After 5 Years Apart

After 5 Years Apart
A5YA 13. Andra Menangis? Kenapa?


__ADS_3

Andra kembali menemui Rexha dengan raut wajah yang tidak seceria seperti saat pria itu pergi. Seperti sedang memikirkan sesuatu, tapi entah itu apa, Rexha enggan untuk bertanya.


"Rexha, sepertinya aku harus pulang dulu. Kamu nggak apa-apa disini sendiri?" ujar Andra menghampiri wanita itu.


"Ehm, tidak apa-apa. Biasanya aku juga sendiri," sahut Rexha dengan senyum tipisnya, sedikit tidak rela jika Andra akan pergi, tapi ia juga tidak memaksa pria itu untuk tetap tinggal.


"Sekarang udah ada aku, jangan pernah melakukan apapun sendiri, Xha. Katakan saja apa yang kamu butuhkan, aku akan memberikannya," ujar Andra memegang lengan Rexha pelan.


"Ehem ... baiklah." Rexha bingung harus menjawab apa.


Andra hanya mengangguk pelan, ia mendekati Rexha lalu meraih wanita itu kedalam pelukannya. Ia memeluk Rexha sangat erat sekali, sesekali mencium rambutnya perlahan, barulah ia melepaskannya.


"Aku akan pergi dulu. Tapi aku janji akan datang lagi besok untuk menemani putri kita operasi. Kamu jaga diri baik-baik," tutur Andra.


"Iya." Rexha hanya mengangguk mengiyakan.


"Baiklah, aku pergi dulu." Andra mencium kening Rexha, lalu mengusap pipi wanita itu. Benar-benar tidak rela rasanya, tapi ada yang lain yang perlu ia urus sekarang ini.


"Aku pergi." Andra melepaskan tangannya, berjalan mundur perlahan-lahan.


Rexha hanya diam saja, memandang kepergian Andra seperti akan berpisah ribuan tahun. Padahal Andra mengatakan akan kembali besok. Ia harus mengerti bukan? Tidak seharusnya juga ia meminta hal yang muluk-muluk. Andra mau mengakui anaknya saja ia sudah sangat bahagia.


_______


Andra berjalan cepat menyusuri lorong-lorong sepi rumah sakit. Hanya ada satu atau dua orang yang tinggal. Suasana sangat sepi kali, suara sepatu yang mengetuk-ngetuk lantai terdengar cukup keras.


Andra berhenti sejenak ketika sampai di lorong yang lampunya menyala terang. Dilihatnya seorang wanita yang duduk seraya menunduk lesu. Andra segera mendekatinya.


"Denada!" panggil Andra.


Denada mengangkat wajahnya, ia langsung bangkit begitu melihat Andra. Begitu wanita itu dekat dengannya, ia langsung menubruk Andra lalu menangis sejadi-jadinya dipelukan pria itu.


"Papa Ndra ..." ucap Denada terbata-bata.


"Kamu tenang dulu, duduk dulu sini. Ceritanya pelan-pelan aja," ujar Andra melepaskan pelukan Denada, menuntun wanita itu untuk duduk dengan tenang.

__ADS_1


Denada menangis sesenggukan, sekali mengusap air matanya yang terus menetes. Wanita itu terlihat sangat kacau setelah mendapatkan kabar jika Papanya mengalami kecelakaan tunggal sehingga Papanya dilarikan ke rumah sakit dan keadaannya kritis.


"Kamu sama siapa kesini?" tanya Andra.


"Aku sendirian, supir aku pergi sama Papa. Mereka berdarah dimana-mana, Ndra. Aku takut ..." ucap Denada kembali menjatuhkan kepalanya dibahu tegap Andra, mencari sandaran yang bisa membuatnya tetap tegar.


Andra memejamkan matanya singkat. "Papa kamu pasti baik-baik saja, percaya sama aku dan teruslah berdo'a," ujar Andra mengusap-usap pelan lengan wanita itu.


"Aku juga berharap hal itu, Ndra. Cuma Papa yang aku punya saat ini," kata Denada masih dengan tangisnya.


Andra tidak menyahut, malam itu ia menemani Denada menunggui kedua orangtuanya yang sedang dioperasi.


Hampir dua jam lamanya ia menunggu, hingga kemudian seorang Dokter keluar dengan raut wajah yang sangat tidak enak dilihat.


"Dokter?" Andra hanya mengucap satu kata, sudah sangat was-was dengan kabar yang akan didengarnya.


