
Denada tampak melangkahkan kakinya dengan kesal saat keluar dari perusahaan Andra. Wanita berpenampilan modis itu baru saja mendapatkan kabar yang sama seperti sebelum-sebelumnya, jika Andra sedang sangat sibuk dan tidak bisa diganggu. Padahal Denada ingin menanyakan lebih lanjut bagaimana rencana pernikahan mereka.
Ya, memang baru rencana pernikahan karena waktu Ayahnya meninggal, Andra menolak untuk menikahinya saat itu juga. Andra hanya berjanji kepada Ayahnya jika akan menikahinya. Tapi sekarang? Pria itu justru hilang entah kemana dan sudah satu Minggu tidak bisa dihubungi.
"Aku harus menemui Mami Elmira." Denada mengangguk saat menemukan ide dikepalanya. Yang bisa menundukkan Andra saat ini hanya maminya saja.
"Ya, aku harus kesana," ucap Denada segera pergi meninggalkan kantor Andra.
_______
"Nada? Tumben dateng nggak ngabarin dulu? Masuk, masuk."
Seperti biasa, Elmira langsung menyambut calon menantunya itu dengan penuh rasa suka cita.
"Aku lagi nggak mood, Mi." Denada langsung saja mengeluarkan segala keluh kesahnya kepada sang calon mertua. Dengan memasang raut wajah sedih serta air mata buaya yang menjadi trademark jika ia sedang merayu wanita tua itu.
"Sabar aja, Sayang. Mungkin Andra emang lagi sibuk, dia juga nggak pulang ke rumah karena kata Tom banyak pekerjaan. Kamu tahu 'kan, Andra sekarang bertanggungjawab penuh atas perusahaan semenjak Papinya meninggal?" ucap Elmira mengelus-elus lembut lengan Denada untuk menenangkan.
"Andra juga nggak pulang ke rumah?" Denada cukup terkejut akan hal itu.
"Iya enggak, dia emang gitu kalau ada pekerjaan penting, nggak pulang-pulang kayak Papinya dulu," jelas Elmira.
"Tapi Mi, Andra juga nggak hubungin aku sama sekali. Padahal dia udah janji sama Papa buat nikahin aku. Andra nggak serius ya Mi sama aku?" kata Denada kembali mengambil hati mertuanya agar segera menikahkan mereka berdua.
"Kenapa kamu ngomong gitu, Sayang? Andra itu udah tunangan kamu, nggak usah takut bakalan ada yang ngambil, hubungan kalian lebih sah," tutur Elmira.
"Belum Mi, hubungan aku sama Andra belum sah kalau kita belum menikah. Mami tahu sendiri 'kan kalau Andra itu masih mencintai wanita masa lalunya, bagaimana kalau dia datang kembali dan merebut Andra dariku? Aku takut Mi ...." Denada menangis dipelukan Elmira.
Jujur saja Denada memang selalu dihantui rasa takut jika sewaktu-waktu wanita masa lalu Andra akan kembali. Karena dulu saat mereka memulai hubungan, Andra sudah mengatakan dengan tegas tidak bisa mencintainya, tapi Denada yang sangat mencintai Andra memaksa pria itu dengan mengatakan kalau ia tidak keberatan jika hanya menjadi pelarian, padahal sebenarnya ia sangat menginginkan Andra mencintainya.
"Kamu tenang Nada, Mami nanti yang akan bicara sama Andra ya, dia pasti nikahin kamu kok," ujar Elmira terus saja membujuk.
__ADS_1
"Bukannya Mami sudah mencobanya? Andra tetap tidak mau 'kan?" Denada menghentikan tangisnya, memandang sendu pada Elmira.
"Kali ini percaya sama Mami, kamu cukup persiapkan saja pesta pernikahan kalian. Nanti Mami yang akan mengurusnya, kamu percaya Mami 'kan?" kata Elmira dengan suara yang begitu tegas.
Denada tidak bisa menyembunyikan senyumnya, ia langsung memeluk Elmira. "
"Terima kasih, Mi. Mami memang selalu bisa diandalkan," ucap Denada.
"Sama-sama Sayang, Mami juga sudah nggak sabar punya menantu seperti kamu," kata Elmira mencubit dagu Denada karena sangking senangnya dengan wanita itu.
