
Manusia memang mahluk yang sangat tidak tahu diri. Aku berbicara padamu baik-baik, tapi sepertinya kamu tidak bisa diajak untuk berbaikan, baiklah, jika kamu bisa berbuat jahat, kenapa aku tidak?"
Setelah mengatakan itu, Andra langsung menendang punggung Tom hingga tersungkur ke depan. Lalu ia menjambak rambutnya dan memukul kepalanya dengan keras hingga kepala Tom sangat pusing.
"Bededah sialan!" umpat Andra benar-benar sangat marah, tapi ia tidak mau mengotori tangannya lagi.
"Han, bereskan pria ini," titah Andra dengan raut wajah muak.
Percayalah marahnya orang sabar akan lebih menyeramkan dari orang yang kasar. Andra yang bisanya terlihat tenang, sudah tidak bisa mengontrol dirinya. Ia merasa tidak pernah mengusik hidup siapapun, tapi kenapa orang-orang itu begitu jahat padanya?
Han sendiri langsung sigap, ia dan anak buah lain meringkus Tom dengan mengikat tangannya dengan kuat agar tidak terlepas.
"Lepaskan aku!" teriak Tom berontak.
"Melepaskanmu? Apa kamu pikir perbuatanmu itu bisa dimaafkan? Tidak! Kamu bertingkah layaknya pria yang menjadi malaikat penolong untuk istri dan anakku, tapi ternyata kamu adalah iblis yang berbentuk manusia!" hardik Andra.
Tom semakin takut, ia langsung menjatuhkan dirinya ke lantai dan memohon kepada Andra.
"Maafkan saya, maafkan saya, Tuan Andra. Saya hanya melakukan perintah dari Nyonya Denada," ujar Tom membela dirinya.
"Begitukah? Tapi yang aku lihat kamu justru menginginkan istriku?" kata Andra tersenyum sangat sinis.
"Tidak, Tuan. Itu semua bohong, saya benar-benar hanya ingin menjalankan tugas dari Nyonya Denada karena bayarannya mahal, selebihnya tidak melakukan apapun," ucap Tom berusaha meyakinkan Andra.
__ADS_1
"Kamu pikir aku percaya? Orang yang pernah berbohong, pasti akan berbohong dikemudian hari. Dan akan terjadi lagi dan lagi untuk hari-hari berikutnya. Sudahlah, aku sudah muak. Han, bawa pria itu ke ruangan bawah tanah, aku rasa dia akan cocok berada disana," titah Andra tidak mau mendengarkan apapun lagi.
"Baik, Tuan." Han bergegas meringkus Tom kembali untuk diajak pergi.
Tom menggelengkan kepalanya, ia kembali berontak sekuat tenaga.
"Ampuni saya, ampuni saya, Tuan. Saya benar-benar menyesal telah melakukan itu, maafkan saya," ucap Tom memohon dengan sangat.
"Han, segera bawa dia pergi. Pastikan juga hari terakhir kalinya dia bisa melihat matahari," kata Andra memilih duduk di kursi besarnya seraya menikmati ekspresi ketakutan Tom.
"Baik, Tuan. Ayo pergi, jangan membuat kami semakin menyiksamu," ujar Han menarik kerah baju Tom dan segera menyeretnya keluar.
"Tolong, jangan lakukan apapun, saya bersedia melakukan apapun. Tapi jangan menghukumku, saya minta maaf, Tuan Andra! Saya akan melakukan apa yang kamu perintahkan, jika perlu saya akan meninggalkan tempat ini. Bahkan bayanganku saja tidak akan kalian temukan."
"Pria bodoh! Apa yang sedang kamu lakukan? Ayo pergi!" hardik Han, kali ini meminta anak buah lainnya untuk meringkus Tom.
"Jangan, jangan, saya benar-benar minta maaf, Tuan Andra. Tolong ampuni saya, saya murni hanya menjalankan tugas, maafkan saya, Tuan." Tom kembali memohon, kali ini ia sampai menangis karena begitu takut akan disiksa.
"Kamu ingin aku maafkan?" tanya Andra menyatukan kedua tangannya didepan wajah sebagai tanda pria itu tengah berpikir.
"Iya, Tuan. Saya minta maaf, saya benar-benar menyesal," ucap Tom dengan sangat yakin.
Andra mengangguk, ia lalu membuka laci dan mengambil satu wadah obat. Ia melemparkannya kepada Tom.
__ADS_1
"Apa ini, Tuan?" tanya Tom kaget.
"Obat itu bisa membuat orang gila dan melupakan semua hal dalam jangka waktu lama. Aku ingin kamu memberikannya pada, Denada. Sekarang, dia sedang dirawat di rumah sakit jiwa kota," titah Andra masih melekat dengan aura dinginnya.
Tom menelan ludahnya kasar, perbuatan itu jelas-jelas kriminal dan ilegal. Bagaimana Andra bisa memintanya melakukan itu?
Andra tersenyum sinis. "Aku yakin kamu lebih pintar dari pemikiranku. Aku sengaja membuatnya tetap dalam kondisi gila, karena pepatah mengatakan tangan dibalas tangan dan nyawa dibalas nyawa. Sekarang aku sedang melakukannya pada dia, apa kamu juga ingin mendapatkan balasannya juga?" ucap Andra berbalut ancaman tipis.
"Bukan begitu, Tuan. Saya hanya bingung, bagaimana caranya saya memberikan obat ini kepada Nyonya Denada?" tanya Tom mencari-cari alasan.
"Semua sudah aku atur. Tugasmu cukup satu, berikan obat ini 3 dosis setiap hari dan pastikan kalau dia akan benar-benar gila," kata Andra dengan segala emosinya, senyuman sinis itu mengembang sempurna.
Jika kita bisa balas dendam dengan cara mudah? Kenapa harus dibuat sulit. Andra sengaja menyuruh Tom melakukannya untuk memberikan pelajaran kepada Denada tanpa harus mengotori tangannya sendiri. Ia juga bisa membuat Tom menderita karena sekarang punya beban yang harus ditanggung.
'Ibaratnya sekali dayung, dua, tiga pulau terlampaui.'
Happy Reading.
TBC.
Salam penulis Virzha. Jangan lupa mampir ke karya yang ada di banner 😍
__ADS_1