
Rexha hanya bisa pasrah saat putrinya meminta Andra untuk tinggal bersama mereka berdua di Apartemen sempit yang hanya memiliki dua kamar itu.
Sebenarnya itu merupakan Apartemen Studio Convertible yang memiliki satu kamar tidur, ruang tengah dan dapur menjadi satu. Serta satu kamar mandi dan satu tempat laundry yang Rexha gunakan sebagai kamar tidur Dara.
"Kamu sama Dara disini udah lama?" tanya Andra seraya mengamati apartemen yang menurutnya sangat kecil itu.
"Dari aku hamil aku udah disini," sahut Rexha seadanya.
Andra tidak menyahut, ia tidak menyangka jika Rexha dan Dara mampu bertahan ditempat yang sangat kecil itu. Ia membayangkan anak Kakaknya Clayton yang selalu butuh ruangan luas sebagai tempatnya bermain. Bagaimana bisa Dara tinggal disana? Bahkan perabotannya hanya seadanya.
"Kenapa? Nggak bisa tidur ditempat sempit seperti ini? Iyalah, kamu 'kan anak orang kaya," cibir Rexha sudah bisa menebak apa isi kepala Andra itu.
Andra mengerutkan dahinya. "Tempat tinggal sama sekali nggak penting buat aku. Selama aku bersama kalian, aku pasti baik-baik saja," ucap Andra mengulas senyum tipisnya.
Rexha mengalihkan pandangannya, sengaja menghindari senyuman yang membuat hatinya luluh lantak itu.
"Terserah deh, aku mau tidur dulu. Jangan coba-coba masuk ke dalam kamarku untuk alasan apapun. Awas aja kalau sampai masuk," ancam Rexha menyipitkan matanya, memandang Andra sangat serius sekali.
Andra hanya mengangkat alisnya, bukannya takut ia malah tertawa melihat ekspresi Rexha yang menggemaskan. Ia mengulurkan tangannya untuk mengacak-acak rambut wanita itu.
"Gemes banget, dari dulu nggak pernah berubah," kata Andra terus saja menggoda Rexha, pria itu bergantian mencubit pipi gembul Rexha yang sejak dulu paling ia sukai.
"Andra! Awas ah." Rexha merasa risih, ia mendorong tubuh Andra dengan sangat kuat agar menjauh darinya.
Andra yang belum siap hampir saja terjengkang kebelakang, untungnya masih ada sofa sehingga ia hanya jatuh terduduk.
Namun, ia mengerutkan dahinya saat menyentuh benda yang menurutnya sangat aneh. Ia melihatnya sekilas, dan seketika matanya membulat sempurna karena yang dipegangnya merupakan sebuah bra. Andra tentu sangat terkejut, ia melihat sekelilingnya yang memang masih penuh dengan baju-baju yang masih berserakan.
"Kyaaaaaaa! Letakan itu Andra!" Rexha berteriak keras, buru-buru meraih bra miliknya yang belum sempat ia bereskan.
Andra masih terkaget-kaget, tapi ia dengan sigap langsung mengangkat bra itu tinggi-tinggi agar Rexha tidak bisa menggapainya.
"Andra! Kemarikan!" seru Rexha dengan wajahnya yang memerah malu. Andra sudah memegang aset berharganya.
"Ambil aja kalau bisa." Bukannya menurut, Andra justru bangkit dan terus saja mengangkat bra itu sehingga Rexha semakin kesusahan karena badan Andra yang sangat tinggi, Rexha hanya sebatas dadanya saja kalau berdiri.
"Andra, nyebelin banget sih. Siniin nggak!" teriak Rexha seraya terus melompat agar bisa mengambil bra miliknya.
"Hahaha, jangan nyerah. Dasar, nggak pernah olahraga 'kan? Dari dulu segini aja 'kan?" ejek Andra dengan tawanya yang sangat puas. "Ini juga nggak berubah, masih 34B," lanjutnya mengulas senyum menggoda.
Rexha semakin syok hingga mulutnya menganga, ia semakin malu sekali dan berusaha keras mengambil bra itu.
__ADS_1
"Andra, kemarikan cepat!"
Rexha terus saja berteriak dan melompat agar bisa menggapai bra itu, tapi tubuhnya yang terlalu mungil membuat ia kesusahan mengambilnya.
"Ya udah, kamu ambil sana. Dasar mesum." Rexha langsung ngambek dan memilih pergi.
Namun, sebelum ia menjauh tangannya ditarik oleh Andra, dan tanpa peringatan apapun, Andra langsung mencium bibirnya, hanya sekejap lalu melepaskannya. Tapi hal itu sudah membuat tubuh Rexha seperti tersengat aliran listrik.
"Jangan marah, jelek tahu. Pipi kamu gendut ini," kata Andra tersenyum simpul.
"Apa banget deh, jangan kurang ajar ya. Sini." Rexha menanggapi ketus, tidak ingin terlalu menunjukkan kalau dirinya saat ini sangat gugup sekali.
