
Andra tidak percaya dengan jawaban santai yang keluar dari mulut Rexha. Ia juga kaget karena wanita itu tidak bicara kasar seperti biasanya.
"Ehm, kenapa nggak masuk sekolah?" Andra langsung saja menanyakan apa yang selama ini mengganjal dihatinya. Ia lalu duduk disamping Rexha, ingin tahu apakah Rexha akan marah seperti biasanya apa tidak.
Namun, ternyata Rexha hanya diam saja.
"Ibu aku meninggal," jawab Rexha begitu lirih.
"Apa?" Andra begitu kaget. "Ibu kamu meninggal? Sakit?" Andra bertanya sembari memejamkan matanya singkat, menyesal sekali baru tahu kabar itu sekarang?
Kenapa anak-anak sekolah diam saja? Harusnya ada bantuan sosial atau santunan dari pihak sekolah jika ada siswa yang berduka.
"Sekarang udah nggak sakit lagi. Aku lebih seneng lihat ibu aku pergi," ucap Rexha dengan senyum kecutnya.
"Itu alasan kamu selama ini sering pulang cepet?" tanya Andra lagi, mulai mengaitkan kenapa Rexha selalu pulang cepat dan selalu pergi ke apotik setelah pulang sekolah.
"Ya, aku ke apotik buat beli obat ibu aku."
"Kamu?" Andra semakin tidak percaya, wajahnya kini pasti memerah malu, ternyata Rexha tahu jika selama ini ia mengikutinya.
Rexha tersenyum lebar, nyaris tertawa kecil. Ia kemudian mengambil sesuatu dari tas miliknya. Sebuah buku cerita kecil, lalu menyerahkannya pada Andra.
"Ini, buat kamu," kata Rexha menyerahkan sebuah buku yang berjudul 'Rahasia Lelaki Sukses'
"Apa ini?"
"Aku lihat, kamu sangat suka membaca. Ini dulu ibu aku belikan waktu masih kerja di Jakarta," kata Rexha masih dengan senyumnya, membuat Andra tidak percaya jika Rexha bisa tersenyum seperti itu.
Bisa bilang itu adalah senyuman Rexha setelah 4 bulan wanita itu sekolah disana.
"Lalu, kenapa kamu memberikannya padaku?" Andra mengernyit tidak mengerti.
"Sebagai kenang-kenangan, aku rasa ini terakhir kalinya kita bertemu," kata Rexha menunduk menyembunyikan wajahnya yang muram.
"Kamu bakalan pindah?" Andra langsung memegang tangan Rexha setelah mendengar ucapan wanita itu.
__ADS_1
Andra tentu sangat terkejut mendengarnya. Bagaimana Rexha akan pergi begitu saja sebelum ia mengatakan apapun kepada wanita itu. Dan kenapa Rexha harus pindah?
"Udah nggak ada lagi alasan aku untuk tetep sekolah, Ndra. Aku mau pergi, semoga saat kita ketemu nanti, kamu udah jadi orang sukses," ucap Rexha tersenyum tulus pada Andra, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia menatap langsung wajah Andra yang sangat tampan itu.
Andra memejamkan matanya singkat, ia lalu memegang kedua lengan Rexha dengan erat.
"Aku cinta sama kamu, Xha."
"Aku juga." Untuk pertama kalinya, Rexha memberanikan diri menatap langsung wajah Andra.
Andra menatap Rexha tidak percaya, ia pikir wanita itu akan memaki dirinya karena sudah lancang. Tapi ternyata Rexha memiliki perasaan yang sama dengannya.
"Aku juga mencintaimu, tapi aku minta sama kamu, Andra, hapus perasaan cinta itu. Ini adalah hari terakhir kita bertemu, aku pengen saat kita ketemu nanti kamu akan menjadi orang yang sukses," imbuh Rexha lagi.
"Apa kamu juga akan berjanji untuk melupakan aku?" Andra menggenggam tangannya sendiri, baru saja ia mendapatkan balasan cinta, tapi dalam hitungan detik Rexha ingin ia menghapus perasaannya.
Rexha tidak menjawab, ia hanya bisa memandang Andra dengan sendu.
Melihat tatapan mata Rexha, membuat Andra mendorong dirinya untuk menarik tengkuk Rexha lalu mencium bibirnya. Ia hanya berpikir jika ini adalah kali terakhir mereka akan bertemu dan ia ingin memberikan satu hal yang akan Rexha kenang seumur hidupnya. Itu adalah kali pertama Andra berciuman, begitu pun Rexha.
