
Andra mematung mendengar pengakuan yang keluar dari mulut Rexha. Ia tampak sangat-sangat kaget, sorot matanya berubah-ubah antara ingin marah, senang, dan merasa sangat bersalah.
"Rexha, coba ulangi sekali lagi. Apa benar Dara adalah putriku?" Bukan, Andra bukannya tidak mendengar, tapi ia ingin mendengar lagi agar semuanya jelas.
Rexha mengalihkan pandangannya, menghalau air matanya yang mulai mengalir. Ia sudah tidak bisa menahan dirinya dan terpancing juga akhirnya. Lagipula tidak ada gunanya ia menyembunyikan fakta tentang anak mereka. Mau bagaimanapun reaksi Andra nanti, ia tidak perduli lagi.
"Ya, aku memang hamil waktu itu. Dan aku berhasil melahirkan Dara dengan susah payah. Sekarang kamu sudah tahu 'kan? Apa yang akan kamu lakukan?" ucap Rexha.
Andra menggelengkan kepalanya, ia berjalan cepat mendekati Rexha lalu memegang kedua lengannya.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku? Kenapa Rexha? Maafkan aku ..." lirih Andra dengan penuh sesal, ia memegang pipi Rexha seraya menatap wanita itu sendu.
"Apa jika aku mengatakannya, kamu akan tetap tinggal?" Rexha balas menatap Andra dengan tatapan sendunya.
"Seenggaknya kamu bisa ngomong, Rexha. Kita bisa cari solusinya sama-sama," kata Andra tidak percaya dengan keputusan besar yang diambil Rexha itu.
"Aku lagi yang salah, Ndra? Aku terus 'kan yang salah? Dari dulu memang aku yang selalu salah! Aku salah karena kamu menjalin hubungan dengan wanita berandalan seperti diriku! Aku yang salah karena sudah menjeratmu agar terus disampingku. Aku wanita murahan yang sudah menggodamu. Semuanya aku yang salah, Ndra! Aku terus yang disalahkan!" Rexha menjerit seraya mendorong bahu Andra dengan keras, tangsinya kian menjadi-jadi mengingat bagaimana dulu ia yang selalu dianggap wanita tidak tahu diri karena menjalin hubungan dengan pria sempurna seperti Andra.
"Rexha ..." Andra tidak bisa menjawabnya, ia langsung menarik wanita itu kedalam pelukannya, memeluknya sangat erat sekali. "Aku benar-benar minta maaf," imbuh Andra dengan suara serak, tidak bisa untuk sekedar menahan tangis yang tiba-tiba ingin keluar.
Rexha justru ikut menangis, ia menenggelamkan wajahnya dibahu pria itu dan menangis sejadi-jadinya. Mencoba tegar pun tidak ada gunanya, ia yang selalu mencoba terlihat baik-baik saja akhirnya menyerah juga. Terlalu sakit menahan perasaan yang begitu menyiksa.
"Kenapa aku terus yang disalahkan? Apa aku memang hanya pantas dibenci?" ucap Rexha mencengkram pinggang Andra untuk meluapkan rasa sakit dalam hatinya.
"Enggak, kamu nggak pernah salah, Rexha. Aku yang salah, aku yang salah disini. Maafkan aku." Andra menggeleng pelan, sumpah demi apapun ia tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya Rexha saat memilih mempertahankan anak mereka tanpa seorang suami disampingnya.
Andra melepaskan pelukannya, ia mengusap air mata Rexha. "Kamu nggak pernah salah, kamu wanita terbaik yang pernah aku kenal. Maafkan aku, maafkan aku. Aku akan mempertanggungjawabkan semuanya," ucap Andra dengan tatapan yang sangat serius.
__ADS_1
Rexha terkejut mendengar keputusan itu, ia mengusap air matanya lalu melepaskan dirinya. "Mungkin jika kamu mengatakannya lima tahun lalu, aku akan menerimanya, Ndra. Sekarang semuanya sudah berubah," kata Rexha teringat jika Andra sudah memiliki keluarga yang bahagia, ia tidak mungkin merangsek masuk kedalam hubungan pria itu.
"Tidak ada yang berubah, aku tetap mencintaimu seperti saat aku mengenalmu. Perasaanku tidak pernah berubah, Xha." Andra menggenggam tangan Rexha, mencoba meyakinkan wanita itu tentang perasaannya.
