
Pagi-pagi sekali, Elmira sudah mendatangi bangunan apartemen sederhana yang baru saja ia dapatkan alamatnya dari seseorang yang ia suruh untuk melacak keberadaan Rexha. Sejak semalam wajah anak kecil yang sangat mirip sekali dengan Andra itu selalu menghantui pikirannya.
Setelah mendapatkan nomor Apartemen yang ia cari, Elmira segera menekan bel meski saat ini jantungnya berdetak tak karuan, sangat ragu akan respon Rexha nanti jika melihatnya.
Tak lama kemudian, pintu apartemen itu terbuka, memperlihatkan sosok Dara yang mengintip dari balik pintu.
"Mencari siapa?" Dara bertanya dengan suara pelan, ia mengerutkan dahinya saat melihat wajah Elmira.
"Oh hai." Elmira sampai tidak bisa berbicara begitu melihat wajah mungil Dara. Ia menunduk untuk mensejajarkan dirinya dengan Dara, menatap lekat-lekat wajah anak itu yang benar-benar mirip dengan Andra. Bahkan tahi lalat kecil yang ada dibawah dagu itu juga sama persis.
Andra itu mirip sekali dengan Elmira, jadi Elmira seperti melihat dirinya sendiri pada diri Dara ini.
"Nenek, nenek yang memarahi ibuku tadi malam 'kan? Kenapa nenek datang?" Dara langsung jeli, ia memandang kesal pada Elmira karena ingat jika wanita itu sudah membuat ibunya menangis.
"Eh?" Elmira terkejut, selain wajahnya yang mirip, cara bicara Dara itu sangat mirip dengannya, langsung to the point tanpa keraguan sama sekali.
"Nenek itu jangan jahat, kata ibuku kalau kita jahat, maka bisa masuk neraka. Kenapa nenek jahat?" celetuk Dara begitu polos.
"Nenek tidak jahat, dimana Ibumu?" sahut Elmira mencari-cari Rexha.
"Ibu masih tidur sama Ayah," sahut Dara seadanya saja.
Elmira mengembuskan napasnya kasar, sedikit terkejut ternyata anaknya itu tidak sepolos yang ia kira. Sebelumnya ia berpikir kalau Rexha yang mengejar-ngejar putranya dan menggodanya, tapi melihat apa yang terjadi sekarang, pemikiran Elmira sedikit berubah. Hanya sedikit.
_______
Rexha terlihat baru saja bangun, ia sempat terkejut saat melihat Andra tertidur memeluk dirinya. Ia menghembuskan napas kasar, semalam mereka berdua terlalu larut dalam perasaan sampai tidak memikirkan apapun lagi. Untung saja mereka berdua tidak membuat kesalahan yang sama seperti lima tahun lalu.
Andra berulang kali mengatakan ingin mengajaknya pergi, tapi ia belum memberikan jawaban karena ia tidak tahu harus mengambil keputusan bagaimana. Saat ini ia sedang sangat emosi, mengambil keputusan dalam keadaan emosi jelas bukan hal baik.
"Andra, bangunlah, kamu berat," keluh Rexha menyingkirkan tangan Andra yang memeluknya sangat erat sekali.
__ADS_1
"Jangan pergi ...." Andra berbicara seperti mengigau.
"Aku mau melihat Dara sebentar," kata Rexha mencoba melepaskan dirinya dengan keras.
Karena suara Rexha yang cukup keras, Andra terbangun sampai terduduk, ia seperti kebingungan.
"Rexha!" Andra langsung memeluk Rexha begitu erat, ia baru saja mimpi buruk dimana Rexha akan membawa putrinya pergi jauh.
"Jangan pergi Xha, jangan tinggalkan aku. Tolong jangan pergi ...." Andra menangis lirih, tidak sanggup membayangkan hal terburuk dalam hidupnya itu.
"Aku mau lihat Dara sebentar, lepasin ah." Rexha mendorong Andra dengan kasar, semalam ia terlalu larut dalam perasaan sampai lupa kalau ia marah.
Andra hampir saja terjengkang karena sangking kuatnya Rexha mendorongnya, ia memandang wanita itu yang langsung pergi begitu saja.
Rexha sengaja langsung menghindar, ia tidak mau hatinya melemah hanya karena tangisan Andra. Ia segera keluar dari kamarnya untuk menemui Dara, tapi ia terkejut saat melihat Dara sedang bersama dengan Elmira.
