
Andra menggandeng tangan Rexha untuk masuk kedalam rumahnya. Tapi ia tidak langsung masuk, ia mengetuk pintu terlebih dulu karena hari ini ia datang bersama wanita yang dicintai dan juga putrinya. Beberapa kali Andra merasakan Rexha menggenggam tangannya sangat kuat, ia tahu kalau wanita itu sedang gugup.
"Nggak apa-apa, semua pasti baik-baik saja," bisik Andra mengusap-usap punggung Rexha untuk menenangkan wanita itu.
Rexha hanya tersenyum tipis, kali ini ia benar-benar sangat gugup sekali. Ia selalu membayangkan bagaimana respon ibunya Andra nanti. Teringat pertemuan terakhir kali mereka wanita itu menatapnya sangat sinis.
"Ya, tunggu sebentar."
Terdengar sahutan dari dalam membuat Rexha semakin gugup. Beberapa saat kemudian, pintu rumah itu terbuka menampakkan sosok wanita yang membuat Andra dan Rexha terkejut.
"Andra! Akhirnya kamu pulang juga, aku kangen." Denada langsung melompat ke pelukan Andra begitu melihat sosok pria itu.
Melihat apa yang terjadi, genggaman Rexha sontak ingin terlepas, tapi dengan cepat Andra menggenggamnya sangat kuat.
"Kamu kemana aja sih? Aku cari kemana-mana nggak ketemu. Aku senang kamu pulang," ucap Denada tidak terlalu memperhatikan wanita yang di samping Andra karena terlampau senang.
Denada bahagia sekalian karena Andra mau pulang. Beberapa kali Denada mencoba menghubungi Andra dan mencaritahu tentang keberadaan pria itu, tapi Denada belum menemukan hasil yang memuaskan. Sekarang justru pria itu yang datang tanpa diminta.
"Jaga sikapmu, Nada," sergah Andra dengan suara tegasnya, ia segera menjauhkan wanita itu darinya.
Denada ingin bicara, akan tetapi ia baru sadar jika ada wanita lain yang datang bersama calon suaminya itu. Baru saja Denada ingin bertanya, tapi suara Elmira lebih dulu terdengar.
"Andra? Kenapa nggak langsung masuk? Ditungguin akhirnya pulang juga, ayo coba baju pernikahan kamu. Nikah tinggal hitungan jari, kamu nggak pulang-pulang," celetuk Elmira juga belum sadar jika disana ada Rexha.
"Pernikahan?" Rexha begitu kaget, tubuhnya seperti disiram air dingin yang membuat seluruh tubuhnya mengigil.
"Kamu?" Elmira tak kalah kagetnya begitu melihat wanita yang pernah ia temui setelah acara wisuda SMA putranya lima tahun lalu.
__ADS_1
"Kenapa kamu datang kesini? Kamu sudah lupa sama janji yang kamu buat?" bentak Elmira tiba-tiba begitu emosional.
"Mami, jangan katakan itu pada calon istriku. Aku datang itu meminta restu Mami, kami akan segera menikah," ucap Andra langsung saja melindungi Rexha, ia tidak suka dengan cara Ibunya menatap Rexha.
"Menikah?" Denada berseru kaget. "Kamu ini apa-apaan Andra! Kamu udah janji sama Papa aku kalau bakalan nikahin aku. Kenapa kamu malah ingin menikahi wanita antah berantah ini?" tukas Denada geram tentunya, pria yang sudah diimpikannya ini justru mengatakan akan menikah dengan wanita lain disaat semua undangan sudah tersebar.
Rexha langsung melepaskan pegangan tangannya begitu mendengar ucapan Denada. Air matanya justru sudah mengalir tanpa bisa dicegah. Rexha ingin sekali tertawa, menertawakan kebodohannya sendiri.
"Kalian akan menikah ya? Kenapa nggak bilang sih, Ndra? Aku ucapkan selamat untuk kalian," kata Rexha melirik Andra begitu sinis, sesaat ia melihat putrinya yang kebingungan, hal itu membuat hatinya semakin sakit, bahkan lebih sakit dari mendengar kenyataan jika Andra akan segera menikah.
"Enggak, menikah apa? Aku nggak tahu sama sekali apa maksudnya ini. Mami, jelaskan apa ini? Sejak kapan aku akan menikahi Denada?" Andra membentak tertahan, sama sekali tidak menyangka jika kedatangannya dengan Rexha justru mendapatkan kejutan seperti ini.
"Bukannya kalian memang sudah berencana akan menikah? Kalian itu sudah tunangan. Apa gara-gara wanita ini kamu jadi melupakan semuanya Andra?" tuding Elmira yang memang sejak dulu tidak menyukai Rexha langsung saja menyalahkan wanita itu.
