
Rexha beberapa kali menengok kearah lorong panjang yang menghubungkan ruangan satu dengan ruangan lainnya. Wajahnya terlihat bingung serta seperti menunggu sesuatu.
Jujur saja Rexha merasa bingung. Seingatnya semalam Andra datang memeluknya, tapi ketika ia bangun di pagi hari, Andra justru tidak ada.
'Apa aku hanya bermimpi? Tapi kenapa begitu nyata?'
Rexha menghela nafas panjang, tidak mau memikirkan hal yang membuat kepalanya semakin pusing. Ia lebih sibuk melihat kearah pintu masuk, dimana ia sedang menunggu Andra datang karena sebentar lagi operasi anak mereka akan segera dilangsungkan. Tapi sampai saat ini Andra belum kelihatan batang hidungnya juga. Sebenarnya Rexha juga tidak berharap lebih, kemarin Andra sendiri yang berjanji untuk datang.
Namun, sampai persiapan hampir saja selesai, Andra nyatanya benar-benar tidak datang kesana sama sekali. Membuat Rexha begitu kecewa, meski bibirnya mengatakan tidak, tapi ia juga lebih senang jika ditemani Andra.
"Nyonya Rexha, sebelum Nona Dara kami bius total, apakah Anda ingin menemuinya?" Seroang suster menghampiri Rexha.
"Ya, aku akan menemui putriku." Rexha mengangguk sembari bangkit dari duduknya.
"Silahkan, operasi akan dilangsungkan 15 menit lagi," ujar suster itu lagi.
Rexha menarik nafas dalam-dalam, ia harus tegar demi anaknya. Mencoba menguatkan dirinya sendiri agar kuat menghadapi kenyataan yang tidak semulus pahanya.
Sebelum Rexha masuk ke dalam ruangan, ia sempat menoleh kembali ke arah lorong itu yang masih tampak kosong. Hanya beberapa orang asing yang berlalu lalang.
'Kamu ingkar janji lagi, Ndra.'
Rexha membatin sebelum ia masuk kedalam ruangan untuk menemui putrinya.
________
"Ibu, Dara takut." Andara merengek menunjukkan tangannya yang disuntik, wajah gadis kecil itu benar-benar terlihat takut sekali.
"Tidak apa-apa, Dara 'kan anak kuat. Setelah ini Dara nggak akan sakit lagi. Dara anak hebat," ucap Rexha mengambil tangan kecil Andara lalu menciumnya berkali-kali.
"Ibu, kalau aku sembuh, apa Ayah mau datang menemuiku?"
Rexha tersentak, tidak menyangka jika kata-kata itu yang akan keluar dari bibir mungil putrinya. Ia tersenyum meski matanya basah, ia mengusap lembut rambut Andara.
"Ibu selalu berdoa yang terbaik buat Dara, Dara harus kuat, Ibu menunggu Dara," kata Rexha.
"Aku pasti kuat Ibu, tapi aku takut. Pengen ketemu Ayah ...."
Rexha mengigit bibirnya, ia kemudian memeluk Dara pelan agar tidak menyakiti putrinya itu. "Ayah ... Pasti datang. Nanti Ayah pasti datang," bisik Rexha menyembunyikan air matanya.
__ADS_1
Rexha tidak mau memberikan harapan kepada putrinya, karena ia saja tidak tahu apakah Andra akan kembali datang padanya atau tidak. Ia tidak mau membuat putrinya merasakan luka yang sama seperti yang ia rasakan karena terlalu banyak berharap.
"Benarkah? Ayah akan datang? Ayah pasti datang 'kan? Aku mau sembuh Ibu ... Aku mau nunjukin sama Ayah kalau aku anak kuat," ucap Andara begitu bersemangat meski suaranya terdengar lirih.
Tangis Rexha pecah, ia buru-buru mengusapnya dan tersenyum pada putrinya. Semakin tidak tega melihat semangat Andara yang ingin sekali bertemu Ayahnya itu.
"Anak Ibu memang hebat, semoga cepat sembuh, Sayang ...." lirih Rexha mencium tangan Andara kembali.
"Nyonya Rexha, waktunya sudah habis. Silahkan menunggu diluar." Suster kembali datang setelah waktu yang ditentukan sudah selesai.
Rexha mengangguk pelan. "Ibu tunggu diluar, Dara harus semangat," kata Rexha tersenyum manis kepada putrinya sebelum pergi.
"Semangat buat sembuh, buat cepet ketemu Ayah," sahut Andara balas tersenyum manis.
