After 5 Years Apart

After 5 Years Apart
A5YA 48. Dara Rindu Ayah.


__ADS_3

Pagi itu Andra berencana untuk meninjau lokasi proyek yang sedang digarapnya. Tadinya ia baik-baik saja, tapi entah kenapa selama dua hari tidak mengkonsumsi obat yang diberikan Denada, membuat kepala Andra sangat sakit sekali. Ia bisa gemetar hebat karena tak tahan rasa sakit itu. Andra menilai kalau rasa sakitnya itu adalah efek dari obat yang tidak diminumnya.


Mengenai keputusan Dokter, Andra hanya tinggal menunggu hasil ronsen yang sebelumnya telah ia lakukan. Dokter ingin mengecek keseluruhan keadaannya agar bisa mencari penyebab utama ia menjadi lupa ingatan.


"Tuan, apa Anda baik-baik saja?" Han bertanya khawatir saat melihat wajah Andra yang seperti menahan sakit itu.


"Tidak apa-apa," sahut Andra, mencoba melawan rasa sakit itu, tapi kepalanya benar-benar sakit hingga ia hampir saja terhuyung.


"Tuan, Anda benar-benar pucat. Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang," ujar Han lagi.


"Tidak usah, lanjutkan saja perjalanan. Aku masih bisa menahannya. Kamu fokus saja menyetir, Han," tutur Andra lagi.


Han mengangguk sebagai jawaban, ia benar-benar khawatir melihat wajah Andra yang pucat seperti mayat. Ia yang terlalu khawatir malah tidak fokus dan hampir saja menabrak seorang anak yang tiba-tiba menyeberang.


Chitttt!


Han langsung mengerem mobilnya dengan cepat, jantungnya berdetak sangat keras karena rasa kaget yang luar biasa.


"Han, apa-apaan ini?" sergah Andra terlihat kesal, ia hampir saja terbentur kursi mobil karena Han tiba-tiba mengerem mendadak.


"Maaf, Tuan. Ada anak yang tiba-tiba menyeberang," ujar Han lagi.


Andra berdecak pelan, ia kemudian turun untuk melihat siapa anak yang menyeberang sembarangan itu. Dilihatnya seorang anak lelaki kecil yang menangis didepan mobilnya.


"Hei, kenapa menangis? Dimana ibumu?" tanya Andra, merasa orang tua anak ini sangat ceroboh sekali meninggalkan anaknya sendirian.


"Mohon maaf, Tuan. Maaf jika menganggu kenyamannya, ini adalah murid saya." Seorang guru menghampiri Andra, wanita itu terlihat merasa sangat bersalah karena lalai menjaga muridnya hingga hampir saja tertabrak mobil.


"Anda gurunya?" Andra bertanya seraya menyoroti wanita itu dari atas sampai bawah.


"Benar, maafkan kecerobohan saya, Tuan. Kami sedang ada pelajaran diluar kelas, maafkan saya," ujar sang guru terlihat benar-benar merasa sangat bersalah.


Andra mengalihkan pandangannya, yang melihat banyak sekali anak kecil yang sedang bermain di taman. Pantaslah guru itu kewalahan karena muridnya sangat banyak dan pastinya sangat aktif karena umur mereka masih kecil.


Dari semua murid itu, ternyata ada Dara yang melihat sosok Ayahnya. Matanya membulat sempurna dan terlihat sangat senang sekali.


"Tidak apa-apa, lain kali berhati-hatilah lagi," ujar Andra lagi, ia segera beranjak dari sana karena pekerjaannya menumpuk.

__ADS_1


Dara yang melihat itu segera berlari dengan langkah kaki kecilnya. Gadis kecil itu benar-benar senang sekali bisa melihat ayahnya setelah sekian lama.


"Ayah!" teriak Dara dengan suara yang keras, berharap ayahnya mendengarkannya.


"Ayah!" Dara kembali berteriak.


Namun, Andra hanya diam saja. Pria itu tetap masuk ke dalam mobilnya karena ia tidak tahu tentang Dara.


"Kita langsung ke lokasi saja, kepalaku sangat pusing," ujar Andra memijit kepalanya yang berdenyut sangat sakit.


"Baik, Tuan." Han mengangguk mengiyakan, ia segera melajukan mobilnya meninggalkan lokasi tersebut.


Sementara itu, Dara masih mengejar ayahnya meskipun gurunya sudah melarang dan menahannya. Keinginan kuat serta kerinduan yang luar biasa membuat Dara menghiraukan ucapan gurunya dan berlari mengejar mobil ayahnya yang perlahan menjauh.


