After 5 Years Apart

After 5 Years Apart
A5YA 41. Perempuan Jahat.


__ADS_3

Deg


Rexha langsung menjauhkan tangannya mendengar perkataan Andra. Rasa senang yang tadi begitu membuncah mendadak langsung lenyap begitu saja. Kini hanya tersisa perasaan nyeri seperti ribuan anak panah menembus jantungnya, benar-benar sakit disaat pria yang dicintainya justru tidak mengenalnya salam sekali.


"Lepaskan dia!"


Terdengar suara teriakan wanita yang begitu keras membuat Rexha terkejut, belum hilang rasa terkejutnya ia kembali ditampar dengan keras hingga tubuhnya terhuyung kebelakang.


"Perempuan sampah! Beraninya kamu memeluk suamiku!" teriak Denada begitu murka, ia kecolongan sampai Rexha bisa bertemu dengan Andra.


Rexha terkejut tentunya, suami apa maksudnya? Sudah jelas dirinya yang merupakan istri Andra. Rexha langsung bangkit, tidak terima dengan kata-kata itu.


"Suami? Siapa yang kamu sebut suami? Andra adalah suamiku!" Rexha balas berteriak.


"Cih, kamu hanya mengaku-ngaku. Andra, perempuan ini yang aku maksud, dia sangat jahat dan ingin merebutmu," ucap Denada langsung saja menjalankan akting tersakitinya.


"Sebenarnya siapa dia? Kenapa dia mengenalku?" Andra bertanya bingung, semua kejadian yang terjadi hari ini benar-benar tidak bisa dimengerti.


"Aku Rexha, Andra. Kita sudah menikah dan kita memiliki anak. Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa melupakannya?" Rexha sendiri bingung, kenapa Andra tidak ingat dengannya.


"Anak?" Andra mengerutkan dahinya.


"Benar 'kan apa yang aku katakan? Dia itu perempuan yang ingin merebutmu Andra, dia ingin memisahkan kita karena dia iri kamu memilih aku, dia itu perempuan jahat, jangan percaya padanya," ucap Denada lagi, ia harus pintar-pintar bersandiwara agar Andra percaya padanya.


"Kamu yang perempuan jahat! Apa yang sudah kamu lakukan pada Andra? Kembalikan Andra-ku, kembalikan Andra!" Rexha mengamuk tidak terima, ia tidak mau berpisah dengan Andra lagi dan menahan rasa sakit itu lagi. Ia harus menjelaskan semua yang benar pada Andra sebelum Denada yang licik ini memanipulasi keadaan.


"Akhhhhhhh! Lihatlah Andra, dia perempuan jahat yang ingin menyerangku." Denada berlari berlindung dibalik punggung Andra untuk menghindari amukan Rexha.


"Kamu yang jahat! Apa yang sudah kamu lakukan pada Andra!" Rexha yang tidak terima dengan keadaan ini tetap mengamuk dan ingin menyerang Denada.

__ADS_1


Namun, Andra justru menghalanginya dan malah mencengkram lengan kecil Rexha dengan sangat kuat. Pria itu menatap Rexha begitu marah.


"Jangan coba-coba melukai istriku atau kamu akan tahu akibatnya!" bentak Andra lalu menghempaskan tangan Rexha dengan kasar.


"Andra, aku yang istrimu, bukan dia," kata Rexha memandang Andra dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Benarkah? Jelaskan padaku, bagaimana aku bisa menikahi dua wanita sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Denada adalah istri sahku, jadi jangan berpura-pura lagi. Pergilah dari sini, mungkin aku masih bisa memaafkanmu untuk kali ini," kata Andra yang sudah diracuni pikirannya sebelumnya dengan rekayasa pernikahan palsu yang dibuat oleh Denada.


"Andra! Dia yang telah berbohong padamu, aku adalah Rexha, istrimu yang sebenarnya." Rexha menjelaskan dengan frustasi, air matanya yang telah menjelaskan segala perasaan sakitnya saat ini.


"Andra, kamu lebih percaya dia? Kamu sudah melihat buktinya 'kan? Kita sudah menikah dan akan segera memiliki anak. Tapi gara-gara wanita ini aku jadi keguguran, kamu lihat sendiri buktinya, Andra," kata Denada menggunakan senjata terakhirnya yang pasti akan membuat Andra langsung percaya.


Rexha membesarkan matanya, terkejut dengan akal-akalan Denada yang tega memfitnah dirinya sampai begitu parah.


Wajah Andra langsung berubah mendengar perkataan Denada, apalagi ia ingat jika Denada pernah keguguran karena Rexha. Itulah yang wanita itu ceritakan padanya saat ia bangun dari koma. Hal itu membuat Andra marah dan langsung mencengkram tangan Rexha kembali.


