After 5 Years Apart

After 5 Years Apart
A5YA 19. Buat Aku Yakin, Ndra.


__ADS_3

"Astaga!" Rexha begitu kaget melihat wajah serius Andra yang langsung menyapa dirinya. Ia menghembuskan nafas kasar lalu mendorong pria itu menjauh.


"Bukan urusanmu," ketus Rexha, ia berlalu pergi begitu saja tanpa menunggu Andra.


"Bukan urusanku? Jelas itu urusanku, dia seorang pria." Andra mengomel kesal, ia mengikuti Rexha dengan langkah cepat.


"Lalu? Apa masalahnya kalau dia pria? Dia baik kok, selalu ngasih aku sayuran selama ini," sahut Rexha begitu santai, ia menata sayur-sayur yang diberikan Nick tadi didalam kulkas.


"Hanya karena dia memberimu sayuran kamu mengizinkan dia masuk kesini? Apa yang kamu pikirkan sebenarnya, Rexha? Dia bisa saja berbuat jahat pada Dara." Andra semakin tidak terima, mencari alasan untuk membuat Rexha ini mengerti, padahal hatinya sangat panas sekali sekarang.


"Astaga Andra, aku mengenalnya lebih lama daripada mengenalku. Kamu terlalu berlebihan," ucap Rexha memutar bola matanya malas.


"Aku berlebihan karena mencintaimu, Xha!" seru Andra menatap Rexha sangat tajam.


Rexha mengulum bibirnya, ia berpura-pura sibuk dengan sayur-sayuran yang akan dimasaknya itu. Padahal bibirnya sudah berkedut ingin tersenyum mendengar Andra begitu berapi-api.


"Mulai besok, jangan coba-coba menemuinya lagi. Kalau kamu menemuinya, aku akan mengajak kalian pindah," kata Andra dengan wajahnya yang serius, ia juga berjalan mendekati Rexha agar wanita itu mau mendengarkan apa yang dikatakannya.


"Apa sih, baru juga kamu hadir dalam hidupku, kenapa mengatur?" timpal Rexha memasang wajahnya yang malas.


"Aku baru hadir dalam hidupmu, tapi aku yang selalu ada dalam hatimu 'kan?" Andra tiba-tiba saja menarik tangan Rexha hingga keduanya berhadapan. Posisinya sangat dekat sekali hingga baju mereka bersentuhan.


"Aku males bahas hal kayak gini." Rexha memilih menghindar, ia menunduk menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah memerah karena gombalan Andra.


'Sialan, kenapa sih dia harus membuatku gugup meksipun hanya diam saja?'


"Bener 'kan yang aku bilang? Hati kamu masih menginginkan aku, 'kan?" ujar Andra dengan senyum simpulnya.


"Enggak, itu hanya pemikiranmu," elak Rexha tetap membuang mukanya.


"Lihat aku."


Andra tersenyum, ia memegang dagu Rexha tapi wanita itu menolak dan tetap membuang muka. Andra mengulanginya lagi dengan kekuatan sedikit bertenaga hingga Rexha mau menatapnya.

__ADS_1


"Jawab aku dengan jujur, kamu masih menginginkan aku 'kan?" Andra bertanya lirih.


"Aku menginginkanmu, tapi aku juga ehhmmppppttttt--"


Andra langsung membungkam bibir kecil Rexha dengan ciumannya sebelum wanita itu menyelesaikan ucapannya. Mendengar jika Rexha masih menginginkannya, membuat ia seperti mendapatkan angin segar. Artinya jalannya masih terbuka lebar.


Rexha ingin menolak, tapi tubuhnya selalu mengkhianatinya dengan responnya yang juga pasrah saat Andra menciumnya. Ia bahkan mulai terhanyut dan hampir saja terlena, tapi ia dengan cepat sadar dan melepaskan dirinya.



"Andra, jangan seperti ini," lirih Rexha dengan nafas yang terengah-engah.


"Aku minta maaf, aku nggak bisa nahan diri aku," ucap Andra segera memeluk Rexha kedalam dekapannya.


"Kamu kayak ngehargain aku Ndra kalau kayak gini," kata Rexha tidak menolak pelukan itu, tapi ia menangis lirih.


"Aku takut banget Xha. Aku sangat mencintaimu, aku ingin hubungan kita jelas. Aku takut kehilangan kamu lagi," sahut Andra semakin mengeratkan pelukannya.


