After 5 Years Apart

After 5 Years Apart
A5YA 21. Rasa Bersalah.


__ADS_3

Seharian bekerja, banyak sekali yang dipikirkan oleh Rexha. Otaknya dipenuhi dengan wajah Andra yang terus mengajaknya menikah. Seharusnya ia merasa senang, tapi entah kenapa hatinya seperti ada yang mengganjal. Rexha ingat betul bagaimana dulu Maminya Andra sangat tidak menyukainya, bahkan dulu Andra juga sangat patuh kepada Maminya.


Hal itu terkadang membuat Rexha merasa ragu. Bukannya ingin egois Andra hanya untuknya, tapi Andra masih belum bisa memperjuangkan dirinya didepan orangtuanya.


"Rexha, hai."


Saat Rexha sedang melamun, ia seperti mendengar suara seseorang. Ia menoleh dan melihat sosok Nick yang datang dengan menebar senyum bergulanya.


"Nick, ada apa kemari?" tanya Rexha dengan dahi mengernyit.


"Kok ada apa sih? Sengaja mau jemput kamu, tadi siang aku mau jemput Dara dulu disekolah, tapi katanya udah pulang," ujar Nick masih dengan senyum menawannya.


Pemuda jangkung itu sepertinya masih belum menyerah meksipun Rexha terlihat tidak meliriknya sama sekali. Semakin ditolak, semakin membuat penasaran, itulah yang ada di otak Nick saat ini.


"Iya, Dara sekarang udah ada yang jemput." Rexha menyahut sekenanya, ia sibuk dengan alat-alatnya memperbaiki mobil.


"Siapa yang jemput? Riska udah balik?" Nick bertanya bingung.


"Oh itu, ehm ...." Rexha kebingungan sendiri harus menjawab bagaimana, tidak mungkin ia mengatakan kalau Ayahnya Dara sudah kembali.


"Ibu!"


Saat Rexha sedang sibuk berpikir tiba-tiba ia mendengar suara Dara yang berteriak dengan cukup keras, membuat Rexha dan Nick menoleh. Keduanya tampak kaget melihat Dara datang bersama Andra yang sedang memasang wajah ketat itu.


"Dara." Bibir Rexha menyebut nama putrinya tanpa suara.


Andra mengajak Dara mendekat, tapi tatapan matanya tidak lepas menyoroti segala yang ada dalam diri Nick. Seolah menilai lebih tampan mana ia dan pria itu sampai berani mendekati Rexha.


"Dara hai, ketemu lagi. Tadi Om cari ke sekolah nggak ada," ucap Nick menyapa membuat Andra semakin tidak suka.


"Hai Om, apa kabar? Aku tadi udah pulang dijemput Ayah," kata Dara dengan begitu bangga menyebut nama Ayahnya.


Rexha menahan napasnya begitu mendengar putrinya dengan gamblang mengatakan jati diri Andra. Sedangkan Andra justru senang, putrinya itu memang selalu diandalkan.


"Ayah? Ayah siapa?" Nick mengernyitkan dahinya bingung, padahal sudah jelas disana ada Andra, tapi ia ingin memperjelas.

__ADS_1


"Ayah aku dong, Om. Ayah Andra, kita mirip 'kan?" kata Dara menempelkan wajahnya dengan wajah sang Ayah, selalu suka memberitahu dunia kalau ia dan Ayahnya sangat mirip.


Nick terlihat sangat kaget, ia memandang Andra dan Dara bergantian. Siapapun tidak akan bisa menyangkal dengan bukti concrete itu, Dara memang sangat mirip sekali dengan Andra.


"Rexha, dia Ayahnya Dara? Ba ji ngan yang telah menyianyiakan mu 5 tahun?" Nick menunjuk batang hidung Andra dengan kesal, meski Rexha tidak pernah cerita, tapi ia tahu perjuangan Rexha saat hamil tanpa suaminya.


"Nick, jaga bicaramu!" seru Rexha.


"Aku mengatakan yang sebenarnya 'kan? Dia ba ji ngan yang sudah menelantarkan kamu dengan Dara. Sekarang untuk apa dia kembali lagi?" ucap Nick lagi.


Andra menipiskan bibirnya, tidak suka dengan cara Nick menyebut dirinya seperti itu. Ia memang salah, tapi ia juga tidak tahu kalau waktu itu Rexha sedang hamil.


"Ayah, ba ji ngan itu apa?" tanya Dara dengan polosnya, merasa mendengarkan bahasa yang asing ditelinganya.


