
Ruangan itu tampak sangat redup, Andra berdiri disana layaknya malaikat kematian yang siap mencabut nyawa siapa saja. Kepulan asap yang berasal dari rokok ditangannya itu membuat Andra semakin terlihat kejam.
Didepannya sudah ada Tom yang sejak tadi mengoceh tidak jelas. Lalu disampingnya ada Han yang sudah siap dengan tugasnya.
"Perempuan memang sama saja, kenapa lebih memilih disakiti daripada dicintai? Apakah semua yang aku lakukan selama ini kurang?" Tom kembali mengoceh, pria itu menyadarkan kepalanya di meja dengan mata terpejam.
Andra menatap Han, ia memberikan gestur untuk mempersiapkan ponsel agar bisa merekam semua pembicaraan pria ini.
"Siapa yang kamu maksud? Apakah istriku?" tanya Andra sedikit mendorong bahu Tom agar berdiri tegak.
Tom menyipitkan matanya, melihat Andra yang tampak tidak begitu jelas.
"Tuan Andra?" Tom kembali berbicara. "Kenapa ada disini? Tempatmu harusnya disisi wanita itu," sambungnya tampak sangat kacau dan cukup tidak jelas.
Andra berdecak pelan, ia mencengkram lengan Tom lebih erat. "Apakah Denada yang memerintahkanmu untuk menjauhkan Rexha dariku? Kalian juga yang berencana memisahkan kita dengan mengarang cerita kalau aku akan membunuhnya?" Andra bertanya dengan nada yang cukup emosional.
Bukannya menjawab, Tom justru tertawa seperti mengejek. Ia mengibaskan tangannya agar terlepas dari pegangan Andra.
"Sekarang kamu baru sadar?" kata Tom sembari tertawa mengejek. "Semuanya sudah terlambat Andra, wanitamu sudah begitu membencimu, bahkan dia tidak ingin melihatmu lagi," lanjutnya lagi.
"Brengsek! Jadi benar kalian berdua yang telah merencanakan ini?" umpat Andra menarik baju Tom dengan kasar.
"Kenapa harus bertanya padaku? Tanyakan saja pada istri palsumu itu. Hahaha, kamu pasti akan menyesal, Andra. Rexha tidak akan mau kembali padamu karena kamu telah membunuh anaknya," kata Tom masih terus saja tertawa.
"Membunuh anak? Apa maksudmu?" Andra membulatkan matanya terkejut. Mengingat perkataan Rexha beberapa waktu lalu.
'Anak mana yang ia bunuh? Bukannya Dara masih hidup?'
"Gara-gara sedih kamu tinggalkan, Rexha jadi keguguran. Semuanya memang gara-gara kamu, Tuan Andra," ucap Tom.
Andra kembali terkejut, Rexha keguguran? Apa itu artinya waktu mereka berpisah Rexha hamil?
"Hahaha, pria bodoh," ejek Tom terkekeh-kekeh penuh kepuasan.
__ADS_1
"Kurang ajar!" Andra sudah kehilangan kesabarannya, ia tanpa pikir panjang langsung menghantam wajah Tom dengan sangat keras sehingga pria itu terjengkang ke belakang.
"Tuan!" Han memekik kaget.
"Hahaha, mau membunuhku? Silahkan saja, semuanya tidak akan mengembalikan semuanya, Andra. Kamu tidak akan pernah bisa kembali pada Rexha, karena aku akan membawanya pergi," kata Tom terus saja tertawa membuat Andra semakin marah.
"Jangan harap! Aku tidak akan membiarkan kamu menyentuh wanitaku barang sejengkal," tukas Andra begitu geram.
Andra tidak menahan dirinya lagi, ia langsung menarik tangan Tom dan kembali menghajar pria itu untuk melampiaskan amarahnya yang berada di ubun-ubun. Sekarang semuanya sudah terang benderang, jika dibalik semua ini adalah Denada yang sangat licik. Andra tidak akan pernah memaafkan mereka untuk alasan apapun.
"Kau harus mati," kata Andra mencekik leher Tom dengan sangat kuat. Keringat mengucur dari dalam tubuhnya, tapi ia tidak memperdulikan itu semua. Ia hanya ingin orang yang telah menghancurkannya mati.