"Pasien ingin bertemu dengan putrinya," tutur Dokter itu.


Andra dan Denada saling pandang, mereka seperti mendapatkan kabar yang terselubung dari permintaan bertemu itu. Andra menggenggam tangan Denada, untuk sekadar menguatkan wanita itu.


Denada mantuk napasnya, mencoba menguatkan hatinya untuk mendengar kabar terburuk sekalipun.


Keduanya lalu masuk kedalam ruangan yang terasa sangat dingin. Terlihat seorang pria paruh baya yang terbaring dengan selang yang menempel ditubuhnya.


"Papa ..." Denada langsung menangis begitu melihat Papanya tidak berdaya seperti itu. Ia mendekati pria itu lalu memeluk tangannya.


"Nada ..." Papa Denada tersenyum, ia mengusap kepala putrinya dengan lembut.


"Papa kenapa kayak gini? Papa selalu mengatakan untuk aku selalu berhati-hati. Kenapa Papa seperti ini?" ucap Denada semakin menangis.


"Papa ... sudah lelah," ujar Papa Denada menarik nafasnya dalam-dalam, terdengar sangat berat sekali. Ia lalu mengalihkan pandangannya kepada Andra.


"Nak Andra, kemarilah," pinta Papa Denada dengan suaranya yang ringkih.


Andra menurut, ia mendekat disisi Papa Denada satunya. "Om sehat ya, om pasti kuat. Kapan-kapan kita main tenis lagi," kata Andra memberikan kata penghiburan pada pria yang sudah ia anggap seperti Ayahnya sendiri.

__ADS_1


"Kamu memang anak yang baik ..." Papa Denada kembali menarik nafas dalam-dalam. "Kamu anak yang bisa diandalkan... Uhuk uhuk ... sebelum aku pergi ... uhuk uhuk ... Bolehkah aku meminta satu hal?"


"Kenapa Om berkata seperti itu? Om bakalan sehat lagi," ujar Andra tidak setuju dengan ucapan Papanya Denada yang akan menyerah itu.


Papa Denada menggeleng pelan, ia mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Andra, lalu menyatukannya dengan tangan putrinya.


"Om cuma punya satu permintaan ... Uhuk!"


"Pa, udah Pa. Papa bakalan sembuh, Dokter akan mengobati, Papa!" jerit Denada begitu histeris, ia tidak mau kehilangan satu-satunya orang yang sangat menyayanginya dengan tulus. Dan satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini hanyalah Papanya.


"Nada ... Papa sangat menyayangimu. Sebelum Papa pergi ... Papa ingin melihatmu bahagia. Nak Andra ... tolong nikahi putriku sekarang. Biarkan orang tua ini ... melihat kebahagiaan putrinya untuk terkahir kalinya ..."


Andra tersentak kaget, sama sekali tidak menyangka jika Papanya Denada akan meminta ia menikahi Denada sekarang. Bagaimana ia bisa melakukannya, sedangkan ia tidak pernah bisa mencintai wanita itu. Ditambah sekarang ia sudah memiliki putri. Andra tidak akan mau mau melakukan hal itu.


"Nikahilah putriku, meskipun itu hanya kepura-puraan... Biarkan aku pergi dengan tenang. Nak Andra, aku mohon ....."


_______


Rexha tertidur meringkuk disofa ruangan Andara, ia merasakan tubuhnya cukup mengigil karena rasa dingin, ia memeluk dirinya sendiri untuk membuatnya lebih hangat. Tapi sesaat kemudian, rasa dingin itu berubah menjadi hangat.


Rexha ingin membuka matanya, tapi terasa sangat berat. Ia lalu merasakan sesuatu yang berat dan hangat melingkupi dirinya. Ia sekali lagi mencoba membuka matanya meski dalam keremangan cahaya kamar.


"Andra?" Kalau tidak salah lihat, Andra yang tersenyum manis padanya.


Namun Rexha bingung, kenapa Andra tiba-tiba ada disana? Bukannya pria itu sudah pulang?


"Tidurlah lagi, semoga mimpi indah ...."


Rexha merasakan Andra berbisik lembut ditelinganya, seperti alunan musik yang membuat matanya semakin enggan untuk terbuka. Tapi ia seperti merasakan Andra memeluknya sangat erat, nyaris seperti cengkraman. Dan beberapa saat kemudian, ia merasa lehernya basah.


'Andra menangis? Kenapa?'


Happy Reading.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2