Sejak pertemuannya dengan Denada beberapa waktu lalu, rasa takut dalam diri Andra semakin menjadi-jadi. Bayangan akan perpisahan dengan Rexha dan putrinya, membuat Andra bersikap sangat egois. Ia ingin sekali mengikat Rexha agar wanita itu tidak akan pergi kemanapun. Sungguh Andra sangat takut jika Rexha akan pergi meninggalkannya lagi seperti dulu.


"Yakinin aku Ndra, aku butuh sesuatu yang bisa membuat aku percaya lagi sama kamu. Apa kamu bisa melakukannya?" ucap Rexha balas memandang Andra sendu.


Rasanya sangat sulit sekali menerima Andra karena rasa kecewa yang mendalam. Ia tahu Andra sangat mencintainya, tapi Andra tidak bisa menjadikan ia dan Dara sebagai prioritasnya. Meski terkesan Rexha menekan Andra, tapi ia juga butuh pengakuan, bukan sekedar hubungan dengan embel-embel kata cinta.


"Aku pasti akan melakukannya. Sampai saat itu tiba, tolong jangan berhenti mencintaiku, Xha. Aku sangat mencintaimu," kata Andra menggenggam tangan Rexha begitu erat, tersirat nada penuh harap dalam ucapan pria bertubuh jangkung itu.


"Tanpa kamu meminta, aku tidak akan berhenti mencintaimu, Andra. Kamu yang lebih tahu perasaanku," ucap Rexha yang langsung mendapatkan pelukan hangat dari Andra.


Rexha balas memeluknya, ia juga nyaman dengan kasih sayang dan kedekatan ini. Tapi ia harus berhati-hati agar tidak terlena dan membuat kesalahan yang sama.


"Ehm, aku rasa Dara sebentar lagi bangun," kata Rexha mengurai pelukannya.


Andra melirik kamar putrinya, ia kemudian mengangguk pelan. "Aku akan memasak, kamu siap-siap aja. Hari ini aku yang akan nganter ke Dokter," kata Andra.

__ADS_1


"Kamu nggak ke kantor?" Rexha bertanya seraya mengernyitkan dahinya.


"Nanti agak siang nggak apa-apa. Aku 'kan bosnya, jadi bebas mau masuk kapan aja. Yang penting kalian dulu," sahut Andra dengan gayanya yang sombong.


"Mana boleh seperti itu? Bos itu harusnya ngasih contoh yang baik dong ke karyawannya," gerutu Rexha.


"Hahaha, iya iya Nyonya Andra. Sudah siap-siap sana. Biar aku yang melayani dua tuan putri," ucap Andra mengerlingkan sebelah matanya menggoda.


"Basi banget sih."


Rexha berlaku seraya mengulas senyum tipis dibibirnya. Siapa sih yang tidak meleleh jika diperlakukan semanis itu oleh pria se keren Andra? Lama-lama temboknya pasti akan jebol juga 'kan?


_______


Suara hak tinggi yang mengetuk-ngetuk lantai terdengar sangat jelas. Denada pagi-pagi sekali sudah datang ke Apartemen Andra karena ingin menemui pria itu. Kesabarannya sudah mulai habis karena Andra masih tidak mau menemuinya, sedangkan ia sedang disibukkan dengan persiapan pesta pernikahan.


Mulut Denada sudah gatal ingin sekali mengomeli Andra. Tapi ketika di Apartemen, ia justru dikejutkan dengan pria yang sama sekali tidak dikenalnya.


"Siapa kamu? Dimana Andra?" Denada bertanya bingung, ia jelas tidak salah alamat karena dulu ia juga sering datang kesana.


"Andra siapa? Disini nggak ada yang namanya Andra." Pria itu menyahut dengan ketus.


"Eh, ini Apartemen Andra. Kenapa kamu ada disini?" bentak Denada, kesal tentunya karena tidak mendapatkan apa yang ia mau.


"Hei Nona, apa kau ini tidak mengerti perkataan manusia? Disini tidak ada yang namanya Andra, aku yang tinggal di Apartemen ini sejak seminggu yang lalu," sahut Pria itu lalu menutup pintunya dengan kasar.


BRAKKK!!


"Oh shittttt!" Denada mengumpat marah, ia tidak percaya jika Andra benar-benar menghilang begitu saja. Ia yakin ada yang tidak beres.


"Apalah mungkin?" Denada membulatkan matanya saat terpikir oleh kemungkinan yang bisa terjadi.


"Andra, awas saja sampai kau mengkhianatiku," geram Denada meninggalkan Apartemen Andra dengan emosi yang sudah siap itu meledak kapan saja.

__ADS_1


Happy Reading.


TBC.


__ADS_2