Denada hanya tersenyum simpul, tapi lirikan matanya terlihat sangat sinis. Dalam hati tak henti tertawa karena berhasil mengelabuhi Elmira dengan sikap polosnya.
'Andra, sebentar lagi kamu akan menjadi milikku.'
______
Rexha merasa tidurnya sangat nyenyak sekali hingga ia bangun cukup siang. Tapi ia tidak terburu-buru karena hari ini masih masa libur. Rencananya nanti ia akan mengantarkan Dara kontrol ke Dokter, jadi Rexha masih mengambil cuti bekerja.
Rexha keluar kamarnya seraya menggeliat untuk merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Tapi ia justru kaget melihat Andra yang ada didepannya.
"Kamu? Kenapa ada disini?" bentak Rexha masih dengan sikapnya yang menutupi tubuh bagian atasnya meski itu tidak berguna.
"Memangnya kenapa?" Andra mengernyit heran, ia malah menyoroti tubuh Rexha dengan pandangan bisa saja. "Aku juga sudah melihatnya 'kan?" ucap Andra begitu santai.
"Kamu memang mesum!" teriak Rexha kembali masuk kedalam kamarnya karena rasa malu yang luar biasa, ia benar-benar lupa jika ada Andra disana.
"Oh shittttt, dia itu kenapa tiba-tiba ada didepanku?" gumam Rexha memukul kepalanya sendiri karena lupa jika ada Andra disana.
Andra hanya tertawa melihat sikap Rexha yang masih malu-malu seperti itu. Padahal mereka sudah melihat luar dalam, bahkan sampai memiliki anak.
Andra melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk membuat kopi karena masih mengantuk. Semalam tidak bisa tidur karena ia merasa kurang nyaman berada di sofa. Tapi tidak masalah, menahan sakit pinggang demi bersama anak dan wanita yang dicintainya rasanya sepadan saja.
__ADS_1
Begitu sampai dapur, Andra langsung merebus air untuk membuat kopi. Akan tetapi bel Apartemen berbunyi membuat ia mengurungkan niatnya untuk membuat kopi.
"Siapa yang datang se pagi ini?" Andra mengernyitkan dahinya heran, berjalan pelan untuk membuka pintu.
Namun, Rexha sudah lebih dulu berteriak seraya keluar dari kamarnya.
"Biar aku saja." Rexha terburu-buru pergi, ia harus memastikan siapa yang datang, apakah aman atau tidak karena saat ini ada Andra yang ada dirumahnya.
Andra mengangkat alisnya, ia mengikuti Rexha dari belakang, penasaran dengan tamu yang menurutnya sangat menganggu itu.
Rexha membuka pintu apartemennya sedikit, melihat siapa yang datang.
"Nick?" Rexha berseru kaget melihat sosok pria yang berdiri didepannya.
"Hai, selamat pagi. Aku membawakan bahan belanjaan," ucap pria yang bernama Nick menunjukkan kantong plastik yang dibawanya. "Boleh aku masuk?" tanyanya kemudian.
Andra yang merasa penasaran, mencoba mengintip, tapi dengan cepat Rexha mendorongnya menjauh.
"Siapa? Aku mau lihat," kata Andra kembali ingin keluar.
"Bisa diem nggak!" seru Rexha dengan suara tertahan.
"Rexha, ada apa?" Nick pun bingung melihat sikap Rexha itu, ia ingin masuk tapi dengan cepat Rexha menutupi jalannya.
"Hahahaha, tidak apa-apa Nick. Aku belum beres-beres, lain kali aja ya kamu mampir." Rexha meringis untuk menutupi wajahnya yang gugup itu.
"Oh, ini belanjaan buat aku? Makasih, aku ambil, makasih Nick, aku masuk ya," ucap Rexha tersenyum aneh sembari menutup pintunya dengan cepat membuat Nick terheran-heran.
Rexha bernafas lega akhirnya Nick tidak jadi masuk, jika Nick sampai tahu ada pria yang tinggal di rumahnya, bisa jadi masalah nanti. Pria itu pasti akan kecewa karena selama ini Rexha tahu Nick menyimpan perasaan padanya.
"Siapa pria itu?"
__ADS_1
Happy Reading.
TBC.