"Dara!" seru Rexha langsung disergap firasat yang sangat buruk.
"Apa yang Nyonya lakukan disini?" Rexha membentak pelan, ia lalu melihat kondisi putrinya untuk memastikan anak itu terluka atau tidak. "Dara baik-baik saja 'kan? Ada yang terluka nggak?" tanya Rexha begitu panik.
"Rexha, ada apa berteriak?" Andra keluar dari kamar ketika mendengar suara teriakan Rexha. Sama seperti Rexha, pria itu juga kaget melihat ibunya berada disana.
"Mami, untuk apa Mami kesini?" Andra langsung pasang badan, tidak mau jika ibunya akan menyakiti Rexha dan putrinya.
Elmira menipiskan bibirnya, memandang putranya dengan malas. Apakah memang seburuk itu ia dimata Andra?
"Mami tidak melakukan apapun pada anak itu jika itu yang kalian takutkan. Mami kesini hanya ingin sebuah kejelasan," ujar Elmira mengambil duduk di sofa dengan anggun, dagunya terangkat menunjukkan sifatnya yang angkuh.
"Apa benar anak itu adalah putrimu?" tanya Elmira langsung saja.
Andra melirik Rexha dan Dara bergantian sebelum mengangguk mantap seraya menjawab "Ya." Suaranya terdengar sangat tegas tanpa keraguan sama sekali.
__ADS_1
"Kenapa begitu yakin? Kalian sudah berpisah selama lima tahun, bisa jadi setelah denganmu-"
"Hentikan, Mi." Andra menyela dengan suara keras. "Rexha, bawa putriku masuk kedalam. Aku harus menegaskan kepada wanita ini siapa Dara sebenarnya," kata Andra sudah tidak peduli tentang sopan santun, ia harus memperjuangkan wanita dan putrinya.
Rexha mengangguk mengiyakan, ia segera membawa Dara masuk karena memang tidak seharusnya Dara mendengar pembicaraan yang membuat kepalanya kembali sakit itu.
Sepeninggal Rexha, Andra masih diam dengan sikapnya yang dingin serta sorot mata yang sangat tajam.
"Aku sangat memohon dengan hormat kepada Mami, jangan pernah menghina Rexha lagi, karena apa yang Mami lakukan sama seperti menghinaku juga. Dia wanita baik, Mi. Dia juga wanita yang sudah aku lukai berkali-kali. Sekarang aku mohon pada Mami, restui kami berdua," kata Andra langsung saja mengatakan apa yang sebenarnya terjadi agar Maminya ini mengerti.
"Mami tidak menghina, semua yang Mami katakan itu semua benar, Andra. Siapa yang tahu? Kamu hanya mengenalnya selama beberapa bulan, tapi kamu sudah begitu mempercayainya," tukas Elmira masih belum bisa menerima rasanya meski sudah jelas wajah Dara sangat mirip dengan putranya.
"Apa yang Mami ragukan? Bukankah Mami sudah melihat sendiri buktinya?" sergah Andra.
"Andra, kamu dari dulu memang selalu saja terlalu baik kepada semua orang. Kamu tidak sadar kalau wanita itu memanfaatkanmu," ujar Elmira lagi.
"Memang tidak ada gunanya bicara sama Mami. Sekarang jika memang Mami tidak mau merestui kami, berarti Mami sudah siap kehilangan aku," kata Andra memandang Elmira semakin tajam.
"Andra! Mami tidak mengerti jalan pikiran kamu, sekarang kalau kamu memang yakin kalau itu anak kamu. Apa kamu bisa membuktikannya sama, Mami?" Elmira masih bersikeras tidak bisa menerima Rexha karena menurutnya wanita itu bukan calon menantu idamannya.
Andra mengangguk, ia lalu membuka tas kerjanya yang berada didalam koper. Mengambil sebuah berkas yang tersimpan didalam amplop coklat lalu memberikannya pada Elmira.
"Mami bisa membacanya sendiri, didalam itu ada bukti kalau Dara memang putri kandungku," ucap Andra.
Elmira menatap putranya sejenak, ia membuka amplop itu dan membaca isinya. Ternyata sebuah hasil tes DNA yang menunjukkan kalau 99% DNA Andra dan Dara cocok.
'Dia benar-benar cucuku?'
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1