
Rexha begitu terkejut dengan permintaan Andra itu, ia menutup tubuhnya dengan kedua tangan. Takut jika pria itu akan macam-macam atau bagaimana.
"Aku tidak mau," tolak Rexha langsung saja.
Andra mendesis pelan, ia semakin kesal saja dan ia langsung menarik tangan Rexha dengan cukup kasar.
"Aku harus membersihkan bekas pria sialan itu," kata Andra menyeret tangan Rexha lalu membawanya ke kamar mandi.
"Andra! Kamu ini mau apa?" Rexha memekik tidak mengerti, ia mencoba melepaskan tangannya tapi Andra menariknya dengan cukup kuat.
Sesampainya di dalam kamar mandi Andra langsung mengangkat Rexha lalu meletakkan wanita itu di dalam bath up. Andra juga langsung nyalakan shower lalu membasahi tubuh Rexha seraya menggosok tangannya yang tadi digunakan untuk memegang pria itu.
"Akhhhhhhh, Andra! Kamu ini apa-apaan sih!" teriak Rexha mendorong Andra menjauh.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun pria menyentuh wanitaku," kata Andra begitu dingin.
Andra terus saja menggosok tangan Rexha seraya terus mengucurkan shower itu ditubuhnya. Rexha terus berteriak meminta berhenti, tapi Andra yang sudah begitu cemburu masih tidak mau mendengarnya.
"Andra, sakit," kata Rexha merasakan tangannya perih karena terus digosok, tubuhnya juga mengigil kedinginan.
Andra tersentak mendengar suara Rexha, ia melihat wanita itu sudah pucat wajahnya dengan bibir yang membiru. Ia menyesal telah melakukannya, ia langsung memeluk Rexha segera.
"Maaf, maafkan aku," ucap Andra benar-benar menyesal, ia tadi gelap mata dan tidak sadar dengan apa yang dilakukannya.
Rexha tidak menjawab, ia menangis lirih dan bingung dengan sikap Andra ini. Tidak biasanya Andra begitu kasar. Apakah dia Andra yang sama dengan Andra yang dia kenal?
"Aku cemburu melihatmu dengan dia, maafkan aku," kata Andra masih memeluk Rexha.
"Aku tidak melakukan apapun dengan pria itu," ucap Rexha menjelaskan dengan sesenggukan.
Andra menghela napas panjang, ia lalu melepaskan Rexha dan mengangkat wanita itu dari dalam bath up. Andra meletakkan Rexha di meja rias lalu mengambil selimut untuk membungkus tubuhnya yang dingin.
"Maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku," kata Andra, ia mengusap air mata Rexha perlahan.
"Aku tidak akan pergi kemana pun 'kan?" lirih Rexha memandang Andra sendu.
Andra terdiam, ia balas memandang Rexha begitu dalam. Ia mengusap pipinya perlahan, lalu beralih ke bibirnya, sentuhan lembut itu membuat Andra seperti tersengat aliran listrik. Ia hanya mengikuti kata hatinya, mencium bibir Rexha dengan lebih intim.
Rexha tidak tahu kenapa, ia juga merasakan perasaan aneh saat Andra menciumnya. Ini bukan kali pertama mereka berciuman, tapi setelah sekian lama baru bersentuhan kembali, membuat Rexha juga merindukan sentuhan ini. Semua perasaan kesal dalam dirinya seolah lenyap begitu saja.
Semakin lama Andra semakin liar, tangannya bergerak membuka kancing kemeja Rexha lalu meloloskannya hingga luruh ke lantai. Andra menurunkan ciumannya, ke telinga Rexha membuat wanita itu mencengkram lengannya dengan cukup kuat.
__ADS_1
"Andra ...." Rexha memejamkan matanya, ingin mengingatkan kalau ini salah, tapi sialnya tubuhnya berkata lain.
Namun, sebelum Andra bertindak lebih jauh, ponsel Andra berdering cukup keras membuat keduanya langsung menghentikan aktivitasnya.
"Andra, ada telepon," kata Rexha mendorong Andra menjauh dari dirinya.
"Oh shitttt!" Andra mengumpat pelan, ingin sekali membunuh siapa saja yang sudah mengganggunya itu. Ia terpaksa melepaskan Rexha untuk menerima telepon sialan yang terus berdering itu.
Rexha sendiri langsung membungkus tubuhnya dengan selimut, ia malu sekali rasanya karena lagi-lagi hampir terlena.
