutkan dahinya, memandang heran pada Andra yang terlihat sibuk membuka koper yang selama ini digunakan untuk menyimpan baju-bajunya itu. Beberapa saat kemudian, Andra kembali dengan membawa sesuatu ditangannya.
"Nyari apa?" tanya Rexha memandang Andra yang kembali duduk dibawahnya.
"Aku nggak tahu harus ngomong darimana dulu. Tapi aku pengen kamu tahu, semenjak aku kenal kamu, aku merasa ada yang berubah. Kamu menjadi alasan aku untuk mengenal sesuatu yang namanya cinta. Kamu juga alasan aku untuk bahagia, Xha. Mungkin selama ini aku belum pernah mengatakannya, tapi kamu harus tahu Xha, aku sangat mencintaimu bahkan melebihi nyawaku sendiri."
"Setiap hari aku selalu bertanya pada hatiku sendiri, dan jawaban hatiku tidak pernah berubah sejak dulu sampai sekarang. Jadi Rexha Maldini, maukah kamu menikah denganku?" ucap Andra begitu tulus seraya mengulurkan sebuah kontak hitam kecil yang berisi cincin berlian yang sangat indah.
Rexha membuka mulutnya, terlalu kaget dengan itu semua, air matanya lolos begitu saja tanpa bisa dicegah.
"Aku bersedia," ucap Rexha dengan suara tercekat. "Aku bersedia, Andra. Aku bersedia ...." lanjutnya lagi.
Andra tersenyum, tapi matanya masih berkaca-kaca. Ia segera mengambil cincin itu lalu menyematkannya di jari manis Rexha. Ia mencium kedua tangannya lalu memeluk wanita itu dengan erat. Hatinya benar-benar lega sekali dengan penerimaan Rexha ini.
"Terima kasih, kita akan segera menikah. Aku akan segera meresmikan hubungan kita," tutur Andra kembali mencium kening Rexha.
"Tapi Andra, bagaimana dengan Mami-mu?" Rexha tiba-tiba teringat akan penghalang terbesar dalam hubungan mereka.
__ADS_1
"Mau menemui Mami dulu?" ujar Andra menawarkan.
"Aku takut, dia tidak bisa menerimaku. Apalagi sekarang ada Dara, apakah Mami-mu bisa menerimanya?" sahut Rexha begitu ragu, ia tidak mau jika nantinya hati putrinya akan tersakiti akan penolakan itu.
"Mami pasti mengerti, dia seorang ibu. Kita akan mencobanya sama-sama ya? Atau menikah dulu?" ucap Andra lagi, cukup ragu sebenernya, tapi ia tidak mau melewatkan kesempatan ini. Maminya juga harus tahu kalau ia sudah memiliki anak.
"Jangan." Rexha menggeleng pelan. "Mami-mu akan semakin membenciku jika kita melakukannya. Aku nggak apa-apa, bukankah kamu akan selalu bersamaku?" ucap Rexha tersenyum tipis, mencoba menyakinkan dirinya sendiri kalau ia bisa melewati semuanya.
Andra ikut tertular akan senyuman itu, ia mengusap pipi Rexha dengan lembut. "Udah pinter gombal ya, belajar darimana?" seloroh Andra.
"Nggak usah pura-pura polos. Siapa lagi yang ngajarin aku kalau bukan kamu," cibir Rexha memutar bola matanya malas.
"Aku nggak pernah gombal. Semua yang aku katakan itu murni dari hati aku. Tapi itu nggak penting, kamu tetap my one and only," ujar Andra menarik lembut Rexha agar masuk ke dalam pelukannya.
Rexha tersenyum, ia mencari posisi ternyaman dalam pelukan Andra. Ternyata benar, berdamai dengan hati dan diri sendiri itu lebih menyenangkan dan juga melegakan. Rexha seperti menemukan semangat hidup kembali setelah merasakan kehangatan cinta dari Andra. Sekarang Rexha tahu, jika memang Andra-lah yang ia butuhkan.
