After 5 Years Apart

After 5 Years Apart
A5YA 55. Sampai Kapan Ingin Berpura-pura?


__ADS_3

Tom tak henti mengumpat kata-kata kasar saat mengetahui jika Rexha sudah pergi dengan membawa putrinya. Yang lebih membuat Tom marah adalah, ia mendapatkan kabar jika Denada yang telah lancang menculik mereka berdua.


"Wanita itu memang tidak bisa dipercaya, jika dia sampai membuat Rexha dan Dara terluka, aku pasti akan melenyapkannya," sergah Tom dengan emosi yang meluap-luap.


Tom langsung menghubungi Denada untuk menanyakan kabar tentang mereka. Tapi sampai panggilan yang ke sekian kali sama sekali tidak digubris, membuat kemarahan Tom meningkat.


"Aku harus menemui wanita licik itu," kata Tom, bertekad untuk menemui Denada tidak peduli dengan perjanjian yang telah mereka buat. Jika Denada bisa mengingkarinya, kenapa ia tidak?


______


Suara cekikikan tawa seorang wanita dan pria saling terdengar. Beberapa kali sang pria tampak menggoda dan sang wanita tertawa begitu senang. Beberapa kali juga terdengar seperti rintihan sang wanita tatkala sang pria memberikan kecupan-kecupan manja pada sang wanita.


Mereka terus melempar godaan sampai tubuhnya menabrak benda-benda yang ada tidak dihiraukan.


"Calvin ahhh ... Jangan membuatnya disini, kita ke kamar saja." Wanita itu mende sah pelan, suaranya dibuat semanja mungkin bermaksud untuk menggoda.


"Disini saja babe, ini hanya tentang kita berdua." Sang pria sepertinya sudah begitu tidak tahan, ia mendorong sang wanita hingga terjatuh disofa panjang yang ada didalam ruangan itu.


"Hahaha, selalu tidak sabar. Malam ini, sesuai keinginanmu, babe ...." Sang wanita sudah pasrah saja, membiarkan tubuhnya dicium mesra oleh sang pria, ia begitu terhanyut.


Namun, beberapa saat kemudian terdengar suara tepuk tangan yang menggema dan mengejutkan mereka berdua. Belum hilang rasa terkejutnya, lampu ruangan yang semula padam menyala hingga semuanya tampak sangat jelas.


Denada membesarkan matanya kaget, ia langsung mendorong tubuh pria yang ada diatasnya saat melihat sosok Andra berdiri dengan raut wajah dingin.


"Andra!" Denada begitu panik, ia terus mendorong pria yang bersamanya dan membenarkan bajunya yang sudah sangat berantakan.


Denada tentu kaget, ia pikir Andra akan pulang beberapa hari lagi. Bukankah itu laporan yang diberikan Han padanya?


"Babe, kenapa kau mendorongku?" sang pria yang bersama Denada tampak tak suka, ia belum puas bermain-main.


"Diam dan pergilah, ini bayaranmu," tukas Denada langsung memberikan segepok uang yang diambil dari dalam tasnya untuk pria itu.

__ADS_1


Pria bayaran yang biasa disewa oleh Denada itu langsung menerimanya, ia pun senang karena tidak perlu bekerja sudah mendapatkan uang. Ia langsung pergi begitu saja dengan hati riang.


Andra mengernyitkan dahinya jijik, ia tentu sama sekali tidak cemburu dengan apa yang baru saja dilihatnya. Wanita didepannya ini benar-benar sangat menjijikan.


"Andra, kenapa kamu tiba-tiba pulang? Bukankah pekerjaanmu belum selesai?" tanya Denada buru-buru mendekati Andra, memasang wajah seolah tidak terjadi apapun.


"Kamu terkejut sekali, apa mata-mata yang kamu tugaskan tidak melaporkan apa yang sudah aku lakukan?" tukas Andra dengan raut wajah datarnya.


Denada semakin terkejut mendengar pengakuan dari Andra, ia segera menguasai dirinya.


"Kamu ini bicara apa? Kamu pasti lelah habis perjalanan jauh," ucap Denada, ia mengusap baju tegap Andra tapi dengan cepat pria itu menepisnya.


Andra semakin jijik dengan wanita didepannya ini. Begitu lihai berbicara seolah semuanya baik-baik saja. Padahal sebenarnya dia yang telah membuat kekacauan ini.