Rexha tahu Andra memang sangat mencintainya. Pria itu yang pertama kali membuat hidup Rexha berwarna. Tapi Andra juga pria pertama yang membuat Rexha merasa takut dan terluka secara bersamaan. Ia sangat hafal sifat Andra yang sangat nekat, ia tidak mau membuat pria itu menjadi pria yang tidak bertanggungjawab hanya karena dirinya.
"Perasaanku yang sudah berubah, Andra. Semua yang sudah terjadi, tidak bisa diulang kembali. Jangan pernah menentang takdir," kata Rexha tanpa mau menatap wajah Andra.
"Berhentilah membohongi diriku sendiri Rexha! Kenapa kamu selalu seperti ini? Aku yang salah, kenapa harus hatiku yang kamu hukum? Aku mencintaimu, Rexha! Aku mencintaimu!" sergah Andra sembari menarik tangan Rexha hingga wanita itu kembali jatuh kedalam pelukannya.
"Berhentilah membual, Andra! Kalau kamu mencintaiku, kamu tidak akan menikah lagi dengan wanita lain sampai memiliki anak!" Rexha begitu kesal, ia melampiaskannya dengan mendorong Andra.
"Menikah lagi apa?" Andra mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Cih, hanya karena kamu sudah mendengar kebenarannya, kamu mau mencoba membohongiku? Aku sudah tahu Andra, kamu sudah memiliki istri dan anak. Bahkan anak kalian sudah besar," tukas Rexha sangat-sangat kesal.
Andra mengerutkan dahinya lebih dalam, ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Rexha ini. Ia berpikir keras, dan sesaat kemudian ia tertawa kecil saat tahu kenapa Rexha menganggapnya memiliki anak dan istri.
"Apa yang kamu tertawakan? Apa yang aku katakan benar 'kan? Dasar, semua pria memang sama saja," ketus Rexha semakin kesal, merasa ditertawakan oleh Andra.
"Sama sekali tidak ada yang benar, aku tidak pernah menikah dengan siapapun, apalagi memilki anak. Kamu nggak perlu cemburu gitu," ujar Andra mencubit pipi Rexha dengan gemas.
"Cemburu apa?" Rexha melotot kesal. "Aku sudah melihatnya sendiri. Kamu dan istrimu menjemput anak kalian disekolah. Cih, kenapa dunia ini sempit sekali, kenapa kalian harus menyekolahkan anak kalian di sekolah yang sama dengan putriku," gerutu Rexha.
"Kamu dari dulu emang nggak pernah berubah." Andra semakin tertawa seraya menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada alasan untuk berubah," kata Rexha dengan sikap ketusnya.
__ADS_1
"Tapi apa yang aku katakan benar, aku belum menikah Rexha, dan anak? Itu adalah keponakan aku, anaknya kak Aleen," ujar Andra menjelaskan yang sebenarnya.
"Apa?" Rexha begitu kaget setelah tahu kenyataannya.
"Ya, Clayton itu anaknya Kakak aku."
"Benarkah?" Rexha mengernyit tidak percaya.
"Tentu saja, lagian kamu ini aneh. Mana mungkin aku sudah menikah dan memiliki anak seumuran dengan putri kita?" kata Andra dengan senyum tipisnya.
"Ya, bisa saja waktu itu kamu juga melakukannya dengan wanita lain," ucap Rexha asal saja, ia mengutuk kebodohannya karena tidak berpikir sejauh itu.
"Kamu yang pertama, Xha."
Jawaban Andra itu sontak membuat semua keraguan dalam diri Rexha musnah begitu saja. Bibirnya bahkan tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum manis.
'Ternyata semua dugaannya itu salah, Andra tidak pernah berpaling dariku.'
"Kamu percaya sama aku 'kan?" tanya Andra meraih tangan Rexha agar wanita itu menatap dirinya.
"Ehm, nggak tahu. Kamu 'kan cowok, nggak akan ada bekasnya juga. Lagian itu hak kamu," sahut Rexha masih terlalu malu jika mengatakan ia sudah percaya pada pria itu.
"Apa kamu ingin memastikannya sendiri?"
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1