
Begitu semua persiapan beres, Andra dan keluarga kecilnya segera berangkat ke bandara. Semua hal yang dilakukannya itu tidak terjadi dalam waktu sehari karena ia perlu membuatkan visa untuk Rexha dan juga Dara. Mereka sudah sangat siap untuk melangkah maju untuk menjemput kebahagiaan yang baru.
Mengenai pernikahan, Andra dan Rexha sudah sepakat menikah di Belanda saja karena tidak ingin membuang waktu terlalu lama di negara mereka. Bukan masalah apa, mereka hanya takut jika ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi sebelum mereka pergi.
"Ayah, ayah, kita mau ke mana sih, yah? Kata Ibu mau naik pesawat, benar ya?" Si kecil Dara begitu kepo melihat Bandara yang sangat luas sekali itu.
"Ish, kamu ini selalu nggak percayaan. Kalau ibu bilang begitu, artinya kita memang mau naik pesawat lah," celetuk Rexha melirik sebal pada putrinya.
"Aku 'kan hanya bertanya ibu. Ayah lihat, ibu selalu saja memarahiku," kata Dara mengadu kepada Ayah kesayangannya itu.
Andra tertawa kecil, ia mencubit pipi gembul Dara dengan gemas. "Iya benar kata ibu, kita akan pergi naik pesawat ke tempat yang jauh," ujar Andra menjelaskan.
"Kenapa harus pergi? Apa karena disini kita tidak punya teman ya?" tanya Dara yang paling peka dengan keadaan sekitarnya.
"Bukan, tapi karena ayah dan ibu mau Dara sekolah yang terbaik disana. Mau 'kan? Biar tambah pinter," kata Andra mencari alasan yang tepat.
"Mau ayah, aku mau kalau temannya banyak. Apa nanti semuanya mau berteman denganku?" tanya Dara lagi.
Andra menarik panas panjang, ia melirik Rexha yang tampak sedih itu. Memang jika mengingat bagaimana dulu Dara sering diolok-olok temannya, membuat gadis kecil itu merasa sangat trauma.
"Pasti mau dong, pokoknya nanti disana Dara nggak usah takut apapun. Ayah yakin semua pasti akan menyukai Dara, anak ayah kan keren seperti apa, Sayang?"
"Captain Marvel, yeeeee ... Aku Captain Marvel yang menuntas kejahatan!" Dara berseru riang, senyuman yang sangat manis itu membuat kedua orang tuanya tertular akan senyumannya.
Andra diam-diam menyusupkan tangannya untuk menggenggam tangan Rexha, membuat wanita itu langsung menatapnya.
"I love you," bisik Andra dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Apa sih," cibir Rexha mulai salah tingkah jika Andra bersikap manis seperti itu.
Andra balas tersenyum, mereka bertiga lalu menunggu di area boarding sembari menunggu pengumuman jadwal keberangkatan mereka. Tak banyak obrolan yang tercipta, hanya sesekali Dara berceloteh dan ditanggapi oleh kedua orang tuanya.
Terkadang memang ada momen dimana kita tidak perlu banyak bicara tapi dengan diam bisa menggambarkan bagaimana bahagianya hati mereka. Walau masih sedikit kecemasan, tapi baik Andra dan Rexha percaya kalau mereka bersama-sama pasti mereka bisa melewati segalanya.
Beberapa saat kemudian terdengar suara pengumuman di mana penumpang harus segera melakukan boarding karena pesawat akan segera berangkat.
"Pesawatnya udah mau berangkat, ayo ke sana," ajak Andra seraya bangkit dari duduknya.
Rexha mengangguk, ia langsung bangkit dan langsung disambut genggaman tangan Andra. Sejak tadi tidak sedikitpun pria itu melepaskan genggaman tangan mereka, seolah Andra ingin mengatakan kalau ia akan selalu bersama Rexha dalam kondisi apapun.
Mereka lalu melakukan boarding pass dan akan segera pergi ke pesawat. Sudah sangat siap untuk menjemput kehidupan baru di tempat baru.
Namun, saat mereka berdua baru saja akan melangkah meninggalkan area boarding, terdengar suara teriakan yang memanggil Andra.
