
Andra masih memandang Rexha dengan tatapan yang sulit diartikan. Wajahnya terlihat begitu emosional, tapi pria itu sedang menahan dirinya. Ia mendengar jelas semua dari mulut Rexha, tapi kenapa hatinya tidak percaya?
"Bisakah kamu membukakan pintu bagian belakang? Aku akan mengambil ban mobilnya," ujar Rexha.
Andra tidak mengatakan apapun, ia segera berjalan ke belakang mobil untuk mengambil ban mobilnya agar secepatnya diganti.
"Sini, biar aku saja." Rexha sudah lebih dulu mengambil ban itu sebelum Andra sempat menyentuhnya.
"Kamu wanita, tidak seharusnya melakukan hal seperti ini," kata Andra menahan ban mobil itu agar Rexha tidak mengangkatnya.
"Aku sudah biasa melakukannya. Sebaiknya kamu tunggu saja, bajumu bisa kotor nanti. Aku akan menyelesaikan ini dulu," ucap Rexha segera mengangkat ban mobil itu dengan kedua tangannya.
Andra tersenyum kecil, ucapan Rexha itu mengingatkannya pada kejadian beberapa waktu silam. Dimana mereka berdua sedang berjalan-jalan setelah pengumuman kelulusan dengan menggunakan mobilnya.
"Andra, kamu bilang sama Mami kamu nggak boleh keluar. Kenapa sekarang kamu pergi?" tanya Rexha.
"Mami aku lagi nggak dirumah. Hari ini adalah harimu tuan putri. Kita akan jalan-jalan," sahut Andra.
"Wah, seriusan? Jalan-jalan kemana?" Rexha bertanya antusias.
"Kemanapun yang kamu mau, hari ini kita bebas." Andra menjawab seadanya seraya mengerlingkan matanya menggoda.
Rexha tergelak mendengar jawaban dari pacarnya itu. Tapi ia senang karena seharian ini ia bisa bersama dengan Andra.
"Aku pengen ke rumah pohon, Ndra." Ucap Rexha, membayangkan melihat sunset dari rumah pohonnya, pasti sangat menyenangkan.
"Sesuai keinginanmu." Andra menyetujui saja, yang penting Rexha bahagia, ia pun itu bahagia.
Namun, keinginan mereka untuk melihat sunset harus tertunda karena saat dijalan, tiba-tiba mobil Andra mengalami pecah ban.
"Sial, selalu begini. Aku nggak pernah beruntung kalau bawa mobil," gerutu Andra dengan begitu kesalnya.
"Eh, kenapa harus khawatir? Itu hal mudah Andra." Rexha jutsru tertawa melihat wajah kesal Andra.
"Nggak khawatir gimana, aku nggak bisa ganti ban. Aku harus hubungi montir dulu," ujar Andra.
"Nggak perlu montir, aku bisa kok ganti bannya," timpal Rexha.
"Ha?"
Untuk pertama kalinya, Andra melihat sendiri seorang wanita bisa mengganti ban mobil. Dan wanita itu adalah pacarnya sendiri.
__ADS_1
"Kamu ini, kenapa bisa kayak gini? Kamu perempuan, harusnya nggak perlu kerja berat, biar aku panggil montir aja." Andra mencegah saat Rexha ingin mengganti ban mobilnya.
"Kamu nggak usah khawatir, aku udah biasa kok ngerjain beginian. Kamu lupa aku kerja di bengkel? Mendingan kamu duduk aja, nanti baju kamu kotor," ujar Rexha menarik tangan Andra untuk duduk di mobil dan ia mengerjakan pekerjaannya mengganti ban mobil.
Andra menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Rexha itu. Wanita itu memang selalu apa adanya dan menganggap hal seperti itu adalah hal wajar, padahal Andra sudah melarangnya dan ia tidak mungkin membiarkan wanitanya melakukan pekerjaan yang melelahkan.
"Rexha, sini aku bantu." Andra memutuskan untuk membantu Rexha. Tidak mungkin juga ia membiarkan wanita yang dicintainya bersusah payah mengganti ban mobil yang berat itu.
"Yakin kamu bisa?" Rexha tertawa meledek.
"Aku mau belajar kalau kamu gurunya," sahut Andra dengan tawanya yang manis.
"Dasar!" Rexha memukul pelan lengan Andra karena gombalan receh pria itu, wajahnya kini pasti sudah bertemu merah karena salah tingkah.
Dan hal itu Andra manfaatkan untuk menggoda Rexha. Ia selalu menganggu wanita itu saat sedang mengganti ban mobil. Membenarkan rambutnya yang berantakan, memberikan minum dan ia juga sibuk mencium pipi Rexha saat wanita itu sedang serius-seriusnya.
"Andra! Kamu ini, nggak selesai-selesai kalau kamu gini terus," tukas Rexha begitu kesal.
Bukannya apa, jika Andra bersikap seperti itu ia merasa gugup dan otaknya tidak bisa digunakan untuk bekerja.
"Kenapa sih? Aku lagi nyium pacar aku sendiri, jadi itu sah-sah saja bukan?" Andra menyahut santai. "Ya ampun, pacar aku gemoy banget sih, muka cemong gini makin cinta. I love you mbak pacar," imbuh Andra justru semakin gemas melihat wajah Rexha yang bersungut-sungut kesal, ia kembali menciumi pipi wanita itu berkali-kali.