"Berhenti berpura-pura lagi, aku sudah tahu semuanya. Kamu memang perempuan jahat, tidak sepantasnya kamu disebut seorang perempuan," kata Andra menatap Rexha penuh amarah, cengkraman di lengannya semakin kuat.


Bukan, bukan karena rasa sakit di lengannya, tapi karena sakit hati mendengar Andra menyebut dirinya wanita jahat. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Andra bisa melupakannya?


"Pergi dari sini, jangan menganggu istriku lagi," kata Andra kembali mendorong Rexha meski tidak se-kasar sebelumnya.


"Andra! Apa-apaan kamu?" Aleen yang baru saja datang membentak kesal melihat sikap Adiknya itu, ia segera menahan Rexha agar wanita itu tidak jatuh.


"Dia memang pantas diperlakukan seperti itu, kak. Biarkan wanita itu pergi, satpam! Usir wanita ini," titah Andra tidak begitu peduli karena baginya Rexha hanyalah wanita asing.


"Andra, dia istri kamu! Kenapa kamu bisa melupakannya? Dia Rexha, Andra." Aleen berteriak untuk menjelaskan yang sebenernya.


"Kakak tidak perlu membelanya, dia hanya akan mengganggu rumah tanggaku dengan istriku saja. Biarkan wanita itu pergi," kata Andra bersikukuh.

__ADS_1


"Rumah tangga apa? Kalian itu sudah menikah dan kalian sudah memiliki anak perempuan. Apa-apaan kamu ini?" Aleen masih berteriak keras ingin membuat Adiknya mengerti, ia yakin kalau Andra saat ini sedang dipengaruhi oleh wanita licik itu.


Andra mengerutkan dahinya. "Kakak tidak perlu berbohong seperti itu, aku baru lulus kuliah, bagaimana bisa aku memiliki anak? Dan jika pun aku menikah, pastinya bukan dengan wanita kasar seperti ini," kata Andra melirik Rexha dengan sinis.


Hal itu membuat luka hati Rexha kian menganga, ia menangis seraya menggelengkan kepalanya berkali-kali. Hanya bisa bertanya, kenapa Andra-nya tiba-tiba berubah?


"Andra! Kalian itu-"


"Aduhhhh!" Denada tiba-tiba berteriak memegangi kepalanya.


"Kenapa? Ada yang sakit kah?" Andra langsung sigap, ia memegang lengan Denada dan menatap wanita itu penuh kekhawatiran yang membuat Rexha kian tercabik hatinya. Sakitnya tak tertahankan hingga seluruh tubuhnya bergetar hebat.


"Kepalaku pusing sekali Andra, aku mau istirahat. Tolong jangan biarkan wanita itu menemuimu lagi, dia itu perempuan jahat," kata Denada menenggelamkan wajahnya dipelukan Andra, seolah ia sedang ketakutan melihat Rexha.


"Pasti, aku tidak akan membiarkan wanita itu mendekatiku. Bila perlu wanita itu yang harus pergi meninggalkan kota ini," sahut Andra dengan suara tegasnya, pria itu juga langsung mengajak Denada pergi tanpa menghiraukan semua orang yang disana termasuk keluarganya sendiri.


Denada tersenyum sinis, ia melirik Rexha dengan wajah yang benar-benar puas sekali.


'Sekarang kamu bisa merasakannya Rexha? Bagaimana sakitnya melihat pria yang kamu cintai tapi justru memberikan perhatian kepada wanita lain. Tenang saja, ini belum seberapa, akan aku buat hidupmu tidak mudah karena berani merebut Andra dariku.'


"Andra ...." Rexha hanya bisa memandang suaminya pergi dengan memeluk wanita lain, ia ingin mengejar tapi Aleen menahan tangannya.


"Tidak perlu mengejarnya, saat ini Andra pasti sedang dipengaruhi oleh perempuan licik itu. Menemuinya saat ini hanya akan membuat masalah semakin runyam, kita harus pakai strategi, Rexha," kata Aleen mencoba berpikir logis.


"Lalu aku harus apa, kak? Andra melupakan aku, bagaimana dengan Dara?" Rexha menutup wajahnya dengan kedua tangan, tidak tahu lagi harus berbuat apa.


"Percaya sama aku, kita pasti bisa membongkar kebusukan wanita itu," kata Aleen berapi-api, saat mengatakan itu ia melirik Elmira yang hanya diam saja, ia berharap Maminya itu sadar jika Denada tidak sebaik yang terlihat.


Happy Reading.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2