After 5 Years Apart

After 5 Years Apart
A5YA 12. Hati Yang Terikat.


__ADS_3

Rexha membesarkan matanya mendengar apa yang dikatakan Andra. Tidak menyangka jika jawaban itu yang akan meluncur dari mulut Andra tanpa filter sama sekali. Apa yang sebenarnya Andra pikirkan?


"Kamu gila? Jangan aneh-aneh, Ndra. Kita bukan anak umur 17 tahun lagi. Kita udah punya anak," tukas Rexha dengan geramnya.


"Jadi sekarang kamu mengakui kalau Dara anak kita?" Tidak ada yang lebih menyenangkan dari pengakuan yang sangat gamblang seperti itu yang membuat Andra bahagia.


"Tidak, dia hanya anakku. Aku yang melahirkannya dan membesarkannya. Kamu tidak ikut andil apapun," cetus Rexha.


"Eits, kamu salah, kalau nggak ada aku nggak mungkin jadi Dara. 'Kan aku yang membuatnya," seloroh Andra sembari menaik-turunkan alisnya.


Rexha sampai melongo mendengar jawaban absurd dari Andra itu. Pikirannya justru bertraveling kemana-mana.


'Sialan! Apa yang kamu pikirkan, Rexha!'


Rexha menoyor kepalanya sendiri, bisa-bisanya ia berpikir mesum seperti itu. Dan tentu saja Andra sudah tahu apa yang ada di otak kecil Rexha itu.


"Kamu nggak perlu bayangin, Xha. Kita bisa ngulangin lagi kalau kamu ingin," celetuk Andra sekenanya saja.


"Ngulangin lagi? Terus aku hamil lagi dan kamu bakalan ninggalin aku lagi, gitu?" sergah Rexha memutar bola matanya malas.


"Seorang pria sejati tidak akan melangkah ke sungai yang sama dua kali," ucap Andra dengan suaranya yang berat dan juga serius. "Karena dia bukan pria yang sama dan juga yang sungai yang sama," lanjut Andra dengan nada serius yang pernah terdengar.


Perlisahan telah membuatnya belajar segalanya dan perubahan menjadi yang terbaik itu sangatlah penting.


Bibir Rexha berkedut mendengar jawaban yang sangat lugas dari mulut Andra. Pria ini dari dulu memang seperti ini. Kalau Andra terus seperti ini, bagaimana caranya ia bisa berhenti mencintainya? Setiap kesalahannya bahkan tetap membuat ia cinta.


"Aku laper."


Akhirnya hanya kata itu yang meluncur dari bibir Rexha. Terlalu bingung harus menanggapi Andra bagaimana. Ia lebih sibuk menormalkan detak jantungnya yang berlompatan ingin keluar dari tempatnya. Benar-benar sial sekali, ia seperti wanita yang jatuh cinta kemarin sore.


_______


Andra memainkan ponselnya sambil sesekali melirik Rexha yang makan dengan lahap. Ia sengaja tidak menatap langsung wanita itu, karena Rexha pasti tidak jadi makan nanti. Dan Andra tidak bisa menyembunyikan senyumnya ketika melihat Rexha makan dengan mulut penuh hingga pipinya mengembung.


'Dia selalu seperti itu kalau makan, dasar ikan buntal.'


Andra menutup mulutnya agar Rexha tidak melihat senyumannya. Tapi percuma saja, karena Rexha meliriknya dengan kerutan didahinya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Rexha dengan mulut yang penuh makanan.


"Tidak ada, lanjutkan saja makanmu," kata Andra tersenyum kecil.


"Enggak, apa yang kamu tertawakan?" Rexha tidak percaya begitu saja, ia tahu Andra sedang menahan senyumnya.


"Ehm, aku seperti melihat serangga dirambutmu," kata Andra jelas mengada-ada.


"Serangga? Dimana?" Rexha bertanya panik, ia melirik keatas, apa ada dirambutnya atau dimana?


Rexha mungkin pemberani, tapi ia paling phobia dengan yang namanya serangga.


"Sini, aku akan mengambilnya," kata Andra meminta Rexha mendekat.


Rexha menurut saja, ia mendekatkan dirinya ke Andra agar pria itu segera mengambil serangganya.


Senyum Andra semakin lebar, memang dari dulu Rexha itu tidak pernah berubah. Meksipun galak, tapi aslinya wanita itu sangat polos.


"Andra, cepat ambil serangganya!" seru Rexha.