"Ini sama sekali nggak ada hubungannya sama Rexha. Aku dan Denada memang tidak pernah berencana akan menikah. Rexha, jangan percaya mereka. Aku tidak pernah ingin menikah dengan siapapun kecuali sama kamu," kata Andra mencoba menyakinkan Rexha dengan menggenggam tangan wanita itu.
"Sudahlah Andra, untuk apa juga kamu membawa wanita ini kesini? Apa memang wanita ini begitu tidak tahu diri sampai berani datang kesini?" cetus Elmira melirik sinis pada Rexha.
"Cukup Mi, semuanya udah cukup! Berhenti menghina Rexha seperti itu. Jika Mami menyalahkan dia karena aku mencintainya, itu salah besar, Mi. Jika Mami berpikir dia yang menggodaku untuk selalu bersamanya, itu juga bukan sebuah kebenaran. Aku Mi, aku yang mencintai dia, aku juga yang datang padanya untuk mau berhubungan denganku. Dan aku juga yang memintanya untuk tetap tinggal bersamaku. Apa Mami dengar itu?" Andra membentak dengan suara yang cukup keras, untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia membentak wanita yang sangat dihormatinya itu.
Bukannya mengerti, Elmira jutsru semakin sebal. Ia yakin kalau Rexha memang sudah menggoda putranya dan entah apa yang wanita itu lakukan sampai Andra berani membantah dirinya. Elmira langsung mendatangi Rexha dan memegang lengan kedua wanita itu.
"Sekarang kamu lihat Rexha? Anak saya sampai membentak saya seperti ini gara-gara wanita seperti dirimu," ucap Elmira mengembuskan napas kasar. "Tolonglah, saya tidak mau berbicara kasar sama kamu. Tapi saya mohon sangat padamu, tolong jangan menjadi wanita yang egois dan mementingkan kebahagiaanmu sendiri. Andra itu sudah ingin menikah dan undangan pernikahan mereka sudah disebar. Apa kamu mah menjadi penghancur kebahagiaan wanita lain hanya demi keegoisanmu itu?"
"Berhenti bicara omong kosong, Mi. Aku tidak akan pernah menikahi Denada!" teriak Andra langsung menjauhkan Ibunya dari Rexha, wajahnya memerah padam karena amarahnya.
"Kamu ini, sekolah tinggi-tinggi malah kurang ajar sama orang tua. Mami yakin, pasti dia yang ngajarin kamu kayak ini, memang dasarnya anak berandalan," cetus Elmira begitu pedasnya.
__ADS_1
Rexha mengepalkan tangannya, siapa yang tidak sakit hati diperlakukan seperti itu? Kata-kata Elmira memang sangat lembut, tapi menusuk sampai membuat hati Rexha begitu remuk. Rexha segera mengusap air matanya dengan kasar lalu menggandeng tangan Dara.
"Aku akan pergi, terima kasih atas sambutannya-"
"Rexha, kamu tidak akan kemanapun. Semua ini nggak bener, aku bisa jelasin." Andra segera menahan tangan Rexha tapi langsung ditepis oleh wanita itu.
"Aku doakan yang terbaik untuk pernikahan kalian. Jangan memikirkan aku dan putriku, anggap saja kita tidak pernah saling bertemu. Terima kasih atas harapannya, aku udah benar-benar kecewa sama kamu, Andra," ucap Rexha menangis terisak, tapi ia tetap mencoba untuk terus berbicara, ia menarik tangannya dengan kasar dan segera membawa Dara pergi.
Pada saat itulah Elmira yang sejak tadi tidak terlalu memperhatikan melihat sosok Dara. Untuk sepersekian detik Elmira begitu syok, ia mengedipkan matanya berkali-kali begitu melihat wajah Dara yang sangat mirip dengan putranya.
"Anak itu ...."
"Ibu, kita akan ke mana?" Dara yang sejak tadi bungkam langsung bertanya.
"Mencari tempat yang bisa menerima kita, Sayang. Dara, pulang ya," sahut Rexha mencoba tersenyum meski hatinya hancur.
"Rexha, jangan pergi Rexha. Kamu salah paham, aku bisa jelasin," ucap Andra segera menyusulnya.
"Andra, kamu akan ke mana? Jangan pergi." Denada juga tidak mau kalah, ia langsung menarik tangan Andra.
"Lepaskan aku, Nada!" bentak Andra menarik tangannya dengan kasar.
"Enggak, kamu nggak boleh pergi. Apa sih yang kamu kejar dari wanita itu? Aku punya segalanya Ndra, berhenti mencintai dia!" teriak Denada mulai muak terus disepelekan.
"Jangan harap hal itu akan terjadi, Nada! Sampai kapanpun hatiku tidak akan berubah. Dan aku tegaskan padamu, aku tidak akan menikahmu baik dalam mimpi dan kenyataan. Jangan coba-coba melewati batasmu, Nada!" Andra balas berteriak dengan suara yang sangat keras sampai Denada tersentak kaget. Ia juga langsung pergi menyusul Rexha untuk menjelaskan segalanya.
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.