Wanita yang selalu bersikap dingin itu mengikuti kata hatinya dengan membiarkan Andra menciumnya. Setelah cukup lama, baru mereka melepaskannya dan menatap kearah lain.
"Iya," sahut Rexha mengangguk pelan, ia tahu ini adalah pertemuan terakhir mereka sebelum ia memutuskan berhenti sekolah.
Andra menggandeng tangan Rexha, tidak perduli jika saat ini semua siswa di sekolah mereka menatapnya dengan pandangan kaget. Andra ingin membuat kenangan semanis mungkin sebelum mereka berpisah. Entahlah, Andra rasanya masih tidak rela jika Rexha tidak sekolah disana lagi.
Sepanjang mereka pulang, tidak banyak obrolan yang tercipta, keduanya sibuk menekan rasa cinta yang saat itu begitu menggebu.
"Sudah, sampai disini saja. Mobilmu tidak akan bisa masuk," ujar Rexha meminta Andra untuk menurunkannya di depan gang.
"Aku antar sampai rumah," sahut Andra tegas.
Rexha tidak bisa menolak, ia akhirnya membiarkan saja Andra mengantarnya pulang sampai ke rumah.
Namun, sebelum ia sampai rumah, terdengar suara keras yang membuat Rexha terkejut.
__ADS_1
"Dasar anak tidak tahu diuntung! Kemana saja kau, sini!" Seorang pria berbadan gempal langsung menyeret tangan Rexha hingga pegangan tangannya pada Andra terlepas.
"Hei, apa-apaan kamu? Lepasin Rexha!" Andra segera membelanya, ia menahan tangan Rexha agar tidak diseret-seret seperti itu.
"Siapa kau! Jangan ikut campur masalah orang, mau cari mati kau!" hardik pria itu menghantam Andra sampai pria itu terjengkang ke belakang.
"Bapak!" teriak Rexha begitu kaget melihat apa yang dilakukan Ayahnya itu.
"Diam kau! Mau kubuat mati seperti ibumu kau? Mana sekarang kasih uang!" Bapak Rexha menghardik putrinya dengan keras.
"Aku belum kerja, nanti siang-"
"Anak to lol! Disuruh kerja malah sibuk pacaran kau ya! Sini, memang harus dikasih mati kau ini." Bapak Rexha begitu marah, pria itu memukul wajah Rexha dan menyeret wanita itu masuk kedalam rumah kontrakannya yang sempit.
"Rexha!" Andra begitu kaget, tidak menyangka ada orang tua yang bertindak kasar seperti itu, padahal Rexha adalah perempuan.
Namun, apa yang dilihat Andra itu tak lebih mengerikan dari saat Andra mendengar suara teriakan Rexha yang menyayat hati. Andra tidak tahu apa yang sudah terjadi di dalam rumah itu, ia hanya bisa mendengar dan menangis seperti pecundang. Meminta bantuan orang sekitarnya pun tidak ada yang berani ikut campur karena Bapaknya Rexha bisa lebih marah nantinya.
"Bapak! Ampun, sakit ... Arghhhhhhhh!"
"Anak sial! Gob lok, mendingan mati biar nggak nyusahin orang!"
Plak
Dugh
Bugh
Andra menjambak rambutnya frustasi, mendengar wanita yang dicintainya dihajar habis-habisan oleh Ayahnya sendiri tapi ia tidak bisa melakukan apapun. Sekarang Andra tahu darimana Rexha mendapatkan luka baru ditubuhnya, ternyata setiap hari Rexha selalu di siksa Ayahnya jika pulang tidak membawa uang.
"Rexha ...."
Andra menunggu seperti orang bo doh, ia ingin menyelamatkan Rexha tapi sebelum Ayahnya pergi ia tidak melakukan apapun. Ia masih anak SMA yang tidak punya nyali sebesar itu. Begitu melihat Ayahnya Rexha pergi, Andra baru masuk ke dalam rumah dan menyelamatkan Rexha yang meringkuk dengan tubuh babak belur.
Sejak saat itu juga, Andra berjanji untuk membahagiakan wanita ini. Tapi nyatanya sampai sekarang ia justru yang membuat Rexha terus tersakiti.
__ADS_1
Happy Reading.
TBC.