Andra mengangkat panggilan itu, wajahnya tampak kesal sekali.
"Sebaiknya ini penting!" seru Andra tidak ada ramah-ramahnya sama sekali.
"Tuan Andra, ini saya."
Wajah Andra seketika berubah begitu mendengar suara dari sang penelepon, ia mendengarkan dengan seksama apa yang dibicarakan orang itu dan wajahnya berubah lebih serius. Tak lama kemudian ia mengakhiri panggilan itu lalu melihat Rexha yang tampak masih terdiam seraya memeluk selimutnya itu.
"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Andra.
Rexha sedikit terkejut, ia pikir Andra ingin ...
'Oh shittt! Apa yang sebenarnya kamu pikirkan Rexha?!'
"Hah? Kamu tahu tentang Dara?" Rexha kembali terkejut, bukannya Andra belum pernah bertemu dengan Dara?
"Semua tentangmu aku sudah tahu. Membohongiku tidak ada gunanya, Rexha. Bagaimana kamu bisa begitu tega memisahkan aku dengan putriku sendiri?" kata Andra seraya berjalan mendekat.
"Aku membohongimu? Bukannya kamu yang tidak percaya padaku?" ucap Rexha begitu sinis.
Andra mengerti, semua ini memang salahnya dan ia bodoh karena tidak mengenali istri dan putrinya sendiri.
"Aku baru mendapatkan kabar, apa benar, anak kedua kita gagal dilahirkan?" tanya Andra seraya memegangi pipi Rexha, sorot mata penuh rasa bersalah itu sangat tampak dimatanya.
Rexha terdiam, ia langsung teringat akan anaknya yang keguguran. Jika mengingat itu, air matanya kembali mengalir.
"Maafkan aku." Andra meraih Rexha ke dalam pelukannya.
"Dia sudah pergi, aku tidak bisa menjaganya," ucap Rexha masih dengan tangsinya.
"Kamu tidak salah, tapi ini semua salahku," kata Andra.
__ADS_1
"Ya benar, jika kamu bertanya apa hal yang paling aku sesali di dunia ini, aku akan menjawab jika pertemuan kita adalah hal yang paling aku sesali," ujar Rexha mengurai pelukannya.
"Kenapa dengan pertemuan kita?" Andra memandang Rexha tidak mengerti.
"Karena pertemuan kita, aku harus kehilangan semua. Aku harus menjadi ibu sebelum waktunya dan dunia memandang aku seolah aku yang paling bersalah. Sedangkan kamu, sebagai pelaku utama disini, justru masih bisa meraih masa depan dan cita-cita. Pada akhirnya aku yang kehilangan semuanya ...."
Andra seperti tertampar oleh kata-kata Rexha, apakah benar ia yang paling membuat hidup Rexha menderita?
Namun, selain itu, kepalanya mendadak sangat penting karena otaknya tiba-tiba menggambarkan dua orang remaja yang bercanda tawa didalam kamar kos-kosan sempit. Mereka saling tertawa dan menggoda.
'Rexha, aku pasti tanggung jawab. Kamu percaya itu 'kan?'
'Aku selalu percaya padamu, Andra.'
Andra melihatnya, melihat gambaran ia seperti sedang berhubungan dengan seorang wanita. Tapi saat ia ingin mengingatnya lebih jauh, kepalanya sangat sakit sekali seperti dipukuli ribuan gada.
"Arghhhhhhhh!" teriak Andra memegangi kepalanya yang sakit.
"Andra, kamu kenapa?" Rexha yang semula menangis mendadak panik melihat Andra yang tiba-tiba berteriak.
Andra memandang Rexha, wanita itu seperti menjadi dua.
'Saat aku lulus nanti, aku akan bekerja satu tahun. Lalu aku akan datang ke rumahmu untuk melamarmu.'
'Hahaha terdengar sangat indah. Tapi bisakah aku meminta kamu untuk tetap tinggal?'
'Aku punya keinginan, Xha. Pengen wujudin cita-cita aku. Ayahku juga mau aku sekolah di luar negeri.'
'Baiklah, hati-hati ya. Semoga saat kembali nanti, kamu mengingatku.'
Andra mengingat itu, ia seperti berpisah dengan seseorang di bandara dan wanita itu sempat menangis dipelukannya.
"Rexha ...."
"Ya Andra, kamu kenapa?" Rexha semakin panik.
"Maafkan aku." Hanya kata itu yang terucap sebelum tubuh Andra roboh begitu saja.
"Andra!"
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.