"Bukan apa-apa, jangan dengarkan dia, Sayang. Dan untuk kamu, jangan seenaknya menilai seseorang sebelum tahu kebenaran pastinya. Lagipula bukan ranahmu mengurusi urusan orang lain," cetus Andra semakin sebal saja rasanya.


"Maksudmu-"


"Cukup Nick." Rexha langsung menyela sebelum Nick mengatakan apapun.


"Dara, ayo kita pulang. Kenapa membawanya kesini?" ujar Rexha menghampiri putrinya dan juga Andra.


"Masih ada pekerjaan sedikit, aku akan minta izin dulu," kata Rexha lagi.


Andra tidak menyahut, ia hanya diam saja menunggu Rexha yang berpamitan kepada atasannya. Pada saat itu juga, Nick menatapnya dengan tatapan yang sangat kesal, tapi Andra biasa saja.


"Sudah, ayo pulang," kata Rexha sembari memasangkan tas dibahunya.


Andra mengangguk, ia menyuruh Rexha berjalan terlebih dulu. Tapi tiba-tiba saja Nick menahan tangan Rexha.


"Kamu nggak mau jelasin sama aku?" kata Nick memandang sendu pada Rexha.


"Jelasin apa, Nick? Apakah perlu?"


Jawaban dari Rexha itu membuat pegangan tangan Nick terlepas. Matanya menyiratkan kekecewaan disaat ia disadarkan oleh kenyataan jika Rexha memang tidak pernah menginginkannya.

__ADS_1


"Ibu, ayo pulang!" teriak Dara memahami situasi jika saat ini pria yang tengah menggendongnya semakin panas hatinya.


"Iya." Rexha mengangguk mengiyakan, ia sebenarnya merasa bersalah pada Nick, tapi ia memang tidak punya perasaan apapun pada pria itu.


______


Sesampainya dirumah, Rexha langsung membersihkan dirinya dan makan malam bersama Andra serta putrinya. Tapi Rexha merasakan jika sejak tadi Andra terus menatap dirinya, tapi pria itu tidak mengatakan apapun.


"Ayah, Ibu, katanya kalian mau tidur bareng aku. Malam ini ya? Aku pengen tidur dipeluk Ayah sama Ibu," celetuk Dara teringat akan keinginannya yang belum sempat dipenuhi oleh kedua orangtuanya.


"Ehm, coba tanyakan pada Ayah," kata Rexha, melirik Andra, berharap pria itu akan bereaksi seperti biasa.


Biasanya Andra sangat bersemangat untuk tidur bersama, tapi kali ini Andra hanya diam saja.


"Ayah, mau ya Yah? Tidur sama aku sama Ibu. Aku pengen tidur bareng Ayah sama Ibu," kata Dara menarik-narik tangan Ayahnya dengan manja.


"Boleh, Dara sikat gigi dulu sama cuci kaki, cuci tangan, Ayah beresin ini dulu," ucap Andra tersenyum kepada putrinya.


"Yeessss! Terima kasih Ayah, aku sayang Ayah!" Dara bersorak senang, ia mencium pipi Ayahnya sebelum ia berlari menuju kamarnya.


Andra tersenyum tipis, ia lalu mengemasi piring-piring kotor bekas mereka makan malam tanpa melirik Rexha sama sekali.


Rexha tentu saja heran, tidak biasanya Andra seperti itu.


"Biar aku aja yang beresin, Ndra. Kamu temenin Dara," kata Rexha membantu mengemasi piring-piring itu.


"Nggak usah, Xha. Selama ini udah cukup susah karena ba ji ngan kayak aku. Biarin aku mengerjakan ini sendiri, kamu temenin Dara aja," sahut Andra melarang saat Rexha akan mencuci piring-piring kotor itu. Wajahnya muram sekali karena teringat akan kata-kata Nick tadi.


'Pria itu benar, aku memang ba ji ngan yang selalu buat Rexha sedih. Rexha tidak akan pernah bahagia bersamaku.'


"Kamu ini ngomong apa? Semuanya udah berlalu juga, yang terpenting sekarang aku dan Dara baik-baik aja 'kan?" kata Rexha tidak ingin Andra terus merasa bersalah, ia sudah memulai lembaran baru dengan cerita baru, untuk apa mengingat lagi masa lalu yang menyakitkan.


"Aku salah Xha, andai dulu aku bisa nolak keinginan Mami, semua pasti nggak akan kayak gini ... aku minta maaf, Xha ...."


Rasa bersalah itu terus menggelayuti Andra, ia ingin memperbaiki segalanya, tapi sepertinya Rexha masih belum bisa menerima dirinya sepenuhnya.

__ADS_1


Happy Reading.


TBC.


__ADS_2