
4 Bulan Kemudian.
Semilir angin berhembus sangat kencang, menerbangkan rambut Rexha yang kini terlihat memanjang. Anak-anak rambutnya yang keluar dari ikatan talinya itu sedikit menganggu aktivitasnya yang sedang membersihkan meja pengunjung yang terlihat kotor karena baru saja ditempati pembeli.
Panas matahari bersinar sangat terik sekali, angin pun terasa panas saat menyentuh kulit. Tapi rasa panas itu tidak menyurutkan semangat Rexha untuk bekerja. Banyak keperluan yang harus ia biayai sendiri terutama biaya hidup yang sama sekali tidak murah.
"Xha, hari ini anter pesenan ya ke kantor Luis Grup. Seminggu ini lagi banyak orderan masuk dari kantor itu." Senior Rexha datang menghampiri wanita itu dan memberikannya perintah. Padahal Rexha baru saja istirahat sebentar.
Belakangan ini Rexha merasa aneh pada tubuhnya, ia sering sekali merasa lelah dan juga lemas. Kepalanya pusing dan mual-mual yang membuat ia merasa tidak nyaman. Tapi karena kondisi yang tidak memungkinkan, Rexha tetap harus bekerja.
"Sekarang kak?" tanya Rexha dengan raut wajah letih, sejak tadi ia sudah mencoba menahan perutnya yang sangat nyeri entah karena apa.
'Apa aku akan datang bulan? Kenapa tubuhku sakit semua?'
"Nanti deh, bentar lagi. Kamu istirahat aja, wajah kamu pucat banget, kamu sakit?" Senior Rexha cukup khawatir melihat kondisi Rexha yang tampak lemah itu.
"Aku nggak apa-apa, aku antar sekarang aja, kak. Nanti siang aku harus jemput anak aku sekolah," kata Rexha, mencoba memaksakan dirinya.
Rexha menganggap rasa sakit seperti itu harus dilawan agar tubuhnya tidak manja akan penyakit. Ia harus kuat, jika ia lemah siapa yang akan bekerja dan menjaga anaknya nanti.
"Yakin nggak apa-apa?" tanya senior Rexha.
Rexha hanya mengangguk sebagai jawaban, ia kemudian mencoba bangkit dari duduknya. Tapi kepalanya mendadak berdenyut sangat pusing sekali, ia sampai harus berpegangan pada meja yang ada didepannya untuk bertahan. Rasa pusing itu begitu hebat, lalu disusul perutnya yang mendadak sangat nyeri.
"Akhhhhhhh!" Raya berteriak, rasa sakit itu kian menjadi-jadi membuat ia tidak bisa menahan suaranya untuk tidak berteriak.
"Astaga Rexha, kamu kenapa?" Senior Rexha bertanya panik.
"Perut aku sakit, akhhhhhhh!" Rexha tidak sanggup menopang tubuhnya, ia kembali duduk karena perutnya sangat sakit sampai tembus ke pinggang bagian belakang.
Rexha ingat rasa sakit ini, rasa sakit yang sama saat ia akan melahirkan Dara dulu. Kenapa sekarang ia bisa merasakannya kembali?
"Astaga Rexha, darah, Xha! Hei, tolongin Rexha, bawa ke rumah sakit!"
__ADS_1
Rexha tidak begitu mendengar suara seniornya dan beberapa teman-temannya yang panik melihat darah yang mengalir dari sela-sela kakinya. Ia hanya bisa memejamkan matanya seraya menahan rasa sakit yang kian menjadi-jadi itu.
'Kenapa berdarah? Aku kenapa?'
________
Rexha tidak henti menangis setelah tahu kondisinya yang tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa diperutnya, ia benar-benar tidak tahu jika saat ini ia sedang hamil dan karena kecerobohannya, bayi itu justru tidak bisa bertahan didalam perutnya.
"Maafkan Ibu, maafkan ibu, sayang. Ibu bodoh karena tidak bisa menjagamu ...."
Rexha benar-benar lupa dan tidak memikirkan jika selama ini ia tidak pernah datang bulan. Ia terlalu larut dalam kesedihan karena Andra melupakannya dan ia harus kembali menjalankan peran ganda menjadi ibu sekaligus ayah itu putrinya. Ia tidak berpikir kalau ia akan hamil lagi karena Kehancuran hidup waktu itu.
"Rexha! Astaga, kamu kenapa sih? Kenapa bisa masuk rumah sakit gini?"
Seorang wanita dengan gaya tomboi mendatangi Rexha, wajah wanita itu sangat panik karena mendapatkan kabar jika Rexha pingsan.
"Fik ...." Rexha hanya bisa menangis dipelukan teman sekaligus malaikat penolong yang selama ini membantu Rexha disaat terburuknya itu.