Namun, entah karena terlalu kencang Andra menarik atau Rexha yang belum siap, posisi Rexha sangat dekat dengan Andra, bahkan mereka bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.


Rexha menahan nafasnya, ia tidak bisa bergerak saat matanya beradu dengan mata Andra. Ia hanya diam saja, memandang Andra yang kini terlihat mengulurkan tangannya untuk membenarkan sulur rambutnya.


"Lima tahun tanpa aku, pasti sangat berat untukmu," ucap Andra beralih menyentuh pipi Rexha yang lebih tirus dari yang ia ingat.


"Sangat berat, aku beberapa kali ingin menyerah," kata Rexha mengingat perjuangannya yang penuh dengan air mata.


"Maafkan aku, aku janji setelah ini aku tidak akan meninggalkanmu lagi," ujar Andra begitu serius, tidak peduli apapun yang akan terjadi nantinya, ia tetap akan mempertahankan Rexha dan anak mereka.


"Jangan pernah berjanji untuk hal apapun, Ndra. Jalani saja semua yang terjadi, untuk sekarang ... Aku mau fokus menyembuhkan Dara dulu," timpal Rexha, tidak mau lagi terjerumus ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.


Andra mengangguk mengerti, saat ini memang yang terpenting adalah anak mereka.


"Serangganya sudah pergi?" tanya Rexha mengerutkan dahinya.


"Belum," jawab Andra masih dengan sikapnya yang menyentuh pipi Rexha.

__ADS_1


"Be-benarkah?" Rexha mendadak sangat gugup begitu melihat tatapan mata Andra yang berbeda, tampak tajam tapi juga lembut, membuat hati Rexha berdebar-debar.


"Tutup matamu, aku akan mengambilnya sekarang," kata Andra terus saja menatap wajah cantik Rexha yang tampak memerah malu.


Rexha sebenarnya sangat terkejut, tapi ia yang sudah sangat gugup menurut saja. Ia memang selalu seperti ini, jika Andra bersikap manis, ia akan lupa segalanya. Otaknya saja rasanya mulai bekerja tidak normal.


Andra tersenyum tipis, ia mengusap-usap pipi Rexha. Menatap lekat-lekat wajah Rexha yang selalu cantik meski tidak menggunakan riasan apapun. Dari mulai mata ,hidung dan dagunya yang terbelah sangat indah. Lalu yang terakhir bibir merah jambu Rexha yang begitu menggoda.


"Ndra-"


Cup


Andra mengecup bibir manis itu sebelum Rexha mengatakan apapun. Ia merasakan tubuh Rexha gemetaran, dan ia kembali mengecupnya lagi, kali ini lebih intens dari sebelumnya. Menyesap dan sesekali mengigit bibir kecil itu untuk membuka mulutnya agar memberikan akses untuk lidahnya masuk.


Rexha benar-benar terkejut dengan ciuman dadakan itu, ia ingin mendorong bahu Andra tapi tangannya justru mencengkram kemeja pria itu hingga kusut. Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau ia merindukan sentuhan ini.


Andra seperti mendapatkan lampu hijau akan reaksi yang diberikan Rexha. Ia ingin berbuat lebih, tapi ponselnya tiba-tiba berdering membuat Rexha langsung mendorong dirinya menjauh.


Rexha menjauhkan dirinya, ia mengusap bibirnya dan membelakangi Andra. Ia malu sekali, kenapa ia malah terpancing seperti ini? Seharusnya ia bisa menahan dirinya.


"Oh shittttt!" Andra mengumpat pelan, ia mengusap bibirnya yang basah lalu mengambil ponselnya.


Terlihat nama Denada disana membuat ia langsung mematikannya. Tapi Denada kembali menghubunginya.


"Angkat aja," kata Rexha tahu jika Andra sungkan padanya.


Andra meliriknya sekilas. "Aku akan mengangkatnya dulu," ucap Andra seraya bangkit dari duduknya lalu pergi dari ruangan itu.


Rexha menatap kepergian Andra, ia menghela nafas panjang. Setelah mengatakan segalanya, kenapa hatinya masih tidak bisa tenang? Rexha merasa ini bukan sebuah awal yang indah untuk mereka berdua.


'Apapun yang terjadi nanti, aku harap tidak akan mempengaruhi keadaan putriku.'


Hanya satu hal itu yang sangat Rexha harapkan diantara semua masalah yang terjadi. Yaitu putrinya akan baik-baik saja.


Happy Reading.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2