"Jadi, siap menikah?" goda Andra setelah cukup lama terdiam.
"Siapa takut?" Rexha mendongak dan balas menatap Andra dengan serius.
Andra tertawa, ia dengan gemas mencium pipi Rexha berkali-kali lalu keduanya kembali berpelukan dengan hati yang diliputi kebahagiaan.
"Ayah, kita mau kemana memangnya? Kenapa harus pakai baju bagus? Mau pergi pesta ya?"
Malam harinya, Andra terlihat menyiapkan Dara untuk datang kerumah orang tuanya. Ia sengaja yang membantu Dara bersiap karena tidak ingin merepotkan Rexha. Selain itu ia juga baru menjelaskan pada putrinya kalau ia dan Rexha akan menikah.
"Hari ini kita mau ke rumah nenek. Dara suka nggak?" jawab Andra.
"Nenek?" Dara mengernyitkan dahinya. "Memangnya Dara masih punya Nenek?" tanyanya lagi, seingatnya ibunya mengatakan kalau ia sudah tidak punya keluarga lain selain Ibunya.
"Dara malah punya nenek. Nanti kita bakalan ketemu, nanti Dara sapa nenek ya. Kenalan sama neneknya Dara," kata Andra menjelaskan dengan sabar.
"Nenek itu, artinya ibunya Ayah?" tanya Dara.
"Iya ibunya Ayah," sahut Andra mengangguk mengiyakan.
"Nenek bakalan suka nggak sama Dara?"
Andra terdiam, ia yang tadinya sedang merapikan rambut putrinya langsung memandang wajah Dara. Ia kemudian duduk dibawah lalu memegang tangannya.
__ADS_1
"Kenapa Dara bertanya seperti itu? Dara anak yang manis, Ayah aja pertama kali langsung suka. Ayah yakin, nenek juga pasti akan suka sama Dara. Anak Ayah cantik gini," kata Andra mencubit pipi putrinya.
"Yang benar Ayah? Nenek itu tidak galak seperti bebek sihir?" tanya Dara lagi.
Andra tertawa mendengarnya, ia semakin gemas saja dengan putrinya ini. "Enggak, nenek nggak galak kok. Ayah yakin deh, nenek pasti suka sama Dara," ucap Andra meyakinkan.
"Baiklah, kalau begitu aku mau ketemu nenek," kata Dara mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Iya, kita temui ibu dulu ya, udah siap belum? Ayo." Andra balas mengangguk, ia segera meraih putrinya dalam gendongan lalu menemui Rexha yang masih berada dikamar.
Ternyata disaat bersamaan Rexha keluar dari kamarnya.
"Wah, ibu cantik sekali," puji Dara begitu melihat penampilan Rexha yang berbeda dari biasanya.
Andra terdiam memandang Rexha yang malam itu sangat cantik sekali. Biasanya Rexha yang hanya berpenampilan biasa saja sudah sangat cantik, sekarang ditambah riasan tipis dan dress berwarna mocca membuat Rexha semakin cantik sekali.
Andra tersenyum, dalam hati berkata semakin yakin dengan wanita pilihannya ini.
"Selalu cantik," ucap Andra mendekati Rexha lalu mencium keningnya.
Rexha tersipu, ia menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah malu.
"Ayah, aku juga mau dicium," seloroh Dara menarik wajah Andra agar menatap dirinya, ia cemburu karena Ayahnya hanya perhatian kepada Ibunya.
"Hahaha, Dara mau juga, sini." Andra tertawa akan keposesifan putrinya ini. Ia segera memberikan ciuman yang banyak diwajah putrinya itu.
"Terima kasih, Ayah." Dara pun tersenyum senang setelah mendapatkan yang ia mau
Kedua orangtuanya pun ikut tersenyum, melihat senyuman putri mereka itu. Andra lalu mengulurkan tangannya pada Rexha.
"Sudah siap?" tanya Andra.
Rexha menarik napas panjang sebelum mengangguk mengiyakan seraya menyambut uluran tangan Andra.
"Ya."
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1