"Ayah!" teriak Dara lagi, gadis kecil itu berlari tanpa kenal lelah seraya memanggil-manggil ayahnya.


"Ayah!"


Sayup-sayup Andra seperti mendengar suara anak kecil, ia tidak ingin menghiraukan mungkin salah dengar. Tapi tatkala ia melihat spion mobil, ia kaget melihat seorang anak perempuan kecil berlari mengejar mobilnya.


"Han, hentikan mobilnya," titah Andra mendadak begitu saja.


"Eh? Kenapa, Tuan?" Han bertanya bingung.


"Berhenti saja," sahut Andra lagi.


Han menurut, ia menghentikan mobilnya setelah ia menepikannya. Dilihatnya Andra yang langsung turun dari mobil, membuat ia segera mengikutinya, cukup penasaran kenapa tiba-tiba Andra memintanya untuk berhenti.


Andra sendiri hanya berdiri menunggu sosok gadis kecil yang sedang berlari kearahnya itu. Senyuman manis itu sudah terlihat begitu Andra turun, membuat Andra seperti merasakan getaran aneh dalam hatinya.


"Ayah!" Dara berteriak keras begitu melihat ayahnya.


Dara segera mempercepat langkahnya, ia benar-benar tidak sabar sekali ingin segera memeluk Andra. Begitu ia sampai didepan Ayahnya, ia tidak membuang waktunya lagi. Dara segera melompat lalu memeluk ayahnya dengan sangat erat.


Deg


Jantung Andra mendadak berdetak kencang begitu mendapatkan pelukan mengejutkan ini. Ia seperti pernah mengalami peristiwa ini, tapi kapan?

__ADS_1


"Ayah ... Dara rindu, ayah," ucap Dara memeluk Andra sangat erat sekali, ia sangat bahagia hingga ingin menangis.


Andra mengurai pelukannya, ia kemudian berjongkok untuk melihat wajah anak kecil yang memanggilnya ayah itu. Dan Andra dibuat terkejut saat melihat wajah Dara kecil sangat mirip sekali dengannya.


"Dara?" Andra menyebut nama anak itu, hatinya benar-benar berdebar tak karuan begitu melihat mata Dara, ia seperti melihat dirinya sendiri pada diri anak kecil ini.


"Iya, Dara rindu ayah. Ayah kemana? Kenapa tidak pulang? Dara pengen meluk ayah," kata Dara kembali memeluk ayahnya lebih erat dari sebelumnya, kali ini ia tidak kuasa menahan tangisnya lagi, membuat baju Andra ikut basah.


Andra memejamkan matanya, ia memberanikan diri untuk balas memeluk gadis kecil itu sehingga ia merasakan getaran yang luar biasa dalam dirinya. Mendadak juga kepalanya sangat sakit karena mencoba mengingat masa lalunya.


"Jangan menangis, ayah disini," ucap Andra tanpa canggung sama sekali saat menyebut dirinya sebagai ayahnya Dara.


"Dara takut," kata Dara dengan suara seraknya.


"Takut kenapa?" tanya Andra, ia mengurai kembali pelukannya, dilihatnya Dara yang memandangnya begitu sendu.


"Takut ayah akan pergi lagi. Katanya ayah mau pergi sebentar, kenapa lama? Ayah tidak melupakan Dara 'kan?" sahut Dara lagi.


Andra mengusap air mata Dara, ia kemudian mengambil tangan anak itu dan menciumnya.


"Mana mungkin ayah lupa, sekarang ayah memang banyak pekerjaan. Dara sama ibu pintar 'kan?" ujar Andra, mengikuti nalurinya yang mengatakan kalau anak ini memanglah anaknya.


'Jika mereka tidak punya hubungan darah, wajah mereka berdua pasti tidak akan semirip itu. Andra juga ingat kalau Rexha mengatakan mereka memiliki anak, apa jangan-jangan Dara adalah putrinya?'


"Ibu selalu menangis jika aku menanyakan ayah. Kita pulang ya, yah, biar ibu tidak sedih lagi," kata Dara memandang Andra penuh harap.


Andra begitu tidak tega, anak sekecil ini tapi sudah begitu peka dengan keadaan sekitarnya. Benar-benar mengingatkannya pada dirinya waktu ia kecil.


"Ayah pasti pulang, tapi Dara mau nggak janji sama, Ayah?


"Janji apa, ayah?" tanya Dara penuh rasa ingin tahu.


"Tolong ... rahasiakan pertemuan ini dari ibu."


Happy Reading.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2