"Dia? Maksud kamu?" Fika belum terlalu mengerti, ia memandang Rexha dengan wajah seriusnya.
Rexha mengigit bibirnya seraya terus menangis, ia mengusap perutnya yang masih nyeri karena baru saja mengalami keguguran.
"Astaga Rexha ...." Fika sampai tidak bisa berkata-kata melihat hal itu, ia hanya bisa memberikan pelukan kepada Rexha, wanita penuh luka yang membuat ia begitu bersimpati dengan wanita ini.
"Aku gagal jaga dia, Fik." Rexha tidak henti menyalahkan dirinya sendiri, benar-benar tidak rela anaknya harus pergi secepat itu.
"Ini bukan salah kamu, tapi ini salah ba ji ngan itu. Dia itu yang paling bersalah dalam hal ini," cetus Fika begitu kesal jika mengingat cerita Rexha yang mengatakan kalau suaminya telah melupakannya dan sibuk memburu mereka karena ingin melenyapkan Rexha.
"Dia itu orang baik, Fik. Dia juga sangat menyayangi Dara, dia sekarang begini karena-"
"Apapun alasannya, dia tetap tidak ada disaat kamu terluka seperti ini 'kan? Percuma baik, Xha, kalau pas dibutuhkan itu nggak ada, lebih baik kamu lupakan pria itu. Jika dia memang mencintaimu, dia tidak akan ingin membunuhmu dan lebih percaya perempuan licik itu!" sergah Fika lagi.
Rexha hanya bisa menunduk, mana mungkin ia bisa melupakan sosok Andra. Pria itu memang yang paling ia cintai, tapi secara bersamaan dia juga paling menyakiti hatinya. Rexha sudah mencoba, tapi nyatanya ia tetap tidak bisa.
__ADS_1
'Apa kamu benar-benar sudah begitu membeciku?"
_______
Hari berganti cepat tanpa bisa dicegah, hari ini Rexha sudah kembali bekerja kembali setelah masa penyembuhan selama 2 Minggu. Sebenarnya ia ingin sekali masuk kerja, tapi Fika melarangnya karena kondisinya yang masih belum membaik sempurna.
Rexha seperti saat mulai bekerja kembali, ia merapikan rambutnya cukup rapi dan menambahkan lipstik warna nude dibibirnya agar tidak terlalu pucat. Ia lalu menggunakan kemejanya dan memakai rok span diatas lutut sebagai seragam kerjanya.
Saat Rexha melihat perutnya yang masih rata, ia mengusapnya perlahan, merasakan hatinya begitu nyeri jika mengingat tentang anaknya yang sudah tiada.
Rexha tidak ingin terlalu lama berlarut-larut dalam kesedihannya, ia segera berangkat bekerja setelah waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Tadi Dara sudah berangkat diantar oleh Fika, jadi ia bisa langsung berangkat ke tempat kerjanya yang cukup jauh dari rumah.
"Rexha, akhirnya balik kerja lagi. Kebetulan banget hari ini ada acara di restoran, nanti tips kita banyak." Ciara langsung menyapa Rexha dengan senyum cerahnya begitu wanita itu datang, terlihat sekali wanita itu sangat bahagia Rexha sudah kembali bekerja
"Wah, acara apa? Acara besar?" Rexha menanggapinya dengan antusias.
Dari semua temannya yang bekerja disana, hanya Ciara yang paling baik padanya. Rexha sangat bersyukur karena dikelilingi orang baik yang mau menerimanya dengan Dara meski tidak semuanya tulus seperti Fika dan Ciara.
"Iya acara besar, kayak penyambutan investor baru di kota ini. Kamu tahu, pengusaha ini adalah pengusaha muda yang sukses, mau bangun taman rekreasi disini," ujar Ciara menjelaskan.
"Pengusaha muda? Keren dong," sahut Rexha dengan senyum tipisnya, ia mulai ikut bergabung dengan yang lainnya menyiapkan makanan yang akan disajikan untuk nanti malam.
Memang restoran tempat Rexha bekerja ini sering sekali menjadi andalan acara besar karena tempatnya yang sangat luas. Pelanggan bisa memilih mau acara didalam ruangan atau diluar ruang yang menyuguhkan pemandangan laut. Di samping restoran itu juga ada sebuah vila yang menambah ramai pengunjung yang datang. Hal itu juga yang membuat Rexha mendapatkan gaji yang lumayan besar.
"Emang keren banget, Xha. Aku udah kepoin di internet biodatanya, ganteng banget," ucap Ciara dengan wajah kagumnya.
Rexha hanya tersenyum tipis, cukup penasaran juga siapa sih tamu besar yang akan disambut besar-besaran seperti itu.
'Pengusaha muda yang ganteng dan sukses, siapa?'
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1