Rexha tidak sanggup melihatnya, ia langsung buru-buru pergi sembari mengusap air matanya yang kembali berhamburan. Ia hanya berdoa operasi putrinya berjalan lancar.
______
Sementara itu, Andra terlihat terburu-buru pergi setelah jenazah Papa Denada dikebumikan. Pria itu tidak henti mengumpat kata-kata kasar karena hari sudah sangat siang tapi ia belum bisa datang menemui putri kecilnya yang akan dioperasi.
"Tom, aku mau kamu mengosongkan jadwalku satu Minggu ke depan. Aku juga minta kamu ambil semua baju-baju yang ada dirumah sekarang," titah Andra seraya melepaskan dasinya yang terasa sangat mencekik, semuanya terasa gerah karena sejak tadi ia begitu emosi.
Andra segera pergi meninggalkan rumah Denada, tidak peduli masih banyak kerabat yang berkumpul disana. Ia langsung nyelonong pergi begitu saja.
"Andra, kamu mau kemana?" tanya Denada.
Andra tidak menggubrisnya, menyahut pun tidak membuat tanda tanya besar dibenak para kerabat Denada. Menyadari hal itu, Denada bergegas pergi menyusul Andra.
"Andra! Kamu ini mau kemana!" seru Denada menarik tangan Andra sebelum pria itu masuk mobilnya.
"Bukan urusanmu, tugasku disini sudah selesai," sergah Andra menarik tangannya dengan kasar.
"Bukan urusanku, Ndra? Kamu udah lupa apa yang sudah terjadi antara kita? Kamu-"
"Aku tidak peduli, saat ini aku sedang sibuk. Jangan mengangguku untuk alasan apapun," tukas Andra tanpa mau mendengarkan ucapan Denada, pria itu juga langsung masuk mobil dan meninggalkan wanita itu sendirian.
"Oh shittttt!" Denada mengumpat marah, ia benar-benar kesal karena Andra masih saja dingin padanya.
Meski ia bisa memiliki Andra, nyatanya ia tidak bisa benar-benar memilikinya. Sekarang ia rasa Andra justru semakin jauh dan sangat susah untuk digapai.
__ADS_1
________
Rexha akhirnya bisa bernafas lega setelah operasi anaknya selesai dilakukan. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari apapun didunia ini selain mendengar kabar jika putrinya bisa terbebas dari penyakit itu. Kini, ia tinggal menunggu putrinya siuman dan semua kembali seperti semula.
Mungkin karena rasa ingin sembuh yang begitu besar, membuat Dara siuman lebih cepat dari waktu yang semestinya. Rexha tidak henti mengucap rasa syukur begitu melihat putrinya membuka mata kembali.
"Dara hai ... Selamat datang kembali, Sayang." Rexha langsung menyapa dengan senyuman terbaiknya, matanya sudah berkaca-kaca melihat putrinya kembali sadar.
"Ibu minum, Dara haus," ucap Dara dengan suara seraknya, bibirnya tampak kering karena sebelumnya ia tidak diizinkan minum saat akan dioperasi.
"Oh iya sebentar." Rexha langsung sigap, ia mengambil air yang ada di nakas lalu membantu putrinya untuk minum.
"Udah cukup atau mau lagi?" tanya Rexha.
"Udah," sahut Dara.
Rexha mengangguk pelan, ia kembali meletakan air minum itu lalu menatap putrinya kembali. Ia tersenyum lalu mengusap lembut pipi Dara.
"Terima kasih," ucap Rexha. "Terima kasih sudah kembali pada Ibu, Dara memang anak yang hebat," imbuh Rexha.
"Ayah mana?" Dara justru bertanya hal lain. Ia hanya ingat satu hal selama ia dialam bawah sadarnya, yaitu sebuah keinginan besar yang ingin sekali bertemu Ayahnya.
"Ayah ..." Rexha kebingungan harus menjawab apa. Sementara Andra juga belum datang sama sekali.
"Ibu ... Mana Ayah? Ayah datang 'kan?"
Seperti anak kecil pada umumnya, jika sudah dijanjikan, pasti akan terus menagih sampai apa yang dijanjikan itu terpenuhi. Dara pun begitu, ia ingat janji Ibunya yang mengatakan Ayahnya akan datang.
"Ayah kamu ehm ..." Rexha berbicara terbata-bata, mencoba merangkai kata-kata yang pas agar membuat putrinya mengerti.
"Ayah disini."
Happy Reading.
TBC.
Kasih bonus visual ah ...
__ADS_1