"Andra! Tunggu!" Elmira berteriak keras memanggil putranya, wanita itu tampak tak rela melihat Andra akan pergi. Ia juga begitu lega karena masih bisa menemui Andra sebelum anaknya pergi jauh.
"Tunggu mami Andra, jangan pergi," ucap Elmira berjalan cepat mendekati Andra, sedangkan Aleen mengikuti dibelakang.
"Untuk apalagi Nyonya ke sini? Kami akan pergi, Nyonya sudah tidak perlu khawatir jika aku akan mencoreng nama baik keluarga, Anda," kata Andra bersikap sangat dingin.
"Andra, mami mohon jangan pergi. Kita bisa membicarakan masalah ini baik-baik, tolong jangan tinggalkan mami Andra," ujar Elmira memegang tangan putranya.
"Tempatku bukan disini lagi, aku sudah punya keluarga dan anak. Sudah tugasku melindungi mereka," kata Andra lagi.
Rexha hanya diam, ia tidak berani menatap Elmira sama sekali, ia hanya memegangi tangan Dara seraya mengigit bibirnya, bingung harus bersikap bagaimana.
__ADS_1
"Andra, kamu jangan gegabah. Tinggal di negara orang itu bukan hal mudah. Kalian disini saja, mami sudah setuju kalau kalian menikah, jangan pergi ya," ujar Aleen ikut membujuk adiknya itu.
Andra terkejut, ia mengerutkan dahinya seraya memandang ibunya. "Aku tidak ingin wanitaku kembali tersakiti, kak. Wanita ini tidak akan bisa menerima Rexha, lebih baik kami pergi saja, doakan saja yang terbaik untuk kita," sahut Andra tidak percaya jika maminya bisa berubah pikiran dengan cepat.
"Mami sudah menerima Rexha dan juga putrimu, Ndra. Dia juga setuju kalau kalian menikah, bukankah begitu, mi?" kata Aleen meminta ibunya untuk menjelaskan.
Elmira berdecak pelan, nyaris tidak terdengar. "Kakakmu benar, mami akan merestui kalian. Tapi mami mohon Andra, jangan pergi dari negara ini," ujar Elmira kembali memandang sendu putranya.
"Jika Nyonya menerima Rexha hanya karena keterpaksaan, lebih baik tidak perlu, kami akan tetap pergi. Maaf kak, pesawatku sebentar lagi berangkat," ucap Andra tidak langsung mudah percaya, ia segera berbalik dan mengajak Rexha pergi.
"Andra! Kamu tega sekali, mami akan menerima dia Andra. Tolong jangan pergi, mami akan merima wanita itu dan anak kalian. Bila perlu mami sendiri yang akan menikahkan kalian!" Elmira berteriak keras, air mata yang sejak tadi sudah ia tahan langsung keluar begitu saja, sungguh ia tidak bisa kehilangan putra kesayangannya itu.
Langkah Andra terhenti bukan karena kesengajaan, tapi karena Rexha yang menghentikannya.
"Kenapa? Tidak perlu menghiraukannya, kita bisa ketinggalan pesawat nanti," kata Andra masih bersikeras tidak mau mengubah keputusannya.
"Mami-mu menangis," ujar Rexha tidak tega melihat Elmira menangisi kepergian putranya itu.
"Aku ingin yang terbaik untuk kita, Rexha. Dan menjauh adalah pilihan yang tepat," kata Andra lagi.
Rexha menggigit bibirnya, di satu sisi ia merasa kasihan dengan Elmira tapi di satu sisi dia juga ingin bahagia bersama Andra dan Dara. Apakah keputusannya ini sudah tepat?
Terdengar suara pengumuman yang mengatakan kalau pesawat mereka akan segera berangkat dan seluruh penumpang diwajibkan untuk segera masuk.
"Waktu kita tidak lama, Rexha." Andra kembali berbicara membuat Rexha terkejut, pria itu juga langsung menggandeng tangan Rexha dan mengajaknya pergi.
"ANDRA!"
__ADS_1
Happy Reading.
TBC.