
Rexha hanya bisa kembali ke rumah sakit dengan segala luka hatinya. Fisiknya lelah, hatinya kini bertambah lelah. Kenapa Tuhan seolah tidak mengizinkannya untuk bahagia dengan waktu yang lama. Apakah hidupnya ini hanya diciptakan untuk kesedihan saja?
Raya benar-benar tidak sanggup lagi rasanya, kaki tidak mampu lagi menopang tubuh kecilnya yang rapuh sehingga tubuhnya langsung luruh ke lantai dan menangis sejadi-jadinya disana. Semua hal yang terjadi dalam hidupnya ini terlalu menyakitkan, Rexha benar-benar tidak sanggup lagi untuk bertahan lebih lama.
"ARRGHHHHHHHH!" Rexha berteriak sekeras-kerasnya, seolah ingin memberitahu kepada dunia bagaimana sakitnya hatinya saat ini.
Namun, apakah itu berguna? Sama sekali tidak, ia yang terlalu lemah tidak bisa berbuat apapun selain menangis.
"Nona Rexha?"
Mendengar suara orang yang memanggilnya, membuat Rexha mengangkat wajahnya, ia mengusap air matanya pelan, baru melihat sosok pria yang berdiri menjulang didepannya itu.
"Siapa?" Rexha bertanya bingung, merasa tidak pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya.
"Saya Tom, Nona. Mantan asisten Tuan Andra," sahut Tom menjelaskan jati dirinya.
"Tom?" Rexha semakin bingung, kenapa asisten Andra tiba-tiba menemui dirinya?
"Ya benar, saya baru saja mendapatkan telepon dari Nyonya Aleen, beliau mengatakan pada saya jika Anda dan Nona kecil harus secepatnya pergi meninggalkan kota kita karena Nona Denada ingin mengambil putri Anda, Nona." Tom menjelaskan dengan wajahnya yang begitu panik, terlihat sekali pria itu sedang begitu takut.
"Apa?" Rexha begitu kaget mendengar kabar itu.
"Iya Nona, sebaiknya kita secepatnya pergi sekarang sebelum Nona Denada datang, saya akan membantu Anda, jangan biarkan Nona kecil ikut terkena imbasnya nanti," ujar Tom lagi.
Rexha mengangguk cepat-cepat, baginya tidak ada yang lebih penting dari putrinya. Apapun yang terjadi ia harus menyelamatkan putrinya itu agar tidak ikut terkena imbas dari kelicikan Denada.
"Tom, kita akan pergi kemana? Aku akan menghubungi Kak Aleen sebentar," kata Rexha sebelum benar-benar pergi, ia harus memberikan kabar pada wanita itu agar tidak khawatir.
__ADS_1
"Tidak perlu Nona, semuanya sudah diserahkan kepada saya. Sekarang ayo bawa Nona kecil pergi," ucap Tom mencegah saat Rexha akan menghubungi Aleen
"Eh, tapi-"
"Waktu kita tidak banyak Nona, kita harus pergi sekarang."
Rexha mengigit bibirnya, perasannya benar-benar campur aduk. Tapi ia takut jika Denada akan mencelakai putrinya nanti. Mungkin saat ini ia akan kembali mengulangi kesakitan seperti lima tahun lalu. Dimana Andra pergi meninggalkannya, kini pria itu justru melupakannya.
'Aku pergi, Ndra. Jika kamu memang mencintaiku, kamu pasti bisa menemukanku dan putriku.'
________
"Jadi wanita itu benar-benar sudah meninggalkan kota ini? Bagus sekali, bila perlu jangan sampai wanita itu kembali dan bertemu Andra."
Denada tersenyum puas setelah mendapatkan kabar dari anak buahnya jika Rexha akhirnya pergi meninggalkan kota itu. Sekarang jalannya semakin terbuka lebar untuk memiliki Andra seutuhnya.
Denada lalu segera mematikan ponselnya, ia menemui Andra yang saat ini sedang terdiam dipinggir balkon kamar. Denada tersenyum manis, ia memeluk pria itu dari belakang seraya menyandarkan kepalanya.
"Nada?" Andra sedikit kaget, ia melepaskan pelukan itu lalu menuntun Denada agar berdiri di sampingnya.
"Hm, kenapa masih disini? Ini sudah malam, ayo tidur," kata Denada dengan suara manjanya.
"Kamu tidur aja dulu, aku masih ingin disini," sahut Andra.
"Kenapa? Masih kepikiran masalah tadi siang? Kamu masih belum percaya sama aku?" ujar Denada menebak apa yang membuat hati Andra begitu gusar.
"Entahlah, semuanya masih sangat asing sekali bagiku. Termasuk dirimu sendiri, aku sama sekali tidak ingat aku pernah menikah. Apa sebelum kecelakaan kita sudah benar-benar menikah?" Andra memandang Denada begitu ragu, ia merasa tidak ada getaran apapun saat ia bersama Denada.
__ADS_1
'Tapi kenapa wanita tadi begitu mengusik diriku? Sorot matanya ....'
"Kamu meragukan aku? Aku sudah menunjukkan foto saat kita bulan madu di Amerika. Kejadian itu sebelum kamu kecelakaan Andra, kenapa kamu bisa melupakannya? Aku sangat sedih jika kamu seperti ini," kata Denada menangkup pipi Andra dengan kedua tangannya.
"Percaya sama aku Andra, sebelumnya kita memang sudah menikah. Bahkan hampir saja memiliki anak, tapi karena wanita itu ...." Denada tidak melanjutkan ucapannya, ia justru menangis dan menjatuhkan kepalanya di dada Andra.
"Maafkan aku, aku janji tidak akan mengungkit masalah itu lagi. Aku percaya padamu, maaf ya," ucap Andra mengelus lembut punggung Denada, menenangkan
wanita yang menangis terisak-isak itu.
Denada mengangguk pelan, ia kemudian mendongak dan menatap Andra sendu. Terlihat sekali dari sorot matanya memanggil Andra untuk melakukan hal lebih.
Andra tersenyum tipis, ia mendekatkan wajahnya lalu mencium kening Denada cukup lama.
"Kamu tidur dulu ya, aku ada pekerjaan," ucap Andra sebelum pria itu beranjak meninggalkan Denada.
Denada berdiri mematung, ia memegangi dahinya lalu mengepalkan tangannya erat. Ia melihat punggung Andra yang kini berjalan menjauhi dirinya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Sial! Bahkan sekarang pun kamu masih menolakku, Ndra? Tidak akan aku biarkan!"
Denada berdecak penuh emosi, ia harus melakukan sesuatu agar Andra mau melakukan hal lebih padanya. Apa gunanya ia repot-repot menghapus memori ingatan Andra jika pria itu tetap menolak dirinya.
'Tunggu saja tanggal mainnya.'
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1