"Tuan, hentikan, Tuan. Jangan membunuhnya," ujar Han bergegas menarik tangan Andra agar tidak melakukan hal yang lebih berbahaya.
"Jangan menghalangiku!" teriak Andra menghempaskan tangan Tom dengan kasar.
"Tuan, kita masih membutuhkannya untuk membongkar kejahatan Nyonya Denada," kata Han menjelaskan.
Andra langsung berhenti, tapi ia tidak melepaskan cekikannya. Ia melirik Han tajam, seolah menanyakan apa maksudnya pria itu.
Andra mengerutkan dahinya, mencoba memahami apa maksud ucapan asistennya tersebut. Tapi sesaat kemudian ia menyeringai seraya mengangguk pelan.
"Kamu benar, pria ini memang tidak boleh mati dengan mudah. Tangan dibalas tangan, dan Nyawa dibalas nyawa. Jika benar Rexha keguguran, itu pasti karena ulah orang-orang jahat itu. Aku akan membalas semuanya."
_______
Pagi mulai datang, mentari bersinar sangat cerah hari itu. Membuat orang-orang bersemangat untuk melakukan aktivitas.
Rexha sendiri begitu bersemangat bekerja hari ini. Pagi tadi ia tidak bertemu Andra, karena pria itu sudah berangkat bekerja. Tapi anehnya ia sudah sangat bahagia, apalagi jika mengingat apa yang terjadi semalam.
'Astaga, aku ini kenapa sih?'
Rexha menggerutu sendiri dalam hatinya, ia segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa secepatnya pulang. Tapi karena terlalu bersemangat, ia malah tidak sengaja menumpahkan kopi panas yang dibawanya ke pelanggan.
__ADS_1
"Maaf, maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja," ucap Rexha begitu panik, ia mengambil tisu yang ada di meja lalu mencoba membantu membersihkannya.
"Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa." Pria yang tadi ditumpahi kopi itu justru tersenyum-senyum senang, merasa diperhatikan oleh wanita secantik Rexha.
"Saya benar-benar tidak sengaja, saya minta maaf," kata Rexha masih terus membersihkan tumpahan kopi itu.
Namun, ternyata disaat bersamaan Andra datang ke restoran itu karena akan makan siang. Tadinya ingin bertemu Rexha, tapi ia malah dibuat kesal melihat apa yang dilakukan Rexha.
Andra begitu geram, ia melihat Rexha yang siang itu memakai baju yang menurutnya sangat seksi sekali. Ditambah rambut panjangnya diikat tinggi, membuat wanita itu semakin cantik. Tapi yang membuat Andra kesal adalah, pria yang bersama Rexha itu sengaja sekali ingin diperhatikan.
"Kurang ajar!" umpat Andra bergegas menghampiri Rexha lalu menarik tangannya dengan cukup kasar.
"Eh?" Rexha terkejut tentunya, ia menatap Andra yang tiba-tiba datang itu.
"Ikut aku, dan aku tegaskan mulai hari ini kamu tidak boleh bekerja disini," kata Andra memutuskan seenaknya saja.
"Kenapa seperti itu? Aku masih bekerja, Andra," sahut Rexha terkejut bercampur bingung.
"Aku tidak mengizinkannya, mulai detik ini juga kamu tidak boleh bekerja. Tugasmu hanya satu, yaitu mencintaiku."
Setelah mengatakan itu, Andra langsung membawa Rexha pergi. Pria itu benar-benar cemburu sekali, ia bahkan sempat mengacungkan jari tengahnya dan memberikan lirikan mematikan pada pria yang menurutnya sangat kurang ajar itu.
"Andra, kamu ini kenapa sih? Aku belum selesai bekerja, kenapa kamu seenaknya saja?" protes Rexha begitu kesal.
"Kenapa begitu senang bekerja? Apa ini yang kamu kerjakan? Biar bisa dekat dengan pria lain?" kata Andra begitu geram.
"Kamu pikir aku wanita apa?" tukas Rexha tak kalah kesalnya.
Andra tidak menyahut, ia benar-benar dalam mood buruk hari ini. Ia terus diam lalu membawa Rexha kedalam kamarnya, barulah ia melepaskan wanita itu disana.
"Lepaskan pakaianmu!" titah Andra dengan raut wajah yang sangat dingin seperti gunung Himalaya.
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.