Rexha lalu mengambil bra miliknya yang sempat dipegang Andra tadi bersama baju-baju yang lainnya. Arghhhhhhhh, sekarang sepertinya ia harus menjaga sikapnya agar tidak menaruh barang-barang sembarangan, karena ada Andra yang akan tinggal disana sampai waktu yang belum ditentukan.
_______
"Anak Ayah lagi apa?"
Setelah Rexha masuk kedalam kamarnya, Andra menemui putrinya yang tadi meminta izin untuk belajar. Dara mengatakan jika tidak belajar akan ketinggalan pelajaran. Untuk yang satu ini, sifat Dara memang sangat mirip sekali dengannya.
"Ayah? Aku baru selesai belajar," sahut Dara.
"Kenapa belajar? Kemarin 'kan Dara belum masuk?" tanya Andra.
Andra benar-benar kagum dengan sifat putrinya itu, masih kecil tapi sangat mandiri sekali.
"Ini komputer, Dara?" Andra kembali bertanya.
"Iya Yah, Ibu yang beli waktu aku ulang tahun yang ke lima tahun," sahut Dara mengiyakan.
"Memangnya Dara bisa pakai?" Andra masih bertanya-tanya, rasanya mustahil jika anak umur lima tahun bisa mengoperasikan komputer.
"Ayah meragukan aku?"
"Hahaha, mana mungkin? Coba Ayah lihat, beneran bisa nggak sih anak Ayah ini?" Andra tertawa kecil, ia lalu mengangkat tubuh Dara lalu memangkunya didepan komputer.
"Ehem, akan aku tunjukan pada Ayah kalau aku punya rahasia besar," kata Dara dengan cekatan menyalakan komputer miliknya.
Andra hanya diam menyimak, masih cukup ragu apakah benar putrinya ini bisa mengoperasikan komputer. Tapi saat melihat tangan Dara dengan lincah menari diatas keyboard, Andra terdiam.
"Yes, apa yang menawarkan pekerjaan lagi padaku Ayah!" Dara bersorak senang melihat ada email masuk dan memintanya untuk mengerjakan tugas penting.
__ADS_1
"Pekerjaan apa?" Andra mendadak dilanda firasat buruk melihat apa yang dilakukan putrinya.
"Hahaha, Ayah pasti terkejut. Aku 'kan sudah bilang punya rahasia besar. Kita akan membobol data pribadi perusahaan ZDX."
Jawaban dari putrinya itu membuat Andra sampai melongo. Ingatannya langsung melayang pada saat komputernya mati karena virus yang dikirimkan orang tidak dikenal. Sekarang ia tahu kebenarannya kalau yang melakukan itu semua adalah putrinya sendiri?
'Lelucon macam apa ini?'
Andra sampai tidak bisa berkata-kata melihat kecerdasan putrinya yang diatas rata-rata itu. Ia saja sampai kalah?
"Bravo, data rahasiamu akan segera aku curi, Om!" Dara lagi-lagi bersorak senang karena sebentar lagi apa yang diinginkannya tercapai, ia tinggal mengetuk satu kode lagi maka semuanya akan muncul.
"Hentikan Dara." Andra menahan tangan putrinya saat anak itu akan memasukan kode selanjutnya.
"Ada apa, Ayah?" Dara bertanya seraya mengernyitkan dahinya.
"Tidak, kamu memang anak hebat sekali. Ayah benar-benar bangga sama kamu. Tapi Dara tahu? Perusahaan yang sedang Dara retas adalah perusahaan Ayah," kata Andra.
"Omo!" Dara sangat terkejut.
"Ya, Ayah tidak menyangka akan menghadapi putri Ayah sendiri. Kamu benar-benar anak Ayah," ucap Andra begitu bangga dengan kecerdasan putrinya.
Untuk yang satu ini jelas Dara sangat mirip dengannya karena kecerdasan Andra pun tidak diragukan lagi.
"No, Ayah baru boleh bangga padaku setelah aku berhasil membuat musuh Ayah komputernya terbakar," ujar Dara begitu berapi-api.
Nah, kalau yang ini jelas sifat Rexha yang bar-bar dan suka membalas apa yang sudah orang lakukan padanya.
"Memangnya Dara bisa?" Andra menarik sudut bibirnya, ingin melihat sampai mana kecerdasan anaknya ini.
"Tentu saja, aku 'kan anaknya Ayah Andra," ucap Dara dengan cuping hidung yang mengembang, rasa bangga memiliki Ayah seperti Andra itu sangat terlihat.
"Hahaha, kamu ini ya." Andra tertawa, ia menciumi pipi putrinya dengan gemasnya.
Dan hari itu Andra melihat sendiri bagaimana Dara sangat pintar sekali mengoperasikan komputernya. Mencuri data-data penting perusahaan yang ingin menjatuhkan perusahaannya, dan mengirimkan virus yang membuat sistem eror.
Andra benar-benar dibuat kagum oleh putrinya ini. Dalam hati tak henti mengatakan ...
'Dia memang putriku. Anakku dan Rexha. Dia memang putriku'
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.