"Aku sebenarnya tidak suka mencari masalah dengan orang lain. Tapi sepertinya diamku sering dianggap sebagai kekalahan. Apa kamu masih ingin terus berpura-pura? Kelakuanmu sungguh menjijikan," desis Andra memasang raut wajah muak.


"Kamu ini sebenarnya kenapa? Sudah pulang tidak mengabari dulu. Apa kamu marah karena masalah tadi? Aku bisa jelaskan, aku tidak punya hubungan apapun dengan pria tadi," kata Denada mencoba mengalihkan pembicaraan ke hal lain.


Denada membesarkan matanya kaget, ia langsung mundur mendengar itu semua. Ia kaget kenapa Andra bisa tahu? Apakah Andra sudah mengingatnya?


"Apa yang kamu bicarakan? Istri siapa? Ah, kamu pasti lupa meminum obatmu 'kan? Apa Han tidak memberikannya?" ucap Denada sedikit panik, ia takut jika Andra akan mengingat semua masa lalunya.


"Maksudmu obat ini?" Andra menunjukkan obat yang berada didalam botol kecil berwarna putih.


"Iya, itu obat untukmu, Andra. Biar kamu cepat sembuh, kamu pasti lupa meminumnya. Makanya kamu jadi seperti ini, sekarang minumlah," tutur Denada begitu serius, seolah-olah wanita itu memang berniat baik.


"Benarkah? Tapi seseorang mengatakan padaku kalau ini bukan obat, tapi racun. Bagaimana kamu bisa memberikanku racun?" Andra semakin geram, tapi ia berusaha tenang.


"Apa yang kamu katakan?" Denada mendadak gugup, ia melirik dua orang yang masuk kedalam ruangan itu, salah satunya Han.


Denada memberikan kode pada Han, bertanya apakah pria itu tidak memberikan obatnya. Tapi Han hanya diam saja, merespon pun tidak.

__ADS_1


"Denada, Denada, aku pikir kamu adalah wanita yang baik. Tapi ternyata sifatmu begitu menjijikan. Kamu menghalalkan cara untuk mendapatkan aku dan menyakiti wanita lain. Dimana hari nuranimu yang sebenarnya?" bentak Andra melupakan semua emosinya.


"Seharusnya aku yang bertanya. Sudah ada aku, kenapa kamu memilih dia?! Aku yang lebih dulu datang dan menemanimu sampai detik ini! Tapi kenapa hatimu selalu untuk dia? Sekarang siapa yang jahat disini? Aku yang sudah memberikan segalanya untukmu, Andra !" teriak Denada balas berteriak.


"Apapun alasanmu, kamu tidak melakukan hal ini padaku? Sekarang kamu lihat? Aku tidak akan pernah bisa mencintaimu sampai kapan pun. Seharusnya kamu menyadari itu sejak awal!" hardik Andra, semakin geram saja rasanya. Alasan cinta yang dikatakan Denada sangat tidak bisa ia terima.


"Baik, jika kamu memang memilih dia. Artinya kamu sudah siap kehilangan mereka," ancam Denada dengan gigi yang gemeletuk, sudah kepalang basah, ia tidak bisa menutupi apapun.


Andra tersenyum sinis, ia mendekati Denada yang memandangnya penuh amarah yang membara itu.


"Sebelum kamu melakukan semua itu, sebaiknya pikirkan dirimu sendiri. Kamu selalu memberikanku obat agar aku tidak mengingat masa laluku bukan? Sekarang bagaimana jika posisinya dibalik?" ucap Andra menyeringai sinis, wajahnya berubah menyeramkan, bukan seperti Andra yang Denada kenal.


"A-pa maksudmu?" Denada berjalan mundur, firasat buurk langsung menggelayuti dirinya. Ia melirik sekelilingnya yang sudah siap Han dan satu anak buah lain.


"Kamu takut sekarang?" Andra menyeringai sinis, terus berjalan mendekati Denada yang berjalan mundur.


"Jangan coba-coba, aku punya anak buah yang bisa menyerangmu saat aku berteriak," ancam Denada sekali lagi.


Andra tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh Denada. Tawanya seolah mengejek Denada yang tengah ketakutan itu.


"Apa maksudmu mereka?" Andra berbicara pelan, lalu ia bertepuk tangan sebanyak dua kali sehingga beberapa orang dengan pakaian hitam masuk ke dalam ruangan itu.


Denada membulatkan matanya, ia kaget saat anak buahnya langsung datang hanya saat Andra memanggilnya.


"Bagaimana? Masih ingin dilanjutkan?"


Happy Reading.


TBC.


__ADS_1


__ADS_2