"Andra, awas ah!" Rexha mencoba mengelak, tapi Andra ini orang yang ngeyel. Pria itu tetap saja mencium pipi Rexha sampai puas.
"Apa?" Andra terkekeh-kekeh senang. "Oh iya, kita ambil vlog yuk," ujar Andra kemudian.
"Vlog? Buat apaan?" Rexha mengernyit tidak mengerti.
"Buat kenangan aja, masa SMA yang singkat tapi penuh warna saat bersama kamu, Rexha." Andra menjawab pelan, tapi sorot matanya penuh cinta saat menatap wajah cantik Rexha.
Rexha terperangkap oleh sorot mata hitam itu, ia pun setuju saja. Toh, ia pun senang jika semua kenangan manisnya dengan Andra disimpan. Berharap suatu saat nanti bisa mereka lihat bersama agar selalu ingat indahnya cinta dimasa SMA.
Namun, semua itu hanya tinggal kenangan.
"Ibu, Ibu."
Lamunan Andra buyar saat mendengar suara Andara yang memanggil Ibunya. Ia sibuk melamun sampai lupa ada gadis kecil yang sejak tadi duduk sendirian menunggu Ibunya bekerja. Andra melihatnya, melihat anak itu yang benar-benar sangat mirip dengannya.
'Aku yakin ini bukan kebetulan, aku harus mencaritahunya.'
Andra melirik Rexha yang terlihat hampir selesai dengan pekerjaannya, ia kemudian mendekati Andara, berniat untuk menanyakan bagaimana kehidupan mereka.
__ADS_1
Namun, ia malah dibuat kaget saat melihat wajah Andara yang sangat pucat. Gadis kecil itu tampak menggigil serta kesusahan bernafas. Andra pun langsung mendekat dan memegang tubuh kecil itu yang ternyata sangat dingin sekali.
"Andara, ada apa denganmu?" Andra bertanya panik, ia merasakan tubuh kecil Andara bergetar karena malam itu memang sangat dingin karena angin bertiup cukup kencang.
"Se-sak ... Ibu ..." Andara menyahut dengan suara terputus-putus, ia memegangi dadanya yang sangat sesak hingga kesulitan bernafas.
"Sesak? Kamu punya asma?" Andra semakin terkejut, ia langsung membuka jaketnya lalu memakaikannya pada Andara, bermaksud agar membuat gadis itu merasa hangat.
"Ibu ..." Andara masih gemetaran, nafasnya sangat sesak sekali. Wajahnya semakin pucat pasi seperti kapas.
"Rexha!" Andra berteriak keras memanggil Rexha, ia mencoba menghangatkan tubuh Andara yang menggigil dengan memeluk gadis kecil itu.
Rexha yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya terkejut saat mendengar suara Andra. Ia ingin bertanya ada apa, tapi ia justru dikejutkan dengan pemandangan Andra yang sedang memeluk putrinya.
"Dara!" Rexha segera membuang alat-alatnya lalu berlari menghampiri putrinya, ia semakin kaget saat melihat kondisi Andara yang sesak nafas dan wajahnya sangat pucat.
"Dara, Dara kenapa, Sayang?" Rexha langsung menggantikan Andra memeluk putrinya, air matanya mengalir tanpa bisa dicegah karena kondisi putrinya ini.
"Dia sesak nafas, apa dia punya penyakit asma?" Andra menjawab sekaligus bertanya.
"Dara punya penyakit jantung bawaan," sahut Rexha seadanya, ia sangat panik sekali sekarang. Putrinya pasti kedinginan sampai sesak nafas saat menunggunya bekerja tadi.
"Maafkan Ibu, Sayang ...."
"Penyakit jantung bawaan?" Andra begitu kaget mendengar jawaban dari Rexha, ia menatap wanita itu dengan sorot matanya yang tidak bisa dibaca.
"Iya, Andra tolong bantu aku. Bawa putriku ke rumah sakit," kata Rexha dengan penuh permohonan, ia mengabaikan jika saat ini ia sedang menghindari Andra. Saat ini putrinya butuh pertolongan segera.
"Ya, ya, kita bawa ke rumah sakit sekarang. Sini, biar Andara aku yang gendong." Andra menyetujui saja, ia juga langsung meraih tubuh mungil Andara dari pelukan Ibunya lalu menggendongnya ke mobil.
Rexha sedikit kaget dengan sikap Andra barusan, tapi ia buru-buru bangkit meski dengan terseok-seok mengikuti Andra yang membawa putrinya ke mobil.
"Kamu masuk dulu," perintah Andra.
Rexha mengangguk sigap, ia masuk kedalam mobil Andra lalu pria itu meletakkan Andara dipangkuannya. Setelah itu barulah Andra berlari menuju bagian kemudi mobilnya. Wajah pria itu tak kalah paniknya dari Rexha.
'Aku yakin ini benar-benar bukan sebuah kebetulan. Andara sangat mirip denganku. Dan penyakit itu ... Juga sama seperti penyakitku.'
Andra yakin sekali kalau apa yang dikatakan Rexha kemungkinan besar adalah kebohongan semata. Ia harus secepatnya mencari tahu tentang jati diri Andara yang sebenarnya.
'Aku harap, Andara memang benar putriku.'
__ADS_1
Happy Reading.
TBC.